
Ketika kembali ke apartemen, Khalisa mendapati Levin berada di lobi dengan dua paper bag di tangannya. Khalisa melambaikan tangan menyapa Levin yang sepertinya tengah menunggunya. Tentu saja siapa lagi yang Levin kenal disini kecuali Khalisa dan Rindang.
"Nunggu lama nggak?" Tanya Khalisa.
"Enggak kok, baru 10 menit." Levin menebarkan senyum cerah, "aku telepon kamu tapi nggak diangkat, aku pikir kamu udah pulang."
"Oh ya?" Khalisa membelalak merogoh saku rok nya untuk melihat panggilan tak terjawab Levin. "Maaf Ko, hp nya aku silent jadi nggak kedengaran kalau ada telepon." Sesalnya.
"Its okay." Kalaupun Khalisa menunggunya berhari-hari Levin akan tetap melakukannya.
"Ayo ke atas." Ajak Khalisa.
"Ko Levin mau berangkat ya?" Tanya Rindang seraya menekan tombol pada lift.
"Iya, ini sekalian mau pamit sama kalian."
"Semoga Ko Levin betah di Banyuwangi, nggak terlalu ada bedanya kok sama disini." Khalisa menghibur Levin karena pasti berat meninggalkan kampung halaman dan orangtua seperti dirinya yang memutuskan berkuliah disini.
Mereka sampai di lantai apartemen Khalisa. Rindang ikut masuk ke apartemen Khalisa karena ia paham betul bahwa Khalisa pasti minta ditemani agar tak hanya berdua dengan Levin yang bukan mahramnya. Jadi sebelum diminta, Rindang berinisiatif melakukannya lebih dulu.
"Ini buat kalian." Levin meletakkan dua paper bag di atas meja. "Yang coklat punya Rindang, yang merah muda punya Khalisa."
"Makasih Ko." Rindang ikut duduk di sofa sementara Khalisa menuju dapur untuk mengambil minuman dan makanan ringan untuk tamunya.
"Kenapa Koko repot-repot bawa sesuatu buat kami?" Khalisa meletakkan tiga botol jus buah leci di atas meja dan keripik kentang.
"Sebagai salam perpisahan." Levin tersenyum lebar memperlihatkan giginya yang rapi.
"Numpang toilet." Rindang beranjak, ia sudah menahan kencing sejak di klinik.
"Makasih Khalisa karena udah izinin aku koas disana." Levin membuka tutup botol jus dan menukarnya dengan milik Khalisa.
Alis Khalisa terangkat saat Levin membuka tutup botol untuknya, itu adalah jus buatannya sendiri sehingga tutupnya tidak terlalu sulit untuk dibuka.
"Justru aku yang harus bilang makasih karena dengan adanya Ko Levin disana pasti bisa banyak membantu dokter lainnya." Khalisa meneguk jus tersebut begitupun dengan Levin.
"Khalisa aku mau ngomong sesuatu sama kamu, sebenernya aku mau ngomong ini sejak lama tapi nggak pernah ada waktu yang pas, berhubung sekarang aku mau berangkat dan nggak ada kesempatan untuk ketemu dalam waktu dekat maka aku akan ngomong sekarang."
Khalisa menunggu kalimat Levin selanjutnya dengan tidak sabar, mereka selalu bercanda saat bertemu dan jarang bicara serius seperti ini. Khalisa jadi tegang memikirkan apa yang akan Levin katakan.
"Khalisa."
"Hm?" Kenapa lama sekali?
"Aku suka sama kamu."
"Hm?" Mata Khalisa melebar, apakah ia salah dengar? apa maksud dari kata suka? Khalisa tak pernah mendengar kalimat seperti itu sebelumnya.
__ADS_1
"Sejak pertama ketemu aku suka sama kamu."
Khalisa mengerjapkan mata melihat ke arah lain, kenapa Levin harus bilang seperti itu padahal Khalisa sudah menganggap Levin sebagai kakak laki-lakinya sendiri karena ia cucu tertua di keluarga Alindra. Mengenal Levin membuat Khalisa bisa merasakan bagaimana menjadi seorang adik. Ternyata Levin memiliki perasaan lain terhadap Khalisa. Khalisa tak tahu harus kecewa atau tetap menghargai perasaan Levin. Jadi maksudnya perlakuan baik Levin selama ini semua karena ia menyukai Khalisa, bagaimana jika tak ada perasaan itu, apakah Levin tak akan memperlakukan Khalisa dengan baik.
"Maaf Khalisa."
Khalisa menggeleng memaksakan senyum, Levin tak harus minta maaf atas perasannya meski itu membuat Khalisa terkejut setengah mati.
Dilihat dari ekspresi Khalisa, Levin tahu kalau gadis itu tidak memiliki perasaan yang sama dengannya.
"Aku cuma mau ngomong itu dan aku nggak perlu jawaban dari perasaan ini."
"Maaf Ko, aku udah anggap Ko Levin seperti Koko aku sendiri." Khalisa menunduk.
"Aku tahu kamu menyukai Azfan."
Khalisa mengangkat wajah, apa begitu terlihat sampai Levin mengetahui itu. Lalu apakah Azfan juga tahu bahwa Khalisa menyukainya. Apakah Azfan tahu tapi ia pura-pura tidak tahu karena perasaan mereka tidak sama. Khalisa tak pernah berpikir berlebihan kecuali saat memikirkan Azfan.
Rindang hampir saja mengganggu Levin dan Khalisa yang tampak membicarakan sesuatu yang amat serius. Pelan-pelan ia berbalik dan duduk di sofa ruang tengah agar tidak mengganggu mereka.
"Aku berharap kamu bahagia dengan siapapun pasangan kamu nanti." Levin tersenyum getir, "aku yakin kalian bisa bersatu karena Bu Ica dan Pak Daniel bilang mereka nggak butuh menantu kaya karena keluarga kalian sudah kaya."
Khalisa mengerutkan kening, "kapan mereka bilang begitu?"
"Aku malu mau cerita ini tapi aku harus bilang sama kamu, waktu anniversary Papa Mama bilang kalau aku dan kamu bisa menikah dengan mudah, Mama ku bilang kamu menantu ideal untuk mereka, aku punya dua hal yakni Islam dan kekayaan tapi jawaban Bu Ica bikin aku kagum tapi sedih pada saat yang bersamaan, beliau bilang nggak kaya nggak masalah, yang penting mau bekerja karena mereka sendiri sudah kaya."
Khalisa tak menyangka bahwa mamanya bisa mengeluarkan kalimat yang membuat lawan bicaranya mati kutu.
"Kamu nggak perlu minta maaf karena kalimat Mama ku pasti bikin Bu Ica sakit hati, Khalisa aku yakin kamu bisa bersatu sama Azfan."
Khalisa tersenyum hambar, ia juga tidak tahu apakah dirinya akan diterima oleh Azfan. Mungkin orang-orang akan berpikir pasti Azfan akan menerima Khalisa. Namun Khalisa lihat Azfan bukan tipe lelaki yang menyukai gadis sepertinya. Mungkin Azfan menyukai Syifa yang memiliki suara merdu sepertinya. Tunggu dulu Khalisa tak pernah tidak percaya diri tapi Azfan membuatnya melakukan itu.
"Makasih Koko udah bilang seperti itu."
"Kalau Azfan nyakitin kamu, aku akan berdiri paling depan untuk membela mu."
Khalisa tertawa, perasaan Levin sungguh tulus terhadapnya. Khalisa berharap Levin akan menemukan wanita baik yang akan mencintainya begitu dalam hingga Levin bisa melupakan perasaannya terhadap Khalisa.
******
Jam dinding menunjukkan pukul 2 malam tapi Azfan tidak juga bisa tertidur, ia melirik Bimo yang sudah ngorok di sampingnya di kasur yang sempit itu. Azfan masih memikirkan ucapan Rindang tadi sore, ia harus bekerja keras untuk bisa bersanding dengan Khalisa yang hidup serba berkecukupan sejak lahir. Orangtua Khalisa juga tak akan membiarkan anaknya hidup kesusahan setelah menikah. Azfan harus membuktikan bahwa ia juga bisa membahagiakan Khalisa meski tak akan sebanding dengan apa yang orangtua Khalisa lakukan.
Azfan merubah posisinya memunggungi Bimo, tak terasa ia tersenyum mengingat wajah manis Khalisa yang tak pernah berani dipandangnya lebih dari 3 detik.
Akhirnya Azfan turun dari tempat tidur menuju kamar mandi yang hanya 3 langkah dari kasurnya ini. Ia memutuskan untuk shalat saja karena tak juga bisa terlelap. Entah karena suara Bimo yang ngorok tepat di dekat telinganya atau karena memikirkan seorang gadis. Azfan tidak boleh seperti ini, ia tak ingin terlalu banyak memikirkan Khalisa.
Azfan memohon kepada Allah, jika Khalisa memang jodohnya di masa depan maka ia akan berusaha sekuat tenaga untuk meminang Khalisa. Meski memikirkannya sekarang tidak mungkin bagi Azfan untuk menikahi Khalisa karena membayar kuliah saja ia kesulitan apalagi untuk memenuhi kebutuhan Khalisa. Namun bukankah tak ada yang tidak mungkin bagi Allah jika telah berkehendak.
__ADS_1
"Ternyata memang sakit." Azfan meraba perban di kepalanya, ia jadi ingat bagaimana Khalisa berdebat dengan dokter tadi untuk meresepkan obat pereda nyeri untuknya. Ternyata perkiraan Khalisa benar, luka itu baru terasa sakit sekarang.
Azfan beranjak dari sajadah dan mengambil tiga butir kurma, satu-satunya makanan yang ada di tempat kosnya. Azfan melahapnya setelah membaca doa.
Tadi Azfan berada di antara sadar dan tidak sadar saat Khalisa menjadi orang pertama yang menghampirinya. Azfan harus berterimakasih terhadap luka ini karena telah membuatnya bisa melihat rasa cinta Khalisa terhadapnya.
Azfan menelan obat pereda nyeri itu setelah menghabiskan 3 butir kurma. Ia memutuskan untuk membaca Alqur'an sembari menunggu subuh.
******
Ketukan pintu membangunkan Azfan dari tidurnya, Azfan baru sadar bahwa ia telah tidur di atas sajadah. Azfan memijit punggungnya yang terasa pegal, mungkin karena jatuh kemarin sakitnya baru terasa sekarang.
Azfan melihat Bimo belum bangun padahal ketukan pintu di luar terdengar kencang. Azfan beranjak untuk membuka pintu. Ia melihat Ayu membawa kotak makanan dan sebotol susu—sepertinya karena warnanya putih.
"Aku lihat kemarin Mas Azfan jatuh dari mimbar, aku pikir Mas Azfan nggak pulang ternyata udah disini, ini aku bawain sarapan."
"Makasih Ayu, sampaikan sama Ibu juga ya."
Ayu sedikit mengintip ke dalam tempat kos Azfan, ia melihat orang lain di dalam sana.
"Siapa di dalam Mas?"
"Temen aku, Bimo." Azfan meletakkan makanan di atas meja di teras dan duduk di salah satu kursi. Ayu ikut duduk di hadapan Azfan, kapan lagi ia bisa menemani Azfan makan.
"Gimana keadaan Mas Azfan sekarang?" Tanya Ayu.
"Udah nggak apa-apa kok." Azfan membuka botol itu dan meneguknya perlahan, ternyata itu susu kacang.
"Syukurlah kalau gitu, kemarin aku lihat Mbak-mbak yang waktu itu takut kucing."
"Khalisa namanya."
Ayu tidak peduli pada nama gadis itu, yang jelas sinyal otaknya mengatakan ia harus mengalahkan Khalisa untuk mendapatkan Azfan. Ayu tidak bisa disebut anak kecil lagi sekarang karena ia juga sudah kuliah. Namun melihat wajah Azfan merona saat menyebutkan nama Khalisa, Ayu jadi curiga.
"Mas Azfan suka sama Mbak itu?"
Senyum Azfan semakin lebar, "In shaa Allah aku akan memperjuangkan nya."
Senyum Ayu memudar. Kenyataan bahwa Azfan memang tak pernah melihat Ayu sebagai gadis melainkan seorang adik membuat Ayu sakit hati. Lalu percuma saja Ayu mengejar Azfan hingga ke UII padahal ia belajar siang malam agar lolos tes masuk salah satu universitas swasta tersebut.
"Aku pulang dulu." Ayu beranjak tanpa menunggu jawaban Azfan, ia telah berjalan cepat meninggalkan tempat itu.
Hari ini Azfan tidak pergi kuliah karena dokter telah membuat surat izin 3 hari untuknya. Namun Azfan tidak akan berdiam diri disini, ia memutuskan untuk pergi ke toko kaligrafi nya.
.
.
__ADS_1
.
Pada Kakak Adik Zone nih 😅