
Tanda garis dua pada test pack membuat sekujur tubuhnya gemetar. Sepasang matanya membulat tak percaya melihat test pack di tangannya. Tidak, ini pasti salah. Ia belum siap untuk hamil. Setidaknya jangan sekarang atau beberapa bulan ke depan.
"Gimana hasilnya?" Kafa melongokkan kepalanya dari balik pintu kamar mandi. Ia sudah tidak sabar menunggu hasil test pack yang Mahira gunakan sore ini.
"Ini gara-gara kamu tahu nggak?" Mahira mengerucutkan mulutnya, ia duduk di atas closet dengan wajah gusar.
"Kok gara-gara aku sih?" Alis Kafa terangkat, bukankah mereka bekerjasama untuk menghasilkan ini semua. Mengapa hanya Kafa yang disalahkan.
"Ya kamu kan yang hamilin aku!" Padahal sejak awal menikah mereka sudah sepakat untuk menunda memiliki momongan hingga lulus kuliah. Mahira juga merasa belum pantas menjadi seorang ibu yang memiliki tanggungjawab besar.
"Jadi hasilnya positif?!" Mata Kafa melebar, antara senang dan tidak percaya.
"Tahu ah lihat aja sendiri!" Mahira menghentakkan kakinya melewati Kafa keluar dari kamar mandi.
"Maaf, aku nggak sengaja." Lirih Kafa.
"Nggak sengaja?" Mahira berbalik. Apa maksud dari kalimat itu?
"Mmm ... maksud ku—" ah Kafa salah bicara, maksudnya ia tak berniat membuat Mahira hamil karena mereka telah sepakat untuk menundanya.
"Kamu nggak sengaja?" Mahira kembali mengulang kalimat Kafa, itu sungguh melukainya jika Kafa berkata tidak sengaja.
"Bukan itu, setiap hari aku sengaja bercinta sama kamu tapi kita udah sepakat untuk nunda." Kafa gelagapan, ia tak mau membuat sang istri salah paham.
Kafa merendahkan tubuhnya memungut test pack yang tak jauh dari tempatnya berdiri barusan. Mata Kafa membulat melihat tanda dua garis pada test pack tersebut. Ia tertawa girang bahkan melompat-lompat saat keluar menyusul Mahira. Siap atau tidak, ini adalah rezeki yang Allah berikan pada mereka.
"Sayang, ini rezeki dari Allah, kita nggak boleh kayak gini." Kafa menghampiri Mahira yang tengah bersandar pada pagar balkon.
"Gimana kalau aku nggak bisa jadi Ibu, ngurus diri sendiri aja aku nggak becus." Pandangan Mahira meredup.
"Bisa, kita pasti bisa." Kafa menarik Mahira ke dalam pelukannya. "Semua pasangan suami istri juga pasti merasa belum siap saat pertama kali jadi orangtua tapi buktinya mereka bisa, itu artinya kita juga bisa, jangan sedih."
"Maafin aku karena belum bisa jadi istri yang baik buat kamu." Mahira merasa masih memiliki banyak kekurangan untuk menjadi istri yang baik. Kadang ia membangkang saat Kafa menasehatinya. Mahira masih harus belajar menjadi istri yang selalu taat pada suami selama itu untuk kebaikan.
"Ssshhh, kenapa kamu minta maaf, aku udah pilih kamu itu artinya cuma kamu yang terbaik buat aku." Kafa melepas pelukan mengusap air mata di pipi Mahira. "Ada calon anak kita disini." Kafa mengusap perut Mahira, itu artinya ia akan segera menjadi seorang ayah.
Mulanya Mahira mengatakan bahwa ia telat haid seminggu, sebelumnya periode haidnya tak pernah telat meski hanya satu hari. Akhirnya Mahira iseng membeli test pack dan langsung memakainya sore ini. Mahira tak menyangka bahwa hasilnya positif. Namun perkataan Kafa benar, ini adalah rezeki dari Allah, mereka tak sepatutnya merasa kesal dan kecewa, sebaliknya mereka harus bersyukur dan menyambut kedatangan bayi itu dengan suka cita.
"Terus sekarang kita mau ngapain?" Tanya Kafa, apa yang biasa pasangan suami istri lakukan saat pertama kali mengetahui istrinya hamil.
"Biasanya ngapain ya?" Mahira juga tidak tahu apa yang harusnya mereka lakukan.
"Telepon Cece aja." Kafa masuk ke kamar disusul oleh Mahira.
"Mbak Khalisa lagi sibuk nggak jam segini, takutnya kita ganggu dia." Mahira duduk di samping Kafa.
Akhirnya Kafa mengurungkan niatnya untuk menelepon Khalisa. Lebih baik Kafa pergi ke rumah Khalisa agar ia dan Mahira bisa bicara secara langsung.
"Mahira, aku nggak nyangka kita bisa hamil." Mata Kafa berkaca-kaca menatap Mahira.
"Kita?"
__ADS_1
"Ya, itu hasil kerja kerasku juga." Ujar Kafa dengan bangga, rasanya ingin berteriak pada dunia memberitahukan bahwa istrinya hamil.
Mahira menahan tawa, kalimat Kafa terdengar sangat polos. Mahira mengacak-acak rambut Kafa dengan gemas hingga membuatnya berantakan. Menurut Mahira, Kafa lebih tampan saat rambutnya berantakan.
"Selamat sayang." Kafa kembali memeluk Mahira, tak terasa air matanya meleleh membayangkan ada bayi mereka di dalam perut Mahira. Kafa akan menjaga Mahira lebih baik, ia tak sabar menunggu kelahiran bayi itu. Kafa tak sabar dipanggil papa oleh anak mereka.
******
Khalisa mengerjapkan matanya berkali-kali lalu melihat test pack di tangannya. Namun hasilnya tetap sama. Khalisa mengucek matanya lagi dan lagi, siapa tahu ia salah lihat tapi tidak. Garis pada test pack tersebut tidak berubah. Mengapa ada dua garis? Khalisa tidak merasa dirinya hamil, apakah dua garis menunjukkan negatif? Khalisa mendadak buntu.
Khalisa mencuci test pack tersebut, mungkin saja bekas urin nya saat hamil Azka masih tersisa sehingga hasilnya positif walaupun itu tidak mungkin karena ia memiliki banyak test pack di laci. Khalisa hanya belum percaya jika ia hamil lagi.
Tentu saja Khalisa bahagia tapi Azka masih terlalu kecil untuk memiliki adik, ia bahkan masih menyusui Azka sekarang. Khalisa ingin memberikan ASI hingga Azka berusia 2 tahun. Khalisa merasa gagal menjadi ibu bagi anak pertama mereka.
"Umma." Suara Azfan terdengar dari luar diikuti ketukan pintu. "Umma nggak apa-apa kan?"
Khalisa mengusap air matanya dan segera keluar dari kamar mandi. Ia melihat Azka sudah terlelap di dalam box nya, itu berarti ia cukup lama berada di kamar mandi.
"Bagaimana hasilnya?" Tanya Azfan tidak sabar, melihat ekspresi Khalisa membuatnya tak bisa menebak hasil yang keluar pada test pack tersebut.
Khalisa mengangkat wajahnya, "Azka akan punya adik."
"Alhamdulillah." Azfan mendekap Khalisa erat.
Khalisa membalas pelukan Azfan, harusnya memang itu yang ia katakan ketika pertama kali melihat hasil test pack itu.
"Kita akan berusaha sebaik mungkin mengurus dua anak sekaligus, kenapa Umma nggak kelihatan senang?"
"Tentu aku senang tapi aku kasihan sama Azka, mau nggak mau waktu kita nggak bisa sepenuhnya buat Azka lagi karena ada adiknya."
"Allah sudah memilih kita sayang, itu tandanya kita mampu." Azfan mengurai pelukan, "Umma inget nggak dulu Umma hampir setiap bulan menangis saat haid lalu kita berharap bulan depan Umma bisa hamil, begitu terus sampai akhirnya Allah mengabulkan doa kita jadi sekarang kita harus bersyukur."
Khalisa mengulas senyum dan mengangguk samar, ia bersyukur karena memiliki suami seperti Azfan. Saat Khalisa marah atau kesal, Azfan selalu menjadi air yang mendinginkannya. Saat Khalisa sakit, Azfan akan merawatnya. Lalu mengapa Khalisa harus khawatir sedangkan ia memiliki suami seorang Azfan.
"Mbak, di bawah ada Mas Kafa dan Mbak Mahira." Suara Nadira terdengar di luar pintu.
Azfan dan Khalisa segera keluar kamar menuju lantai satu. Mereka melihat Kafa dan Mahira sudah menunggu di ruang tamu.
"Ce!" Kafa begitu bersemangat melihat Khalisa dan Azfan, ia segera ingin memberitahukan kabar gembira itu pada mereka. Bahkan Kafa dan Mahira belum memberitahu orangtua mereka karena keduanya ingin memastikan lagi besok dengan melakukan tes ulang. Setelah itu baru mereka akan memberitahu orangtua masing-masing.
"Ada apa kok muka kamu sumringah gitu?" Khalisa duduk di hadapan Kafa sedangkan Azfan duduk di sampingnya.
"Aku atau kamu yang ngasih tahu?" Kafa menoleh pada Mahira.
"Kamu aja." Mahira tak bisa mengeluarkan kalimat apapun, ia gugup padahal Khalisa dan Azfan bukan lah dosen pembimbing yang bisa membuatnya gugup. Mahira biasanya tak seperti ini, sekarang lidahnya mendadak kelu.
"Coba Cece dan Mas tebak kami mau ngasih kabar apa?" Kafa melihat Khalisa dan Azfan bergantian.
Khalisa dan Azfan saling melirik, aneh sekali tingkah Kafa. Biasanya Kafa tak suka basa-basi seperti ini. Mereka bingung karena ekspresi Kafa sangat bahagia sedangkan Mahira memasang muka datar dan lebih banyak menunduk.
__ADS_1
"Ada apa? kamu udah bisa naik sepeda tapi kamu bikin sepedanya Mahira rusak?" Khalisa mencoba menebak dari ekspresi Kafa dan Mahira. Sepertinya Kafa berhasil mengendarai sepeda tapi pada saat yang bersamaan ia juga membuat sepeda Mahira rusak. Terakhir belajar sepeda dengan Azfan, Kafa menabrak pohon dan membuat bagian depan sepeda Azfan ringsek. Namun untungnya masih bisa diperbaiki.
Senyum Kafa langsung menguap, kenapa juga Khalisa harus menebak sejauh itu. Sedangkan Mahira membelalak melihat Kafa tak percaya.
"Jadi selama ini kamu nggak mau naik sepeda karena nggak bisa nyetirnya?" Mahira menahan tawa, ia memukul-mukul paha Kafa karena zaman sekarang hampir semua orang bisa menyetir sepeda. Kafa juga tak pernah terus terang pada Mahira tentang hal ini. "Pantesan Mbak, dia nggak pernah mau aku ajak keluar pakai sepeda, alasannya di luar panas dan bisa kena debu eh ternyata nggak bisa nyetir."
Kafa cemberut, selama ini ia berusaha menyembunyikannya dari Mahira. Namun Khalisa dengan entengnya menebak hal tersebut. Kafa berencana belajar sepeda di tempat kursus profesional tapi ia tak pernah punya waktu hingga akhirnya lupa.
"Aku bisa kok, tanya aja sama Mas Azfan, ya kan Mas?" Kafa mengangkat dagu, ia berharap Azfan bisa bekerjasama dengannya.
"Kamu bisa kok tapi kayaknya perlu latihan lagi supaya nggak nabrak." Jawab Azfan jujur.
"Tenang, nanti aku ajarin." Mahira menggenggam tangan Kafa, ia bersungguh-sungguh ingin mengajari Kafa.
"Nggak usah." Kafa gengsi jika Mahira yang mengajarinya.
"Jadi bukan itu ya kabar bahagianya?" Khalisa merasa bersalah karena tak sengaja memberitahu kelemahan Kafa pada Mahira. Khalisa pikir Kafa telah mengakuinya tapi adiknya yang perfeksionis itu pasti enggan memberitahu sang istri.
Nadira meletakkan minuman untuk Kafa dan Mahira. Nadira juga telah memasukkan kue buatannya ke dalam kotak untuk dibawa Kafa nanti karena ia tidak mau membuat Khalisa muntah-muntah lagi.
"Mahira hamil, Ce."
"Oh ya? Alhamdulillah." Khalisa langsung memberikan selamat dan pelukan pada Mahira. Ia tahu mereka menunda untuk memiliki anak tapi Allah selalu menuliskan cerita yang jauh lebih indah. "Kalian akan segera jadi orangtua."
"Alhamdulillah Ce, sebentar lagi aku jadi Papa." Kafa tersenyum lebar seolah melupakan kejadian barusan.
"Kami kesini sekalian mau nanya Mbak, biasanya apa hal pertama yang harus kami lakukan setelah ini?"
"Kalian harus periksa ke dokter untuk USG jadi dokter akan memastikan apakah benar-benar ada janin di dalamnya."
"Cece ikut ya." Pinta Kafa
"Hm?" Khalisa melihat Azfan.
"Sekalian aja Umma juga periksa." Azfan mengangguk setuju.
"Ce Khalisa kenapa?" Kafa mengerutkan kening.
"Sebenarnya Cece juga hamil tapi Cece nggak terlalu yakin."
"Apa? Bener kan aku bilang Cece hamil lagi, wah Mas, kita akan punya anak!" Kafa merangkul Azfan dengan senyum bermekaran di wajahnya.
"Mas akan punya anak lagi." Balas Azfan tak kalah girang. Dua laki-laki yang sangat bersemangat setelah mengetahui bahwa sang istri hamil.
__ADS_1