
Setelah mendirikan shalat Jumat di mushalla rumah sakit, Levin bergegas kembali karena ia melihat ada pasien yang baru masuk ke UGD. Karena Levin harus membantu di bagian UGD ia tidak bisa lama-lama meninggalkan ruangan itu. Sambil melangkah cepat, Levin mengenakan jubah dokternya.
Kening Levin berkerut melihat Aisyah masuk ke UGD disusul Umar yang turun dari mobil. Levin semakin mempercepat langkah, perasannya tidak enak setelah melihat dua orang yang dikenalnya berada disitu. Mungkin jika bertemu di tempat lain Levin akan merasa senang tapi rumah sakit bukanlah tempat yang menyenangkan untuk bertemu seseorang.
"Ama!" Alangkah terkejutnya Levin melihat pasien yang baru masuk ke UGD itu adalah Renata. "Ama kenapa Bu Aisyah?" Tanyanya pada Aisyah.
"Mama tadi tiba-tiba pingsan di taman belakang." Jawab Aisyah, ia menggigit bibir gusar karena Renata tidak juga sadarkan diri.
"Levin, tolong periksa tensi darahnya." Pinta dokter pada Levin.
Dengan cekatan Levin melakukan apa yang dokter katakan kepadanya. Ketika memeriksa tensi darah, Levin melihat Renata mengerjapkan matanya dengan lemah.
"Ama." Panggil Levin.
Aisyah mendekat ke brankar Renata, ia memanggil mama nya itu dan mengatakan bahwa mereka sedang berada di rumah sakit. Sebenarnya Renata tidak pernah mau dirawat di rumah sakit ini karena dirinya dan Jaya membangun rumah sakit Kafasa untuk masyarakat. Renata tidak mau mengambil hak tersebut dan mengingkari janjinya sendiri. Namun Aisyah tidak memiliki pilihan lain karena hanya ini rumah sakit terdekat.
"Tekanan darahnya sangat rendah." Jelas Levin setelah mendapatkan hasil tensi darah Renata.
Perawat memasangkan selang infus pada Renata mencoba menstabilkan tekanan darahnya lagi.
"Bagaimana Mama?" Umar menyusul masuk ke UGD.
Aisyah menatap sang suami dengan pandangan gusar, ia tidak bisa menjawab pertanyaan Umar.
"Mama akan baik-baik saja." Umar mengusap punggung Aisyah berusaha menenangkannya. "Ayo tunggu di luar." Ajaknya.
Aisyah dan Umar menunggu di kursi di depan UGD sambil berdoa agar kondisi Renata segera stabil. Umar menggenggam tangan Aisyah memberinya kekuatan.
Beberapa tahun ini Aisyah memutuskan untuk tinggal di rumah orangtuanya karena tidak mau meninggalkan mereka hanya dengan ART. Rumah itu juga terlalu besar jika hanya dihuni oleh Jaya dan Renata serta beberapa ART.
"Kemarin Mama bilang kalau dia kepikiran Khalisa terus." Aisyah mengangkat wajahnya menatap sang suami.
"Apa yang membuat Mama memikirkan Khalisa, ada Azfan yang akan selalu ada di sampingnya."
"Daniel bilang kalau setelah setahun ini, Azfan boleh membawa Khalisa kemanapun dia mau tinggal dan bukan di apartemen itu makanya Mama kepikiran, terus kemarin waktu Mama telepon Khalisa lagi makan sama Azfan, setelah itu Mama nangis gara-gara Khalisa cuma makan sama tempe goreng dan sambel terasi dingin dari kulkas."
"Khalisa pasti makan karena dia pengen bukan karena nggak punya uang, kita harus bilang sama Mama untuk nggak terlalu banyak pikiran."
Aisyah menghela napas berat, "aku juga sudah bilang seperti itu, Mama cuma nggak mau Khalisa tinggal lain karena Mama sendiri dulu yang pilih apartemen itu."
"Apa Kafa dan Khalisa belum baikan?" Tanya Umar, mungkin itu juga salah satu penyebab Renata banyak pikiran.
Aisyah menggeleng, ia sudah mencoba menasehati Kafa agar menekan egonya dan mau minta maaf pada Khalisa. Aisyah juga memberitahu bahwa sekarang Khalisa bahagia dengan kehidupan barunya, tidak seperti yang Kafa pikirkan.
Mereka beranjak ketika dokter keluar diikuti oleh beberapa perawat yang mendorong brankar Renata untuk memindahkannya ke ruang rawat. Renata sudah sadar sepenuhnya tapi ia belum bisa mengatakan apapun karena tubuhnya terlalu lemah.
"Mama istirahat dulu." Aisyah menarik selimut hingga menutupi tubuh Renata sebatas dada, ia mengusap rambut sang mama yang hampir sepenuhnya memutih. Dulu Renata suka mewarnai rambutnya tapi setelah memiliki banyak cucu ia menganggap rambutnya yang memutih itu adalah anugerah dari Tuhan berkat keberadaan cucu-cucunya.
Umar membantu Renata minum air putih dengan sedotan.
"Akhir-akhir ini Mama kurang istirahat lo, ada aja yang dikerjain." Aisyah berkata lembut. "Mas Umar udah ngabarin Daniel, sebentar lagi pasti dia dan Ica sampai." Aisyah mengerti Renata sedang mencari keberadaan Daniel.
"Atalie." Renata memanggil nama kecil Aisyah. "Tolong rayu Daniel supaya dia mengizinkan Khalisa dan suaminya tetap tinggal di apartemen, Mama nggak mau Khalisa bingung tempat tinggal."
"Ma, Khalisa nggak akan keberatan tinggal dimanapun, sebelum menikah dengan Azfan dia juga pasti sudah memikirkan hal ini, Khalisa akan bahagia dimanapun dia tinggal karena keberadaan Azfan, bagi Khalisa kebahagiannya cuma Azfan jadi Mama jangan terlalu mikirin itu."
"Mama!" Daniel memasuki ruangan dengan tergesa-gesa, di belakangnya Ica menyusul. Daniel menggenggam tangan Renata dengan wajah khawatir. Ketika mendengar bahwa Renata pingsan, ia langsung menuju ke rumah sakit begitupun dengan Ica.
"Mama pengen sesuatu?" Tanya Ica.
Renata menggeleng, ia tidak menginginkan apapun.
__ADS_1
"Biar Mama istirahat dulu." Tukas Aisyah, ia juga harus membicarakan sesuatu yang telah menyita pikiran Renata pada Daniel. Sebagai anak sulung, Aisyah harus menuruti kemauan Renata untuk menasehati Daniel. Meski Aisyah tahu Daniel melakukan itu untuk kebaikan Khalisa.
Sementara Daniel, Aisyah dan Umar bicara di luar, Ica menemani Renata. Ica telah menganggap Renata seperti ibunya sendiri.
"Ica." Renata membuka mata, barusan ia hanya berpura-pura tidur saat ada yang lain.
"Kenapa Ma?" Ica menarik kursi agar lebih dekat dengan brankar.
"Mama kangen Khalisa."
"Minggu depan Khalisa pulang sekalian nganterin dress Mama yang sudah selesai dijahit."
Renata tersenyum, meskipun ulang tahunnya masih lama tapi ia sudah mengatakan hadiah yang diinginkannya pada Khalisa. Renata menyukai pakaian yang Khalisa jahit.
"Setelah lulus, kamu ingin Khalisa berada di rumah sakit sesuai jurusannya atau butik?"
"Kalau Ica sih terserah Khalisa Ma, dia menyukai desain tapi juga nggak mungkin lepas tanggungjawab terhadap rumah sakit, Ica rasa Khalisa akan memilih rumah sakit."
"Kamu harus dukung Khalisa apapun yang dia mau."
"Pasti Ma." Ica menyunggingkan senyum lembut dan menggenggam tangan Renata.
******
Sore itu hujan turun membasahi bumi setelah seminggu tidak turun hujan. Cuaca semakin tidak menentu, tak bisa diprediksi kapan akan terjadi musim kemarau atau hujan tak seperti 20 tahun yang lalu gimana cuaca masih bisa diprediksi.
Khalisa berdiri di depan toko memperhatikan tetesan air hujan yang semakin deras, ia mengulurkan tangan menampung air yang mengalir. Hujan adalah bentuk kasih sayang Allah kepada makhluk-Nya sebab tanpanya tak akan ada kehidupan di bumi. Hujan adalah waktu mustajab untuk berdoa maka Khalisa membisikkan doa dalam hatinya, ia berharap Kafa mau memaafkannya sehingga hubungan mereka bisa kembali seperti dulu.
Saat kecil pun mereka sering bertengkar tapi tak sampai 10 menit pasti keduanya akan baikan. Namun ini sudah lebih dari 2 bulan sejak Kafa marah pada Khalisa. Kafa juga tak memberi kesempatan untuk Khalisa bicara. Di kampus saat tak sengaja berpapasan maka Kafa akan memilih jalan lain atau berputar balik. Semakin dewasa alasan memaafkan jadi makin rumit.
"Aku lupa nggak bawa mantel, kita tunggu hujan berhenti ya." Azfan mengunci pintu tokonya, ia lupa tidak membawa mantel di dalam motornya.
"Sayang, kita nggak mungkin hujan-hujanan." Azfan menarik tangan Khalisa yang basah dan mengusapnya.
"Lebih baik hujan-hujanan dari pada nggak keburu shalat magrib." Sebenarnya Khalisa memang ingin hujan-hujanan, ayolah ia tak pernah melakukan itu sejak beranjak dewasa.
Azfan tidak punya pilihan lain, ia melepas jaket parasut yang dikenakannya untuk menutupi kepala Khalisa.
"Jangan dilepas." Azfan memperingatkan Khalisa agar tidak melepas jaket yang kini menutupi kepala Khalisa.
"Iya suamiku."
Mereka menaiki motor menembus hujan menjelang magrib. Setelah pulang dari acara reuni mereka langsung menuju toko menggantikan Idris yang sudah berada disana dari pagi.
Khalisa tersenyum sedikit merentangkan tangannya untuk merasakan titik-titik air hujan yang membasahi nya. Berbeda dengan Azfan yang justru merasa sedih karena Khalisa harus kehujanan. Azfan merasa gagal melindungi Khalisa padahal ia telah berjanji terhadap orangtua Khalisa bahwa ia akan selalu menjaga Khalisa. Namun melindungi Khalisa dari hujan saja Azfan tidak bisa.
Azfan mengusap wajahnya yang basah oleh hujan bercampur dengan air mata. Hanya hujan yang membuat tangis Azfan tidak terlihat. Azfan merasa amat beruntung dipertemukan dengan Khalisa yang menerima apapun keadaannya.
Khalisa memeluk perut rata Azfan dan membenamkan wajah di punggung sang suami.
Sesampainya di apartemen mereka langsung menuju kamar mandi sebelum membuat lantai lebih basah.
Khalisa tertawa meskipun tubuhnya basah dan gemetar, ia seperti anak kecil yang diperbolehkan hujan-hujanan oleh mama nya. Hanya kepala dan bagian depan badan Khalisa yang tidak basah sedangkan sekujur tubuh Azfan basah kuyup.
"Mata Mas Azfan kok merah?" Khalisa memperhatikan wajah Azfan.
"Kena air hujan." Azfan mengusap matanya, terkena air hujan saat menaiki motor memang cukup menyakitkan. Azfan heran melihat Khalisa tersenyum begitu lebar setelah hujan-hujanan padahal itu adalah hal yang membuatnya sedih. Sepertinya Khalisa memang diciptakan untuk selalu tersenyum apapun keadaannya.
"Ayo buruan mandi, mau peluk, dingin." Khalisa berjingkat menuju shower dan mengguyur tubuhnya dengan air hangat.
Hampir setiap hari Khalisa mandi menggunakan air hangat tapi ia tak pernah merasa seenak ini merasakan air hangat yang mengguyur tubuhnya. Mungkin itu karena Khalisa kedinginan barusan.
__ADS_1
"Kemarin Marwah telepon, dia bilang sudah menghabiskan sabun yang Haura kasih tapi dia mengeluh karena wajahnya nggak bisa seputih Haura."
Khalisa yang sedang mengganti pakaian dengan piyama tertawa mendengar perkataan Azfan.
"Sabun itu bikin bersih Mas bukan putih."
"Marwah pikir Haura bisa putih seperti ini karena sabun itu." Azfan mengeluarkan hair dryer dari laci untuk mengeringkan rambut Khalisa.
"Kok Marwah nggak telepon aku?"
"Dia malu katanya." Azfan menundukkan Khalisa di depan meja rias sementara ia mengeringkan rambut Khalisa.
"Zunai justru iri sama Marwah karena kulitnya nggak sebagus Marwah, tahu nggak mimpi Zunaira itu punya kulit coklat seperti model."
Azfan terkekeh, ada-ada saja keinginan anak kecil itu.
"Eh bentar-bentar, Ama telepon." Khalisa meminta Azfan mematikan hair dryer.
Dengan sekali gerakan ibu jari pada layar ponsel, Khalisa menjawab telepon Renata. Begitu melihat pemandangan di belakang Renata, Khalisa mengerutkan kening karena ia yakin itu bukan rumah Renata.
"Ama nggak ganggu kan, disana belum magrib?"
"Enggak kok, Ama kenapa di rumah sakit?"
Azfan ikut melihat layar ponsel Khalisa.
"Nggak apa-apa, Ama cuma medical check up aja karena akhir-akhir ini badan Ama nggak enak."
Khalisa tidak bisa dibohongi, ia yakin itu adalah ruangan rumah sakit Kafasa karena sejak kecil ia telah menelusuri segala penjuru rumah sakit tersebut. Sedangkan Renata tidak pernah medical check up di rumah sakit mereka sendiri.
"Ama harus banyak istirahat, olahraga ringan aja sama jangan banyak pikiran."
"Iya si bawel, Zunaira yang cerewet ternyata hasil turunan Cece nya ya."
"Minggu depan Khalisa pulang, Ama harus sehat biar bisa nyoba dress yang Khalisa bikinin, pokoknya Ama pasti bakal suka."
"Oh ya?"
"Tapi sekarang Khalisa belum bisa tunjukin, tadi pagi baru sempet bikin pola nya aja."
"Jangan buru-buru, Ama mau hasilnya cantik."
"Iya Ama ku yang cantik, Khalisa mana pernah sih bikin baju nggak cantik apalagi buat nyonya Renata Alindra."
"Kalian lagi ngapain?"
"Azfan lagi ngeringin rambut Khalisa." Khalisa mengarahkan ponselnya pada Azfan.
"Ama sudah makan malam belum?" Azfan menunjukkan wajahnya.
"Sebentar lagi, nah itu datang yang nganter makanan, Ama tutup dulu ya." Renata terlihat melambaikan tangannya sebelum sambungan terputus.
"Mas, ayo percepat jadwal kita pulang ke Banyuwangi." Khalisa menoleh pada Azfan. Meskipun Renata bersikap seolah semuanya baik-baik saja tapi Khalisa tahu kalau saat ini Ama nya sedang dirawat di rumah sakit. "Aku akan jahit Dress Ama secepatnya."
Azfan mengangguk, mereka bisa mengikuti kuliah secara daring selama pulang ke Banyuwangi.
"Ama selalu gitu, dia nggak mau bikin orang lain khawatir." Khalisa menggigit bibir bawahnya, wajahnya gusar, rasanya ingin sekarang juga terbang ke Banyuwangi.
"Kita berdoa semoga Ama baik-baik saja." Azfan mengusap pundak Khalisa, ia tahu bagaimana kekhawatiran Khalisa terhadap Renata.
"Dingin banget." Khalisa memeluk Azfan, ia tidak bisa menunda lagi untuk memeluk suaminya itu.
__ADS_1