
Khalisa, saya Naura kakak perempuan Naira. Mari bertemu di De Jeeva. Aku ingin membicarakan sesuatu denganmu. Tolong kabari aku kapanpun kamu bisa bertemu.
Akhirnya Khalisa mendapat pesan dari kontak bernama Naira setelah satu bulan lebih ia tidak mendapat kabar dari Naira sejak mereka melakukan panggilan video bersama Rindang. Namun si pengirim justru kakak Naira. Kemana Naira? Mengapa Naura menggunakan ponsel Naira untuk mengirim pesan pada Khalisa.
"Jangan-jangan Naira pulang ke Indonesia." Gumam Khalisa seraya membaca pesan itu sekali lagi. Mengapa Naira tidak memberitahu Khalisa jika ia memang pulang ke Indonesia. Setidaknya mereka bisa bertemu dan mengobrol.
"Khalisa, ayo foto bareng." Rindang memanggil Khalisa untuk bergabung dengannya.
Khalisa urung membalas pesan dari kakak Naira, ia memasukkan ponselnya ke dalam tas dan bergabung dengan yang lain. Ini adalah hari spesial karena Rindang mulai membuka butiknya untuk pertama kali.
Butik Anjana akhirnya berada di tengah-tengah butik ternama lainnya di Alindra Mall Banyuwangi. Tak banyak yang hadir, hanya beberapa teman dan kerabat terdekat Rindang. Sejak menjadi Muslim, banyak teman yang menjauhi Rindang. Hanya sedikit yang dapat menerima Rindang dengan kepercayaan barunya. Namun Rindang tidak sedih, ia percaya Allah telah memiliki teman-teman terbaik untuknya.
Mereka melakukan foto bersama di depan butik berkali-kali dengan berbagai pose. Di antara mereka hanya ada dua pria yakni Jonas dan Levin yang setia menemani sang istri.
"Azfan nyuruh kamu pulang?" Tanya Rindang karena tadi ia melihat Khalisa sibuk dengan ponselnya.
"Enggak kok." Khalisa hampir lupa membalas pesan Naura. Ia kembali mengeluarkan ponselnya untuk membalas pesan tersebut.
Mari bertemu besok, hari ini aku lagi di Banyuwangi.
"SMS dari siapa sih?" Tanya Rindang penasaran.
"Aneh deh, aku cerita ke kamu kan kalau Naira udah sebulan lebih nggak ada kabar terus tiba-tiba tadi ada SMS dari nomor Naira."
"Alhamdulillah kalau gitu kok kamu bilang aneh." Rindang juga sempat menelepon Naira tapi tidak ada jawaban jadi ia pikir mungkin Naira sedang fokus pada kehamilan apalagi kelahirannya semakin dekat.
"Aneh karena bukan Naira yang kirim, namanya Naura dia kakaknya Naira."
"Kalau gitu Naira ada disini dong sekarang, maksudku di Sleman."
"Mungkin." Khalisa juga tidak yakin karena ia hanya mendapat pesan singkat dari Naura.
"Dia bilang apa?"
"Ngajak aku ketemu."
"Kakaknya Naira ngajak kamu ketemu? emang kamu kenal?"
Khalisa menggeleng. Ia bahkan belum pernah bertemu dengan kakak Naira yang bernama Naura tersebut. Nanti Khalisa akan menanyakannya pada Azfan karena Azfan pernah mondok di pesantren milik Abah Naira pasti ia tahu tentang keluarga Naira.
Perhatian Khalisa teralih mendengar suara tangisan Azka, pandangannya menyapu seluruh butik mencari keberadaan Azka. Azka selalu menjadi piala bergilir tak hanya ketika temu keluarga tapi saat seperti ini Azka akan selalu berpindah dari tangan satu ke tangan lainnya. Azka pasti mulai bosan dan haus, itu sebabnya ia menangis.
"Ya ampun maaf Khalisa, aku cuma fotoin mereka bertiga barusan eh Azka nangis." Seru salah satu teman Rindang yang hadir siang itu.
"Nggak apa-apa, Azka haus kayaknya." Khalisa mengangkat Azka dari sofa dan menimangnya. Beberapa saat Azka mulai berhenti menangis setelah berada di gendongan Umma nya.
"Gendong Papa yuk, mau nggak?" Levin mengulurkan tangan pada Azka.
Azka mencondongkan tubuhnya pada Levin, itu artinya ia mau digendong oleh Levin.
"Duh jangan dikucek matanya nanti sakit." Levin berusaha menahan tangan Azka yang terus mengucek matanya. "Ngantuk ya?" Levin menciumi wajah Azka hingga merah, ia gemas melihat pipi gembul Azka.
__ADS_1
Beberapa saat kemudian Azka kembali merengek sehingga Levin langsung memberikan Azka pada Khalisa.
"Susuin dulu gih." Rindang memberi kode agar Khalisa segera menyusui Azka di ruangan lain.
"Azka haus ya atau bosen, bentar-bentar Mama telepon Abi dulu ya biar Abi jemput kita." Khalisa melangkah ke ruangan lain yang akan menjadi tempat istirahat para karyawan butik nanti. Ruangan yang tidak terlalu besar tapi cukup untuk makan dan mendirikan shalat.
Khalisa menyusui Azka untuk menghentikan tangisnya sementara ia menelepon Azfan agar menjemputnya di Alindra Mall.
"Halo, Bi tolong jemput ya, Azka mulai rewel nih, udah waktunya tidur."
"Iya Umma, aku jalan sekarang."
"Makasih Bi." Khalisa memutus sambungan setelah mengucapkan salam.
"Uh keringetan banget anak Umma." Khalisa mengusap kepala Azka yang basah karena keringat.
Seperti anak pada umumnya, Azka sangat aktif dan tidak pernah mau diam apalagi sekarang ia sudah mulai bisa merangkak. Waktu tidurnya berkurang untuk bermain.
Azka mengulurkan tangan menyentuh pipi Khalisa.
"Umma gigit ya." Khalisa pura-pura menggigit tangan Azka tapi bukannya takut Azka justru tertawa. "Eh, kemana-mana susunya sayang." Ia mengusap air susu yang mengalir ke pipi Azka karena Azka tiba-tiba melepasnya.
Azka mulai memejamkan mata ketika kembali menyusu. Khalisa melantunkan sholawat untuk Azka. Ini adalah kebiasaan yang Azfan lakukan. Tak hanya sholawat biasanya Azfan juga melafalkan surat-surat pendek untuk Azka.
"Maafin Umma ya, Azka akan jadi kakak diusia yang sangat kecil, Umma akan berusaha melakukan yang terbaik untuk Azka dan adik Azka nanti." Khalisa mengecup kening Azka pelan-pelan, takut membuatnya bangun.
Khalisa terkejut ketika pintu ruangan itu tiba-tiba terbuka karena ia sedang menyusui tapi ternyata itu adalah Azfan.
"Udah tidur?" Azfan menghampiri Khalisa.
"Acaranya udah selesai?"
"Udah, ayo pulang aku juga mau istirahat." Khalisa memijit pundaknya yang terasa pegal.
"Biar aku yang gendong Azka." Azfan mengambil alih Azka dengan hati-hati.
Mereka keluar dari ruangan itu lalu pamit pulang pada Rindang dan Levin. Rindang berterimakasih karena Khalisa sudah hadir di hari pertama pembukaan butiknya.
"Aku bakal kangen sama Azka." Rindang mencium Azka. "Dan Umma nya juga." Ia juga memeluk Khalisa. Mereka tak akan bertemu untuk waktu yang lama karena sibuk dengan pekerjaan masing-masing.
Rindang pasti akan lebih sibuk setelah membuka butiknya, Levin juga bekerja dan kuliah sehingga mereka akan sulit mengatur waktu untuk bertemu.
"Semoga semuanya lancar ya." Khalisa menepuk pundak Rindang dua kali.
"Kamu juga." Rindang tak mau menangis di hari yang membahagiakan ini tapi karena pertemuannya dengan Khalisa begitu singkat, ia jadi galau. "Jaga diri kamu baik-baik."
"Pasti."
Kini mereka memiliki kehidupan masing-masing. Kadang Rindang merindukan masa dimana mereka masih tinggal di apartemen yang bersebalahan. Masak, makan hingga tidur bersama. Waktu itu hanya satu yang tidak bisa mereka lakukan bersama yakni beribadah. Namun sekarang setelah Rindang memiliki keyakinan sama dengan Khalisa, jarak justru memisahkan mereka.
Setelah Khalisa dan Azfan benar-benar tidak terlihat, Rindang baru menangis, ia buru-buru pergi ke ruangan yang tadi digunakan Khalisa untuk menyusui Azka. Rindang menangis seorang diri, walaupun ini bukan pertama kalinya tapi rasanya tetap sama.
Satu bulan yang lalu saat Rindang mengunjungi rumah Khalisa di Sleman, rasanya juga berat untuk pamit pulang. Rindang belum puas menghabiskan waktu dengan Khalisa.
__ADS_1
"Kita bisa pergi ke Sleman kapanpun kamu mau." Levin menyusul Rindang. Di antara sekian banyak orang yang hadir disitu, hanya Levin yang menyadari bahwa Rindang pergi ke ruangan ini untuk menangis.
Rindang mengangkat wajah, ia pikir dirinya sudah cukup berhasil menyembunyikan kesedihan tapi ternyata Levin tetap menyadari itu.
"Kalian bisa saling mendoakan, jadi walaupun nggak bisa ketemu setiap hari tapi doa kamu dan doa Khalisa akan selalu bertemu di langit." Levin menarik Rindang ke dalam pelukannya.
Rindang mengangguk samar, ia memeluk Levin lebih erat. Dalam hati Rindang berterimakasih karena Levin sudah datang untuk menghiburnya.
******
"Umma sedih?" Azfan melirik Khalisa yang duduk di sampingnya. Sementara Azka sudah tertidur nyenyak di atas carseat di belakang. Azfan tahu Khalisa sedang menahan air matanya. Sekarang Azfan menyadari mengapa persahabatan antara Khalisa dan Rindang bisa bertahan lama, itu karena keduanya memiliki kesamaan yakni pandai menyembunyikan kesedihan.
"Enggak kok." Khalisa mengulas senyum pada Azfan tapi matanya berkaca-kaca bahkan bibirnya gemetar karena menahan tangis.
"Mau beli sesuatu?" Tanya Azfan, dengan harapan itu bisa menghibur kesedihan Khalisa.
"Langsung ke rumah aja, lagian kita belum packing." Khalisa menyandarkan kepalanya. "Aku nggak sedih, sebaliknya aku bahagia banget karena impian Rindang terwujud, kami punya impian yang sama yakni memiliki butik sendiri karena dulu Mama sering ngajak aku ke butik Ai Aisyah."
"Umma juga bisa punya butik sendiri."
Khalisa menggeleng, "asal Rindang sudah bisa mewujudkannya, menurutku itu udah cukup." Selama Khalisa masih bisa mendesain pakaian dan menjahitnya ia sudah bahagia.
"Oh iya Bi, tadi aku dapat SMS dari kakaknya Naira." Khalisa mengalihkan pembicaraan karena ia tak mau menangis sekarang. Khalisa akan menyimpannya untuk nanti malam. Waktu yang tepat untuk menumpahkan air mata adalah saat sepertiga malam dimana hanya Allah yang dapat mendengarnya.
"Naira punya dua kakak." Azfan ingat Naira adalah anak ke tiga dari empat bersaudara.
"Naura namanya."
"Kenapa tiba-tiba SMS Umma?" Azfan menoleh sekilas pada Khalisa sebelum kembali fokus ke jalanan. Setahu Azfan mereka tidak saling mengenal atau memang sebelumnya pernah kenal tapi ia tak tahu karena Khalisa bisa saja tiba-tiba mengobrol akrab dengan orang asing.
"Aku juga nggak tahu tapi dia pakai nomer Naira dan ngajak aku ketemu, kayaknya mau ngomong sesuatu yang penting."
"Kapan?"
"Aku udah janji besok, mungkin agak siang karena kita sampai bandara sekitar jam 8 pagi."
"Ya udah aku temenin, mau ketemu dimana?"
"Di De Jeeva." Khalisa mengeluarkan ponselnya untuk memeriksa balasan dari Naura.
Kabari aku lagi tepatnya jam berapa kamu bisa datang.
"Tapi besok Abi kan ada pengajian."
"Ah benar, aku hampir lupa untung Umma ingetin."
"Nggak apa-apa aku sendiri aja, Abi bawa mobil biar aku naik taksi."
"Besok aku sama Kak Fawas jadi Umma bisa bawa mobil."
"Makasih Bi." Khalisa tersenyum simpul, ia membalas pesan Naura menyebutkan waktu untuk bertemu besok.
Azfan ikut tersenyum, mengapa berterimakasih padahal itu mobil Khalisa. Tentu Khalisa bisa menggunakannya kapanpun. Namun Khalisa selalu bilang bahwa semua barang miliknya adalah milik Azfan juga.
__ADS_1