Mahabbah Cinta Khalisa

Mahabbah Cinta Khalisa
57


__ADS_3

Mobil Khalisa berhenti di depan sebuah rumah tidak terlalu besar dengan gaya minimalis yang terlihat nyaman ditinggali. Itu adalah tempat kos Azfan sekarang, terletak di belakang bangunan apartemen Khalisa. Jika berjalan ke kiri sekitar 1 kilometer maka Khalisa akan menemukan tempat kos Huma.


Khalisa meraih tas kain di kursi penumpang yang berisi beberapa buah apel dan pir sebelum turun dari mobil. Kedatangannya disambut Safa dan Marwah yang tampak lebih tinggi padahal rasanya baru kemarin Khalisa bertemu mereka. Seperti saat Khalisa pulang dan berjumpa kembali dengan Zunaira serta Azmal. Mereka tumbuh begitu pesat hingga membuat Khalisa kagum.


Khalisa mengucapkan salam ketika Marwah mengambil alih tas kain di tangannya dengan sigap. Kirana menyahut dari belakang.


"Ya ampun, kan kami yang mengundang kamu buka puasa bersama tapi justru kamu membawa banyak buah." Kirana terkejut melihat buah-buahan yang Khalisa bawa.


"Nggak apa-apa Bu, kalau nggak habis bisa ditaruh di kulkas." Khalisa menyusul Kirana ke dapur sedangkan Safa dan Marwah mengeluarkan buah-buahan itu dan mencucinya sebagian.


"Khalisa biasanya di apartemen buka puasa sendirian?" Kirana sedang mengaduk sayur bayam yang dicampur dengan jagung di dalam panci. Ia menambahkan sedikit garam dan penyedap ke dalamnya.


"Kemarin Rindang nemenin saya buka puasa." Khalisa mencuci tomat, cabai dan bawang putih di bawah kran, ia menduga ibu Azfan akan membuat sambal.


"Rindang lagi sibuk ya makanya nggak ikut kesini?"


"Katanya mau makan di pasar takjil Bu." Walaupun tidak ikut berpuasa tapi Rindang tak kalah semangat menyambut bulan suci Ramadhan karena banyak makanan yang hanya ada di bulan ini.


"Assalamualaikum." Terdengar Azfan mengucapkan salam dari depan rumah yang langsung dijawab oleh 4 wanita yang sedang sibuk di dapur tersebut.


Azfan tak mengira bahwa Khalisa akan datang secepat ini ketika ia melihat mobil gadis itu terparkir di depan kosannya. Ia melangkah ke dapur mendapati Safa dan Marwah mengupas buah apel dan pir. Azfan juga melihat punggung ibunya dan Khalisa di dekat kompor. Khalisa mengenakan pashmina pemberian Azfan kemarin yang ia padukan dengan gamis berwarna kopi susu.


Azfan meletakkan 5 gelas es buah yang dibelinya di pasar ke atas meja dan memindahkan kurma dari kotak ke piring saji.


Waktu buka puasa tinggal beberapa menit lagi, semua makanan telah tersaji di atas meja berbentuk pergi di ruang makan yang tidak terlalu luas bahkan bisa dibilang sempit karena menyatu dengan dapur.


"Makasih Azfan, Bu Kirana, Safa dan Marwah sudah mengajak saya buka puasa disini." Ucap Khalisa begitu mereka duduk di kursi masing-masing menunggu adzan.


"Justru kami yang berterimakasih karena kamu mau buka puasa bareng disini, dengan makanan seadanya." Balas Kirana.


"Sebenernya makanan buka puasa saya di apartemen nggak lebih banyak dari ini Bu." Khalisa melihat 5 jenis masakan di atas meja dan itu jauh lebih banyak dari pada makanannya di apartemen. Kemarin Khalisa hanya membuat sup ayam dan sambal terasi karena memasak itu melelahkan. Khalisa kagum pada ibu-ibu di luar sana yang memasak setiap hari untuk keluarga.


"Alhamdulillah!" Mereka berseru bersamaan mendengar lantunan adzan dari masjid.


Mereka merapalkan doa berbuka puasa lalu meneguk air putih dan memakan beberapa buah kurma yang memiliki rasa manis legit.

__ADS_1


Safa telah menyiapkan sajadah dan mukena untuk mereka shalat magrib sebelum menyantap makanan utama.


Azfan sebagai satu-satunya lelaki disitu bertindak menjadi imam shalat. Ia berdiri di depan barisan para wanita, sebelum memulai, ia terlebih dahulu menoleh ke belakang melihat ibu dan dua adiknya yang telah siap mengenakan mukena begitupun dengan Khalisa. Azfan tidak mau melihat Khalisa lebih dari dua detik karena itu sangat berbahaya.


Khalisa berani mengangkat wajah ketika Azfan kembali melihat ke depan. Khalisa memperhatikan baju koko berwarna putih yang Azfan kenakan, apakah seperti rasanya nanti ketika ia berdiri di belakang Azfan tak hanya sebagai makmum shalat tapi juga makmum di seluruh kehidupan mereka.


Mungkinkah itu terjadi suatu hari nanti? Saat itu terjadi Khalisa akan menjadi wanita paling beruntung karena Azfan adalah lelaki yang begitu mencintai Al-Qur'an.


Bacaan surat Al-Fatihah terdengar merdu, menggema ke seluruh penjuru rumah. Lidah Azfan juga fasih melafalkan ayat-ayat Allah.


Bulu kuduk Khalisa meremang ketika Azfan membaca surat Al-Qadr pada rakaat pertama. Ia ingin mendengar suara itu setiap saat.


Makanan yang tadinya mengepulkan asap kini tak lagi terlalu panas sehingga mereka mudah menyantap semua masakan Kirana.


"Mbak Khalisa suka paha atau dada?" Tanya Marwah ketika ia hendak mengambil ayam goreng.


"Suka semua." Jawab Khalisa, ia suka semua bagian ayam.


"Ya udah ini buat Mbak." Marwah meletakkan paha ayam pada piring Khalisa.


"Beneran nih buat aku?" Khalisa menggoda Marwah.


"Spesial buat Mbak Khalisa karena udah bawain apel banyak banget." Marwah nyengir lebar.


"Makasih ya." Khalisa ingin mengusap puncak kepala Marwah tapi tangannya tak sampai sehingga ia hanya menahan gemas pada bocah berusia 12 tahun tersebut.


Marwah memperhatikan ibunya, Khalisa lah Safa, tanpa disadari mereka mengenakan jilbab dengan motif yang hampir sama. Itu adalah jilbab yang Azfan bawa dari Turki untuk oleh-oleh dan hari secara bersamaan mereka mengenakannya.


"Mbak Khalisa dari kecil pakai jilbab?" Tanya Marwah, ia masih berdebat dengan dirinya sendiri ketika Azfan menyuruhnya tidak lepas pasang jilbab karena ia telah baligh.


"Iya pakai tapi mulai Istiqomah berjilbab sejak lulus sekolah dasar."


"Dia lagi nyari alasan biar lepas pasang jilbab, Mbak." Safa kembali berbisik, ia sudah seperti narasumber yang tahu segalanya di rumah itu.


"Marwah tahu Sayyidatuna Fatimah Az-Zahra?" Azfan yang dari tadi diam akhirnya bersuara, ia tahu sulit bagi Marwah jika langsung Istiqomah berjilbab maka sebagai kakak ia harus memberi pengertian secara perlahan pada Marwah.

__ADS_1


"Tahu, Fatimah putri Rasulullah yang juga salah satu tokoh favorit ku Mas."


"Oh ya? bagus kalau kamu mengidolakan sosok Sayyidatuna Fatimah, suatu saat di Padang Mahsyar malaikat Jibril berkata pada seluruh manusia untuk menundukkan pandangannya karena Fatimah Az-Zahra putri Rasulullah istri Ali bin Abi Thalib akan melewati sirath dengan menunggangi unta, malaikat Jibril berada di sisi kanan, Mikail di sebelah kiri, Ali bin Abi Thalib berada di depan sedangkan Hasan dan Husain di belakang dengan Allah menjadi penjaganya bersama 70.000 bidadari."


"Semua pecinta Fatimah Az-Zahra yang meneladaninya dan mencontoh perilakunya dengan kuasa Allah akan bersama Fatimah Az-Zahra melewati sirath secepat kilat."


Tanpa terasa air mata Khalisa meleleh mendengar cerita Azfan meski ini bukan pertama kalinya ia mengetahui cerita tersebut. Namun ketika membaca atau mendengarnya lagi pasti air matanya meleleh tanpa seizinnya. Sungguh mulia Fatimah Az-Zahra yang menjadi penghulu bagi para wanita.


"Maka Marwah harus mencontoh beliau dengan selalu mengenakan jilbab." Azfan melanjutkan kalimatnya.


Marwah mengatupkan bibir rapat, itu bukan cerita menyedihkan tapi entah kenapa rasanya ia ingin menangis. Marwah jadi tidak selera makan, kenapa juga Azfan harus menceritakan kisah tersebut saat mereka sedang makan. Marwah ingin menangis kencang karena selama ini ia masih mencari seribu alasan untuk lepas pasang jilbab padahal itu wajib baginya.


"Kemarin aku denger Azfan Qiro'ah di masjid sebelum adzan ashar." Tukas Khalisa usai makan, ia ingin membantu Kirana membereskan meja tapi dua adik Azfan melarangnya dan menyuruhnya untuk tidak beranjak dari kursi itu.


"Iya, gantian sama Kak Hasan, Kak Fawas dan tiga orang dari Jamaah Al-Faraby."


"Kalian luar biasa." Puji Khalisa, menahan haus seharian tidak membuat mereka bermalas-malasan bahkan justru semakin produktif. "Kamu juga makin banyak dikenal sama temen-temen yang lain."


Azfan tersenyum samar, jika boleh memilih maka ia tidak ingin banyak orang mengenalnya. Azfan terbiasa menyendiri dari dulu, sekarang ketika lewat banyak yang menyapanya, Azfan tidak nyaman dengan suasana seperti itu. Namun itu telah menjadi takdirnya, Azfan harus membiasakan diri meski itu tidak mudah. Azfan malu saat mereka memujinya karena sesungguhnya ia tak sebaik yang mereka katakan.


Sesuatu yang membuat Azfan bertahan dengan keadaan ini adalah ia selalu berbisik bahwa semua yang dilakukannya adalah semata-mata karena Allah. Azfan mensyiarkan ayat Allah, ia tak tahu mungkin saja ada satu orang yang hatinya tersentuh karena bacaan tersebut. Azfan tak pernah tahu.


Khalisa pamit karena waktu tarawih semakin dekat. Hanya pada bulan ini Khalisa akan rutin shalat isya' berjamaah di masjid.


******


Sepulang tarawih Khalisa menghabiskan sepanjang malamnya untuk bermunajat kepada Allah seperti malam-malam sebelumnya. Khalisa memohon untuk diberi kekuatan dan keyakinan untuk mengungkapkan perasaannya terhadap Azfan. Meski sekarang ia sudah cukup yakin bahwa Azfan memang laki-laki yang bisa menjadi imam nya, imam kehidupannya. Lelaki sederhana yang terlahir untuk senantiasa rendah hati.


"Bismillah ya Allah, Hamba ini bersama-sama dengannya untuk meraih cinta-Mu, beribadah di jalan-Mu, menjalankan ibadah paling lama yakni pernikahan, mudahkan jalan ku ya Allah."


Masih jelas teringat di ingatan Khalisa ketika Azfan datang dalam mimpinya saat ia bimbang untuk menerima atau menolak lamaran Fawas. Saat itu Azfan mengenakan baju koko putih tersenyum ke arah Khalisa dan mengatakan bahwa ia akan selalu ada untuk Khalisa, menemaninya, menghibur kesedihannya dan mencintainya dengan sepenuh hati.


Sekarang Khalisa baru sadar kalau itu adalah pakaian yang sama dengan yang Azfan gunakan tadi. Khalisa tahu itu bukan pakaian mahal tapi ia selalu dibuat terpesona karena Azfan sangat cocok mengenakan pakaian berwarna putih.


Jika menikah dengan Azfan membuat Khalisa semakin dekat dengan Allah seperti hubungan Daniel dengan Allah yang kian erat setelah ia menikah dengan Ida maka Khalisa ingin segera melakukan itu.

__ADS_1


__ADS_2