Mahabbah Cinta Khalisa

Mahabbah Cinta Khalisa
69


__ADS_3

Mahasiswa farmasi seangkatan Khalisa sedang serius menganalisis contoh darah manusia untuk mengetahui kadar kolesterol total, trigliserida dan LDL kolesterol. Permulaan semester 3 dibuka oleh praktikum yang cukup membuat kepala pening.


"Suami kamu di depan." Huma berbisik pada Khalisa.


Khalisa menahan diri untuk tidak menoleh meski ia juga tahu kalau Azfan duduk di depan ruang praktikum nya sejak 10 menit yang lalu. Khalisa iri karena Azfan selalu selesai kelas terlebih dahulu. Sedangkan dirinya masih harus berkutat dengan darah atau cairan lain yang berasal dari tubuh manusia untuk diteliti. Jika dulu Khalisa berpikir Farmasi hanya mempelajari tentang obat maka ia salah besar.


Sementara itu di luar sesekali Azfan melihat ke arah pintu berharap Khalisa segera muncul dari sana. Azfan tidak tahu betapa sulitnya mata kuliah Klinik Farmasi hingga menghabiskan waktu berjam-jam di laboratorium. Ia dan Khalisa mempelajari sesuatu yang jauh berbeda dan tidak mungkin berdiskusi satu sama lain saat mengerjakan tugas kuliah.


"Mas."


Azfan mengangkat wajah mendengar suara Khalisa, ia melihat Khalisa keluar dari laboratorium setelah sekitar setengah jam ia menunggu disini. Senyum manis Khalisa menular pada Azfan.


"Maaf lama." Khalisa mencium punggung tangan Azfan, meski satu kampus seharian ini mereka tidak bertemu karena sibuk dengan kuliah masing-masing.


"Capek ya?" Azfan mengusap lengan Khalisa lembut, wajah Khalisa jelas memperlihatkan bahwa ia kecapekan.


"Khalisa sekarang udah nggak akan pernah nebeng aku lagi semenjak ada kamu di antara kami." Huma pura-pura memasang wajah kesal dan menunjuk Azfan.


"Aku pasti nebeng kamu jangan bilang nggak akan pernah lagi." Khalisa menepuk-nepuk pundak Huma.


"Udah ah, aku balik duluan." Huma melambaikan tangan pada Khalisa seraya melangkah menuju tempat parkir.


"Langsung pulang?" Tanya Azfan.


Khalisa mengangguk, "aku masakin makan siang di apartemen."


Mereka menaiki motor Azfan yang sudah terparkir di depan laboratorium tempat Khalisa melakukan praktikum tadi.


"Belajar apa aja barusan?" Azfan mulai menjalankan motornya dengan kecepatan rendah melewati jalan paving menuju gerbang utama yang cukup jauh dari sini.


"Memeriksa kadar kolesterol total, trigliserida, HDL dan LDL dalam darah, Mas mau nggak aku periksa kadar kolesterol nya?"


"Boleh."


"Tapi nanti diambil darahnya."


"Nggak apa-apa." Azfan ikhlas jika Khalisa mengambil sedikit darahnya lagi pula setiap 6 bukan sekali dirinya mendonorkan darah dan jumlahnya pasti lebih banyak dari yang akan Khalisa ambil.


"Terimakasih Mas." Khalisa memeluk perut rata Azfan setelah mereka keluar dari area kampus.


Azfan ikut tersenyum mendengar tawa Khalisa, ia akan memberikan apapun asal Khalisa senang.


Sesampainya di apartemen, Khalisa segera meletakkan tas kuliahnya dan bergegas menuju dapur untuk membuat makan siang sebelum Azfan berangkat ke toko. Saat ini Azfan dibantu oleh Idris yang menjaga tokonya mulai pagi hingga siang. Sedangkan Azfan menjaga toko hingga petang sebelum magrib, selama itu juga ia membuat kaligrafi dan pajangan di beragam media tulis.


"Apa yang Haura masak?" Azfan menyusul Khalisa ke dapur setelah ia ganti baju.


"Sayur bening bayam sama wortel, terus mau goreng ayam di kulkas yang semalam udah aku ungkep, Mas mau apalagi?"


"Itu sudah cukup sayang." Azfan membantu Khalisa mengupas wortel dan memotongnya tipis-tipis.


"Buahnya makan pisang dulu nih." Khalisa menyodorkan satu buah pisang pada Azfan yang sudah selesai memotong wortel.


"Wajib makan buah sebelum makan berat?" Azfan duduk di kursi kitchen island untuk makan buah tersebut. Azfan baru tahu Khalisa begitu menyukai buah-buahan setelah mereka menikah. Khalisa tidak pernah lupa menambahkan buah untuk menu makan mereka.


"Ya, pisang bagus untuk pencernaan." Khalisa mengeluarkan stok ayam ungkep dari kulkas. Ia akan menggoreng 3 potong ayam untuk makan siang. "Oh iya, aku mau Mas pilih desain baju yang akan kita pakai untuk acara reuni dua Minggu lagi."


"Haura mau bikin baju sendiri? kenapa kita nggak pakai baju yang ada di lemari saja?" Azfan tidak mau Khalisa berusaha terlalu keras hanya untuk acara reuni tersebut.


"Aku biasa bikin baju sendiri untuk menghadiri acara, begitu juga dengan Rindang, kami sudah terbiasa melakukannya." Sembari merebus bayam dan wortel, Khalisa juga menggoreng ayam dengan api kecil karena ia takut kulit ayam meletus dan mengenainya.


"Baiklah." Azfan menyodorkan pisang di tangannya pada Khalisa karena ia tidak mau kenyang lebih dulu sebelum makan masakan Khalisa.


Khalisa melahap pisang ambon itu dengan gigitan besar hingga membuat pipinya menggembung yang membuat Azfan gemas. Azfan menahan diri untuk tidak mencubit pipi Khalisa karena sang istri sedang sibuk memasak maka ia tidak mau mengganggunya.


"Aku ikut ke toko ya." Tukas Khalisa setelah selesai mengunyah pisang di mulutnya.


"Boleh, tapi gimana kalau Haura bosan di toko?"


"Nggak mungkin bosan karena ada Mas." Khalisa bisa membaca Alqur'an, mengerjakan tugas kuliah dan menggambar selama berada di toko jadi ia tak akan pernah bosan.


Azfan beranjak membantu sayur bayam yang sudah matang, ia juga mengambil sepiring nasi untuknya dan Khalisa.

__ADS_1


"Terimakasih sudah memasak makanan enak ini, aku suapin ya." Azfan sumringah melihat masakan Khalisa, setelah membaca doa ia menyuapkan sesendok penuh nasi, bayam dan suwiran ayam pada Khalisa.


"Disuapin Mas makannya jadi dua kali lebih enak."


"Masya Allah istriku memang pandai memuji." Azfan juga memakan hidangan itu dengan penuh semangat. Biasanya seseorang yang memasak untuk Azfan hanya ibunya tapi sekarang ada Khalisa yang juga melakukan hal tersebut. "Nggak ada sesuatu yang lebih membahagiakan dari pada menikah dengan mu, Haura."


Khalisa terdiam untuk beberapa saat, perasaan hangat perlahan menelusup ke celah-celah hatinya berkat kalimat Azfan. Sekarang Khalisa merasa seperti balon yang dilepas oleh pemiliknya, ringan terbang ke angkasa.


Sebelumnya Khalisa tak pernah mendengar kalimat manis seperti itu, ia juga tidak pernah menonton film romantis sehingga tak tahu kata-kata seperti apa yang diucapkan sepasang kekasih yang sedang jatuh cinta.


"Tadi temen-temen ku nanya nama media sosial Haura, katanya mereka hendak mengunggah foto kita dan mereka ingin menandai akun media sosial Haura."


"Aku nggak punya." Khalisa kembali menyambut suapan Azfan.


"Tapi aku melihat banyak foto Haura di internet."


"Itu bukan dari akun pribadi ku." Biasanya foto-foto itu diambil oleh wartawan atau orang lain yang kebetulan bertemu dengan Khalisa.


"Aku juga nggak punya media sosial."


"Oh ya?" Khalisa membelalak, akhirnya ia menemukan satu orang yang tidak memiliki akun media sosial di dunia ini. Sebenarnya Khalisa juga ingin punya medsos seperti teman-temannya tapi ia lebih menyukai interaksi secara langsung bukan melalui dunia maya. Khalisa juga memiliki banyak kegiatan sehingga ia takut akun tersebut tidak terurus. "Kalau gitu aku nggak perlu khawatir foto Mas dilihat banyak orang." Candanya.


Azfan terkekeh, ia mengulurkan tangan untuk mengambil sebutir nasi di sudut bibir Khalisa dan memakannya.


"Biar aku yang cuci piringnya." Azfan beranjak membawa wadah bekas makanan mereka untuk mencucinya. Jika Khalisa telah menggunakan tenaganya untuk memasak maka Azfan yang harus mencuci wadahnya.


Suara nada dering ponsel Khalisa mengalihkan perhatian si pemilik. Khalisa mendapatkan panggilan video dari Renata.


"Zhong wu hao, Ama." Khalisa mengawali dengan mengucapkan selamat siang pada Renata, ia melihat wajah ama nya itu tersenyum di depan layar.


"Zhong wu hao Cece, lagi ngapain?" Suara Renata terdengar sedikit serak membuat Khalisa mengerutkan kening.


"Ama kelihatan kurang sehat, apa nggak cukup istirahat?"


"Ama sehat kok, dimana suami kamu?"


"Ada tuh lagi cuci piring." Khalisa mengarahkan ponselnya pada Azfan agar Renata bisa melihatnya.


"Ama sehat?" Tanya Azfan, ia memeluk Khalisa dari belakang dan meletakkan dagu di pundak Khalisa.


"Sehat, puji Tuhan diusia Ama yang sudah renta Tuhan masih kasih kesehatan."


"Eh ngomong-ngomong, sebentar lagi Ama ulang tahun ke 74, Ama mau hadiah apa?" Bicara soal usia, Khalisa jadi ingat kalau sebentar lagi Renata berulang tahun.


"Ama sebenernya pengen baju yang dari bahan brokat tapi jaitnya pasti susah."


"Ama tinggal bilang aja mau model kayak apa nanti Khalisa bikinin."


"Ama mau dress brokat warna merah selutut yang ada aksen rendanya di bagian lengan."


"Brokat bagus kalau dikombinasikan sama sutra, pasti cocok buat Ama."


"Eh tapi kalau Khalisa sibuk jangan dipaksain, Ama mau Khalisa fokus sama kuliah dulu."


"Sama sekali nggak ganggu kuliah Khalisa, apalagi ada Mas Azfan yang bantuin Khalisa bersih-bersih dan nyiapin tugas kuliah juga." Khalisa mengusap pipi Azfan.


"Syukurlah kalau begitu, Azfan titip cucu Ama yang paling cantik ini ya."


"Siap Ama, saya akan jaga cucu Ama ini dengan baik." Azfan mengusap-usap puncak kepala Khalisa.


"Kalau gitu Ama tutup dulu, nanti malam Ama telepon lagi." Renata memutuskan sambungan setelah mendapat jawaban Khalisa dan Azfan.


Azfan mengecup pipi Khalisa sebelum mengangkat dagunya dari pundak Khalisa, ia menghirup aroma kulit wajah Khalisa yang terasa segar.


"Haura ganti baju dulu gih." Pinta Azfan.


Khalisa mengganti pakaiannya dengan gamis hitam dan jilbab berwarna senada sebelum mereka bersama-sama pergi ke toko kaligrafi milik Azfan yang letaknya tidak terlalu jauh dari apartemen. Perjalanannya hanya sekitar 10 menit menggunakan motor.


******


Toko kaligrafi Azfan cukup ramai menjelang petang, Azfan sibuk melayani pembeli yang melihat berbagai pajangan di tokonya sedangkan Khalisa masih berkutat dengan laptopnya di sebuah ruangan kecil yang dulu juga sempat menjadi tempat Azfan tidur sementara saat dirinya diusir dari tempat kos.

__ADS_1


Khalisa menggambar desain dress yang Renata inginkan setelah ia mengerjakan kerangka laporan praktikumnya hari ini. Dengan telaten Khalisa menggoreskan pensil pada buku sketsanya. Ia membayangkan Renata mengenakan dress tersebut dihari ulang tahunnya, pasti sangat cocok.


Sesekali Khalisa melihat Azfan yang sibuk melayani pembeli, saat Azfan melihatnya, Khalisa mengulas senyum manis pada suaminya itu memberi semangat padanya.


Khalisa beranjak dari kursinya ketika semua pembeli telah selesai membayar barang mereka.


"Aku tutup dulu tokonya." Gumam Azfan sebelum ada pembeli lagi karena azdan magrib sebentar lagi berkumandang.


"Hari ini laku banyak ya, aku lihat Mas Azfan sibuk dari tadi." Khalisa menyentuh pundak Azfan dan memijatnya. "Aku bisa bantu tapi Mas Azfan nggak izinin."


"Haura kan juga lagi sibuk." Azfan memejamkan mata merasakan pijatan Khalisa yang menghilangkan rasa lelahnya setelah sibuk dari tadi. Sebenarnya dengan melihat Khalisa saja itu bisa meredakan lelah Azfan dan pijatan ini adalah bonus.


Azfan memegang tangan Khalisa yang sedang memijatnya, "sudah." Ujarnya.


"Oh iya aku lupa kasih tahu Mas, kalau mau diperiksa darahnya, Mas harus puasa minimal 9 jam supaya hasilnya akurat, jadi habis ini setelah shalat magrib, Mas makan dulu terus nggak boleh makan apa-apa lagi sampai besok."


"Baiklah istriku, yuk pulang keburu magrib."


******


Pagi harinya Khalisa menyiapkan alat-alat yang akan ia gunakan untuk mengambil darah Azfan sekaligus memeriksa kadar kolesterolnya. Khalisa baru belajar kemarin tapi dosen meminta semua mahasiswa mempraktikkannya.


Khalisa melihat ke arah pintu menunggu kedatangan Azfan dari masjid, ia masih mengenakan mukena ketika menyiapkan semua alat-alat itu.


"Assalamualaikum."


Khalisa menjawab salam beranjak dari sofa dan berlari menuju ruang tamu seolah-olah ia sudah lama tidak bertemu dengan Azfan.


Khalisa mencium punggung dan telapak tangan Azfan kanan kiri bergantian. Khalisa menghirup aroma telapak tangan Azfan yang wangi.


"Sudah shalat kan?" Azfan juga mencium punggung tangan Khalisa lalu keningnya.


"Sudah." Khalisa memeluk Azfan membenamkan wajahnya di dada sang suami.


"Sudah boleh diambil darahnya?"


"Aku nggak tega."


"Biasanya darah ku juga diambil lebih banyak dari itu sayang jadi jangan takut."


"Mas pernah donor darah?" Khalisa mengurai pelukannya.


"Iya setiap 6 bulan sekali sedangkan ini cuma satu tetes."


Khalisa melepas mukenanya dan meminta Azfan duduk di sofa ruang tamu, ia mengambil alat tes kolesterol yang tidak asing baginya karena Khalisa sering melihat alat itu di rumah sakit.


"Bismillah sayang." Titah Azfan, ia ngeri juga melihat alat itu.


"Bismillahirrahmanirrahim." Khalisa menusukkan alat itu pada telunjuk Azfan. Beberapa saat kemudian alat itu menunjukkan angka kolesterol total pada darah Azfan. "Kita bisa tahu angkat kolesterol total, HDL sama trigliserida cuma pakai alat ini tapi kemarin waktu praktikum jauh lebih rumit, semuanya normal Mas."


"Karena semenjak menikah aku nggak makan sembarangan lagi, semua yang Haura masak juga makanan sehat."


"Memangnya sebelum menikah Mas makan apa?"


"Makan apa aja yang ada dijual deket tempat kos, paling sering beli mie instan karena murah, di kosan juga nggak ada kompor jadi nggak bisa masak sendiri."


"Tapi Ayu sering ngasih makanan kan, eh tapi aku belum tanya kenapa waktu itu Mas tiba-tiba diusir dari tempat kos?"


Azfan terdiam sejenak memikirkan kalimat yang pas untuk diucapkan. Azfan meminta Khalisa duduk di sampingnya sebelum ia mulai bercerita.


"Saat itu aku merasa putus asa karena setelah musibah di kampus, Ayu datang dan mengungkapkan perasaannya sama aku tapi saat itu juga aku bilang kalau aku sedang memperjuangkan gadis bernama Khalisa, Ayu marah dan langsung pergi."


Khalisa mendengarkan cerita Azfan dengan penuh perhatian, ia sama sekali tidak mengalihkan pandangannya dari Azfan barang sedetik.


"Di toko Kafa datang dan bilang kalau aku harus berpikir berkali-kali untuk mendekatimu padahal tanpa Kafa bilang pun aku akan berpikir ribuan kali untuk mendekati Haura, ucapan Kafa membuatku makin hancur tapi aku terus berdoa agar Allah melancarkan jalan kita, sampai di tempat kos aku diusir, Ibu Ayu bilang aku nggak tahu diri karena selama ini keluarganya memperlakukan ku dengan baik tapi aku justru menolak cinta Ayu."


Khalisa memeluk Azfan dan mengusap punggungnya, meski semua itu telah berlalu tapi Khalisa bisa merasakan bagaimana hancurnya Azfan saat itu.


"Tapi Allah sangat baik dan mengganti semua rasa sakit itu dengan kamu, istriku."


"Setelah ini kalau ada yang berani nyakitin Mas Azfan, aku akan berdiri paling depan dan menendang orang itu sampai luar negeri."

__ADS_1


Azfan tertawa, ia sedang menceritakan sesuatu yang menyedihkan tapi Khalisa selalu bisa mengembalikan tawa Azfan.


__ADS_2