Mahabbah Cinta Khalisa

Mahabbah Cinta Khalisa
142


__ADS_3

Rindang membuka matanya dengan susah payah. Hal yang dilihatnya pertama kali adalah langit-langit ruangan dengan cahaya terang benderang. Ia kembali menutup mata berusaha mengingat apa yang telah terjadi padanya. Potongan-potongan kejadian kembali berputar di kepalanya lalu Rindang ingat pada satu hal, ia pingsan di depan masjid setelah akad.


Berapa lama aku pingsan?


Rindang merasakan ada sesuatu yang berat di atas tangan kanannya. Rindang berusaha melihatnya tapi ia tidak memiliki tenaga, tubuhnya sangat lemas. Rindang meringis merasakan nyeri pada tangan kirinya. Dengan susah payah akhirnya Rindang bisa menggerakkan tangan kiri untuk meraba sesuatu yang telah memberatkan tangan kanannya. Itu seperti rambut. Dua detik berikutnya Rindang dibuat terkejut ketika sesuatu di atas tangannya tersebut terangkat.


"Koko." Tak ada suara yang terdengar dari mulut Rindang, bibirnya hanya bergerak tanpa suara.


"Rindang, kamu udah bangun?" Mata Levin terlihat sembab.


Rindang mengangguk, ia ingin bertanya dimana papa dan mamanya tapi tak memiliki cukup tenaga untuk melakukan itu. Banyak pertanyaan di benak Rindang saat ini. Seperti dimana dirinya sekarang, pukul berapa sekarang, apa yang terjadi setelah dirinya pingsan.


"Aku cek gula darah kamu dulu ya." Itu adalah hal pertama yang harus Levin lakukan saat Rindang siuman. Entah berapa kali ia menusuk jari Rindang dengan jarum. Karena Levin telah melakukan prosedur yang beresiko tinggi maka ia harus memastikan semuanya berjalan dengan harapannya.


Rindang kembali mengangguk. Ia menatap Levin yang sedang menusuk ujung jarinya dengan pen lancet. Rindang tidak menunjukkan ekspresi apapun ketika Levin menekan jarinya agar darahnya keluar.


"Apa Koko pernah berharap punya istri yang tangannya mulus?" Pertanyaan itu tiba-tiba muncul di pikiran Rindang.


"Hm? maksud kamu?" Levin menempelkan jeri telunjuk Rindang pada strip tes.


"Maksudku, aku nggak bisa mewujudkannya karena tanganku akan selalu penuh bekas luka tusukan."


"Satu-satunya harapanku saat menikah dengan mu adalah, kamu bisa selalu sehat dan bahagia." Levin mengembangkan senyum tipis melihat angka pada glukometer. "Akhirnya gula darah kamu normal." Levin membereskan alat-alat tes gula darah dan mencuci tangan. Levin harus melakukan pemeriksaan kadar gula darah Rindang secara berkala setelah pemberian larutan dekstrosa dan ia sudah menurunkan dosisnya ketika angka pada glukometer mulai naik.


Rindang tertegun beberapa saat mendengar jawaban Levin yang begitu tulus. Dada Rindang bergemuruh, benarkah ia sedang jatuh cinta sekarang. Apakah Rindang harus menanyakan ini pada Huma.


"Minum dulu." Levin menaikkan posisi brankar untuk menegakkan kepala Rindang. Ia membantu Rindang minum air putih. "Haus ya?" Levin senang melihat Rindang hampir menghabiskan segelas air putih.


"Ini jam berapa Ko?" Rindang mengedarkan pandangan ke seluruh ruangan tapi ia tidak menemukan jam.


"Jam 11 malam."


Rindang menghitung kira-kira berapa lama ia tak pingsan. 14 jam mungkin?


"Aku pingsan 14 jam?"


"Lebih tepatnya 38 jam."


Mata Rindang membulat, ia hanya tidur tiba-tiba satu hari telah terlewat. Itu artinya mereka melewati malam pertama setelah menikah di rumah sakit ini. Rindang menggenggam tangan Levin dengan kedua tangannya, ia tak lagi mempedulikan rasa nyeri yang berdenyut-denyut pada punggung tangannya.


"Maafin aku Ko."


"Untuk apa kamu minta maaf?"


"Maaf aku nggak menjalankan tugas ku sebagai istri." Rindang mengecup punggung tangan Levin berkali-kali. Ia berharap Levin tidak memarahinya karena telah melewatkan satu hari tanpa melakukan apapun.


Levin menarik Rindang ke dalam pelukannya, "dengan kamu bisa melalui ini semua aku udah bahagia banget Rindang, terimakasih karena kamu mampu melewatinya, aku bener-bener takut terjadi sesuatu sama kamu."


Rindang mengembuskan napas lega karena Levin sama sekali tidak marah. Ternyata Levin tipe laki-laki yang lembut. Rindang belum mengenal Levin sepenuhnya karena selama ini sebisa mungkin ia menghindar untuk bertemu Levin demi menjaga diri mereka masing-masing.

__ADS_1


"Aku nggak mungkin kenapa-napa karena suamiku dokter." Rindang mengurai pelukan mendongak menatap wajah Levin yang kusut. Bahkan Levin masih mengenakan celana yang kemarin.


"Aku nggak bisa maafin diri sendiri kalau sampai kamu kenapa-napa, apa yang kamu rasain sekarang?" Levin mengurangi kecepatan infus Rindang. "Pusing nggak?"


"Enggak, masih lemes aja sih, oh iya Mama dan Papa pulang?"


"Iya, mereka baru aja pulang setelah aku paksa karena mereka kelihatan capek banget."


"Koko juga kelihatan capek."


"Udah enggak." Levin mengulas senyum manis menatap Rindang, benarkah mereka sudah menjadi pasangan suami istri. Rasanya masih begitu canggung.


"Koko mau tidur disini nggak?" Rindang menggeser tubuhnya menepuk-nepuk ruang kosong di sampingnya.


"Aku belum pernah tidur di ranjang pasien." Levin tampak ragu untuk tidur di atas ranjang pasien.


"Oh ya? aku sering." Rindang terkekeh saat mengucapkan kalimat itu seolah-olah dirinya tak masalah keluar-masuk rumah sakit. Rindang sudah tak asing dengan suntikan dan aroma etanol. Bahkan Rindang juga bisa mencium aroma serupa di badan Levin. Rindang bertanya-tanya apakah semua dokter beraroma etanol.


Levin ikut naik ke ranjang yang untungnya cukup untuk mereka berdua. Khalisa benar-benar menyiapkan ruangan yang nyaman untuk Rindang dan Levin. Sebenarnya ada satu ranjang lainnya di ruangan itu tapi Levin memilih tidur di kursi agar ia langsung tahu saat Rindang bangun.


Tadinya Rindang ingin bertanya mereka sedang berada dimana tapi saat melihat interior ruangan itu ia tahu bahwa ini adalah rumah sakit Kafasa. Lihatlah Rindang bahkan hafal pada ruangan-ruangan di rumah sakit.


"Tangan kiri ku kenapa nyeri banget ya, apa karena infusnya?" Rindang sedikit mengangkat tangan kirinya yang dipasangi selang infus.


"Itu karena aku kasih obat dengan selang intravena."


Rindang manggut-manggut, itu berarti kondisinya cukup parah. Tentu saja, kalau tidak pasti ia tak akan pingsan se-lama itu.


"Nggak usah." Rindang menggeleng.


"Aku akan pakai gel ametokain, setelah itu nyerinya akan hilang."


"Udah nggak sakit kok." Rindang tidak mau menyusahkan Levin tengah malam begini walaupun ia tahu itu adalah hal yang biasa bagi dokter tapi ia baru saja bangun. Rindang tak ingin Levin meninggalkannya.


Levin menatap Rindang tak percaya, ia tahu Rindang sedang berbohong. Namun Levin pura-pura percaya karena tidak mau melukai perasaan Rindang.


Mereka saling berpandangan untuk beberapa saat. Suasana canggung menguasai Rindang dan Levin karena jarak mereka sangat dekat. Levin tak tahu harus bicara apa untuk mencairkan suasana, biasanya ia pandai melakukan itu tapi sekarang tiba-tiba ia kikuk.


"Ayo kita tidur." Akhirnya Levin mengajak Rindang tidur. Apa yang bisa mereka lakukan tengah malam begini di rumah sakit selain tidur. Levin tak mungkin mengajak Rindang jalan-jalan karena ia baru siuman.


"Aku udah tidur 38 jam." Rindang tak setuju dengan ajakan Levin.


"Ah benar juga."


"Hidupin TV aja."


"Oke." Levin meraba-raba nakas mengambil remote dan menyalakan TV.


Layar TV 40 inci itu menayangkan film romantis yang diperankan oleh artis Hollywood. Rindang dan Levin sama-sama belum pernah menonton film tersebut, lebih tepatnya mereka hampir tidak pernah menonton TV.

__ADS_1


"Koko pernah jatuh cinta?" Tanya Rindang, sedetik kemudian ia menyesal telah menanyakan hal tersebut. Pertanyaan yang terdengar aneh.


"Aku sekarang lagi jatuh cinta."


"Oh ya?" Rindang menyipitkan matanya menatap Levin tak percaya, "boleh aku cek?"


Levin mengangguk meski ia tak tahu dengan cara apa Rindang akan mengeceknya. Memangnya mereka bisa melihat tanda-tanda seseorang yang jatuh cinta?


Rindang menjatuhkan kepalanya ke dada Levin untuk mendengarkan detak jantungnya.


Levin menahan napas terkejut karena Rindang tiba-tiba semakin mengikis jarak di antara mereka.


Rindang membelalak mendengarkan gemuruh jantung Levin bahkan itu dua kali lebih cepat dari detak jantungnya. Rindang hendak mengangkat kepalanya tapi Levin menahannya.


Levin tersenyum, ia tak menyangka jika Rindang se-polos ini. Levin baru tahu jika ada orang yang mendengar dekat jantung untuk memastikan ia jatuh cinta atau tidak. Tingkah Rindang sangat lucu.


"Udah percaya?" Suara berat Levin membuat Rindang membeku.


Rindang mengangguk pelan.


"Kenapa aku menikahi mu kalau nggak cinta."


"Karena Koko nggak pernah bilang." Balas Rindang dengan suara tercekat, kini giliran dirinya yang mati kutu akibat perbuatannya sendiri. Seharusnya Rindang berpengalaman soal ini karena dulu ia sering gonta-ganti pacar, sesering ia mengganti warna rambut. Namun rasanya sangat berbeda setelah menikah.


"Aku mencintaimu wahai istriku Rindang Anjana."


Rindang membeku mendengar kalimat Levin. Ayolah ini bukan pertama kalinya Rindang mendengar pengakuan cinta seseorang. Perut Rindang terasa penuh oleh bunga dan kumbang yang beterbangan mendesak keluar. Wajahnya memanas seperti tengah berada di sauna.


Levin hendak melepaskan pelukan tapi Rindang justru membenamkan wajahnya lebih dalam ke dada Levin. Rindang tak mau Levin melihat wajahnya yang pasti sekarang telah memerah.


"Kadang cinta itu nggak harus diungkapkan dengan kalimat, bisa juga dengan tindakan dan sentuhan tubuh tapi kalau kamu menganggap kata-kata adalah sesuatu yang paling penting untuk mengungkapkan cinta maka aku akan mengatakannya setiap hari."


"Makasih Ko." Bisik Rindang, tentu saja Levin tidak dapat mendengarnya. Rindang terlalu malu untuk mengatakan sesuatu.


Mereka tak lagi mempedulikan TV yang masih menayangkan film romantis. Keduanya lebih memilih tenggelam dalam romansa masih-masing. Rindang baru menyadari bahwa berbaring di ranjang rumah sakit tidak seburuk itu.


"Koko nggak apa-apa ada disini terus?" Rindang mendongak setelah menetralkan ekspresinya.


"Aku sedang cuti."


"Tapi tadi Koko periksa aku."


"Kamu pengecualian." Bagi Levin tak ada hari libur untuk melakukan pemeriksaan pada Rindang. Kapanpun Rindang butuh, Levin akan selalu siap.


Rindang kembali menyembunyikan wajahnya di dada Levin. Ternyata dugaan Rindang salah, Levin tidak beraroma etanol. Rindang menghirup aroma badan Levin dalam-dalam untuk mencerna baunya.


"Koko pakai parfum apa?"


"Sebenarnya aku nggak mandi dari kemarin."

__ADS_1


Oh jadi ini bau keringat Ko Levin, kenapa aroma keringatnya wangi? Rindang jadi iri. Tidak. Mungkin ini karena Rindang sedang jatuh cinta sehingga aroma keringat saja terasa wangi di hidungnya. Begitulah orang jatuh cinta bukan?



__ADS_2