Mahabbah Cinta Khalisa

Mahabbah Cinta Khalisa
155


__ADS_3

Hujan masih deras mengguyur disertai kilat dan angin kencang. Langit ingin berlama-lama bersua dengan bumi melalui perantara hujan sebab keduanya tak mungkin bertemu secara langsung.


Seperti halnya langit yang menyampaikan rindu melalui hujan, Azfan membisikkan rindu dalam hati berharap Khalisa mendengarnya. Azfan mengatakan bahwa bagaimanapun caranya ia akan datang untuk menyelamatkan Khalisa.


Entah kenapa hujan selalu memberikan kenangan buruk, hujan mengingatkan Azfan saat ia pergi dari rumah setelah bertengkar hebat dengan Khalisa. Hujan seolah mendukung kesedihan yang Azfan alami tapi walau bagaimanapun hujan adalah tanda cinta dari Allah. Jangankan hanya hujan, panasnya api neraka saja merupakan wujud cinta Allah. Azfan mencoba berpikir positif di tengah kemelut kekhawatirannya terhadap Khalisa.


Disinilah mereka berhenti. Di pemukiman yang sudah lama ditinggalkan warga setelah erupsi dahsyat gunung Merapi 10 tahun yang lalu. Awalnya warga ingin kembali tapi baru-baru ini Merapi kembali erupsi sehingga mereka harus merelakan sebagian besar rumah yang tertimbun abu vulkanik.


Hujan mulai reda tapi mendung masih setia menggantung menjadi hiasan langit yang menghalangi sinar matahari.


Tanah lengket memeluk kaki Azfan yang hanya beralaskan sandal jepit sehingga ia jauh tertinggal oleh polisi yang leluasa bergerak meski jalanan basah.


Mata Azfan melebar melihat sandal milik Khalisa berada tak jauh dari tempatnya berdiri. Azfan mengangkat kakinya dari lumpur dan mengambil sandal tersebut.


"Pak, ini sandal istri saya." Azfan mengejar para polisi yang berjalan lebih dulu.


"Kamu yakin?"


"Saya yakin, lagi pula ini kelihatan baru sedangkan warga sudah lama meninggalkan kawasan ini."


"Itu berarti istrimu berada di sekitar sini."


Mereka mempercepat pergerakan mencari di setiap rumah yang masih berdiri di antara rumah lain yang sudah roboh.


"Jangan bergerak!" Seru seorang polisi di salah satu rumah. Azfan dan beberapa polisi lainnya buru-buru menyusul.


Revan menyeringai melihat belasan polisi berada di hadapannya, ia terkepung. Ia salah jika mengira polisi itu tak akan menemukannya. Namun Revan tak kehilangan akal, ia menyeret Khalisa untuk bangkit. Tubuh Khalisa yang lunglai tak bisa berdiri dengan tegak sehingga Revan harus menahannya.


"Umma!" Azfan hendak menghampiri Khalisa tapi dua orang polisi menahannya. "Lepaskan Pak!" Teriak Azfan, ia tak bisa menahan diri saat melihat baju Khalisa penuh darah. Azfan harus segera melindungi Khalisa dari laki-laki itu.


Revan memiting leher Khalisa dan menempelkan sebuah pistol di pelipisnya. Itu membuat polisi tidak berdaya karena Revan bisa menembak Khalisa kapanpun.


"Kamu lihat dia memegang pistol." Bisik salah satu polisi pada Azfan, ia tak mau Azfan memperkeruh suasana.


Khalisa merasa lega melihat Azfan di antara polisi-polisi itu, meski tak bisa melihatnya dengan jelas tapi akhirnya ia mendengar suara itu. Khalisa tak berdaya, ia pasrah jika Revan menarik pelatuk itu sekarang. Lagi pula ada Azfan disini tapi bagaimana dengan Azka. Khalisa ingin melihat Azka berjalan dan berlari. Khalisa ingin mengantar Azka ke sekolah untuk pertama kali.


Kamu akan jadi Koko, sayang.


Begitu ucapan Khalisa pada Azka semalam sebelum mereka tidur. Khalisa akan mengubah panggilan Azka dengan sebutan Koko agar saat adiknya lahir nanti, Azka sudah terbiasa.


Umma akan bertahan untuk Abi dan kamu sayang.


Pistol itu terasa dingin menyentuh pelipis Khalisa, ia tak bisa melawan ketika Revan mendorong pistol itu hingga kepalanya miring.


"Makasih ya, Khalisa sudah hadir di tengah-tengah keluarga Alindra, keberadaan kamu membuat keluarga kita bersatu."


Itu adalah kalimat Renata saat Khalisa berusia 3 tahun yang masih Khalisa ingat hingga sekarang.


Bayangan Renata tersenyum seraya mengusap rambut Khalisa berkelebat dalam ingatan.


Khalisa ikut tersenyum, rasanya sekarang Renata ada di hadapannya. Darah segar meleleh dari sudut bibir ketika senyum Khalisa semakin lebar bersamaan dengan air matanya yang mengalir membentuk anak sungai di sepanjang pipi hingga leher.

__ADS_1


"Revan, jatuhkan pistol itu!" Teriak salah satu polisi.


"Kalian lebih dulu." Revan tersenyum miring, ia bukan orang yang mudah tertipu apalagi dalam keadaan seperti ini.


"Oke." Tiga polisi di barisan depan meletakkan pistol mereka.


"Yang di belakang juga." Revan menunjuk tiga polisi lainnya yang masih memegang pistol.


Semua polisi meletakkan senjata mereka. Bahu Azfan berguncang hebat, ia tak kuasa melihat Khalisa diperlakukan seperti itu. Andai bisa Azfan akan menggantikan posisi Khalisa sekarang.


Trauma Khalisa sebelumnya bahkan belum sembuh, beberapa kali ia masih sering mimpi buruk tentang Revan lalu terbangun dan menangis tengah malam. Luka itu belum sepenuhnya sembuh tapi sekarang Revan menciptakan kenangan buruk yang mungkin tak akan bisa Khalisa lupakan seumur hidup.


Apa yang paling buruk dari seseorang yang memiliki ingatan kuat? ia sama sekali tidak bisa melupakan kenangan buruk sebesar apapun keinginannya untuk mengubur ingatan itu.


"Tolong lepaskan Khalisa." Seru polisi.


Revan justru tertawa mendengar itu. Tawa yang membuat Khalisa gemetar ketakutan.


Revan berancang-ancang untuk menarik pelatuk pistolnya, ia berhitung dalam hati. Setelah hitungan ketiga Revan akan menarik pelatuk itu.


Satu...


Dua...


Tiga..


"Kamu tahu, aku mencintaimu Khalisa."


Suara pistol terdengar menggelegar menggema ke seluruh ruangan sedetik kemudian Khalisa jatuh tak berdaya ke atas lantai. Pandangannya benar-benar gelap, ia tak sanggup membuka matanya meski telah berusaha sekuat tenaga.


Revan terjatuh bersamaan dengan Khalisa, darah menyembur dari mulut dan telinganya. Revan menembak dirinya sendiri tepat di pelipis.


Khalisa terjatuh karena pegangan Revan pada tubuhnya terlepas. Ia juga hilang kesadaran setelahnya.


"Umma!" Azfan berlari menghampiri Khalisa, ia menutupi kepala Khalisa dengan surban miliknya. Azfan mengangkat tubuh Khalisa membawanya keluar dari sana.


Polisi menyalakan sirine untuk kondisi darurat karena mereka harus segera membawa Khalisa ke rumah sakit.


******


Adzan isya' berkumandang dari segala penjuru masjid. Hujan telah reda setelah seharian membasahi bumi, menciptakan kehidupan baru dan memusnahkan yang sudah waktunya tiada. Alam diciptakan dengan keseimbangan, ada kemarau dan hujan serta kehidupan dan kematian.


Azfan menangis dalam shalatnya, bahunya berguncang hebat. Azfan telah berusaha menahannya tapi ia tak mampu. Tangisnya tetap pecah saat menghadap bersujud pada Sang Maha Cinta. Azfan berusaha mengikhlaskan semua yang telah Allah gratiskan kepada dirinya dan keluarganya meski itu adalah sesuatu yang amat sulit.


Jika Allah memilihmu melalui semua ini maka tandanya kamu mampu melakukannya. Allah memilihmu bukan tanpa maksud. Cobaan selalu mendewasakan dan membuatmu selangkah lebih dekat dengan Allah.


"Ya Allah, kuatkan lah hati istriku untuk menerima takdir yang telah engkau gariskan kepada kami." Bisik Azfan dalam doanya, di sela isak tangisnya malam itu.


"Bi."


Azfan menoleh mendengar suara Khalisa memanggilnya. Azfan langsung beranjak dari atas sajadah dan mendekat pada Khalisa.

__ADS_1


"Sayang, akhirnya kamu bangun." Azfan mengusap kepala Khalisa dan menggenggam tangannya.


Khalisa merasa seluruh tubuhnya remuk hingga tidak bisa digerakkan. Ia meringis ketika mencoba menggerakkan tangannya.


"Jangan banyak bergerak dulu, aku khawatir banget sama Umma." Azfan mengecup punggung dan telapak tangan Khalisa.


"Bi, anak kita nggak apa-apa kan?" Itu yang pertama terlintas di pikiran Khalisa.


Maaf Pak Azfan, janin nya tidak bisa diselamatkan, kami akan segera melakukan kuretase untuk mengeluarkan sisa-sisa organ yang tertinggal.


"Umma harus ikhlas, bayi kita nggak bisa diselamatkan, Allah lebih menyayanginya."


Khalisa memejamkan mata bersamaan dengan air matanya yang meleleh melewati pelipis dan membasahi bantal. Mengapa Allah mengambil anak itu begitu cepat. Menyapa Khalisa yang mengalami ini semua? Khalisa lupa bagaimana caranya ikhlas. Ia tak bisa, ia tak rela kehilangan anak keduanya.


"Maafin aku Bi." Khalisa mengulurkan tangan.


"Enggak, justru aku yang harus minta maaf karena nggak bisa menjaga Umma dengan baik." Azfan memeluk Khalisa, ia sudah berjanji pada Daniel sebelum menikah untuk selalu menjaga Khalisa. Namun Azfan gagal, ia membiarkan Khalisa menimpa hal menyakitkan seperti ini. Azfan gagal menjadi suami yang baik.


Dada Khalisa terasa amat sesak, ia baru melihat bayinya satu kali saat USG. Khalisa belum melihat perkembangan anak keduanya di dalam perut. Khalisa memeluk Azfan erat, ia tak bisa menjaga bayi mereka dengan baik.


"Abi mau kemana?" Khalisa menahan tangan Azfan yang hendak beranjak dari sana.


"Aku mau ambil minum, Umma harus minum."


"Dimana?"


"Di luar, aku minta sama staf rumah sakit."


Khalisa menggeleng, ia lebih baik kehausan dari pada Azfan meninggalkannya.


"Hanya sebentar."


"Nggak, nggak mau." Khalisa mengeratkan pegangannya.


"Ya sudah." Azfan duduk di pinggiran ranjang dan mendekap Khalisa. Azfan mengusap pipinya yang basah, ia harus terlihat kuat setidaknya di depan Khalisa.


"Azka dimana Bi?"


"Azka di rumah, besok baru kita bisa ketemu Azka ya." Azfan mengusap sepanjang lengan Khalisa.


"Ah!" Khalisa meringis, lengannya terasa sakit saat Azfan mengusapnya padahal itu adalah usapan yang selalu ia sukai. Namun seluruh tubuhnya terasa nyeri dan sakit saat dipegang.


"Maaf, sakit ya?"


Khalisa mengangguk. Ia ingin bertanya dimana keberadaan Revan tapi untuk menyebut nama itu Khalisa tak sanggup melakukannya. Khalisa takut, membayangkan sosok Revan saja membuatnya berkeringat dingin.


"Umma istirahat lagi ya." Azfan menurunkan posisi ranjang Khalisa di bagian kepala agar Khalisa bisa tidur dengan posisi lebih nyaman.


"Tapi Abi jangan ninggalin aku."


"Enggak, aku disini."

__ADS_1


"Aku juga mau pamit sama adiknya Azka."


Jadi ini artinya pamit, Azfan berpamitan sebelum sang calon anak di dalam perut Khalisa pergi untuk selamanya. Anak itu terbang ke langit sebelum melihat dunia.


__ADS_2