
Dari kejauhan Azfan melihat Khalisa yang duduk di atas motor menunggunya keluar kelas untuk pulang bersama. Tadi Azfan sempat ketiduran sekitar setengah jam setelah makan siang. Ternyata tidur di atas pangkuan terasa sangat nyaman, sekarang Azfan mengerti mengapa Khalisa sering tidur di pangkuannya.
Khalisa tidak menyadari kedatangan Azfan karena terlalu fokus dengan ponselnya. Azfan tidak sengaja melihat layar ponsel Khalisa yang sedang menampilkan foto abaya hitam di salah satu e-commerce.
"Assalamualaikum." Azfan mengucapkan salam untuk kedua kalinya karena barusan Khalisa tidak mendengar salamnya.
"Waalaikumussalam." Khalisa berbalik spontan mematikan ponsel dan memasukkannya ke dalam kantong jas yang ia kenakan. Ia tersenyum melihat kedatangan Azfan dan langsung turun dari motor.
Wajah Azfan menyiratkan kesedihan, Khalisa pasti menginginkan pakaian itu karena ini bukan pertama kalinya Azfan mendapati Khalisa memandang foto abaya tersebut. Jika diingat-ingat sepertinya Khalisa tidak pernah membeli pakaian baru sejak menikah, Azfan ingat hanya satu kali saat mereka hendak menghadiri reuni SMA nya.
"Mas, bentar lagi mampir ke minimarket dulu ya, teh di rumah habis." Ujar Khalisa ketika Azfan naik ke atas motor dan ia duduk di belakangnya.
"Iya sayang." Azfan menyalakan motor dan melaju pelan keluar dari area tempat parkir kampus.
Rumah mereka cukup dekat dengan minimarket, hanya sekitar 10 menit jika berjalan kaki.
Azfan penasaran berapa harga baju itu sampai Khalisa perlu berpikir berkali-kali untuk membelinya. Pasti mahal. Jika Khalisa yang biasa hidup mewah harus berpikir panjang untuk membeli baju itu apalagi bagi Azfan.
Azfan mengambil keranjang begitu masuk ke minimarket.
"Cuma beli teh kok." Khalisa meletakkan kembali keranjang di tangan Azfan.
"Biasanya Haura suka beli Snack disini."
Khalisa menggeleng, kali ini ia hanya ingin membeli teh yang sudah benar-benar habis di rumah.
"Mas suka yang ini kan?" Khalisa menunjuk kotak teh berwarna biru.
Azfan mengangguk, sebenarnya ia tak mempermasalahkan apapun merk teh nya karena jika Khalisa yang membuatnya akan tetap terasa enak.
"Ini aja Mbak?" Kasir memastikan sekali lagi belanjaan Khalisa, ia menawarkan berbagai Snack yang ada di dekat meja kasir.
"Itu aja." Khalisa mengeluarkan satu kartu miliknya untuk membayar teh tersebut.
"Terimakasih." Ucap kasir tersebut seraya mengulas senyum lebar.
"Kok nggak pakai kartu ku?" Tanya Azfan ketika mereka keluar dari minimarket.
"Hm?" Khalisa ingin menghindar dari pertanyaan itu.
"Isinya habis ya?" Duga Azfan karena biasanya Khalisa selalu menggunakan kartu miliknya untuk berbelanja.
Khalisa menunduk melihat sepasang kakinya yang terbungkus sepatu pantofel hitam. Bagaimana ini, ia tidak mau membuat Azfan merasa bersalah. Lain kali ia harus lebih berhemat.
"Maaf Mas, aku belum bisa ngatur keuangan kita, lain kali aku akan belajar lebih hemat dan beli sesuatu yang penting aja."
Azfan tersenyum mengusap lengan Khalisa, "bukan Haura yang nggak bisa atur keuangan tapi uang nya yang memang sedikit." Azfan tahu Khalisa sudah berusaha berhemat. "Ayo naik."
Khalisa memeluk perut Azfan naik ke atas motor. Khalisa berpikir keras bagaimana caranya ia juga memiliki penghasilan untuk membantu Azfan. Sedangkan pikiran Azfan justru dipenuhi oleh foto abaya yang sering Khalisa lihat di ponsel. Azfan penasaran berapa harga pakaian itu tapi ia tidak mungkin menanyakannya pada Khalisa. Pasti Khalisa senang jika Azfan tiba-tiba membelikan baju yang ia inginkan. Namun Azfan belum memiliki uang lebih untuk memenuhi keinginan Khalisa.
"Akhir-akhir ini toko sepi." Azfan meletakkan tas sesampainya di rumah, tentu saja tidak setiap hari orang membeli kaligrafi. Tidak seperti menjual bahan makanan yang setiap hari akan terjual.
"Namanya juga usaha Mas, pasti ada saat naik dan turunnya, nggak melulu di atas." Khalisa duduk di samping Azfan membantunya melepas jasnya. "Mas sendiri kan yang bilang kalau kita khawatir tentang rezeki besok maka itu artinya kita meragukan Allah."
Azfan tersenyum melihat ketabahan Khalisa, istrinya itu sama sekali tidak menuntut penghasilan lebih dan selalu menerima berapapun uang yang Azfan berikan. Dengan begitu Azfan juga harus menerima makanan apapun yang Khalisa masak.
"Terimakasih sayang, kamu sudah menerima apapun keadaan aku."
"Jangan bilang gitu Mas, setelah menikah nggak ada lagi aku kamu—tapi kita jadi apapun keadaannya kita akan lewatin ini bareng-bareng."
__ADS_1
"Istriku yang shalihah, semoga Allah melindungi mu." Azfan menggenggam tangan Khalisa dan mengecupnya. Khalisa mengaminkan doa Azfan. "Aku siap-siap ke toko dulu." Ia beranjak.
Azfan mengganti pakaiannya sebelum berangkat ke toko. Khalisa mengantar Azfan hingga depan pintu.
"Hati-hati di jalan Mas." Khalisa mencium punggung dan telapak tangan Azfan yang wangi.
"Haura juga hati-hati di rumah." Azfan mengecup kening Khalisa lalu mengucapkan salam.
Khalisa tidak pernah berharap kaligrafi di toko Azfan laku keras tapi ia selalu berdoa agar rezeki yang mereka dapat bisa menjadi berkah.
Khalisa kembali menutup pintu setelah Azfan tidak terlihat, ia bergegas mengeluarkan buku sketsanya dari dalam tas. Khalisa telah menggambar banyak desain pakaian hanya saja belum sempat menjahitnya. Dress Renata adalah pakaian terakhir yang Khalisa jahit.
Khalisa membuka setiap lembar sketsa yang telah dibuatnya. Sebagian kecil dari gambar tersebut sudah dibuat menjadi pakaian oleh Khalisa. Ia memiliki mimpi untuk membuat semua desain itu lalu memajangnya di butik miliknya sendiri. Namun untuk sekarang Khalisa belum bisa mewujudkannya.
"Bisa dijual nggak ya?" Tiba-tiba Khalisa berpikir untuk menjual desain itu pada orang lain, kebetulan ia memiliki beberapa kenalan designer. Untuk saat ini hanya itu yang terlintas di pikiran Khalisa. Hanya itu yang Khalisa punya dan dirasa bisa membantu meringankan pekerjaan Azfan.
Khalisa menggulir nama-nama kontak pada ponselnya, ia memutuskan untuk mengirim pesan pada Sandi—salah satu designer kepercayaan Aisyah yang saat ini juga tinggal di Sleman sehingga jika dibutuhkan untuk bertemu maka Khalisa bisa dengan mudah melakukannya. Sama seperti Aisyah, Sandi juga memiliki butik di daerah kota Yogyakarta. Khalisa berharap Sandi mau menerima beberapa desain miliknya.
Sembari menunggu balasan Sandi, Khalisa melangkah menuju dapur untuk membuat teh yang baru saja ia beli di minimarket.
"Ah ternyata bukan teh aja yang habis tapi gulanya juga habis." Khalisa membelalak melihat toples gulanya yang juga kosong tak tersisa. Ia telanjur menuang air panas ke dalam mug dan mencelupkan teh. "Berarti hari ini minum teh tawar aja." Entah kenapa Khalisa tertawa melihat toples gulanya kosong padahal itu tidak lucu.
Khalisa kembali ke ruang tamu membawa segelas teh tawar, ia buru-buru memeriksa ponsel tapi belum ada balasan dari Sandi.
"Sabar Sa, baru beberapa menit, Bang Sandi pasti sibuk." Khalisa mencoba menenangkan dirinya sendiri, ia duduk menyesap teh buatannya yang mengalirkan kehangatan ke seluruh tubuhnya, tapi tak bisa dibandingkan dengan hangatnya pelukan Azfan, eh.
******
Kafa tengah menikmati suasana cafe yang baru selesai dibuka di dekat apartemennya. Banyak muda-mudi sepertinya yang sedang nongkrong di cafe tersebut. Mungkin hanya Kafa yang datang seorang diri dan terlihat seperti jomblo menyedihkan. Namun Kafa lebih baik dicap sebagai jomblo menyedihkan dari pada bermaksiat karena menjalani hubungan yang tidak halal.
Tidak. Kafa tidak sendiri, ia telah membuat janji dengan Sandi—cowok yang beberapa tahun lebih tua darinya. Kafa telah membuat janji tersebut sejak dirinya baru sampai di Sleman. Namun dunia perkuliahan tak seindah yang biasa Kafa lihat dalam film. Kafa pikir ia akan memiliki banyak waktu untuk sering hangout bersama teman-teman barunya. Nyatanya jadwal kuliahnya sangat padat bahkan di semester awal. Bahkan kadang Kafa ingin menyerah tapi ia sudah berjanji pada keluarganya untuk mengambil jurusan tersebut. Memikirkan betapa Khalisa teguh pada pilihannya untuk menikah dengan Azfan membuat Kafa semakin kesal. Kafa telah berkorban besar untuk Khalisa tapi lihatlah sekarang kakak sepupunya itu justru memilih Azfan—yang Kafa yakin tidak bisa menghidupi Khalisa dengan baik.
"Ini bukan akhir pekan tapi jalan macet parah." Sandi duduk di hadapan Kafa. "Pinter banget ya kamu pilih tempat ketemu yang jaraknya deket sama tempat tinggal mu." Ia menyeka keringat yang mengalir di pelipisnya.
"Ya udah biar adil gimana kalau kita ketemu lagi tapi di dekat tempat tinggal Bang Sandi deh." Kafa mengangkat tangan memanggil waiter untuk memesan. Ia sudah melihat-lihat buku menu tadi dan sebenarnya tak ada yang menarik bagi Kafa. Namun karena sudah sampai disini maka Kafa harus memesan.
"Ketemu lagi paling tahun depan." Sandi membolak-balik buku menu, ia memesan jus Ice Coffee Rum dan satu dessert rasa coklat. "Kopi lah Kaf." Tukas Sandi melihat Kafa tidak segera menyebutkan pesanannya.
"Nggak bisa minum kopi." Akhirnya Kafa memesan Lemon Green Tea dan Churros.
"Kenapa?"
"Lambung ku kecut." Kafa terkekeh.
Sandi memeriksa ponselnya karena ia mendengar ada beberapa pesan masuk saat dirinya berada di jalan.
"Tumben Khalisa ngirim pesan nih." Sandi membuka pesan Khalisa yang diawali dengan sapaan dan bertanya kabar. Sandi segera membalas pesan tersebut.
Mendengar nama Khalisa, Kafa melihat Sandi berharap ia diberitahu apa isi pesan tersebut.
"Wah kebetulan banget dia nawarin desain." Sandi tampak sumringah, ia sudah lama menginginkan desain yang Khalisa buat tapi tak pernah berhasil mendapatkannya karena Khalisa bilang itu adalah koleksi pribadinya.
"Cece nawarin desain pakaian nya?" Kafa membelalak, apakah hidup Khalisa benar-benar susah hingga harus menjual desain nya.
"Iya, dia ngirim beberapa gambar desain nya."
"Abang tertarik nggak?" Tanya Kafa.
"Tapi kayaknya nggak bisa bayar dengan harga mahal." Sandi meletakkan ponselnya.
__ADS_1
"Kenapa?" Kafa mengerutkan kening, "desain yang Ce Khalisa bikin selalu bagus lo Bang."
"Ya aku tahu tapi kan Khalisa bukan profesional designer."
"Bang Sandi harus bayar mahal nanti aku yang ganti uangnya."
"Lah kenapa gitu eh tapi tunggu dulu kenapa Khalisa ngelakuin ini?"
"Yah Bang Sandi tahu sendiri suaminya Ce Khalisa itu orang nggak punya jadi sekarang pasti Cece aku itu mau ngelakuin apapun untuk bertahan hidup."
Sandi memperhatikan ekspresi Kafa, "kenapa kayak nggak suka gitu sama suami Khalisa, kalian nggak lagi berantem kan?"
Kafa menggeleng yang membuat Sandi bingung apakah itu gelengan untuk menjawab pertanyaannya atau justru gelengan karena Kafa tak ingin menjawab pertanyaannya.
"Mau bagaimanapun Khalisa itu tetep Cece kamu, kamu nggak boleh gitu." Sandi memberikan nasehat sebagai orang yang lebih tua.
"Aku cuma nggak habis pikir sama Cece yang milih laki-laki itu sebagai suaminya dan perjalannya masih panjang, dia terlalu cepat memutuskan untuk menikah." Meski memikirkannya berkali-kali Kafa tidak akan menemukan satu pun kebenaran dari pilihan Khalisa untuk menikah dengan Azfan.
"Sekarang buktinya kamu khawatir kan sama Khalisa?"
"Jujur iya tapi kami nggak bisa kayak dulu lagi."
"Kamu harus menghargai apapun pilihan Khalisa, jangan memandang sesuatu cuma dari satu sisi."
"Apaan sih Bang, aku ketemu bukan mau dengerin nasehat Bang Sandi." Kafa mengibaskan tangan.
"Kamu tuh masih kecil, aku tebak kamu belum pernah jatuh cinta kan?"
"Sok tahu." Emang iya, kalaupun jatuh cinta aku nggak bakal kayak Ce Khalisa yang lupa segalanya.
Pesanan mereka datang, Sandi segera meminum es kopi tersebut karena kerongkongannya terasa kering akibat terlalu lama terjebak macet.
"Coba bayangin deh kalau kamu yang ada di posisi Khalisa, gimana perasaan kamu?"
"Aku nggak akan pernah kayak dia."
"Emang kamu tahu takdir kamu nanti kayak apa, udah lah jangan ngeyel."
"Udah lah sekarang Bang Sandi mau bayar desain Cece berapa?"
"Paling 2 jutaan." Sandi sengaja memancing kepedulian Kafa terhadap Khalisa.
"Gila ini tahun berapa Bang, pelit amat lagian desain Cece itu nggak pasaran loh."
"Emang kamu mau ngasih aku berapa?"
"Tiga puluh, Bang Sandi harus beli desain itu minimal tiga lima."
"Ya udah." Tanpa pikir panjang Sandi menyetujuinya.
"Aku transfer sekarang ya." Kafa mengeluarkan ponselnya, ibu jarinya bergerak lincah di atas layar datar ponsel tersebut. Beberapa saat kemudian ia menunjukkan layar ponselnya pada Sandi. "Udah!" Katanya.
Sandi tersenyum. Mereka tetaplah saudara, meski mulut Kafa mengatakan ia membenci Khalisa tapi Sandi yakin Kafa tetap mempedulikan Khalisa.
"Eh tapi jangan sampai Cece tahu." Ujar Kafa dengan nada mengancam.
"Beres!"
Kafa memastikan sendiri bahwa Sandi menepati janji untuk membayar desain Khalisa. Kafa berharap itu bisa meringankan penderitaan Khalisa saat ini.
__ADS_1