
Sepanjang perjalanan dari rumah sakit menuju rumah, Khalisa lebih banyak diam. Terlalu banyak kejadian yang mengguncang Khalisa beberapa hari ini. Hati Khalisa koyak tercabik-cabik hingga tak berbentuk setelah bertemu Revan lagi setelah ia pikir Revan mungkin tak akan pernah menemuinya lagi karena telah mendekam dalam penjara. Revan mengguncang jiwa Khalisa begitu hebat, ia menyiksa Khalisa dan melecehkannya. Setelah itu Khalisa melihat Revan menembak dirinya sendiri. Itu menimbulkan trauma besar bagi Khalisa.
Kabar meninggalnya Naira juga membuat Khalisa semakin hancur. Khalisa sungguh tak menyangka jika teman baiknya itu telah tiada. Terakhir berbicara melalui panggilan video, Naira terlihat baik-baik saja. Naira telah bersemangat menanti kelahiran anaknya.
Azfan melirik Khalisa, biasanya Khalisa akan menyapa orang-orang yang berpapasan dengan mereka dan mengucapkan terimakasih pada staf rumah sakit. Namun kali ini Khalisa bergeming. Azfan harus menguatkan Khalisa dan mengembalikan keceriaan sang istri seperti dulu.
"Yeay Umma datang." Nadira menyambut Khalisa di depan pintu, Azka menendang-nendang kakinya dengan semangat melihat Khalisa turun dari mobil.
Senyum Khalisa terbit melihat sang anak yang tidak sabar ingin digendong. Walaupun setiap hari Azka dibawa ke rumah sakit tapi waktu kebersamaan mereka jadi berkurang.
"Umma Umma." Azka menyentuh wajah Khalisa dan memanggil Umma nya berkali-kali.
"Iya ini Umma." Khalisa membawa Azka masuk menuju kamarnya. Khalisa ingin menghabiskan waktu dengan Azka.
Azfan dibantu Daniel mengeluarkan barang-barang dari mobil. Mulai dari pakaian hingga alat-alat pumping Khalisa karena selama berada di rumah sakit ia tidak bisa setiap saat menyusui Azka secara langsung jadi ia harus menggunakan pompa ASI.
"Umma kangen banget sama Azka." Khalisa menciumi wajah, tangan dan kaki Azka berkali-kali. "Maaf ya, Azka belum bisa jadi Koko, mungkin Allah mau Azka tumbuh besar dulu baru jadi Koko."
Azka tertawa meski tidak mengerti apa yang Khalisa ucapkan. Ia melompat-lompat di atas kasur sedangkan Khalisa memeganginya. Itu hobi baru Azka, yakni melompat-lompat dengan sepasang kaki mungilnya.
"Umma, makan siang dulu." Azfan datang membawa nasi dan semangkok sup ayam buatan Ica. "Aku suapin ya." Azfan duduk di pinggir ranjang, ia menuang sup ke piring.
"Baba." Azka melihat Azfan menguapi Khalisa, ia terlihat menginginkan makanan itu juga.
"Abi sayang, ayo belajar bilang Abi."
"Ab—bi."
"Masya Allah, good job Azka." Khalisa mencium pipi Azka gemas.
"Abi Abi."
Khalisa dan Azfan tertawa mendengar Azka terus mengatakan Abi sambil tertawa dan melompat-lompat hingga Khalisa kewalahan untuk memeganginya.
"Eh lengan Umma masih sakit, udah ya main lompat-lompatan nya."
Khalisa mendudukkan Azka di pangkuannya, ia merapikan rambut Azka yang berantakan karena melompat-lompat barusan.
"Abi udah makan belum?"
"Belum, Umma dulu makan terus minum vitamin."
"Semoga bisa lancar lagi ASI ku." Beberapa hari ini ASI Khalisa tidak lancar, untuk memompa satu kantong penuh ia butuh waktu hampir satu jam padahal biasanya ia hanya butuh 15 menit.
"Bisa kok, aku yakin Umma bisa." Azfan kembali menguapi Khalisa hingga piring di tangannya kosong.
__ADS_1
Setelah makan, Khalisa meminum ASI booster untuk memperlancar ASI nya. Khalisa berusaha semaksimal mungkin untuk memperlancar ASI nya kembali.
"Makasih Abi." Ucap Khalisa karena Azfan telah menyuapinya. "Abi makan dulu gih."
"Iya, aku ke bawah dulu." Azfan membawa piring dan mangkok yang sudah kosong ke dapur.
Setelah ini mereka akan pergi ke makam Naira dan kediaman keluarga Naira di pondok Nurul Islam bersama Rindang dan Levin sekaligus menjemput Ravina.
Khalisa keluar dari kamar mendengar suara Rindang di lantai bawah.
"Eh, jangan turun, aku yang ke atas." Seru Rindang melihat Khalisa hendak menuruni tangga. Ia melangkah menghampiri Khalisa yang sedang menggendong Azka. "Kamu jangan jalan-jalan dulu, ayo balik ke kamar."
"Apa sih, aku udah sembuh." Khalisa mengikuti langkah Rindang menuju kamarnya.
"Kamu beneran udah nggak apa-apa?" Rindang menatap Khalisa dari ujung kepala hingga kaki.
Khalisa manggut-manggut, fisiknya sudah jauh lebih baik, tinggal nyeri di beberapa bagian.
"Khalisa, setelah ini kamu harus jaga diri baik-baik, jangan pernah pergi sendiri lagi." Ucap Rindang bersungguh-sungguh.
"Iya, pasti."
"Terimakasih sudah melewati ini semua, kamu luar biasa Khalisa." Rindang memeluk Khalisa hingga Azka yang berada di gendongan Khalisa bingung. Mungkin Azka bertanya-tanya apa yang sedang Umma dan mama nya lakukan.
"Kamu udah siapin barang keperluan bayi yang aku bilang?" Tanya Khalisa setelah Rindang melepas pelukannya.
Rindang merasa sedih dan bahagia sekaligus. Seperti Khalisa, kabar meninggalnya Naira membuat Rindang terpukul. Namun di sisi lain Rindang juga bahagia karena akan segera memiliki anak. Meski itu bukan anak yang lahir dari rahimnya tapi Rindang akan menyayangi dan merawatnya sepenuh hati.
******
Perpisahan Ravina dengan keluarga ibunya akan menjadi momen yang menguras air mata. Keluarga Naira ingin merawat dan membesarkan Ravina sendiri tapi mereka harus memenuhi wasiat Naira dengan memberikan Ravina pada Rindang.
Ummi Naira memandangi Ravina dalam dekapannya, tiba-tiba ucapan Naira disela kontraksinya di rumah sakit saat itu kembali terngiang. Ia ingat betapa Naira berusaha keras untuk melahirkan anak itu meski tanpa kehadiran sang suami. Pasti berat untuk Naira tapi ia berhasil melahirkan seorang putri cantik nan menggemaskan.
"Ummi tahu Rindang nggak, dia menderita diabetes tipe 1 yang nggak bisa disembuhkan, Ummi kalau Naira nggak ada setelah melahirkan, berikan anak ini pada Rindang."
"Nai, kenapa bicara kayak gitu, kamu yang akan merawat anak mu bukan orang lain."
"Ummi, Naira merasa kematian Naira sudah dekat."
"Astaghfirullah, nggak boleh bicara kayak gitu, istighfar Nai."
"Naira percaya Rindang akan menyayangi anak ini seperti anak kandungnya sendiri."
"Mereka datang." Naura berbisik pada ummi nya ketika melihat mobil terparkir di depan kediaman mereka.
__ADS_1
Kalimat itu bagai pedang yang menusuk ke dalam ulu hati. Kedatangan mereka menandakan bahwa kebersamaan dengan Ravina akan segera berakhir. Naira pergi ke Yaman seorang diri dan tidak membiarkan siapapun mengetahui sakitnya. Sekarang mereka juga tak bisa merawat anak Naira.
Berat sekali kehilangan anak dan cucu sekaligus tapi mereka harus memenuhi permintaan terakhir Naira.
"Assalamualaikum." Azfan mengucapkan salam yang langsung dijawab oleh keluarga Naira.
Ummi Naira melihat Azfan dan istrinya lalu seorang laki-laki berkulit putih pucat dan perempuan bercadar di belakangnya. Ia menebak wanita bercadar itu yang akan membawa Ravina.
"Silakan duduk." Naura mempersilakan mereka duduk di atas permadani merah di ruang tamu mereka. Ini pertama kalinya Naura bertemu dengan sosok Rindang yang pernah Naira sebutkan waktu itu di rumah sakit. Penampilan Rindang sangat tertutup, kini Naura berpikir Naira telah memilih sosok ibu yang tepat untuk Ravina.
"Kamu Rindang?" Ummi melihat Rindang.
"Benar Ummi." Rindang mengangguk pelan, ia tak tahu harus memanggil Ummi Naira dengan sebutan apa, ia telah memikirkannya selama perjalanan tadi tapi akhirnya ia memanggilnya Ummi, itu keluar begitu saja dari mulutnya.
"Sini duduk di samping saya." Ummi meminta Rindang duduk di sampingnya.
Rindang menggeser duduknya tepat di samping Ummi Naira, ia memperhatikan bayi di gendongan Ummi. Rindang tidak sabar menggendong bayi itu, ia ingin melihatnya lebih dekat.
"Coba kamu gendong, udah bisa kan?" Ummi memindahkan Ravina yang tengah terlelap itu pada Rindang.
Rindang menegang, saat kepala Ravina berada di atas lengannya. Kepalanya terasa lembek membuat Rindang takut jika ia membuat Ravina sakit. Rindang pernah menggendong Azka saat bayi tapi tetap saja itu tidak membuatnya terbiasa.
"Satu bulan yang lalu suami Naira mengalami kecelakaan, beliau sempat dirawat di rumah sakit selama dua hari tapi Allah telah memanggilnya, itu sebabnya Naira pulang." Ummi mulai bercerita, ia tahu arti dari raut wajah Khalisa dan Azfan. Mereka pasti mempertanyakan keberadaan suami Naira.
"Innalilahi wa inna ilaiahi rojiun." Sahut Azfan spontan.
Khalisa mencengkram pergelangan tangan Azfan saat mendengar itu. Mengapa Naira tak pernah menceritakan hal itu pada Khalisa. Setidaknya Khalisa bisa menguatkan Naira. Namun Naira memilih menanggung semuanya sendirian.
"Sebenarnya keluarga suaminya di Yaman melarang Naira pulang tapi kami juga tidak mungkin membiarkan Naira disana, kami sudah cukup membuatnya menanggung sakitnya sendiri."
Air mata Rindang menggenang, melihat Ravina dalam gendongan membuatnya teringat pada Naira. Rindang mengecup ujung hidung mungil Ravina, ia berjanji akan menjadi mama yang baik untuk Ravina. Rindang tidak mau merusak kepercayaan keluarga Naira padanya.
"Sekilas Ravina terlihat seperti Naira tapi dia lebih mirip Baba nya, Ravina menjadi yatim piatu sejak lahir tapi sekarang dia memiliki orangtua yang lengkap."
"Ummi, terimakasih untuk kepercayaannya, saya dan suami akan menyayangi Ravina sepenuh hati dan kapanpun Ummi dan keluarga disini merindukan Ravina, saya akan membawanya kesini."
"Terimakasih Rindang, kami percaya kamu dan suami mu akan menjadi orangtua yang baik untuk Ravina."
"Kami akan berusaha melakukan yang terbaik untuk Ravina."
Ummi menggendong Ravina sekali lagi dan mengecup wajahnya berkali-kali. Ravina berpindah ke gendongan Zainal lalu Naura dan anggota keluarga lainnya. Mereka bergantian mencium Ravina.
"Saya akan mengirim foto Ravina setiap hari atau melakukan panggilan video." Ucap Rindang pada Naura.
"Terimakasih Rindang." Naura memberi Rindang pelukan, meski berat tapi ia harus mengikhlaskan Ravina pergi. Naura berharap Rindang bisa menyayangi dan mendidik Ravina dengan baik.
__ADS_1
Zainal mencium cucunya untuk yang terakhir kali. Entah kapan mereka akan bertemu lagi. Setelah melepas Ravina maka Zainal dan istrinya akan menganggap Ravina bukan lagi anak Naira melainkan anak Rindang dan Levin. Mau tidak mau mereka harus mengikhlaskan Ravina untuk Rindang. Mereka percaya Naira memiliki alasan yang kuat untuk mempercayakan Ravina pada Rindang. Naira juga tak mungkin salah memilih ibu yang baik untuk Ravina.