Mahabbah Cinta Khalisa

Mahabbah Cinta Khalisa
125


__ADS_3

Khalisa duduk termenung di balkon kamar, ia mendesah beberapa kali sambil mengusap perutnya yang terasa nyeri karena datang bulan. Sejak pagi tadi Khalisa harus berbaring di tempat tidur karena perutnya kram. Nadira yang mengurus Azka setengah hari ini. Setelah kram pada perut Khalisa sedikit mereda akhirnya ia bisa duduk di balkon depan kamarnya.


Samar-samar Khalisa mendengar suara tangis Azka perlahan semakin jelas, ia beranjak dari kursi melangkah masuk kamar.


"Kenapa Mbak?" Khalisa melihat Nadira di depan pintu kamar, Azka tampak menangis kuat di gendongan Nadira.


"Kayaknya Azka kangen sama Umma nya, dia nggak mau saya gendong Mbak." Nadira mengusap rambut Azka yang basah karena keringat akibat menangis cukup lama.


"Sini sama Umma." Khalisa mengambil alih Azka dari gendongan Nadira. "Mbak Nadira tinggal aja."


"Mbak Khalisa kan masih sakit perutnya."


"Nggak apa-apa, udah enakan kok." Khalisa menempelkan dagu Azka ke bahunya, "maafin Umma ya, seharian ini Umma nggak gendong kamu."


Nadira pergi dari kamar Khalisa untuk menyelesaikan pekerjaan lain karena sejak tadi pagi ia harus menemani Azka.


Azka perlahan tenang dalam dekapan Umma nya. Khalisa membawa Azka ke balkon. Mata Khalisa terpejam bersamaan dengan air matanya yang meleleh. Khalisa telah menahan tangisannya sejak Daniel mengabarkan bahwa Alindra Beauty dituntut oleh Elena beberapa hari yang lalu. Akhirnya sekarang Khalisa bisa menumpahkan tangisannya sambil memeluk Azka.


"Kira-kira apa Umma bisa menghadapi sidang skripsi sekaligus sidang Alindra Beauty nanti?" Khalisa bergumam bertanya pada Azka yang tentu saja tak bisa menjawabnya.


Khalisa harus memikul tanggungjawab besar terhadap Alindra Beauty, ini baru awal tapi ia telah membuat masalah besar. Khalisa merasa dirinya sudah hati-hati dalam membuat krim itu tapi ternyata semua ini tidak semudah apa yang ia pikirkan.


Kadang Khalisa ingin menyerah tapi ia tak memiliki pilihan. Mau tidak mau Khalisa harus meneruskan bisnis kekuatannya. Khalisa tak bisa hidup seenaknya.


"Terimakasih karena Azka sudah hadir di hidup Umma jadi Umma bisa jauh lebih kuat." Khalisa mengusap punggung Azka yang telah tertidur. Pasti Azka rewel barusan karena ia mengantuk. "Jadi ibu itu ternyata nggak semudah yang Umma pikirkan tapi Umma tetap bahagia karena ada kamu."


Jika saat belum menikah dulu Khalisa bisa tidur seharian saat datang bulan, sekarang ia harus tetap bisa bangun dan menggendong sang anak. Namun Khalisa tidak mau mengeluh, ia tahu di luar sana ada banyak orang yang jauh lebih lelah dan kesusahan dari pada dirinya.


Suara ketukan pintu mengalihkan perhatian Khalisa, sesaat kemudian pintu terbuka lalu Kafa muncul dari sana.


"Ce, aku dari tadi telepon tapi Cece nggak angkat." Kafa melangkah menghampiri Khalisa.


"Cece nggak denger, hp nya di bawah bantal."


"Azka tidur?" Kafa mengintip Azka dari balik bahu Khalisa.


"Iya baru aja tidur, Cece minta maaf ya karena nggak bisa ikut nyiapin pernikahan kamu."


"Justru aku yang minta maaf karena baru bisa kesini, harusnya aku ada di samping Ce Khalisa karena sekarang pasti Cece lagi kesulitan." Kafa duduk di salah satu kursi di balkon.


"Kamu nggak usah khawatir, fokus aja sama UAS dan persiapan nikahan mu."


"Aku bisa bantu, Cece bilang aja."


"Nanti kalau butuh bantuan Cece pasti bilang."


Kafa mengangguk, ia tak bisa membiarkan Khalisa menanggung semuanya sendiri. Sejak lahir mereka telah diberikan tanggungjawab besar. Kadang Kafa ingin lahir di keluarga sederhana seperti Mahira tapi ia percaya Allah telah memberikan dirinya pundak yang kuat untuk menanggung semua ini.


"Mas Azfan kok nggak ada?" Kafa tidak melihat Azka sejak sampai.


"Ada di toko."


"Mas Azfan masih ke toko? kan udah ada Mas Idris sama Geza."

__ADS_1


"Yang bikin kaligrafinya kan tetep Mas Azfan."


Meskipun Azfan telah mengajari Geza membuat kaligrafi tapi ia tetap rutin pergi ke toko untuk membuat pesanan. Kadang Azfan juga harus membuat kaligrafi di luar seperti di langit-langit masjid An-Nur.


"Katanya Mas Azfan mau bicara serius sama aku tapi aku tungguin nggak dateng-dateng."


Khalisa baru ingat kalau Azfan hendak memberikan sedikit pelajaran tentang pernikahan tapi karena sibuk Azfan tak punya waktu untuk pergi ke apartemen Kafa. Sekarang walaupun Kafa kesini, ia juga tak dapat bertemu Azfan.


"Nanti deh Cece bilang sama Mas Azfan."


"Cece kenapa pucat gitu mukanya? Ce Khalisa sakit?" Kafa baru menyadari jika wajah Khalisa pucat.


"Enggak." Khalisa menggeleng, ini karena kram perut membuat wajahnya pucat.


"Aku pesenin makanan ya?"


"Enggak, nggak usah." Khalisa ikut duduk setelah merasa Azka tertidur lebih lelap. "Cece minta tolong pesenin bunga ke Mahira boleh nggak, vas disini udah pada kosong semua."


"Pesen bunga ke Mahira?"


"Iya, Tantenya jual bunga kan?"


"Aku nggak punya nomernya Mahira."


Khalisa menoleh melihat Kafa tak percaya, mereka sebentar lagi hendak menikah tapi belum punya kontak masing-masing.


"Terus selama ini gimana cara kalian komunikasi?"


"Wah, Cece bangga banget sama kamu." Khalisa ingin menepuk pundak Kafa tapi ia masih menggendong Azka.


"Biasa aja kali Ce." Kafa mengibaskan tangannya berusaha memasang tampang datar padahal ia sedang menahan senyum dipuji seperti itu oleh Khalisa. "Oh iya, gimana menurut Cece kalau aku pakai salah satu tenant di Alindra Mall untuk jualan bakpia nya Mahira."


"Kamu cari tahu dulu apa masih ada tenant kosong disana."


"Iya, Cece setuju?"


"Cece setuju karena bakpia nya mereka itu enak, sayang banget kalau tempat jualannya di samping rumah nanti di Alindra Mall pasti lebih laris lagi."


Kafa manggut-manggut dengan senyum lebar, ia senang jika bisa membantu bisnis keluarga Mahira karena ia yakin usaha tersebut memiliki potensi besar untuk berkembang.


"Cece pindahin Azka ke box dulu ya." Khalisa beranjak untuk memindahkan Azka ke box nya.


Ketika hendak kembali ke balkon, Khalisa mendengar suara ketukan pintu beberapa kali. Khalisa bergegas membuka pintu agar ketukan itu tidak membangunkan Azka.


"Khalisa kamu harus lihat ini." Huma menerobos masuk ke dalam kamar dengan heboh.


Khalisa langsung menutup mulut Huma dengan tangannya dan melirik Azka yang sedang terlelap. Melihat itu Huma langsung mengendalikan diri dan merendahkan suaranya.


"Ada apa sih heboh banget." Khalisa menyeret Huma ke balkon.


"Ada Kafa juga disini?" Huma duduk di salah satu kursi kosong begitupun dengan Khalisa.


"Kamu belum jawab pertanyaan ku, Humaira." Khalisa menatap Huma kesal karena tak segera memberitahu apa yang telah membuat sahabatnya itu heboh.

__ADS_1


"Akun Instagram Alindra Beauty diserang netizen, mereka bilang kalau produk kamu nggak aman dan berbahaya."


Kafa membelalak terkejut, ia sengaja menyembunyikan hal ini dari Khalisa tapi justru Huma memberitahu. Kafa menendang kaki Huma meskipun ia tahu sudah terlambat.


"Coba lihat." Khalisa ikut melihat layar ponsel Huma.


"Ngapain sih lihat kayak gitu segala, nggak penting." Kafa menutupi layar ponsel Huma.


"Ih apa sih Kafa!" Huma menyingkirkan tangan Kafa membiarkan Khalisa melihat komentar pada foto krim anti strechmark Alindra Beauty.


Khalisa mengambil alih ponsel Huma, ibu jarinya terus menggulir komentar-komentar itu.


Boikot Alindra Beauty!


Stop produksi krim beracun itu!


Nggak nyangka brand terkenal kayak Alindra Beauty bisa teledor bikin produk.


Denger-denger, krim itu bikinan Khalisa anak sulung nya Daniel. Belum lulus kuliah farmasi udah sok-sokan bikin produk.


Mata Khalisa memanas seperti ditusuk-tusuk jarum bersiap mengeluarkan airnya. Khalisa tak menyangka bahwa berita tentang tuntunan Elena begitu cepat tersebar. Karena Khalisa tak memiliki media sosial, ia tak pernah tahu tentang hal ini.


"Khalisa, makanya kamu juga harus punya media sosial biar bisa balas komentar itu, kamu bisa jelasin ke mereka kalau semua ini nggak bener." Huma kembali mengambil ponselnya.


Khalisa bergeming, ia tak tahu harus mengeluarkan kalimat macam apa setelah membaca komentar pedas orang-orang. Kini Khalisa tahu bagaimana penilaian orang terhadap dirinya.


Nadira datang membawa tiga gelas teh hangat untuk Khalisa, Huma dan Kafa serta satu toples keripik salak. Lemari dapur selalu dipenuhi camilan pemberian jamaah sehingga Khalisa jarang membeli camilan sendiri karena takut makanan mereka menumpuk di lemari hingga kadaluarsa.


"Makasih Mbak." Ujar Huma sebelum Nadira pergi dari sana.


"Cece jangan terlalu mikirin itu." Kafa menunjukkan ponselnya pada Khalisa, ia telah menyimpan tangkapan layar berisi komentar positif netizen tentang produk krim milik Khalisa. "Cece lihat deh, masih banyak komentar baik dan suka krim itu, review di e-commerce dan Google juga bagus-bagus kok."


Khalisa melirik ponsel Kafa, ia telah gagal membuat produk pertamanya dan mencoreng nama baik Alindra Beauty bahkan mereka menyuarakan untuk memboikot produk Alindra Beauty. Tentu ini akan berdampak buruk tak hanya Alindra Beauty tapi juga Alindra Corp.


"Menurut kamu, apa kita harus tarik produk itu lagi dan menghentikan produksinya?" Khalisa menatap Kafa.


"Itu adalah sesuatu yang nggak mungkin kita lakuin, Cece tahu biaya produksi itu milliaran rupiah dan kita mau tarik gitu aja? Ce Khalisa masih waras kan?" Kafa menarik ponselnya kembali.


Huma menelan salivanya, ia tak seharusnya hadir di tengah-tengah perdebatan Khalisa dan Kafa. Namun sepertinya kedatangan Huma yang membuat dua bersaudara itu jadi berdebat. Apakah Huma harus pulang sekarang? ia takut Kafa yang sudah terlihat seperti singa itu akan melahapnya habis. Huma heran mengapa Mahira mau menikah dengan si galak Kafa.


"Khalisa maaf, aku nggak tahu kalau masalahnya seserius itu." Gumam Huma pelan.


"Udah tahu salah, masih aja disini." Gerutu Kafa.


"Its okay, justru aku berterimakasih sama kamu karena udah nunjukin ini." Timpal Khalisa seraya menyentuh punggung tangan Huma. "Kalaupun kamu nggak kesini, mereka tetap akan berkomentar seperti itu kan? jadi ini sama sekali bukan salah kamu." Ujarnya menenangkan Huma.


"Ce Khalisa nggak usah takut, takaran bergamot dalam produk itu udah sesuai takaran bahkan kita udah uji coba ke orang yang alergi bergamot tapi semuanya aman kan."


"Cece tahu tapi buktinya kondisi Elena sekarang sangat memperhatikan."


"Tapi Cece udah bayar biaya rumah sakit kan, kalaupun kasus ini dibawa ke pengadilan, Alindra Beauty akan menang."


Huma membuka toples di atas meja dan mengambil satu keripik salak. Huma tak mau ikut campur karena ia tidak mengerti apa-apa jadi lebih baik ia diam.

__ADS_1


__ADS_2