
Daniel keluar ruang rawat Khalisa terlebih dahulu, ia mendapat panggilan dari polisi sebagai wali Khalisa. Daniel akan pergi ke kantor polisi bersama Azfan dan pengacara kenalannya untuk menindaklanjuti kasus ini.
"Aku masuk ya Kak." Dianis beranjak dari kursi tunggu karena dokter dan perawat juga sudah keluar.
"Iya." Daniel menahan pintu untuk Dianis masuk. "Azfan, saya boleh minta bantuan kamu lagi?" Daniel duduk di samping Azfan di depan ruang rawat Khalisa.
"Ada apa Pak?"
"Saya minta kesaksian kamu di kantor polisi." Daniel merendahkan suaranya bahkan Levin yang duduk tak jauh dari mereka tidak mendengar kalimatnya.
"Saya akan berusaha." Azfan mengangguk, ia memasukkan tasbih yang dari tadi berada di tangannya ke dalam saku kemeja.
"Terimakasih Azfan." Daniel menepuk bahu Azfan pelan. "Levin saya sama Azfan mau pergi dulu, kamu masuk aja." Ujarnya pada Levin seraya beranjak diikuti Azfan.
"Iya Pak Daniel." Levin tersenyum hambar, kini banyak pertanyaan yang muncul di kepalanya. Pertama mengapa Azfan lebih dulu ada disini dan dengan pakaian santai seolah menginap di ruangan ini. Namun meski telah memikirkannya Levin tidak menemukan jawaban mengapa Azfan harus menginap disini. Bukankah mereka baru saling mengenal tapi sudah terlihat akrab. Levin akui Khalisa memang mudah akrab dengan orang lain tapi ia tidak menerima hal ini.
Levin menoleh pada Daniel dan Azfan yang kini berada di ujung koridor lalu menghilang setelah berbelok ke kiri. Itu pertanyaan kedua yang juga membuat Levin harus berpikir berkali-kali untuk mencari jawaban.
"Maaf, ini ruangan Mbak Khalisa ya?" Seorang cowok yang membawa dua kantong plastik bertuliskan nama salah satu minimarket bertanya pada Levin.
"Iya, mau masuk?" Levin beranjak membuka pintu.
"Iya masa mau keluar." Ia nyengir masuk mendahului Levin karena kantong plastik yang dibawanya cukup berat sehingga ia tak tahan ingin segera meletakkannya.
"Assalamualaikum, maaf telah membuat semuanya menunggu lama karena sesungguhnya saya membawa banyak makanan yang akan membuat Ibu saya dan Mbak Khalisa tertawa senang."
Khalisa melongo melihat Geza yang begitu datang langsung membuat perutnya terasa geli oleh candaan cowok seusia Kafa itu. Sejak kecil Geza memang punya bakat melawak, entah datang dari mana lawakan garing seperti kanebo yang dijemur di bawah sinar matahari itu.
Levin melihat Khalisa, jejak air mata begitu terlihat di wajah Khalisa. Apakah luka Khalisa parah sehingga ia menangis setelah dokter memeriksanya. Meski sekarang Khalisa telah kembali tersenyum tapi Levin bisa melihat kesedihan di wajah itu.
"Ya ampun Geza baru setengah tahun nggak ketemu kok kamu ganteng banget sih sekarang, makan skincare ya?" Khalisa merentangkan tangan.
"Terimakasih Mbak udah puji aku." Geza menghampiri Khalisa ikut merentangkan tangan seolah hendak memeluk Khalisa.
"Eh mau ngapain." Dianis menahan Geza.
"Ya ampun jangan salah paham aku bukan mau peluk kamu ya, aku nunggu makanan yang katanya bisa bikin aku ketawa seneng itu." Khalisa tertawa melihat kantong plastik di tangan Geza. "Geza kita bukan anak kecil lagi."
"Andai aku terlahir jadi perempuan pasti kita jadi bestie." Geza meletakkan satu kantong di atas ranjang sedangkan yang lainnya ia berikan pada Dianis. Geza mengeluarkan semua Snack hingga memenuhi ujung ranjang Khalisa. "Mbak mau yang mana?"
"Eh Ko Levin." Khalisa melihat Levin yang dari tadi berdiri di depan pintu. "Kasih Koko aku dulu, Ko Levin mau Snack minimarket nggak?"
"Hm?" Levin tersadar dari lamunannya, "mau-mau." Jawabnya.
"Ini aku rekomendasikan Snack yang menurutku paling enak." Geza menyodorkan sebungkus tortilla chips pada Levin.
"Terimakasih." Ucap Levin.
"Nanti Tante Dianis sama Geza nginep di apartemen ku aja, nggak usah cari hotel." Ujar Khalisa, ia menerima Snack dari Geza yang telah dibuka bungkusnya.
"Besok Tante ada event di Hotel Aswatama jadi rencananya mau nginep disana aja sekalian." Dianis harus menghadiri Jogja Chef Festival di hotel Aswatama besok jadi untuk menghindari terlambat ia akan menginap di hotel tersebut.
"Tante jangan balik dulu ke Banyuwangi, harus masakin makanan yang enak buat aku."
__ADS_1
"Beres deh." Dianis mengibaskan tangan, tadinya ia kesini memang untuk menghadiri event tersebut tapi mendengar Khalisa sakit sekalian saja ia menjenguknya. "Eh tapi katanya hotel itu mahal ya, Ica ada rekomendasi hotel yang lebih terjangkau nggak deket situ?"
"Pelayanan dan fasilitas di hotel itu bagus kok jadi sesuai sama harganya." Balas Ica.
"Aku punya voucher hotel Aswatama kalau Tante mau bermalam disana." Levin mengeluarkan 3 lembar voucher bertuliskan Aswatama Hotel dari dalam tasnya.
"Wah beneran kamu kasih buat Tante?" Dianis tanpa ragu menerima voucher tersebut. "Nggak sayang?"
"Ko Levin ini anaknya yang punya hotel kok Tante jadi nggak usah khawatir." Sahut Khalisa, ia takut Dianis bicara macam-macam tentang hotel itu di depan Levin.
"Oh ya?" Dianis membelalak, "chindo bukan sembarang chindo, apa Tante bilang kamu pinter banget pilih temen yang tadi ganteng yang ini nggak cuma ganteng tapi punya hotel juga."
Khalisa menggeleng samar merapatkan bibirnya agar Dianis berhenti membicarakan hal seperti itu.
"Makasih ya Levin." Dianis memasukkan voucher ke dalam tasnya dan melanjutkan aktivitasnya memakan Snack yang Geza beli.
Beberapa saat kemudian Levin pamit pulang karena ia harus menemui para anggota komunitas untuk memenuhi janjinya mentraktir mereka makan siang.
Khalisa berjanji pada Levin bahwa ia yang akan mentraktir makan cowok itu setelah dirinya keluar dari rumah sakit.
"Kalian nggak ada hubungan spesial?" Tanya Dianis setelah memastikan Levin benar-benar pergi.
"Nggak ada." Khalisa menggeleng, ia mengerucutkan kening ketika Geza usil melempar bungkus Snack kepadanya.
"I mean seorang laki-laki dan perempuan nggak mungkin berteman tanpa ada perasaan di antara keduanya."
"Itu ungkapan zaman dulu Tante, sekarang udah nggak ada kayaknya." Khalisa membalas Geza melempar bungkus Snack miliknya.
"Zaman sekarang juga masih berlaku, kalau nggak kamu ya dia yang suka."
"Dianis, kamu dari dulu sampai sekarang hobinya goda orang ya." Ica berpindah duduk di samping Dianis.
"Sekarang aku tanya sama kamu, kategori menantu seperti apa yang kamu harapkan untuk jadi suami Khalisa?"
"Terserah Khalisa, asalkan dia bahagia aku dan Papanya inshaa Allah setuju." Ica menekankan kalimatnya untuk menghentikan pembahasan itu karena mungkin ini terlalu dini bagi Khalisa meski dulu saat seusia Khalisa ia telah menikah dengan Daniel. Namun Ica mencoba untuk tidak mengekang Khalisa dalam bentuk apapun karena selama ini Khalisa sudah menjadi anak yang penurut. Bahkan Khalisa rela mengesampingkan cita-citanya menjadi designer untuk bertanggungjawab terhadap rumah sakit.
Mata Khalisa berbinar-binar mendengar kalimat mamanya, jantungnya berdebar kencang. Sekarang yang ada di pikirannya adalah Azfan, cowok yang selalu datang ketika Khalisa sedang kesusahan. Apakah itu berarti ia menyukai Azfan, tapi bukankah terlalu awal untuk menyimpulkan perasaan ini sebagai rasa suka. Sepertinya Khalisa harus lebih banyak berpuasa agar tersesat di jalan yang salah.
******
"Kamu masih bikin kaligrafi kan?" Daniel memecah keheningan di antara dirinya dan Azfan sejak keluar dari area parkiran rumah sakit tempat Khalisa dirawat. Azfan berada di kursi penumpang di samping Daniel, mereka hendak menuju kantor polisi untuk menyelesaikan tindak kriminal yang Revan lakukan pada Khalisa. Daniel akan membereskan semuanya dengan cepat tanpa harus mengganggu Khalisa yang akan menghadapi ujian akhir Minggu depan.
"Masih Pak." Jawab Azfan yang dari tadi tegang karena hanya ada mereka berdua di dalam mobil itu.
"Kamu kerja atau kaligrafi itu dijual sendiri?"
"Saya dan beberapa teman lainnya digaji sama yang punya tempat Pak."
"Saya punya bangunan yang masih kosong di belakang pasar, kamu bisa gunakan itu untuk jual kaligrafi kamu sendiri karena saya yakin kaligrafi buatan kamu punya nilai jual tinggi."
"Tidak usah Pak, saya—" Azfan selama ini membisikkan doa itu di dalam hati bahwa suatu hari ia ingin memiliki toko sendiri untuk menjual kaligrafi buatannya. Namun Azfan membisikkan doa itu sangat pelan karena malu jika permintaannya terlalu aneh. Namun bagi sang pencipta tak ada permintaan yang terdengar aneh karena setiap orang memiliki keinginannya masing-masing. Apakah ini jawaban dari doa Azfan? Allah begitu baik kepadanya.
"Kamu nggak usah bayar sewa sebagai gantinya kamu rawat aja bangunan itu karena kalau nggak ada penghuninya bisa sia-sia, memang nggak terlalu besar tapi cukup untuk memajang puluhan kaligrafi."
__ADS_1
Azfan melihat Daniel tak percaya, mengapa ada orang sebaik Daniel yang memberinya kesempatan seperti itu.
"Semua ini bukan tanpa alasan karena saya juga menyukai kaligrafi, tolong kembangkan bakat mu, ini sudah jalan Allah yang Dia berikan kepadamu melalui saya."
"Terimakasih Pak Daniel, saya akan menggunakan bangunan itu sebaik mungkin." Azfan mengusap matanya yang basah. Tanpa Azfan sadari air yang beberapa detik lalu menggenang di pelupuk matanya kini luruh seketika.
"Saya yang harus berterimakasih karena kamu telah menolong Khalisa, saya dan Mamanya nggak bisa terus jaga Khalisa karena dia memang mau kuliah disini, dia juga bersikeras akan jaga diri, kami percaya dia bisa jaga diri dari pergaulannya tapi enggak dengan orang yang berbuat jahat sama dia."
"Inshaa Allah setelah ini tidak akan terjadi hal seperti itu lagi Pak."
"Saya juga berharap begitu." Daniel mengentikan mobilnya di depan halaman kantor polisi.
"Pak Daniel saya benar-benar minta maaf atas kejadian ini." Seorang lelaki bertubuh tegap dengan setelan jas menjabat tangan Daniel, ia adalah Yoni manajer apartemen Casey Avenue. Ia amat merasa bersalah karena kejadian di gudang apartemen kemarin.
"Saya tidak bisa menyalahkan pihak apartemen karena saya tahu keamanan disana sudah cukup ketat tapi alangkah lebih baiknya jika staf keamanan menambah kewaspadaan, kita tidak tahu dari mana kejahatan bisa terjadi."
"Ini tidak ada apa-apanya dengan yang Khalisa alami tapi kami akan membiayai seluruh biaya rumah sakit Khalisa dan memberikan gratis sewa selama 1 tahun ke depan."
"Terimakasih tapi untuk biaya rumah sakit saya telah membayarnya."
"Tidak Pak, kami akan mengirimnya ke nomor rekening Pak Daniel."
Daniel mengangguk, mereka melangkah masuk ke kantor tersebut dimana pengacaranya telah menunggu.
Polisi telah mengimpikan semua bukti di TKP berupa kursi lipat yang terdapat noda darah Khalisa sampai jilbab Khalisa yang hampir habis terbakar.
"Silakan saksi untuk memberikan keterangan." Pinta polisi pada Azfan yang duduk di hadapannya.
"Tersangka bernama Revan ini telah merencanakan kejahatan tersebut sejak 13 hari yang lalu dengan menggedor pintu apartemen sahabat Khalisa setiap pukul satu malam, awalnya saya berpikir mungkin si peneror ini mau melakukan kejahatan pada sahabat Khalisa tapi ternyata semalam ia melancarkan aksinya di gudang basemen."
"Benar, kami mendapatkan rekaman suara korban dan tersangka melalui ponsel korban dan itu persis seperti yang anda ceritakan."
"Ini bukan pelecehan seksual biasa karena dia telah merencanakan sejak jauh hari bahkan membakar jilbab korban yang mana itu bisa dikatakan sebagai pelecehan agama karena bagi seorang muslim aurat adalah segalanya, Khalisa sangat menjaganya selama ini."
Daniel melirik Azfan yang tampak luar biasa memberikan kesaksian, ia pikir Azfan akan gugup seperti ketika cowok itu bicara dengan dirinya. Namun tanpa diduga Azfan memberikan keterangan dengan lancar.
"Kami juga sudah mendapatkan bukti visum dari rumah sakit."
Giliran pengacara Daniel bicara dengan polisi sementara itu Daniel meminta izin untuk menemui Revan yang berada di dalam sel.
Begitu melihat seseorang datang, Revan yang tadinya menunduk langsung mengangkat wajah dengan melangkah mendekati pria yang ia kenali sebagai papa Khalisa.
Daniel melihat wajah babak belur Revan, pasti Azfan telah mengajarnya habis-habisan tanpa ampun. Daniel juga bisa melihat luka memar di wajah Azfan. Itu berarti Azfan memiliki ilmu bela diri lebih baik daripada Revan.
"Jangan berharap bisa menghirup udara luar setelah ini." Ujar Daniel penuh penekanan dengan menatap tajam pada Revan. Tatapan itu seolah menghunus ke dalam jantung Revan.
Revan tersenyum miring dengan bibirnya yang membiru dan bengkak.
"Yang penting saya sudah melihat Khalisa tanpa jilbab, saya cuma penasaran secantik apa dia kalau nggak pakai kain itu."
Daniel mengepalkan tangannya kuat lalu meninju hidung Revan melalui celah sel hingga membuat Revan tersentak dan terpelanting ke belakang. Pukulan itu juga menimbulkan suara cukup keras yang menarik perhatian beberapa polisi disana.
"Pak Daniel sabar, jangan seperti ini." Polisi tersebut menahan Daniel dan membawanya pergi dari sana.
__ADS_1
Daniel melihat Revan sekali lagi sebelum pergi dari sana. Daniel tidak bisa mengendalikan emosinya ketika berhadapan dengan Revan.