
"Ayo masuk." Khalisa mengajak Azfan masuk ke apartemennya, Aisyah dan Renata juga sudah menunggu di ruang makan untuk makan malam bersama.
Sejak sore tadi tiga wanita beda generasi itu sibuk di dapur memasak berbagai hidangan untuk makan malam. Renata memasak bebek peking yang merupakan makanan khas Chinese untuk Azfan.
"Kamu bawa apa?" Khalisa melihat kantong plastik di tangan Azfan.
"Ini gelato, tadi Ama dan Tante kamu nggak sempet makan karena tempatnya rame kan?" Azfan menyodorkan kantong plastik tersebut kepada Khalisa.
"Makasih ya Azfan, sebenernya kamu nggak perlu bawa ini, lagian Ama besok masih disini kok jadi aku bisa bawa Ama jalan-jalan."
"Besok Minggu jadi tempat itu tutup."
"Oh iya, aku lupa." Khalisa nyengir karena lupa kalau setiap hari Minggu Mangan Gelato tutup. Khalisa membawa Azfan masuk ke ruang makan, sementara ia meletakkan gelato pemberian Azfan ke dalam kulkas.
"Masakan Ama dan Ai dijamin bikin kamu ketagihan." Khalisa menarik kursi agar Azfan duduk di salah satu kursi yang mengelilingi meja makan.
"Makasih Khalisa." Azfan tersenyum lebar menyapa wanita berusia 40 tahunan yang duduk di hadapannya, jika dilihat wanita bernama Aisyah itu sedikit mirip dengan Khalisa terutama di bagian mata. Lalu Renata yang duduk di kursi paling ujung. Azfan kagum pada Renata karena masih sehat di usia senjanya bahkan bisa memasak banyak makanan.
"Makasih Ama sudah mengundang saya kesini." Ucap Azfan.
"Ama yang harusnya bilang makasih ke kamu, karena kamu udah menyelematkan Khalisa dan Rindang malam itu, waktu dengar kabar itu Ama langsung cari tiket penerbangan tercepat untuk kesini, beruntung ada kamu." Mata Renata berbinar menatap Azfan.
Azfan mengangguk canggung tidak enak dipuji berlebihan seperti itu oleh Renata karena selama ini tak ada yang melakukan hal tersebut kepadanya kecuali sang ibu. Bagi Azfan dengan mengenal keluarga Khalisa, ia dapat mengetahui banyak hal baru.
"Ayo makan, kamu harus cobain bebek peking buatan Ama." Renata mengambil beberapa potongan bebek berukuran besar untuk Azfan.
"Makasih Ama." Azfan segera mengambil alih piring tersebut enggan membiarkan Renata memegangnya terlalu lama.
"Kamu tahu bebek peking kan?"
"Sering dengar namanya tapi ini pertama kalinya saya makan."
"Bagus kalau begitu." Renata mengambil nasi untuk dirinya sendiri disusul Asiyah dan Khalisa.
"Kalau sekali makan bebek peking buatan Ama, dijamin di tempat lain nggak akan enak di lidah kita." Khalisa mengambil suwiran bebek berwarna coklat yang matang sempurna setelah dipanggang cukup lama.
"Kalau gitu aku harus makan banyak malam ini." Canda Azfan.
"Harus dong, karena kami kaum wanita paling takut makan banyak, takut gemuk." Balas Renata.
Mereka mulai membaca doa sebelum makan. Selain olahan bebek, ada sapi lada hitam, tumis tauge dan telur balado buatan Aisyah. Khalisa juga meletakkan berbagai macam buah dari Levin di atas meja makan. Ia akan memakannya nanti setelah makan malam.
__ADS_1
"Azfan kuliah jurusan farmasi juga?" Aisyah yang dari tadi diam akhirnya bertanya.
"Saya Ahwal-Al Syakhshiyah."
"Jurusan apa itu, maaf ya walaupun udah tua gini pengetahuan Ama sangat sedikit." Renata melihat Azfan.
Azfan menggeleng, "wajar kalau Ama tidak tahu." Ia mengerti karena jurusan tersebut masuk dalam FIAI sehingga wajar jika Renata tidak tahu. "Itu jurusan tentang hukum keluarga Islam, Ama." Azfan menjelaskan secara singkat agar mudah dimengerti.
"Nanti bisa jadi pengacara juga lo atau penghulu, itu profesi yang penting dan juga mulia, menyatukan dua orang dalam hubungan yang halal." Tambah Aisyah.
Khalisa tersenyum hingga pipinya memerah, ia menunduk untuk menyembunyikannya. Meski Khalisa sendiri tidak tahu mengapa ia tak bisa menahan senyumnya saat mendengar ucapan Aisyah.
"Oh ya? wah kamu berani tampil beda, saat banyak orang berlomba-lomba masuk kedokteran, farmasi, hukum dan lain sebagainya, kamu berani masuk jurusan tersebut." Renata kembali memuji Azfan.
"Saya berharap ilmunya bisa bermanfaat untuk orang lain juga Ama."
"Aamiin." Sahut mereka.
Azfan menghabiskan makanannya dengan nikmat karena baru pertama kali makan olahan daging bebek yang dipanggang dengan bumbu khas Tiongkok. Sebenarnya Azfan ingin makan sepotong lagi bebek tersebut andai ini di rumahnya sendiri. Namun Azfan ingat dulu Khalisa tidak sungkan untuk minta tambah soto daging saat makan di rumahnya tapi ia tidak bisa melakukan hal serupa dengan Khalisa.
"Kamu masih muda tapi mau bekerja keras, kuliah sambil kerja itu nggak gampang, dulu Mama Khalisa juga gitu, waktu hamil Khalisa juga harus kuliah dan kerja." Renata memberikan dua suwiran bebek untuk Azfan lagi, mereka harus menghabiskan semua makanan itu malam ini karena ia tidak suka makanan yang dihangatkan kembali setelah dimasak.
"Itu berarti sifat Bu Ica menurun pada Khalisa, dia juga pekerja keras." Lanjut Azfan.
Khalisa membelalak karena ia tidak merasa seperti apa yang Azfan katakan, ia hanya tidak suka mempunyai waktu luang. Setiap waktu yang Khalisa miliki harus ia isi dengan kegiatan bermanfaat.
"Oh ya? masa sih cucu Ama begitu?" Renata meledek Khalisa.
"Khalisa nggak merasa seperti itu sih Ama tapi kalau Azfan yang bilang berarti kenyataannya memang begitu." Khalisa tersenyum lebar.
"Paling bisa ya kamu." Renata tertawa mendengar ucapan Khalisa, sayang tangannya tak bisa menjangkau pipi Khalisa kalau tidak pasti ia sudah mencibir pipi kemerahan sang cucu.
Usai makan mereka menikmati gelato yang Azfan bawa. Khalisa juga mengupas buah apel dan jeruk sebagai makanan penutup.
"Azfan, kamu bawa pulang ya ini, Ama tadi bikin dua porsi bebek peking supaya bisa kamu bawa pulang." Renata menyodorkan paper bag berisi sekotak bebek peking dan daging sapi lada hitam untuk Azfan.
"Makasih banyak Ama." Azfan menganggukkan kepala berterimakasih kepada Renata karena telah begitu baik mengundangnya kesini bahkan memberinya makanan lain untuk dibawa pulang.
Malam ini Azfan benar-benar kenyang, ia yakin sesampainya di tempat kos ia akan tidur dengan nyenyak. Biasanya setiap malam Azfan masih harus berpikir akan makan apa lalu besok pagi juga begitu tapi malam ini ia bisa tidur dengan tenang.
"Ama yang harusnya berterimakasih sama kamu." Renata mendekat.
__ADS_1
Azfan sedikit menunduk mengerti kalau Renata hendak mengatakan sesuatu.
"Mungkin Ama nggak pantas ngomong gini tapi Khalisa disini sendirian cuma sama Rindang tapi Ama mohon titip Khalisa karena anak gadis itu jauh dari keluarganya, Ama khawatir setiap waktu."
Azfan mengangguk, "inshaa Allah, Azfan jaga Khalisa dari hal-hal buruk seperti kemarin."
"Makasih ya." Renata mengusap lengan Azfan pelan lalu memutar badan untuk memanggil Khalisa. "Antar Azfan ke depan Khalisa." Pintanya.
"Iya Ama." Khalisa menurut, ia mengantar Azfan hingga depan pintu.
"Khalisa, kemarin malam kamu denger suara gedoran itu?" Tanya Azfan setelah memastikan tak ada orang lain yang mendengar percakapan mereka.
"Denger dan jam nya persis seperti yang Rindang bilang." Khalisa ikut merendahkan suaranya.
"Kamu udah tahu dia siapa?"
Khalisa menggeleng, "kayaknya dia udah hafal sama letak CCTV di apartemen ini, dia tutupin kamera pakai tangannya waktu aku lihat dia di monitor."
"Malam ini apartemen Khalisa kosong, orang itu mungkin nggak akan datang."
"Ya, kayaknya dia emang udah pantau tempat ini sih."
"Kamu dan Rindang harus hati-hati." Pesan Azfan.
"Kamu tenang aja." Khalisa kembali mengangguk dan tersenyum.
"Kalau gitu aku pulang dulu, makasih makanannya." Azfan sedikit mengangkat paper bag di tangannya.
"Ini buat kamu." Khalisa menyodorkan selembar kertas hitam dengan tulisan berwarna emas.
"Apa ini?" Azfan membolak-balik kertas seukuran KTP tersebut tapi ia belum pernah melihat kartu seperti ini sebelumnya. Apakah orang kaya selalu memiliki kartu seperti ini? lalu apa kegunaannya.
"Itu kartu akses masuk apartemen Casey Avenue, jadi setiap mau kesini aku nggak perlu lapor ke penjaga disini, kamu tinggal tunjukin kartunya terus bisa langsung naik deh."
"Tapi kenapa kamu memberikannya pada ku?" Azfan terkejut karena ia juga jarang berkunjung ke apartemen ini.
"Aku merasa kamu perlu punya, disitu tertulis namaku juga jadi mereka tahu kalau kamu tamu aku."
Azfan mengangguk memasukkan kartu tersebut ke dalam saku kemejanya. Azfan kembali berpamitan pada Khalisa dan melangkah melewati koridor panjang apartemen mewah tersebut.
Khalisa melihat punggung Azfan semakin menjauh lalu tidak terlihat setelah berbelok dan masuk ke dalam lift. Ia masuk ke apartemennya setelah memastikan Azfan benar-benar pergi dari sana.
__ADS_1