Mahabbah Cinta Khalisa

Mahabbah Cinta Khalisa
161


__ADS_3

"Koko!" Meylin berlari dari balkon kamarnya saat ia melihat Levin turun dari mobil. Meylin melewati anak tangga membuka pintu utama lalu berakhir di pelukan Levin. Ia amat merindukan Levin karena sejak menikah mereka belum pernah bertemu.


"Aduh!" Levin terkejut oleh tubrukan Meylin, ia hampir saja terhuyung ke belakang jika Rindang tak menahan tubuhnya. "Kamu doyan makan ya?"


Meylin mengurai pelukan menatap Levin tajam, "maksudnya Meme gemukan gitu?"


Levin terkekeh karena Meylin mengerti maksud dari pertanyannya. Levin meminta Meylin untuk makan teratur bukannya makan banyak.


"Loh Ce, ini siapa?" Meylin baru menyadari ada sosok anak kecil di gendongan Rindang.  "Ke ai de." Meylin mencubit pipi gembul Ravina dengan gemas.


"Ini anak Koko dan Cece." Jawab Levin.


"Meme boleh gendong nggak?" Meylin bertanya dengan penuh harap, selama ini ia kesepian di rumah yang terlalu besar untuknya. Meylin sempat mengatakan ingin punya adik pada Valerie tapi justru mamanya mengatakan bahwa percuma punya anak sebab setelah tumbuh besar mereka akan meninggalkannya.


"Boleh, tapi agak berat ya hati-hati." Pesan Rindang.


Meylin mengambil alih Ravina, matanya berkilat-kilat melihat keponakan barunya.


"Mama ada?" Tanya Levin, itu yang ingin ia tanyakan sejak tadi. Seharusnya mamanya sudah pulang jika tak ada jadwal operasi tiba-tiba.


"Ada, ayo masuk." Meylin melangkah lebih dulu, benar ucapan Rindang, Ravina memang berat hingga ia kesusahan untuk menggendongnya.


Seorang ART juga menyambut kedatangan Levin di depan pintu. Ia menyapa Levin dan Rindang dengan sopan.


"Mau dibikinin minum apa Mas?" Tanya ART tersebut pada Levin.


"Enggak usah, mereka cuma sebentar." Valerie yang berada di ujung anak tangga tiba-tiba menyahut. Ia turun satu langkah lagi dan mendekat.


ART itu akhirnya undur diri meski ia merasa tidak enak jika tak membuat minuman apapun untuk Levin dan istrinya. Padahal sudah cukup lama Levin tidak pulang ke rumah ini tapi hati Valerie masih sekeras batu untuk menerima sang anak kembali.


"Anak siapa ini?" Valerie menatap sinis pada Levin dan Rindang lalu anak kecil di gendongan Meylin. "Anak siapa yang kalian bawa?" Tanyanya sekali lagi.


"Namanya Ravina, dia anak kami Ma." Jawab Levin.


Valerie tersenyum miring, "bahkan ujung jarinya nggak mirip kamu ataupun Rindang."


"Orangtua kandungnya meninggal, sekarang Levin dan Rindang adalah orangtuanya."


Valerie menghela napas berat lalu duduk di sofa ruang tamu. Meylin meminta Levin dan Rindang ikut duduk.


"Kalian masih berani kesini?" Valerie menyilangkan kaki dan menegakkan badannya. Ia melihat Levin dan Rindang dengan tatapan penuh intimidasi.


"Mama belum memaafkan ku?"


"Ganti pertanyaan mu, Mama nggak akan pernah maafin kamu apalagi nerima Rindang sebagai menantu, melahirkan anak aja dia nggak bisa."


Rindang sudah mempersiapkan diri untuk mendengar kalimat-kalimat yang akan mengiris hatinya. Kalimat yang lebih tajam dari silet sebab ia akan menusuk ke dalam relung hati tanpa bisa disembuhkan.


"Ma, jangan bicara seperti itu." Levin menggenggam tangan Rindang, ia berharap istrinya tetap kuat meski mendengar kalimat menyakitkan dari mama nya. Lagi pula ini keputusan mereka berdua untuk mengadopsi anak.


"Memang kenyataannya begitu." Balas Valerie tanpa ada rasa bersalah.


"Mama seorang dokter, nggak pantes Mama ngomong kayak gitu sama Rindang."


"Kamu ngomong begitu seolah-olah kamu ini anak yang sempurna, Mama yang melahirkan dan membesarkan mu tapi kamu memilih keluar dari rumah ini dan menikah dengan dia." Dagu Valerie terangkat menunjuk Rindang.


"Aku ini anak Mama, bukan budak yang harus menuruti semua kemauan Mama, aku juga berhak memilih jalan hidup ku."


Valerie tertegun untuk beberapa saat tak menyangka kalimat itu keluar dari mulut Levin.


"Aku bahagia dengan pernikahan ini." Tambah Levin dengan nada bicara lebih rendah.


"Gimana pendidikan kamu?"

__ADS_1


"Aku ambil spesialis penyakit dalam dan bekerja di rumah sakit Kafasa."


"Kamu seharusnya menikah dengan pemilik rumah sakit Kafasa, bukan dengan pasiennya."


"Cukup Ma!" Bentak Levin, Valerie sudah keterlaluan mengatakan hal seperti itu tentang Rindang. "Me, tolong ajak Cece kamu keluar sebentar." Pintanya pada Meylin, "Ma, Ravina nggak seharusnya melihat ini."


Rindang mengangguk, ia keluar bersama Meylin dan Ravina. Mereka duduk di kursi taman depan. Meylin masih asyik bercanda dengan Ravina, memiliki adik adalah impiannya. Meylin tak ingin pertemuannya dengan Ravina, Levin dan Rindang segera berakhir.


Air mata Rindang merebak, ia begitu tidak diterima di keluarga ini


"Mama ngomong kayak gitu cuma bikin aku malu di depan Rindang, Mama nggak tahu kan selama ini yang menunjang kebutuhan hidup kami itu Rindang, bahkan pendapatan Rindang sepuluh kali lipat lebih besar dibanding gajiku."


Valerie terdiam mendengar rentetan kalimat Levin, ia menelan saliva berusaha menyembunyikan keterkejutannya. Wajahnya berubah pias mengetahui fakta bahwa Levin menumpang hidup pada Rindang.


"Awalnya aku berpikir alasan Mama ngusir aku itu karena kesalahanku tapi ternyata enggak, ini karena Mama nggak bisa melihat kebaikan Rindang, aku pikir Mama menginginkan kebahagiaan ku tapi nggak sama sekali, aku udah turutin kemauan Mama untuk ambil pendidikan spesialis tapi ternyata itu nggak merubah apapun, percuma aku kesini, sebesar apapun usahaku untuk mendapat maaf dari Mama, semuanya sia-sia."


Levin beranjak dari sofa, matanya memerah menahan tangis. Ia tak boleh menangis disini, itu hanya akan membuat Valerie semakin merendahkannya.


"Kami akan hidup bahagia dengan atau tanpa restu dari Mama." Ucap Levin sebelum keluar dari rumah itu—rumah yang telah menjadi tempat tinggalnya selama lebih dari 20 tahun.


"Pa." Rindang bangkit dari duduknya melihat Levin keluar.


"Ayo pergi."


"Koko dan Cece udah mau pergi?"


"Levin, Rindang." Suara itu mengalihkan perhatian Levin dan Rindang. Ia adalah Michael yang baru turun dari mobilnya. "Kalian mau kemana?"


"Pulang Pa."


"Kalian kan baru satu hari disini, pokoknya Levin dan Rindang harus menginap beberapa hari di hotel Papa." Michael melangkah menghampiri Meylin, ia mengambil alih Ravina dan mengangkatnya tinggi-tinggi. Akhirnya setelah selama ini hanya bisa melihat melalui panggilan video, Michael bisa menggendong cucunya Ravina.


"Ke ai banget Pa." Meylin bisa kagum melihat bayi dengan sepasang mata lebar dan bulu mata lentik itu.


"Pa, aku mau ikut tidur di hotel." Meylin masih merindukan Levin dan Rindang, ia juga ingin bermain dengan Ravina lebih lama. Setelah ini Meylin tak tahu kapan akan bertemu lagi dengan mereka.


"Boleh." Michael langsung menyetujui, ia bisa meminta karyawannya menyiapkan kamar yang letaknya bersebelahan untuk mereka.


"Tapi nanti Mama kesepian di rumah." Sahut Rindang.


"Mama Levin memang suka menyendiri, kalau gitu sekarang kita makan siang dulu." Michael membawa Ravina bersamanya. Meylin menyusul masuk ke mobil papa nya.


Levin dan Rindang masuk ke mobilnya mengikuti mobil papanya di depan.


Valerie melihat kepergian mereka dengan perasaan kosong seolah Levin membawa sebagian besar hatinya. Sekarang justru dirinya yang kesepian, Meylin bahkan tidak meminta izin padanya untuk pergi bersama Levin. Tiba-tiba Valerie menyesal telah terlalu keras pada Levin. Namun Valerie tetap tak bisa menerima Rindang sebagai menantunya.


"Maaf soal ucapan Mama." Gumam Levin, ia benar-benar menyesal telah membawa Rindang ke rumahnya dengan harapan bisa mendapat restu dari Valerie.


"Ini pasti juga berat buat kamu." Rindang melihat keluar jendela, ia tak mau Levin tahu jika dirinya menangis sekarang. Mengenakan cadar selalu menguntungkan bagi Rindang, tangisannya jadi tak begitu kentara. "Alhamdulillah Papa masih bisa menerima Ravina."


Levin tersenyum, seharusnya ia yang menghibur Rindang tapi justru sebaliknya.


"Alhamdulillah Pa, anak Kafa dan Mahira sudah lahir." Rindang membelalakkan matanya melihat foto yang Khalisa kirimkan padanya. Itu adalah foto bayi Kafa dan Mahira yang lahir beberapa saat lalu.


"Alhamdulillah, karena udah ada disini kita bisa sekalian jenguk." Tadinya Levin dan Rindang hanya akan berada paling lama tiga hari disini. Namun karena Mahira melahirkan, mereka bisa sekalian menjenguk bayinya.


"Dia akan jadi teman Ravina."


"Perempuan ya?" Levin menoleh sesaat pada Rindang.


"Iya, namanya cantik sekali, Zulaikha."


"Itu berarti Azka akan jadi satu-satunya anak yang paling tampan." Levin terkekeh, Azka akan jadi satu-satunya jagoan antara Ravina dan Zulaikha.

__ADS_1


"Mereka bisa bermain bersama seperti aku, Khalisa, Kafa dan Geza dulu karena jarak umurnya nggak terlalu jauh."


"Aku iri sama mereka yang bisa main bareng kamu waktu kecil."


"Kenapa?" Rindang melirik Levin.


"Aku terlambat mengenal wanita sebaik kamu."


Rindang tertawa, "kalau kita kenal sejak kecil, Koko Levin yang ganteng ini pasti lebih menyukai Khalisa dari pada aku."


"Memangnya kamu jelek waktu kecil?"


"Aku terlahir cantik." Canda Rindang, "tapi seandainya kenal sejak kecil mungkin kita nggak akan jadi mualaf."


"Sekali lagi, Allah tetap sebaik-baik penentu."


Sesampainya di hotel mereka menuju restoran yang terletak di lantai satu. Selama perjalanan Michael telah memberitahu karyawan di restoran untuk menyiapkan makanan. Saat sampai mereka bisa langsung menikmati makan siang.


Selain itu Michael juga menyiapkan suite room untuk Levin dan Rindang.


"Maaf karena Papa cuma bisa ngasih ini buat kalian." Ujar Michael disela mereka menikmati makan siang.


"Ini sudah lebih dari cukup Pa." Sahut Rindang.


"Setelah ini kalian bisa istirahat sebentar."


"Iya Pa." Levin melihat Ravina yang sudah terlelap di dalam stroller nya setelah lelah bermain dengan Meylin. Tampaknya Meylin sangat menyukai Ravina.


Rindang mengedarkan pandangan ke seluruh kamar yang sudah Michael siapkan untuknya dan Levin. Menurut Rindang ini sangat berlebihan karena mereka mungkin hanya akan menginap dua hari disini.


"Ini terlalu luas buat kita." Rindang meletakkan tas nya di atas sofa ruang tamu. Bahkan kamar ini memiliki ruang tamu yang terpisah padahal mereka tak berniat bertemu orang lain disini.


"Katanya biar Ravina nggak bosen." Levin memindahkan Ravina dari stroller ke tempat tidur lalu ia berbaring di sampingnya.


"Papa nggak ganti baju dulu?" Rindang melepas cadar dan jilbabnya, ia mengganti gamisnya dengan piyama yang lebih nyaman.


"Ngantuk Ma." Levin memejamkan mata, ia tak sanggup lagi untuk ganti baju karena terlalu ngantuk.


Rindang mengatur suhu AC agar lebih sejuk karena cuaca Sleman sangat panas hari ini.


"Mama jangan pakai parfum." Gumam Levin disela kantuknya, meski matanya terpejam tapi ia bisa tahu bahwa sekarang Rindang tengah membuka tutup botol parfum.


"Kenapa?" Rindang menoleh pada Levin, ini kebiasannya saat sudah berdua dengan Levin.


"Aku ingin tidur."


"Apa hubungannya dengan aku pakai parfum atau enggak?"


"Aku nggak mungkin menyia-nyiakan aroma harum itu hanya dengan tidur."


"Maksud Papa—?" Rindang menelan salivanya. Jangan tegang, mereka sudah beberapa bulan menikah.


"Lagi pula Ravina sudah tidur." Levin tersenyum jahil.


Akhirnya Rindang meletakkan kembali parfum miliknya dan memilih bergabung dengan suaminya serta Ravina.





Levin: Ma, aku keren nggak?

__ADS_1


Rindang: Enggak ah biasa aja.


__ADS_2