
Udara sejuk berhembus di kampus seluas 35 hektar yang dikelilingi pepohonan rimbun dan danau di salah satu sisinya. Di antara banyak tempat di kampus, kantin menjadi tempat favorit bagi mahasiswa. Tak hanya mengisi perut yang kelaparan usai mengikuti kelas, kantin juga menjadi saksi bisu dimana mereka mengobrol, tertawa bahkan menangis. Mengobrol tentu kurang menyenangkan jika tidak ditemani makanan.
Televisi berukuran 40 inch di sudut ruangan menyiarkan sebuah acara berita terkini siang hari yang tentu saja diabaikan oleh semua orang di kantin tersebut. Mereka sibuk mengantre, mencari tempat duduk dan menghabiskan makanan.
Khalisa melihat Geza menghampiri meja nya dengan wajah melas, ia sudah bisa menebak jika raut wajah Geza sudah seperti itu pasti dompet anak itu sedang kosong. Tak ada yang lebih membuat Geza galau kecuali dompetnya yang kosong.
"Ada apa?" Khalisa mendongak.
"Aku boleh duduk nggak Mbak?" Geza melihat Khalisa dan Huma bergantian tapi sebelum mereka menjawab, ia lebih dulu duduk di salah satu kursi kosong.
Huma melihat Geza sekilas, jika dilihat-lihat Geza memiliki wajah yang manis dengan kulit sawo matang, tipe cowok yang akan disukai para cewek Indonesia. Tunggu dulu sejak kapan Huma memperhatikan Geza, hentikan Huma! dia adik tingkat mu.
"Aku boleh pinjem uang nggak Mbak?" Geza menyangga dagu dengan satu tangan, ia tak tahu lagi harus meminjam uang pada siapa untuk jajan setiap hari. "Ibu sama Ayah kompak banget nggak ngasih aku duit, gara-gara aku nekat ikut tes masuk UII terus diterima sedangkan Ibu maunya aku kuliah di Poliwangi biar jadi Chef atau manajer hotel kayak Ayah." Geza mulai curhat, ia memang sudah mengenal beberapa teman disini tapi tidak mungkin ia curhat pada mereka.
"Jadi mereka masih nggak setuju kamu kuliah disini?" Khalisa ikut prihatin karena tanpa orangtua, kita bukan apa-apa.
"Iya, Ibu masih ngambek."
Huma curi-curi pandang, ekspresi Geza membuatnya gemas ingin mencubit pipinya tapi tentu saja itu hanya akan terjadi di khayalannya saja. Humaira, nunduk!
"Terus siapa yang ngasih kamu uang untuk masuk kesini?"
"Ayah, tapi sekarang Ibu ngancem Ayah supaya nggak ngasih aku uang jajan." Geza menghela napas berat.
"Ya udah, mau berapa, Tante Dianis nggak akan lama marahnya, palingan besok udah kirim uang makanya kamu nggak usah galau, kalau laper baca Yassin aja."
"Emang bisa kenyang?"
"Bisa sambil minum air tiga gelas."
"Ih Mbak receh banget sih, itu kan bagian aku ngelawak receh begitu."
"Jadi mau berapa?"
"Uang cash adanya berapa Mbak?"
Khalisa tertawa, "nih anak emang agak ngelunjak." Ia merogoh tas mengambil dompetnya. "Ada nih lima ratus." Ia mengeluarkan 5 lembar seratus ribuan.
"Makasih Mbak." Geza nyengir memasukkan uang tersebut ke dalam saku celananya. "Mbak, cicip sedikit ya." Geza mencomot kentang goreng milik Huma.
"Nggak usah panggil Mbak." Kata Huma, maunya dipanggil siapa? Ayang?
"Iya, kayaknya kalian seumuran, dulu Huma ikut kelas aksel."
"Wah sama, aku juga aksel."
"Aksel apaan?" Tanya Khalisa, ia tidak pernah tahu kalau Geza ikut kelas akselerasi dulu.
"Aksel, aku selalu bolos kelas." Geza tertawa yang menular pada Huma dan Khalisa. "Aku ke kelas dulu nanti kentang Humaira aku habisin kalau kelamaan disini."
"Bagus deh kalau kamu sadar."
"Mbak, makasih ya aku bakal balikin secepatnya." Geza beranjak meninggalkan meja Khalisa tidak lupa melambaikan tangan pada dua kakak tingkatnya itu.
"Ayu!" Khalisa memanggil seseorang yang terlihat mirip Ayu berpapasan dengan Geza.
Huma mengikuti arah pandang Khalisa pada seorang gadis yang mengenakan rok plisket hitam dan kemeja bermotif bunga yang dimasukkan ke dalam roknya. Bukan hal yang mengejutkan jika Khalisa tiba-tiba memanggil orang yang terlihat asing di mata Huma.
__ADS_1
Ayu berhenti sejenak lalu pura-pura tidak melihat setelah tahu bahwa orang yang memanggilnya adalah Khalisa.
"Ih kok gitu sih?" Huma memutar bola mata kesal melihat gadis bernama Ayu yang cepat-cepat melihat ke arah lain seolah Khalisa tak pernah memanggilnya. "Cantik juga enggak."
"Astaghfirullah." Khalisa mendelik lalu menggeleng samar mengingatkan Huma untuk tidak bicara seperti itu. "Nggak mau dipanggil kayaknya."
"Emang siapa sih?"
"Anaknya yang punya kosan Azfan."
"Baru punya kosan aja udah sombong, apalagi punya Mall 5 tingkat."
Khalisa mengabaikan omelan Huma karena memilih menikmati semangkok es buah yang menyegarkan.
Ayu mengedarkan pandangan ke seluruh penjuru kantin, tak ada tempat kosong, kalaupun ada kursi kosong pasti itu dikelilingi kakak tingkat yang tidak ia kenal. Ayu melihat dua kursi kosong di meja Khalisa, tidak mungkin ia duduk disana setelah barusan pura-pura tidak mendengar saat Khalisa memanggilnya. Ayu melihat mie ayamnya yang jika tidak segera dimakan pasti akan bengkak. Ayu tidak punya pilihan selain bergabung dengan Khalisa.
"Ngomong-ngomong kenapa Azfan tiba-tiba keluar dari sana?" Tanya Huma.
"Nggak tahu tuh, Azfan bilang nggak bisa cerita alasannya."
"Pasti nggak betah sama Bu kos nya yang cerewet."
"Enggak kok, justru Azfan bilang Bu kos nya baik suka ngasih makanan bahkan dia dibolehin bayar setengah harga."
"Terus kena—"
"Aku boleh duduk disini nggak?"
Kalimat Huma terputus melihat seseorang menghampiri meja mereka. Huma mendongak lalu mendelik setelah tahu bahwa itu adalah Ayu. Rasanya Huma ingin tertawa di depan muka Ayu setelah barusan mengabaikan panggilan Khalisa.
"Duduk aja, udah mau selesai kok." Kata Huma dengan acuh.
"Ayu masuk fakultas apa?"
"FBE, aku ambil D3 AK." Ayu menunduk mengaduk-aduk mie ayam agar bercampur dengan bumbunya.
"Oh, aku denger akuntansi masuk dalam jurusan yang sulit lo, kamu hebat bisa masuk AK."
"Oh ya? kalau kamu?" Ayu balik bertanya.
"Kami sama-sama FMIPA, lebih tepatnya Farmasi." Jawab Khalisa.
"S1?" Ayu menaikkan alisnya sebelah.
"Emang disini ada farmasi D3?" Huma menyahut dengan nada sinis seraya melirik Ayu.
Ayu terdiam, ia juga tidak tahu karena saat masuk kesini ia hanya fokus pada satu tujuan yakni bisa lolos tes tanpa mempedulikan jurusannya.
"Sa, ayo besok ke Alindra Mall aku mau stok makanan sebelum puasa, males banget kalau harus belanja setiap hari." Huma mengulurkan tangan untuk meraih pergelangan tangan Khalisa, ia mengeluarkan jurus merayu karena Khalisa paling sulit diajak ke mall.
"Kenapa harus jauh-jauh ke Alindra Mall sih?" Khalisa menyeruput es nya hingga licin tak tersisa. "Di pasar juga banyak."
"Enggak, aku mau beli bahan makanan yang di Alindra Mall."
Khalisa mengusap mulutnya dengan sapu tangan bekas es yang terasa lengket di bibir.
"Kalau sama kamu kan dapet diskon banyak, aku deh yang nyetir mobilnya." Huma memasang senyum paling lebar.
__ADS_1
"Tapi janji beli bahan makanan aja, nggak mampir ke toko baju atau buku."
Huma tidak menjawab pura-pura tak mendengar kalimat Khalisa, ia menarik tangannya kembali. Tidak mungkin pergi ke mall tanpa mampir ke toko baju dan buku, itu adalah hal yang mustahil.
"Kenapa sih kamu lebih suka belanja di pasar, kalau aku jadi kamu nih pasti setiap hari aku nongkrong di Alindra Mall, itu impian aku."
"Aku sudah begitu dari balita, nggak jauh-jauh dari Mall, resor, hotel, taman bermain, aku bener-bener butuh suasana baru dan akhirnya sekarang bisa tinggal disini jadi banyak hal baru yang bisa aku coba."
"Dari balita? udah kayak yang punya mall aja." Ayu menggerutu yang terdengar oleh Khalisa dan Huma.
Khalisa dan Huma saling berpandangan tapi eskpresi mereka jauh berbeda. Khalisa masih setia tersenyum sedangkan Huma seperti bersiap hendak mengeluarkan semprotan untuk Ayu. Hello! emang yang punya.
"Kamu tahu Alindra Mall?" Huma memiringkan kepala melihat Ayu.
"Lebih dari tahu, seminggu dua kali aku kesana dan itu paling sedikit."
Khalisa membelalak, wah pelanggan setia nih.
"Kamu pikir kenapa nama belakang Khalisa itu Alindra?" Huma menunjuk name tag di dada kanan Khalisa.
Ayu melihat nama lengkap Khalisa yang tertulis pada name tag tersebut lalu ia membelalak tak tahu harus bereaksi apa.
"Aku dan Huma duluan ya." Khalisa beranjak dan segera menarik tangan Huma yang juga sudah menghabiskan makanannya. Mereka meninggalkan Ayu yang masih diam seribu bahasa setelah tahu fakta mengejutkan itu.
Khalisa mengembalikan mangkok bekas makannya dan Huma pada ibu kantin sekaligus membayarnya.
Seorang mahasiswa Universitas Islam Indonesia membuat seisi Sultan Ahmed Mosque penuh gema ayat suci Al-Qur'an dengan suaranya yang indah.
Perhatikan Khalisa teralih pada layar televisi yang tergantung di sudut kantin, ia mendengar seorang reporter menyebutkan nama universitas mereka. Hari ini terhitung 8 hari sejak Azfan memutuskan untuk mengikuti program latihan Qiro'ah. Khalisa juga tidak mendengar kabar Azfan sejak berangkat ke Turki karena mereka tak pernah bertukar pesan apalagi menelepon.
Mahasiswa bernama lengkap Azfan Khuffa Ameezan berhasil mendapat juara 1 MTQ di Turki mengalahkan 21 peserta lainnya dari berbagai negara. Sebelumnya mahasiswa yang akrab disapa Azfan ini juga mendapat juara favorit juri pada lomba MTQ yang digelar di kampus UII.
Khalisa hampir saja kehilangan keseimbangan melihat siaran yang menampilkan sosok Azfan tersebut jika saja Huma tidak menahannya.
"Bagaimana perasaan Anda mendapatkan gelar juara pada ajang MTQ ini?"
"Saya tidak percaya ini terjadi." Wajah Azfan memerah hingga ke telinga, ia terlihat sangat gugup.
Khalisa tertawa mendengar jawaban Azfan, ia bahkan berkaca-kaca ikut bangga atas kemenangan Azfan. Khalisa percaya Azfan pasti mampu melakukannya.
"Ada kah teknik khusus agar bisa memenangkan lomba ini, mungkin bisa dibagikan untuk teman-teman yang juga ingin ikut serta."
"Saya mengikuti latihan yang sama dengan teman-teman dan tidak ada teknik khusus, mungkin dengan banyak berlatih maka kita bisa memperbaiki bacaan agar lebih baik lagi, selain itu saya tidak akan pernah berdiri disini tanpa ridho Allah.
"Ada yang mau disampaikan kepada keluarga dan teman-teman kampus yang pasti saat ini sedang menonton kamu."
"Pertama terimakasih untuk Ibu yang selalu mendoakan dan mendukung apapun keputusan saya, terimakasih untuk Mas dan adik-adik saya, kedua saya ingin mengucapkan terimakasih kepada Kak Hasan yang memberi saya kepercayaan mengikuti lomba ini, tanpa beliau saya juga tidak akan berada disini dan terimakasih tak terhingga untuk Khalisa yang tidak pernah bosan memotivasi saya untuk melangkah maju, tanpa Khalisa saya akan selalu berjalan di tempat."
Khalisa meremas pinggang Huma mendengar Azfan menyebutkan namanya, ia menyembunyikan wajahnya di lengan Huma karena kini pandangan seisi kantin mengarah kepadanya.
"Apakah gadis bernama Khalisa itu pacar kamu?"
"Bukan."
"Kalau begitu terimakasih atas waktunya, semoga—"
Huma segera menarik Khalisa keluar dari kantin sehingga Khalisa tidak bisa mendengar apa yang reporter tersebut katakan selanjutnya.
__ADS_1