Mahabbah Cinta Khalisa

Mahabbah Cinta Khalisa
32


__ADS_3

"Azfan kemana?" Rindang terbangun oleh suara lirih Khalisa membaca Al-Quran melalui ponselnya. Ia mengucek matanya dan membersihkannya barangkali ada belek yang menempel disana, ia bingung melihat sofa yang semalam menjadi tempat tidur Azfan kini kosong.


"Ke mushalla shalat subuh tapi nggak tahu kok belum balik mungkin dia pulang ya." Jawab Khalisa, ia melihat keluar jendela, matahari terlihat mulai mengintip dari celah gorden.


"Aku juga harus pulang sebentar ambil baju ganti buat kamu atau beli aja tapi ke apartemen lebih deket dari pada harus ke Mall." Rindang mengambil sebotol air mineral 1 liter yang ia beli semalam, Rindang meneguknya hingga tinggal seperempat bagian.


"Kamu kasih tahu Papa Mama soal kejadian ini?" Khalisa mematikan ponsel dan meletakkannya di atas nakas.


"Aku bilang kamu jatuh dari motor." Rindang nyengir, konyol memang tapi ia tidak bisa menceritakan kejadian itu melalui telepon karena bisa membuat orangtua Khalisa panik apalagi kalau sampai Renata mendengarnya, ia bisa darah tinggi dan ikut masuk rumah sakit. Jadi Rindang berbohong dan akan menceritakan kejadian sebenarnya saat mereka sampai disini.


"Motor siapa yang mau aku naikin?" Khalisa geleng-geleng karena mereka tidak memiliki motor disini, Khalisa hanya punya satu sepeda yang jarang ia gunakan.


"Eh kamu nggak apa-apa kan?" Rindang beranjak menghampiri Khalisa, "kamu tahu siapa pelakunya kan?"


Khalisa mengangguk sama sekali tidak menduga bahwa orang yang meneror mereka adalah Revan. Selama ini Khalisa tidak pernah curiga terhadap Revan karena pria itu sangat baik sama seperti Ria dan Bowo. Namun semalam Revan benar-benar terlihat berbeda dari biasanya.


"Dia nggak macem-macem kan sama kamu maksud aku melakukan pelecehan seksual sama kamu?"


"Dia sempet tarik jilbab aku terus udah mau raba-raba gitu tapi aku berusaha ngelawan terus dia lempar aku pakai kursi lipat yang ada di gudang, untungnya gudang itu nggak bisa dikunci jadi Azfan bisa masuk."


"Tapi hal buruknya adalah nggak ada CCTV disana karena itu emang tempat yang nggak pernah didatengin sama siapapun, apartemen juga udah punya gudang baru yang lebih besar di atap." Rindang mengusap punggung tangan Khalisa, ia tahu sahabatnya itu sedang pura-pura kuat saat menceritakan kejadian semalam.


Khalisa terdiam, meski tak ada CCTV tapi ia telah merekam semuanya saat ia menelepon Azfan dan itu bisa digunakan sebagai bukti, luka di pelipisnya juga akan menjadi bukti kuat seandainya Revan menyangkalnya saat di pengadilan nanti.


"Sana kalau mau balik sekalian mandi."


"Kamu gimana?" Rindang tidak mau meninggalkan Khalisa sendirian disini.


"Nggak apa-apa, siapa tahu sebentar lagi Azfan balik."


"Emang aku bau ya?" Rindang mencium ketiaknya apalagi sekarang pakaiannya sangat aneh, ia mengenakan gamis coklat milik Khalisa tapi tanpa jilbab. Padahal semalam Rindang dengan PD nya membeli makanan dan air di minimarket dekat rumah sakit padahal pakaiannya sangat aneh. Bagaimana jika ada yang memotretnya diam-diam dan mengunggahnya ke media sosial. Rindang akan dicemooh oleh para netizen. Mungkin karena semalam Rindang panik, ia jadi tidak memikirkan pakaian yang dikenakannya. Sepertinya ide yang bagus jika ia pulang sekarang mumpung rumah sakit masih sepi.


"Nanti kalau ada apa-apa langsung teriak yang kenceng ya." Pesan Rindang.


"Oke." Khalisa mengangguk.


Rindang beranjak meraih tasnya dan melambaikan tangan pada Khalisa sebelum keluar dari ruangan itu. Ia melewati koridor yang sepi. Rindang berjingkat berlari berharap tak ada yang melihatnya. Mungkin kalau Rindang mengenakan jilbab ia tak akan merasa malu seperti ini.


Khalisa melepas mukena dan menggantinya dengan jilbab yang semalam Rindang pinjam. Khalisa belum sempat melihat Rindang mengenakan jilbab semalam, ia jadi penasaran seperti apa wajah sahabatnya itu saat mengenakan jilbab. Namun jika bukan karena ingin melihat penampilan Azfan, Rindang tak akan meminjam gamis sekaligus jilbab milik Khalisa. Sepertinya Azfan harus ikut lomba lagi jika Khalisa ingin melihat Rindang mengenakan jilbab.


"Assalamualaikum." Suara Azfan terdengar di depan pintu.


"Waalaikumussalam." Khalisa tersenyum lebar melihat Azfan datang. "Kamu pulang dulu tadi?" Azfan telah mengganti pakaiannya dengan celana kain berwarna hitam, kaos hitam yang luarnya dipadukan dengan kemeja abu-abu. Tak ada yang istimewa dari pakaian itu tapi Khalisa hampir tak bisa mengalihkan pandangan dari Azfan sampai ia berusaha menyadarkan diri sendiri agar segera melihat ke arah lain. Seperti ada bom di dalam kepalanya yang akan meletus jika Khalisa tetap melihat Azfan.


"Iya aku bersih-bersih sekalian ambil motor." Azfan meninggalkan motornya di kampus semalam. "Rindang kemana?"


"Rindang pulang sebentar, kamu udah makan?"

__ADS_1


"Belum, ini aku beli nasi uduk barusan, Khalisa mau?"


"Nggak usah, itu ada makanan dari rumah sakit." Khalisa melirik nampan yang berisi steak, mashed potato dan beberapa sayuran pendamping yang belum disentuhnya karena ia harus menyelesaikan tilawahnya tadi.


"Kalau gitu Khalisa harus makan dulu." Azfan mengatur overbed table untuk meletakkan makanan Khalisa. "Aku bantu potong ya."


Khalisa mengangguk, ia sudah seperti anak-anak yang diurus oleh papanya saat sakit.


Azfan mengelap garpu dan pisau dengan tisu sebelum memotong steak menjadi bagian yang lebih kecil agar Khalisa mudah memakannya.


Azfan membuka bungkus nasi uduk miliknya di atas meja setelah ia selesai memotong steak Khalisa, perutnya juga sudah keroncongan minta segera diisi. Mereka membaca doa bersama sebelum makan.


Khalisa tidak segera memakan steak nya, air liur memenuhi rongga mulutnya melihat Azfan menyantap nasi uduk itu dengan semangat. Mengapa rumah sakit tidak memberinya nasi uduk seperti itu, Khalisa juga ingin makan nasi bukan kentang.


Azfan mengangkat wajah mengerutkan kening melihat Khalisa tidak segera memakan sarapannya. Khalisa buru-buru menunduk ketika Azfan melihatnya.


"Kamu mau nasi uduk juga?" Tanya Azfan melihat ekspresi Khalisa.


"Hm?" Khalisa mendongak pura-pura terkejut padahal hatinya menjerit mengatakan iya. Bagaimana ini, ia tidak bisa mengatakan tidak karena pada kenyataannya ia menginginkan nasi uduk. Melihat Azfan mencampurkan nasi dengan bumbu kacang, bihun dan ayam goreng membuat Khalisa ngiler.


"Aku beliin ya."


"Enggak, nggak usah." Tolak Khalisa, ia sudah terlalu banyak menyusahkan Azfan. "Kamu mau makan ini nggak, kita tukeran makanan." Khalisa menawarkan solusi yang lebih baik dari pada Azfan harus keluar hanya untuk membeli nasi uduk miliknya.


"Tapi aku udah makan sedikit barusan."


Azfan menukar nasi uduk dengan steak yang dipanggang well done milik Khalisa. Mungkin Khalisa bosan karena terlalu sering makan makanan mahal seperti itu. Azfan tidak masalah makan apapun, ia bukan tipe pemilih.


"Makasih Azfan, kamu baik banget."


"Semoga kamu suka sama nasi uduknya." Azfan melanjutkan sarapannya steak dengan mashed potato dan sup jamur serta sayuran yang direbus. Azfan tidak tahu seperti apa rasa steak di restoran mahal tapi steak yang ini rasanya memang cukup hambar.


******


Berbagai hidangan tersaji di atas meja makan mulai dari makanan tradisional khas Jogja sampai masakan chinese yang sangat menggiurkan. Levin duduk di salah satu kursi bergabung dengan papa, mama dan Meylin adiknya. Levin mengambil nasi serta beberapa lauk yang dimasak oleh koki di rumah mereka. Ini hari Minggu jadi Levin tidak perlu sarapan dengan terburu-buru karena takut telat kuliah, sebaliknya ia bisa menikmati makanan itu dengan santai.


"Nanti anterin Meme belanja ya Ko, setelah Meme pulang dari gereja." Meylin menuang susu untuk Levin, gadis berusia 15 tahun itu sudah bisa memberi perhatian pada kokonya seperti mengambilkan lauk atau air minum. Meylin menjadi sosok adik yang manis bagi Levin dan saat ia meminta sesuatu Levin tak akan pernah bisa menolak. "Mumpung weekend lo, Koko kan setiap hari sibuk sekarang." Tambahnya.


Levin tersenyum mengusap puncak kepala sang adik dengan gemas, bagaimana caranya menolak permintaan sang adik sedangkan ia telah berjanji makan bersama dengan Khalisa dan anak-anak komunitas mualaf nanti, itu adalah permintaan Khalisa sebagai hadiah hari ulang tahunnya.


"Gimana kalau besok, Koko janji deh beres kuliah Koko langsung pulang terus kita ke Mall." Levin mengembangkan senyum lebar agar tidak membuat adiknya kesal.


Meylin mengerucutkan mulutnya, ia mau hari ini bukan besok.


"Memangnya kamu mau kemana Vin?" Tanya Valerie pada sang anak, tidak biasanya Levin menolak permintaan Meylin.


"Levin udah ada janji sama Khalisa buat makan sang sama anak-anak komunitas mualaf juga Ma." Jelas Levin dengan hati-hati tidak mau membuat siapapun tersinggung.

__ADS_1


"Memangnya nggak bisa ditunda?" Kini giliran Michael bertanya.


"Kemarin Khalisa ulang tahun jadi ini hadiah aku buat Khalisa Ma, Pa."


"Koko suka sama Ce Khalisa ya?" Meylin menyipitkan matanya yang sudah sipit melihat Levin.


"Kenapa memangnya hm?" Levin mencubit lengan adiknya.


"Mama nggak setuju sama Khalisa." Tukas Valerie dengan nada dingin, ia ingat ucapan Ica saat acara anniversary pernikahannya beberapa waktu lalu.


Levin mengerutkan kening, mengapa tiba-tiba bicara seperti ini padahal dulu mamanya terlihat menyukai Khalisa. Mereka juga sering bertemu dan terlihat akrab. Levin seperti melihat lampu hijau yang menyala terang di kepala mama dan papanya. Namun sekarang kenapa tiba-tiba bilang tidak setuju. Hubungan keluarga Aswatama dan Alindra juga sudah terjalin erat, Levin pikir itu akan menjadi salah satu jalan yang mudah untuknya mendapatkan Khalisa.


"Kenapa Ma? Ce Khalisa kan cantik dan baik." Meylin ikut heran pada ucapan mamanya.


"Tahu nggak waktu acara anniversary Mama dan Papa waktu itu, Mama cuma bilang kalau sepertinya Levin cocok untuk Khalisa, bukankah Levin sudah memenuhi kriteria yakni Islam dan kaya tapi apa jawaban Bu Alisha, dia bilang tidak kayak tidak apa-apa yang penting mau bekerja keras karena kami juga sudah kaya." Valerie menirukan gaya bicara Ica waktu itu, ia benar-benar geram mendengar kalimat tersebut. Belum lagi ada banyak orang yang hadir disana saat itu, walaupun mereka tak mendengar tapi Valerie seperti kehilangan muka saat Ica membalas ucapannya seperti itu.


Wajah Levin memerah menahan amarah, "kenapa Mama bilang gitu?" Ia tidak menyalahkan Ica karena justru kalimat mamanya yang terdengar merendahkan. "Apa Khalisa tahu soal ini?"


"Mana Mama tahu, kenapa kamu jadi belain Bu Alisha bukannya Mama."


Levin menahan napas, "Ma, bukannya gitu tapi itu sama aja Mama merendahkan keluarga Khalisa."


"Levin, sudahlah lupakan Khalisa." Suara berat Michael membuat Levin tersentak.


"Aku selesai." Levin beranjak dari sana meski ia sama sekali belum menyentuh makanannya, ia hanya minum sedikit susu yang Meylin tuangkan untuknya barusan.


Levin kembali naik ke lantai dua menuju kamarnya, ia berharap Khalisa tidak tahu soal ini. Levin mengambil ponsel dan mendial nama Khalisa. Cukup lama Levin menunggu untuk Khalisa menjawab teleponnya, baru setelah dering terakhir suara Khalisa terdengar di seberang sana.


"Assalamualaikum, Koko."


Levin menjawab salam Khalisa spontan mengulas senyum seolah-olah Khalisa ada disini, kemarahannya seketika reda mendengar suara gadis itu. Khalisa sudah seperti sumber mata air yang selalu menyejukkan hati Levin. Bagaimana mungkin ia mencari gadis lain sedangkan Khalisa telah memiliki segalanya.


"Khalisa, nanti siang aku jemput ya."


"Oh janji makan siang kita ya?"


"Iya, aku sudah booking restoran Chinese halal di daerah Ngupasan dan kasih tahu yang lain untuk dateng kesana."


"Maaf Koko sebelumnya, aku nggak berniat membatalkan janji kita tapi aku nggak bisa hari ini sampai beberapa hari ke depan, jadi Koko sama yang lain bisa makan bareng tanpa aku."


Levin mengerutkan kening mendengar ucapan Khalisa, ia duduk di pinggiran tempat tidur karena mendapat penolakan membuatnya tubuhnya lemas seketika. Apakah Meylin sekarang juga merasakan hal yang sama. Benar kata pepatah bahwa apa yang engkau tanam itulah yang akan kau tuai.


"Memangnya Khalisa ada acara lain?" Levin masih berusaha berpikir positif di tengah hatinya yang dipatahkan.


"Aku di rumah sakit tapi Koko tenang aja, aku udah nggak apa-apa kok."


Levin membelalak, hampir saja ponsel di genggamannya terlepas karena terkejut. Mengapa ia baru tahu kalau Khalisa masuk rumah sakit padahal semalam ia masih melihat Khalisa ikut menonton jalannya lomba di kampus.

__ADS_1


"Aku kesana sekarang." Levin segera memutus sambungan sebelum Khalisa melarangnya pergi ke rumah sakit.


__ADS_2