
"Assalamualaikum Khadijah anak Abi dan Umma, terimakasih sudah lahir dengan sehat dan selamat sayang." Azfan menimang tubuh mungil Khadijah yang lahir 15 menit lalu dari rahim Khalisa.
Tubuh mungil Khadijah dibalut dengan kain bedong berwarna merah muda oleh dokter setelah dibersihkan. Ia menjulurkan lidah sedangkan tangannya berusaha keluar dari kain bedong yang membelitnya.
Suara Azfan terdengar gemetar ketika melantunkan adzan di telinga kanan Khadijah. Suara yang jauh dari harapan Azfan. Ia rutin melantunkan adzan di masjid dan banyak orang memuji suaranya. Namun saat mengadzani bayinya, suara Azfan justru terdengar sumbang. Padahal Azfan ingin melakukan yang terbaik untuk Khadijah.
Air mata mengalir membentuk anak sungai di pipi Azfan, ia bersyukur karena Khadijah lahir dengan selamat walaupun ini jauh lebih cepat dari perkiraan dokter.
"Terimakasih sudah berjuang bersama Umma untuk lahir ke dunia." Azfan mengecup kening Khadijah yang masih lembek, ia melakukannya dengan hati-hati.
Keinginan Azka untuk memiliki adik perempuan terwujud. Celetukan Azka saat berada di masjid Nabawi benar-benar terjadi. Mereka memberinya nama Khadijah Nasywa Alindra. Nasywa memiliki arti kegembiraan atau suka cita seperti perasaan mereka saat mengetahui Khalisa hamil setelah pulang umroh.
Khalisa masih berbaring di atas brankar, ia menatap Azfan yang membelakanginya. Pandangannya turun ke kaki Azfan yang penuh dengan noda cat begitupun dengan kemejanya. Azfan sedang berada di masjid saat Kirana meneleponnya tadi, ia tak sempat ganti baju.
Dokter mengangkat Khadijah memindahkannya ke gendongan Khalisa untuk mendapatkan ASI pertamanya.
Sudut bibir Khalisa terangkat membentuk senyum lebar ketika Khadijah berada dalam dekapannya.
"Kemarin kamu masih ada di dalam perut Umma, hari ini akhirnya Umma bisa memeluk Khadijah." Khalisa menyentuh pipi kemerahan Khadijah dengan telunjuknya.
Azfan menggenggam tangan Khalisa, ia mengucapkan terimakasih karena Khalisa telah berjuang untuk melahirkan anak mereka.
"Kita akan belajar lagi." Gumam Khalisa, setiap hari mereka belajar banyak hal dari seorang anak. Mereka tak akan pernah menjadi orangtua yang sempurna tapi keduanya telah melakukan semua yang terbaik untuk Azka dan Khadijah nanti.
"Kita akan terus saling menguatkan." Azfan menatap Khalisa lekat, saat melihat wajah sang istri ia kembali teringat pada perjuangan Khalisa selama ini.
"Terimakasih Bi."
Azfan menggeleng, "aku yang harus berterimakasih, aku memiliki banyak kekurangan tapi Umma selalu melengkapinya." Azfan beranjak mengecup kening Khalisa.
"Abi adalah suami yang sempurna untukku." Khalisa mengusap noda tinta di pipi Azfan. Dari tadi Khalisa tidak sadar ada noda di wajah sang suami.
"Banyak noda nya ya?" Azfan ikut-ikutan mengusap wajahnya.
"Tetep ganteng kok." Khalisa berusaha menghilangkan noda tersebut tapi ternyata tintanya tidak mudah dihilangkan.
Wajah Azfan memerah hingga ke telinga dipuji seperti itu oleh Khalisa.
Khalisa tertawa melihat ekspresi wajah Azfan, hampir setiap hari ia memuji Azfan tapi ekspresinya selalu seperti itu.
Sejak awal kenal Azfan memang laki-laki yang pemalu, itu jauh berbeda dengan Khalisa yang ekspresif dan selalu percaya diri.
Dulu Khalisa berpikir jika tipe suaminya nanti adalah yang memiliki sifat sama dengannya. Ramah, mudah berbaur dengan orang lain dan percaya diri. Khalisa berpikir hidupnya akan sempurna jika memiliki pasangan hidup yang sifatnya mirip. Namun Khalisa salah, perbedaan antara dirinya dan Azfan justru membuat pernikahan mereka penuh warna.
Khalisa sudah membuktikan dengan melihat pasangan Kafa dan Mahira, sifat keduanya hampir sama. Itu sebabnya hampir setiap hari mereka bertengkar bahkan karena hal kecil sekalipun. Namun tentu saja Kafa dan Mahira memiliki cara sendiri untuk mengatasi hal itu.
Azfan mengambil alih Khadijah yang sudah terlelap setelah puas menyusu, ia menimangnya sebentar lalu meletakkannya di dalam box.
"Aku pulang sebentar ambil barang-barang yang nggak kebawa sekalian jemput Azka."
"Iya, aku udah janji mau langsung kasih tahu dia kalau adiknya udah lahir."
Azfan menurunkan posisi ranjang agar Khalisa bisa berbaring dengan nyaman.
"Biar Ibu jagain kamu." Azfan mencium kening Khalisa sekali lagi sebelum keluar dari ruangan itu. Karena tadi mereka buru-buru ke rumah sakit, ada banyak barang yang tertinggal.
"Hati-hati Bi."
******
Azka begitu antusias melihat adiknya secara langsung, selama ini ia hanya bisa melihatnya melalui monitor saat Khalisa melakukan USG. Namun sekarang Azka bahkan bisa memegang Khadijah dan mendengar suaranya.
Mata Azka berbinar-binar seperti mendapat mainan baru tapi yang ini bukan hanya mainan. Khadijah tak akan pernah kehabisan baterai—ah tidak, Khadijah itu manusia. Bagi Azka, Khadijah adalah keajaiban yang bisa keluar dari perut Umma nya.
"Kenapa lihatin Umma gitu?" Dari tadi Khalisa memperhatikan Azka melihat dirinya dan Khadijah bergantian.
"Dulu aku juga keluar dari perut Umma?" Azka berjalan mendekat meraba perut Khalisa yang tidak lagi buncit.
"Iya, kan Umma pernah tunjukin fotonya waktu Umma hamil Azka."
"Umma bilang nggak sakit tapi kenapa Umma pakai ini?" Azka menunjuk infus di punggung tangan Khalisa.
"Umma bukan bilang nggak sakit tapi sedikit sakit." Khalisa mengusap pipi tembam Azka, setelah ini ia akan menghadapi dua anak yang banyak bertanya. Khalisa dan Azfan harus lebih banyak membaca buku karena pertanyaan anak-anak seringkali tak terduga.
"Wajah Umma juga pucat."
"Ini pasti karena Umma nggak pakai lipstik."
"Kalau gitu Abi ambilin lipstik Umma ya." Azfan merogoh tas yang ia bawa dari rumah. Tak hanya membawa pakaian dan peralatan mandi tapi Azfan juga membawa skincare dan makeup Khalisa. Azfan kini mengerti bahwa makeup juga kebutuhan utama wanita, hampir mirip seperti makanan.
"Tolong kasih Umma yang warna merah muda."
"Bi tolong ambilkan ponselku juga." Tambah Khalisa.
"Baiklah, Azka suka Umma pakai merah muda ya?" Azfan memberikan pouch make-up Khalisa, ia juga meletakkan ponsel Khalisa disana.
Azka mengangguk, "tapi Umma cantik pakai warna apapun."
Khalisa hampir saja menjatuhkan liptint di tangannya saat mendengar perkataan Azka. Pasti Azka sering mendengar Azfan mengucapkan itu hingga ia menirunya.
Khalisa menyalakan ponselnya untuk membagikan kabar bahagianya ke keluarga terdekat. Mereka masih terkejut dengan kabar tersebut.
"Bi, hari ini kan pernikahan Clarin dan Jason." Khalisa baru ingat jika nanti malam harusnya mereka datang ke pernikahan Clarin dan Jason. Mereka mengadakan pernikahan di hotel Aswatama.
Khalisa mengirim ucapan selamat sekaligus permainan maaf pada Clarin dan Jason karena ia tidak bisa datang.
"Bagaimana kalau kita kirimkan hadiah buat mereka."
Khalisa memikirkan hadiah apa yang bisa mereka berikan pada Jason dan Clarin.
"Mereka suka bepergian."
"Gimana kalau traveling organizer bag."
__ADS_1
"Boleh, kalau gitu aku pesan dulu." Azfan meraih ponselnya dan membuka aplikasi belanja online. Mereka bisa langsung mengirimkan hadiah tersebut ke rumah Jason.
"Clarin kirimin foto pemberkatan mereka." Senyum Khalisa melebar melihat foto yang Clarin kirimkan padanya.
Azfan beranjak dari sofa untuk ikut melihat foto tersebut. Mereka terlihat serasi, Clarin mengenakan gaun putih dengan ekor panjang membentang sedangkan Jason tampak segar dengan potongan rambut rapi.
"Mereka serasi ya Bi." Khalisa ikut bahagia, akhirnya Jason menemukan pelabuhan cintanya setelah merasa putus asa karena Rindang menikah dengan Levin.
"Seperti kita." Azfan hendak mencium puncak kepala Khalisa tapi Azka lebih dulu memanggilnya.
"Aku mau gendong adik Khadijah." Azka sudah ingin menggendong adiknya sejak Nadira menunjukkan foto Khadijah padanya.
"Boleh, Azka duduk gih di sofa."
Azka menuruti ucapan Abi nya untuk duduk di sofa.
"Hati-hati ya sayang." Khalisa memperingatkan.
Azfan meletakkan Khadijah di pangkuan Azka beralaskan bantal karena tangan Azka tidak akan kuat menahan kepala sang adik.
Azka tersenyum canggung saat Khadijah berada di pangkuannya. Adiknya sangat kecil hingga Azka tidak berani menyentuhnya.
"Azka boleh pegang tapi pelan-pelan ya." Azfan duduk di sebelah Azka.
Azka menyentuh lengan adiknya yang sangat kecil dengan hati-hati.
"Menurut Azka, adik Khadijah mirip siapa?"
"Mirip Koko." Azka menunjuk dirinya sendiri, saat pertama sampai di rumah sakit dan melihat Khadijah, Azka seperti melihat dirinya sendiri. Lebih tepatnya dirinya saat kecil. Itu karena Azka sering melihat fotonya saat bayi.
"Nanti malam Azka pulang ya sama Nenek."
"Aku mau disini Bi."
"Tadi kan Azka udah janji waktu Abi jemput, Azka mau pulang sama Nenek kalau udah malem."
"Besok Umma dan adik Khadijah udah pulang sayang." Timpal Khalisa, ia sudah selesai menggunakan makeup. Khalisa hanya mengaplikasikan liptint dan sedikit bedak agar tidak terlalu pucat.
"Bukannya Abi nggak mau Azka tidur disini tapi di rumah sakit itu kan berisik, nanti Azka tidurnya terganggu, nah besok pagi kan Umma dan Khadijah udah pulang bisa ketemu Azka lagi."
"Tapi nanti aku tidur di kamar Umma dan Abi ya."
Azfan dan Khalisa saling berpandangan, mereka sudah susah payah mengajari Azka tidur sendiri di kamarnya sendiri sekarang anak itu justru ingin kembali tidur bersama mereka.
Khalisa mengangguk samar memberi jawaban, mereka tidak punya pilihan setidaknya Azka bisa tidur bersama mereka beberapa hari.
Azfan akhirnya mengiyakan permintaan Azka untuk tidur bersama. Setelah ini Azfan akan menyaksikan keributan, canda, tawa dan tangisan anak-anaknya. Azfan tak bisa membayangkan akan se-asyik apa kehidupan mereka setelah ini. Azfan jadi tidak sabar. Memiliki satu anak saja sudah cukup melatih kesabaran Azfan. Jika dibandingkan Khalisa, Azfan memiliki stok kesabaran yang jauh lebih banyak.
Pernah suatu hari Azfan baru pulang dari pengajian, saat membuka pintu tiba-tiba Khalisa menghambur memeluknya. Azfan tidak tahu apa yang terjadi karena Khalisa menangis sambil mengeluh sakit. Lalu beberapa saat kemudian Azka menyusul dengan wajah penuh rasa bersalah sambil membawa sendok di tangannya.
"Azka pukul dahi ku pakai sendok!" Khalisa mengadu pada Azfan sambil memegangi dahinya yang terasa perih dan berdenyut-denyut.
"Coba aku lihat." Azfan menurunkan tangan Khalisa, betapa terkejutnya ia melihat dahi Khalisa sudah berdarah. "Aku obati ya."
Khalisa kembali memeluk Azfan, menurutnya obat terbaik dari segala rasa sakit adalah pelukan Azfan.
"Ssshhh, sabar sayang." Azfan hanya bisa menepuk-nepuk punggung Khalisa berusaha menenangkannya. Ia juga tidak tega melihat Azka tertunduk tak jauh dari mereka. Azka pasti tidak sengaja melakukan ini. "Azka pasti nggak sengaja." Azfan menangkup pipi Khalisa dan meniup lukanya walaupun itu tak akan mengurangi rasa sakitnya.
"Maaf Umma, Azka nggak sengaja." Azka mengangkat wajahnya yang sudah berderai air mata. "Umma jangan nangis, Azka takut." Azka berlari memeluk kaki Khalisa.
"Kenapa Azka pukul Umma pakai sendok?" Tanya Azfan.
Azka menjelaskan bahwa ia tidak sengaja melakukan itu, tadi ia terlalu senang saat melihat acara tv kesukaannya. Azka mengayun-ayunkan sendok di tangannya hingga tidak sengaja mengenai Khalisa.
"Umma udah ingetin Azka buat nggak main sendok nggak?"
"Iya." Azka mengangguk, ia sangat menyesal. "Azka salah Bi."
"Azka jangan ulangi yang kayak gitu lagi ya, kasihan Umma sakit dahinya berdarah."
"Maaf Bi, Umma."
Azfan berjongkok di dekat Azka dan memeluknya. Ia meminta Azka berjanji tidak mengulangi hal seperti itu.
"Abi kenapa senyum-senyum?" Khalisa melihat Azfan diam-diam tersenyum. Ia penasaran apa yang Azfan pikirkan hingga tersenyum seperti itu.
"Aku cuma lagi ingat kejadian lucu aja." Azfan tidak mau menceritakannya sekarang karena pasti Khalisa akan malu jika mengingat momen itu lagi.
Wajar saja jika Khalisa menangis. Saat itu Khalisa adalah wanita 21 tahun yang baru menjadi ibu, perasannya masih labil dan tidak sekuat sekarang. Seiring berjalannya waktu, kesulitan yang menimpa rumah tangga mereka membuat keduanya menjadi lebih kuat. Cinta mereka semakin tebal hingga tak ada siapapun yang bisa mengusiknya.
******
Keesokan harinya Khalisa diperbolehkan pulang dari rumah sakit karena kondisinya sudah stabil. Daniel dan Ica juga sudah berada di rumah itu. Mereka terkejut saat Khalisa tiba-tiba mengirimkan foto bayi. Awalnya mereka berencana pergi ke Sleman bulan depan tapi ternyata Khadijah lahir lebih cepat dari perkiraan.
"Selamat sayang, sekarang kamu memiliki putra dan putri." Ica memeluk Khalisa dan mencium kening sang anak beberapa kali. "Kamu ibu yang hebat."
"Mama adalah ibu yang paling hebat di dunia." Khalisa mengeratkan pelukannya pada sang mama.
"Kamu sudah punya dua anak tapi bagi Papa, kamu tetap gadis kecil Papa sama seperti Zunaira." Daniel gantian memeluk Khalisa.
"Itu artinya Khalisa awet muda Pa."
"Kalau gitu Papa dan Mama sudah boleh bawa Azka pulang, kan sudah ada Khadijah."
"Papa!" Khalisa merengek, walaupun ada Khadijah tapi ia tak mau berpisah dengan Azka. "Jangan Pa."
"Hanya seminggu."
"Tetap nggak boleh." Tegas Khalisa. Berpisah satu hari saja Khalisa sudah uring-uringan apalagi satu Minggu.
Daniel terkekeh, "Papa cuma bercanda." Ia kembali mendekap Khalisa.
Daniel langsung menggendong Khadijah yang tadinya berada di gendongan Kirana. Daniel meminta Kirana beristirahat karena telah menjaga Khalisa semalaman hingga pagi ini.
Tentu Kirana tidak keberatan menjaga Khalisa, lagi pula Khalisa tidak rewel dan bisa melakukan semuanya sendiri. Khalisa tak pernah merepotkan Kirana.
Daniel dan Ica juga memberi selamat pada Azfan. Mereka berterimakasih karena Azfan sudah menjadi suami siaga untuk Khalisa serta Abi yang baik untuk Azka dan Khadijah. Mereka menyayangi Azfan seperti anak kandung sendiri.
__ADS_1
"Mau gendong Akong!" Azka mengulurkan tangannya pada Daniel.
"Akong lagi gendong adik lo sayang, gendong Ama aja ya."
"Ama nggak kuat gendong aku." Azka mengerucutkan bibirnya.
"Akong, cucunya yang paling ganteng minta gendong tuh." Ica mengambil alih Khadijah agar Daniel bisa menggendong Azka.
"Udah jadi Koko masih minta gendong aja nih." Daniel mencium pipi Azka, "eh kalau Umma lagi ngurusin adik, Koko jangan rewel harus jadi Koko yang baik ya."
Azka manggut-manggut.
Saat masuk kamar perhatian Khalisa langsung tertuju pada kotak kado super besar di sudut ruangan. Khalisa mencoba menebak siapa yang telah mengiriminya kado begitu awal. Khalisa baru memberitahu orang-orang terdekat tentang kelahiran anak keduanya.
Dari sahabatmu yang paling baik. Sahabat yang kenal Khalisa dari bayi.
Sudut bibir Khalisa terangkat, itu pasti dari Rindang. Selain memberitahu keluarga terdekat, Khalisa juga membagikan berita bahagia ini pada Rindang dan Huma. Mereka bertiga sama-sama sedang hamil, hanya selisih satu dua bulan. Tentu saja mereka berpikir Rindang akan melahirkan lebih dulu, itu sebabnya Khalisa menyiapkan kado untuk calon anak Rindang. Namun Khalisa justru menerima kado lebih dulu.
Kemarin Huma mengunjungi rumah sakit, ia kaget bukan main saat Khalisa memberitahu bahwa anaknya sudah lahir padahal mereka baru bertemu beberapa jam sebelumnya.
Khalisa mendoakan dua sahabatnya agar persalinan mereka berjalan dengan lancar. Sebab ini kehamilan pertama mereka terutama Rindang yang membutuhkan penanganan khusus.
"Aku bantu buka ya." Azfan membantu Khalisa membuka kado dari Rindang.
"Makasih Bi." Khalisa mundur selangkah memberi ruang untuk Azfan.
Sebuah lemari dan carseat langsung menyembul ketika Azfan merobek kertas kado dan membuka kotaknya. Khalisa membelalak tak percaya jika Rindang memberinya sebuah lemari. Rindang tahu saja jika Khalisa tidak membeli kemari khusus untuk Khadijah karena lemari pakaian Azka waktu bayi dulu masih bisa digunakan.
Khalisa juga tidak banyak membeli baju bayi karena baju bekas Zulaikha sangat banyak dan masih layak digunakan. Khalisa hanya membeli beberapa pakaian dan barang yang benar-benar dibutuhkan. Khalisa sudah mengurangi kebiasaan konsumtif sejak menikah. Ia jadi lebih menghargai uang karena tahu Azfan bekerja keras untuk menafkahinya.
"Khalisa, kami dapat kabar kalau Rindang sudah melahirkan pagi ini." Ica datang dari lantai bawah, ia menidurkan Khadijah di dalam box nya.
"Oh ya?" Khalisa mencari ponselnya, siapa tahu Levin atau siapapun mengiriminya pesan tentang berita bahagia tersebut.
"Rindang memang waktunya melahirkan, bahkan lewat satu Minggu dari HPL nya." Tambah Ica.
"Hp Umma ada di bawah, biar aku ambilkan." Azfan bergegas mengambil ponsel Khalisa di ruang tamu.
"Khalisa mau makan apa?" Kirana menyusul ke kamar.
"Ibu jangan repot-repot bikinin Khalisa makan."
"Nggak apa-apa, Ibu nggak ada kerjaan."
"Ya udah kalau gitu saya bantu." Sahut Ica, sebentar lagi sudah waktunya makan siang. Mereka harus memasak untuk semua orang.
"Mari Bu Alisha." Kirana pergi lebih dulu.
"Mama sebenarnya malu kalau masak sama mertua kamu, beliau jago banget masaknya, palingan Mama cuma bantu potong-potong sayur sana kupas bawang."
"Mertuaku udah tahu kok kalau Mama nggak bisa masak, nggak usah malu Ma."
"Ya udah Mama pergi dulu, kamu istirahat ya." Ica pergi dari kamar Khalisa menyusul Kirana ke dapur.
Khalisa duduk di kursi dekat box Khadijah, ia memandangi sang buah hati yang terlelap. Jika diperhatikan, Khadijah sangat mirip Khalisa waktu kecil.
Azfan datang membawa ponsel Khalisa.
"Makasih ya Bi." Khalisa memeriksa ponselnya, ia langsung membuka dua pesan dari Levin. "Masya Allah, Alhamdulillah Bi, Ko Levin ngirim foto bayinya."
Azfan duduk di samping Khalisa, ia melihat foto bayi mungil yang mengenakan bedong merah muda.
"Hanya selisih satu hari dengan Khadijah."
"Ini perpaduan Ko Levin dan Rindang." Khalisa meletakkan ponselnya di atas nakas setelah membalas pesan Levin. Ia harap Rindang segera pulih.
Azfan merangkul Khalisa, "Umma, aku minta maaf." Lirihnya.
"Maaf untuk apa?" Khalisa menyipitkan matanya melihat Azfan curiga.
"Sebenarnya ada wanita lain di hatiku."
"Bi, jangan bercanda kayak gitu ah aku nggak suka." Khalisa melepaskan tangan Azfan yang tengah merangkul pinggangnya. Ia cemberut karena Azfan berkata seperti itu. "Cuma aku yang boleh menempati hati itu."
"Tapi aku nggak bisa nolak, dia tiba-tiba datang dan langsung tinggal di hati aku, aku nggak bisa mengalihkan pikiran dari dia."
"Abi kok ngomong gitu sih, aku baru aja ngelahirin anak kita loh, siapa wanita itu?" Mata Khalisa memerah menahan amarah. Jangan-jangan wanita yang mengirim surat waktu itu pada Azfan. Awas saja, Khalisa akan mencakar wajah Azfan hingga tak berbentuk!
"Namanya Khadijah."
Khalisa merapatkan giginya kesal dengan candaan Azfan, itu sama sekali tidak lucu. Ia bahkan hampir menangis berpikir jika Azfan bisa saja menduakan nya.
"Nggak lucu!" Khalisa beranjak keluar kamar menuruni anak tangga, "Papa, Mas Azfan jahilin aku!" Khalisa memeluk Daniel yang sedang bermain dengan Azka di ruang tengah.
Azfan panik karena Khalisa mengadu pada Daniel padahal ia hanya bercanda soal itu. Namun ini akan menjadi terakhir kalinya bagi Azfan.
"Ada apa?"
"Mas Azfan bilang ada wanita lain di hatinya." Khalisa menangis seperti anak kecil. Emosinya tidak stabil karena baru melahirkan. Beberapa kasus pada ibu melahirkan, mereka kadang mengalami baby blues.
"Siapa wanita itu?" Daniel beranjak ketika melihat Azfan di ambang pintu ruang tengah.
"Pa, Azfan cuma bercanda, wanita itu Khadijah."
Khalisa menangis sesenggukan di pelukan papa nya. Itu adalah candaan paling menyakitkan, Khalisa tidak menyukainya.
"Azfan, kenapa kamu bercanda seperti itu?" Daniel geram karena Azfan telah membuat putrinya menangis.
"Azfan minta maaf Pa, Umma, aku minta maaf, aku salah." Azfan telah melukai perasaan Khalisa walaupun itu hanya bercanda. "Maaf Umma."
"Jangan ulangi lagi candaan seperti ini." Tegas Daniel.
"Azfan janji Pa."
"Maafkan Azfan." Bisik Daniel pada Khalisa.
"Umma," Azfan memegang lengan Khalisa,ia tak tahu jika candaan itu akan berakhir seperti ini. "Aku nggak mungkin menduakan Umma, nggak akan pernah." Azfan menarik Khalisa lalu memeluknya, ia meminta maaf berkali-kali pada Khalisa.
__ADS_1
Daniel hanya geleng-geleng melihat Khalisa dan Azfan. Di rumah ia melihat Kafa dan Mahira bertengkar hampir setiap hari. Sekarang Khalisa dan Azfan juga seperti itu. Daniel tahu itu adalah bumbu pernikahan tapi jika terlalu banyak pasti keasinan dan rasanya terlalu kuat.