
Selama hamil mungkin ini pertama kalinya Khalisa merasakan ngidam. Saat bangun tiba-tiba Khalisa ingin makan ayam gajebo dekat kampus. Padahal saat masih kuliah, Khalisa jarang makan disana. Namun pagi ini Khalisa benar-benar menginginkannya.
Tadinya Azfan hendak pergi ke masjid untuk menyelesaikan kaligrafi yang sudah ia kerjakan selama 6 bulan ini bersama pegawainya. Namun Azfan harus mengantar Khalisa lebih dulu, sekalian sarapan disana.
Khalisa sudah siap menunggu di dalam mobil sedangkan Azka berada di jok belakang.
"Abi nggak apa-apa nganterin aku dulu?"
"Nggak apa-apa sayang, kan aku juga mau kesana, nanti Umma pulangnya bawa mobil aja, aku bisa sama anak-anak nanti gampang." Azfan menoleh ke belakang memastikan Azka sudah memasang seat belt. Ia menjalankan mobil dengan kecepatan rendah melewati jalanan yang tidak terlalu ramai dipagi hari. Azfan berharap warung ayam gajebo juga belum ramai agar Khalisa bisa langsung makan.
"Adik seneng nggak mau makan ayam?" Azfan mengulurkan tangan mengusap perut buncit Khalisa.
"Umma nya yang seneng Bi." Balas Khalisa dengan senyum bermekaran. Jarak dari rumah ke kampus UII hanya dua kilometer tapi bagi Khalisa perjalanan ini terasa sangat lama.
"Adik kok lama mau keluar Bi?" Suara Azka tidak terlalu jelas karena mulutnya penuh dengan biskuit coklat kesukaannya.
"Kan nunggu gede dulu di perut Umma terus baru bisa keluar."
"Sakit nggak?"
"Sedikit sakit." Jawab Khalisa, ia tak mau membuat Azka berpikir bahwa adiknya menyakiti Umma mereka.
"Umma jangan takut, nanti aku temenin Umma."
Khalisa merasa tersentuh mendengar perkataan Azka. Sebentar lagi Khalisa akan menjadi ibu dari dua orang anak. Ia masih terus belajar untuk menjadi orangtua yang baik. Khalisa tak mau Azka merasa kasih sayang dari orangtuanya berkurang setelah adiknya lahir dan itu tidak mudah.
Azfan membukakan pintu untuk Azka dan Khalisa ketika mereka sampai di depan warung ayam gajebo.
"Azka mau makan juga nggak?" Azfan menggendong Azka masuk ke warung yang lumayan lengang, hanya ada dua orang di salah satu sudut ruangan.
"Azka mau ayam goreng?" Khalisa ikut bertanya pada Azka.
"Mau." Azka manggut-manggut.
"Umma pesenin dulu ya." Khalisa bergegas memesan dua porsi ayam gajebo yang tidak terlalu pedas dan satu ayam goreng biasa untuk Azka.
Khalisa duduk bergabung dengan Azka dan Azfan sembari menunggu pesanan mereka selesai dibuat.
"Bersihin tangannya dulu pakai tisu." Khalisa memberikan satu tisu basah pada Azka, "kita mau makan pakai tangan."
"Aku lebih suka makan pakai tangan dari pada sendok." Tukas Azka sembari membersihkan tangannya dengan tisu basah.
"Oh ya? bagus dong kan Rasulullah makannya juga nggak pakai sendok." Azfan juga mengambil tisu basah yang selalu ada di tas Khalisa.
"Loh, Khalisa."
Khalisa menoleh mendengar seseorang menyebut namanya, suara itu tidak asing di telinganya. Khalisa membelalak melihat Huma dan Hamiz berada disana. Ternyata dua orang yang lebih dulu berada di warung itu adalah mereka.
"Kok kamu disini?" Khalisa beranjak begitupun dengan Huma.
"Hamiz ada kerjaan di Jogja, aku emang niat mau ke rumah kamu tapi mampir dulu makan disini, aduh kangen banget." Huma memeluk Khalisa. Sejak hari pernikahannya, Huma belum bertemu dengan Khalisa lagi. "Kenapa sih jarak tempat tinggal kita harus jauh banget, aku jadi susah mau ketemu kamu."
"Nggak jauh lah, Surabaya-Sleman." Khalisa memperhatikan Huma dari atas sampai bawah. "Gimana kehamilan kamu?" Khalisa menyentuh perut buncit Huma, ia memperkirakan usia kandungan Huma memasuki 6 bulan. Sebulan setelah menikah Huma memberikan kabar bahagia tentang kehamilannya. Allah begitu cepat memberi karunia buah hati kepada Huma dan Hamiz.
"Aku jadi aneh banget semenjak hamil." Huma mengajak Hamis pindah satu meja dengan Khalisa dan Azfan.
Hamiz dan Azfan saling menyapa dan menanyakan kabar satu sama lain. Dua laki-laki pemalu yang memiliki istri dengan sifat berkebalikan dengan mereka.
"Emang ada keanehan apalagi selain—kamu selalu mual setiap kali lihat obat padahal kamu kerjanya di rumah sakit dan kamu cuma mau minum air panas, apalagi?" Khalisa selalu mendengar cerita Huma tentang kehidupannya setelah menikah dan kehamilannya yang sangat aneh melalui panggilan video.
"Satu lagi yang aku tahan-tahan nggak mau cerita, karena aku maunya cerita langsung kayak gini."
Obrolan mereka terpotong saat pesanan Khalisa dan Azfan datang. Dua porsi ayam kecap dengan sayuran yang bisa nambah sepuasnya.
"Nanti aja habis makan." Huma juga belum menghabiskan makanan miliknya.
"Umma, aku mau kecap kayak punya Umma dan Abi." Azka melihat makanannya berbeda dengan makanan milik Khalisa dan Azfan.
"Kalau kecap kayak punya Umma ini pedes, Umma ambilin kecap biasa aja ya taruh di atas ayamnya, mau nggak?" Khalisa mengambil piring Azka.
"Mau."
Khalisa beranjak meminta kecap pada penjual. Anak-anak memang peniru orangtuanya seperti Azka meminta makanan yang sama seperti milik Khalisa dan Azfan. Itu sebabnya sebagai orangtua, Khalisa dan Azfan selalu berusaha memberi contoh yang baik untuk Azka. Berbicara lembut dan mendengarkan anak adalah contoh yang selalu mereka terapkan pada Azka.
Azka baru mau makan setelah Khalisa memberi kecap di atas ayam goreng miliknya.
__ADS_1
"Kenapa Umma?" Azfan melihat Khalisa mengusap perutnya beberapa kali di tengah-tengah mereka makan.
"Nggak apa-apa, cuma kram dikit." Jawab Khalisa, perutnya sering merasa kram memasuki trimester ketiga dan itu adalah hal yang biasa.
"Emang udah waktunya lahiran ya?" Huma ikut memperhatikan Khalisa.
"Belum lah." Khalisa tetap melanjutkan makan meski perutnya terasa tidak nyaman. Ia harus menghabiskan makanan yang sejak semalam menari-nari di pikirannya.
Setelah makan Azfan pamit pergi ke masjid untuk melanjutkan pekerjaannya. Azfan bisa sedikit tenang karena ada Huma dan Hamiz yang akan menemani Khalisa kembali ke rumah.
"Kalau Mbak Khalisa mau, biar aku yang nyetir." Tukas Hamiz.
"Nggak apa-apa, aku bisa nyetir kok." Khalisa masuk mobil disusul Huma sedangkan Hamiz dan Azka berada di belakang.
"Hal aneh apa yang mau kamu ceritain ke aku?" Khalisa sudah penasaran sejak tadi.
"Aku jadi benci sama Harry Potter tahu nggak, kamu tahu kamarku penuh dekorasi Harry Potter dan sekarang udah nggak ada semua, rak buku aku yang penuh dengan novel dan koleksi Harry Potter ku semuanya udah pindah ke gudang."
Khalisa mendelik tak percaya pada cerita Huma. Itu benar-benar aneh karena Huma cinta mati pada semua hal yang bertemakan Harry Potter lalu tiba-tiba ia jadi membencinya.
"Serius?" Khalisa bertanya sekali lagi.
"Serius, sekarang aku cerita itu aja jadi merinding nih." Huma menunjukkan bulu tangannya yang berdiri.
"Bener-bener aneh sih." Khalisa geleng-geleng menanggapi cerita Huma.
"Mungkin doa Hamiz terkabul." Sindir Huma.
"Aku nggak pernah berdoa supaya kamu benci Harry Potter kok." Sanggah Hamiz.
"Aku sependapat sama Huma."
"Beneran aku nggak pernah berdoa kayak gitu." Hamiz berkata jujur.
"Tapi sebagian koleksi Harry Potter Huma kan pemberiannya Geza jadi mungkin Hamiz berharap supaya barang-barang itu nggak ada lagi di kamar, coba bayangin jadi Hamiz pasti kesel setiap hari lihat barang pemberian Geza ya walaupun kalian udah resmi nikah."
Hamiz terperangah mendengar kalimat Khalisa, ia memang merasa kesal setiap kali melihat barang pemberian Geza yang masih dipajang oleh Huma. Meskipun Huma sudah berkali-kali meyakinkan Hamiz bahwa ia telah melupakan Geza, tapi Hamiz tetap merasa sedikit cemburu. Namun Hamiz tak pernah mengatakannya pada Huma karena tidak mau menyakiti sang istri. Walau bagaimanapun Huma sangat menyukai Harry Potter.
"Menurutku ini udah jalan dari Allah supaya Hamiz nggak sakit hati lagi sama kamu."
"Subhanallah, gesit banget kamu lagi hamil gede loh." Khalisa tak habis pikir dengan tingkah Huma.
"Kamu nggak salah kok." Hamiz memberi pelukan pada Huma.
"Lain kali kamu harus bilang sama aku tentang perasaan mu."
"Iya."
Azka menatap Huma dan Hamiz yang sedang berpelukan dengan wajah polosnya.
"Aunty kok nangis?" Azka bertanya pada Huma.
Huma segera mengusap air matanya kasar karena malu dilihat Azka.
"Aunty mau dipeluk Azka tuh." Ujar Khalisa.
"Aunty mau dipeluk?" Tanya Azka.
Huma mengangguk. Azka langsung memeluk Huma dan mengatakan jangan bersedih lagi.
"Ya ampun kamu gemes banget sih." Huma mengacak-acak rambut Azka gemas. "Aunty bawa kamu pulang ya ke Surabaya."
"Nggak mau Aunty."
"Kenapa?"
"Surabaya panas."
Huma dan Hamiz tertawa, padahal disini sama panasnya dengan Surabaya.
Mereka sampai di rumah Khalisa setelah 10 menit perjalanan. Khalisa memberikan dua bungkus ayam gajebo pada mertuanya yang berada di dapur bersama Nadira.
"Ibu kan udah bilang nggak usah dibungkusin ."
"Ibu harus coba, ini enak banget ayamnya."
__ADS_1
"Kamu kok pucat banget?" Kirana menyentuh pipi Khalisa, "kamu sakit?"
"Enggak kok, Bu." Khalisa mengusap wajahnya, "mungkin karena nggak pakai lipstik."
"Di depan ada siapa?"
"Ada Huma sama Hamiz, Ibu makan aja." Khalisa menarik kursi agar Kirana segera makan. Jika tidak, pasti Kirana akan sibuk membuat minuman untuk Huma dan Hamiz. "Khalisa ke depan dulu."
Khalisa duduk di sofa ruang tamu bersama Huma dan Hamiz. Sementara itu Azka pergi ke ruang makan menghampiri neneknya.
Khalisa dan Huma membicarakannya banyak hal, mereka tak pernah kehabisan bahan obrolan. Dulu meski bertemu setiap hari ada saja hal yang mereka bicarakan apalagi sekarang—mereka sangat jarang bertemu.
******
Khalisa kembali menutup pintu setelah mengantar Huma dan Hamiz ke depan rumah. Mereka naik taksi online menuju kota Yogyakarta.
"Khalisa, ini ada minuman yang tumpah ya?" Kirana melihat sofa ruang tamu basah ketika ia hendak membereskan gelas bekas minuman Huma dan Hamiz.
Khalisa menghampiri mertuanya, itu adalah tempat duduknya barusan dan ia yakin tidak ada minuman tumpah disitu.
"Buk, kok baju aku basah ya?" Khalisa meraba-raba bagian belakang tubuhnya dan berputar menunjukkan pada Kirana. "Buk!" Khalisa memegang lengan mertuanya ketika merasa ada cairan yang keluar dari tubuhnya. Cairan bening itu merembes ke sepanjang kaki Khalisa hingga membasahi lantai.
"Ketuban kamu pecah Khalisa, Ibu telepon Azfan dulu." Kirana bergegas mencari ponselnya dan menghubungi Azfan.
Khalisa duduk di sofa dengan perasaan campur aduk, ia tak menduga jika kontraksi yang dari tadi ia rasakan ternyata bukan kontraksi palsu. Khalisa tetap tenang karena waktu kelahirannya masih lama.
Kirana memasukkan barang-barang dan pakaian ke dalam tas dengan asal karena panik. Bagaimana tidak panik jika Khalisa sama sekali tak menunjukkan tanda-tanda hendak melahirkan.
Khalisa menaiki tangga menuju kamar Azka. Azka tampak terlelap di ranjang setelah lelah bermain dengan Kirana dari tadi.
"Azka di rumah dulu ya sama Mbak Nadira." Khalisa mengusap rambut Azka lalu mencium keningnya. Tiba-tiba Khalisa melow karena harus meninggalkan Azka di rumah. "Sepertinya adik mau keluar nih."
Perlahan Azka membuka mata saat Khalisa mencium semua bagian wajahnya.
Khalisa segera menghapus air matanya dan meminta maaf karena membangunkan Azka.
"Umma kenapa nangis?" Azka mengerutkan kening melihat Umma nya menangis.
"Azka, Umma mau ke rumah sakit, ini waktunya adik keluar, Azka doain supaya semuanya lancar ya." Khalisa berkata dengan lembut.
"Azka ikut, Umma." Azka bangkit dari posisi tidur.
"Azka disini sama Mbak Nadira, nanti kalau Adik udah keluar, Azka susul Umma ke rumah sakit."
"Tapi aku mau temenin Umma."
Khalisa memeluk Azka, "Azka doain Umma dari rumah, siapin tempat tidur buat Adik nanti sama Mbak Nadira."
"Nggak mau Umma."
"Kalau Azka ikut, siapa nanti yang siapin tempat tidur buat Adik?"
Azka menangis di pelukan Khalisa, ia tak mau ditinggal di rumah. Ia ingin ikut ke rumah sakit.
"Azka kan sebentar lagi jadi Koko, Umma janji deh nanti kalau Adik udah keluar, Umma langsung kasih tahu Koko." Khalisa mengurai pelukan, ia menatap wajah Azka dan mengusap kepalanya. "Jadi Koko yang baik ya, disini dulu sama Mbak Nadira."
"Umma!" Azfan datang lebih cepat dari dugaan Khalisa.
Khalisa melirik Azka, ia meminta bantuan Azfan untuk merayu Azka agar mau ditinggal.
Azfan membantu Khalisa berdiri, napasnya tersengal karena buru-buru pergi setelah ibu meneleponnya.
Nadira juga berada di kamar itu untuk menenangkan Azka walaupun akan sulit.
"Eh Azka pilih baju buat adik sama Mbak Nadira gih, nanti kalau adik datang, Azka bisa langsung pakaikan baju baru buat adik." Azfan berusaha terlihat tenang meski sebenarnya ia ingin segera membawa Khalisa pergi ke rumah sakit.
Azka terdiam, ia tahu Azfan hanya merayunya. Namun ide memilih baju juga tak terlalu buruk bagi Azka. Kegiatan itu cukup mengenyangkan bagi Azka.
Setelah Nadira berhasil membawa Azka masuk ke kamar sebelah, Khalisa bersama Azfan dan Kirana segera keluar dan masuk ke dalam mobil.
Air mata Khalisa mengalir deras bukan karena merasakan sakit di perutnya melainkan karena tak tega meninggalkan Azka di rumah.
Kirana memeluk Khalisa untuk menenangkannya, ia tahu bagaimana perasaan Khalisa saat ini sebab ia pernah berada di posisi itu. Tidak sekali tapi tiga kali ketika Kirana melahirkan adik-adik Adi yakni Azfan, Safa dan Marwah.
__ADS_1