Mahabbah Cinta Khalisa

Mahabbah Cinta Khalisa
122


__ADS_3

Hawa dingin menyergap ketika mobil Rindang memasuki halaman rumah Levin yang tidak terlalu luas. Setelah mengumpulkan mental yang sempat berceceran akhirnya Rindang memberanikan diri datang ke rumah Levin. Dulu Rindang sering berkunjung ke rumah Jason atau laki-laki yang pernah menjadi pacarnya. Harusnya Rindang tidak segugup ini, lagi pula ia telah mengenal Valerie sebelumnya.


Levin berlari dari dalam rumah menyambut Rindang yang baru turun dari mobilnya, ia telah mendapat pesan bahwa Rindang akan berkunjung ke rumahnya hari ini.


"Assalamualaikum, Ko." Ucap Rindang.


"Waalaikumussalam ayo masuk, Mama ada di taman belakang." Levin mengajak Rindang masuk.


"Hari ini Tante Val nggak ke rumah sakit?" Rindang takut kedatangannya akan mengganggu waktu Valerie walaupun ini akhir pekan. Namun setahu Rindang dokter tidak memiliki hari libur.


Levin menggeleng, "Hari ini jadwalnya kosong, kamu mau minum apa?" Tanyanya ketika mereka melewati lorong menuju taman belakang.


"Apa aja boleh."


"Kamu suka Matcha Latte nggak?"


"Suka."


"Aku minta Mbak di belakang bikinin Matcha Latte buat kamu ya soalnya akhir-akhir ini aku dan Meylin sering minum itu."


"Kamsia Ko."


"Itu Mama." Levin mempercepat langkah diikuti Rindang, mereka melewati pinggiran kolam ikan koi menuju kursi kecil di tengah taman dimana Valerie sedang serius merajut.


"Selamat siang Tante." Sapa Rindang mengalihkan perhatian Valerie dari cardigan coklat yang sudah hampir jadi.


"Siang." Balas Valerie, jika Levin tidak mengatakan bahwa Rindang akan berkunjung ke rumah ini pasti ia tak akan bisa mengenali gadis itu karena penampilannya berubah drastis. Valerie hanya bisa melihat sepasang mata Rindang.


Rindang menjabat tangan Valerie, "apa kabar Tante."


"Baik, ayo duduk." Ajak Valerie.


Rindang tidak bisa menebak apa yang ada di pikiran Valerie saat ini karena ekspresinya sangat datar. Tidak ada senyum terbentuk dari bibir Valerie yang dipoles dengan lipstik merah.


"Aku ke dapur dulu, Mama mau aku ambilin minum juga nggak?" Levin melihat mama nya.


"Nggak usah." Tolak Valerie.


"Rindang, aku tinggal bentar ya." Ujar Levin pada Rindang.


Rindang mengangguk, ia duduk di kursi kosong di samping meja kecil berwarna putih yang menghadap ke kolam ikan.


"Kamu pakai baju begini nggak panas?"


"Sama sekali nggak panas Tante soalnya bahan bajunya memang yang adem, saya pilih bahannya sendiri."


"Oh." Valerie hampir lupa kalau Rindang pandai menjahit baju sendiri seperti Khalisa.


"Saya baru tahu kalau Tante Val suka merajut." Rindang melihat Valerie yang kembali serius merajut.


"Kalau lagi senggang saya selalu merajut, bisa ngilangin stress juga."


"Bukannya makin stress Tante, bikinnya kan rumit."


"Enggak lah, kalau udah tahu caranya nggak akan sulit."


Rindang manggut-manggut. Sebagai dokter, ternyata Valerie tak hanya pandai menangani pasien tapi tangannya juga terampil merajut.


"Kamu sekarang lagi sibuk apa?" Tanya Valerie.


"Lagi selesain skripsi Tante."


"Terus rencananya setelah lulus mau ngapain?" Valerie ingin tahu rencana Rindang ke depan jadi ia bisa menemukan alasan untuk menghalangi hubungan Rindang dan Levin.


"Saya pengen buka butik."


"Dimana? di Jogja atau di Banyuwangi?"


"Kalau itu saya belum kepikiran sih Tan." Rindang tersenyum gugup walaupun tak terlihat.


"Oh iya katanya orangtua kamu punya bisnis Frozen Food."


"Betul Tante."


"Kenapa keluarga kamu nggak milih bisnis Healthy Food aja?" Valerie mengangkat dagunya melirik Rindang dengan pandangan meremehkan.


Alis Rindang terangkat, kenapa tiba-tiba bertanya seperti itu lagi pula bukan dirinya yang membuka bisnis tersebut.


"Frozen food punya kelebihannya sendiri Tante, kami juga bisa kirim makanannya ke seluruh wilayah di Indonesia, orang-orang memungkinkan menyimpannya dalam waktu yang lama dan menurut saya lebih praktis juga kita tinggal panasin aja sebentar di microwave atau kompor." Jelas Rindang semampunya.


"Kamu makan Frozen Food nggak?"


"Kadang-kadang saya makan." Tentu saja Rindang makan produk buatan orangtuanya sendiri saat ia tidak sempat memasak sesuatu yang rumit.


"Orang-orang sekarang nggak begitu memperhatikan kesehatannya, pasien saya di rumah sakit kebanyakan mereka yang sering mengkonsumsi Frozen Food, walaupun perusahaan Frozen Food mengatakan makanan itu tetap bernutrisi tapi Tante biasain Levin dan Meylin makan makanan yang sehat."


"Tentu saja Frozen Food nggak bisa kita bandingkan dengan Healthy Food Tante dan segala sesuatu yang berlebihan itu memang nggak baik dan perusahaan nggak bisa mengkontrol jumlah pembelian masyarakat, sama seperti orang-orang yang terkena diabetes, apakah mereka akan menyalahkan pabrik gula, tentu enggak kan Tante?" Rindang masih mempertahankan senyumnya, ia sama sekali tidak tersinggung dengan kalimat Valerie karena menurutnya itu adalah fakta. Namun rasanya mereka tak perlu membahas hal ini. Harusnya Valerie menanyakan ini pada orangtua Rindang si pemilik bisnis tersebut.


Valerie terdiam, ia kalah telak dengan kalimat panjang Rindang barusan. Ia menelan saliva dengan susah payah karena tenggorokannya terasa terdekat.


Levin kembali dengan membawa dua gelas Matcha Latte untuk Rindang dan dirinya. Ia sengaja mengulur waktu untuk kembali karena ingin membiarkan mama nya dan Rindang mengobrol. Levin berharap ada perkembangan yang baik setelah mereka saling mengobrol.

__ADS_1


"Ini cobain." Levin meletakkan Matcha Latte di dekat Rindang dan duduk bergabung dengan mereka.


"Makasih Ko." Rindang menyeruput Matcha Latte dingin tersebut. Cuaca panas dan minuman dingin adalah perpaduan yang pas untuk menikmati siang ini.


"Mama ke dalam dulu." Valerie beranjak.


"Loh Mama mau kemana?" Levin mendongak menahan lengan mama nya.


"Mau tidur siang." Jawab Valerie ketus, ia tidak mood lagi melihat sosok Rindang disini.


"Sejak kapan Mama bisa tidur siang?" Levin mengerutkan kening, ia tahu kebiasaan mama nya yang paling menghindari tidur siang karena itu akan membuatnya susah tidur di malam hari.


"Sejak hari ini, kalian ngobrol aja." Valerie melenggang pergi dari sana membawa cardigan yang hampir jadi dan setumpuk alat merajutnya.


Levin tersenyum canggung melihat Rindang, ia merasa tidak enak karena mama nya tiba-tiba pergi begitu saja.


"Kamu bahas apa aja barusan sama Mama?" Levin menduga obrolan Rindang dan Valerie tidak seperti yang ia harapkan.


"Bahas bisnis Frozen Food orangtua ku, Ko."


"Maaf kalau Mama ngomong macem-macem dan menyinggung perasaan kamu." Levin mengerti mama nya pasti akan berusaha membuat Rindang terpojok seperti saat pertama kali dirinya menceritakan soal bisnis orangtua Rindang. Valerie terlihat tidak menyukainya


"Enggak kok, Tante Val sama sekali nggak menyinggung perasaan aku." Rindang tersenyum hambar dan kembali meneguk Matcha Latte miliknya hingga habis, ia ingin segera pulang dari sini. Rindang tidak nyaman berduaan seperti ini dengan Levin. Selain itu Rindang baru ingat bahwa ia telah membuat janji bertemu dengan Sandi.


"Makasih karena kamu udah mau datang kesini, lain kali aku ingin mengunjungi orangtua kamu di Banyuwangi."


Rindang mengangguk pelan.


"Aku pamit pulang dulu Ko." Rindang beranjak setelah menghabiskan segelas Matcha Latte dalam waktu yang singkat padahal harusnya ia meminumnya pelan-pelan menikmati setiap teguk Matcha bercampur susu dan gula.


"Kok buru-buru, aku udah kasih tahu Meylin kalau kamu datang, sebentar lagi dia kesini."


"Maaf Ko, aku baru ingat kalau siang ini ada janji sama temen."


Levin ikut beranjak untuk mengantar Rindang.


"Assalamualaikum Ko."


"Waalaikumussalam." Levin melihat Rindang masuk ke mobil.


Levin kembali masuk setelah mobil Rindang tidak terlihat. Perasaannya gusar karena takut jika Rindang justru tidak mau berkunjung kesini lagi.


"Loh, Ce Rindang mana?" Meylin menghentikan langkahnya pada anak tangga terakhir melihat Levin di depan pintu.


"Udah pulang."


Meylin melangkah menghampiri Levin, mengapa Rindang buru-buru pulang padahal Meylin ingin belum sempat menyapa.


"Baru inget kalau dia ada janji sama temennya." Levin berjalan menaiki anak tangga.


"Koko mau kemana?" Meylin menoleh.


"Ke kamar Mama." Levin harus bicara pada mama nya karena telah menyinggung perasaan Rindang dengan pergi tiba-tiba.


Levin mengetuk pintu kamar mama nya dan minta izin untuk masuk. Ia mendorong pintu setelah mendapat jawaban dari mamanya.


Seusai dugaan Levin, Valerie tampak melanjutkan rajutannya dengan duduk memunggungi pintu. Valerie tak mungkin tidur siang.


"Kenapa Mama ninggalin Rindang gitu aja?"


"Mama males aja ngobrol lama-lama sama Rindang." Jawab Valerie santai.


"Sebenarnya apa sih masalah Mama, kenapa Mama nggak suka sama Rindang, dia baik kok."


"Kamu pikir baik aja cukup?"


"Bagi Levin cukup."


"Mama nggak mau kamu buru-buru nikah."


"Kenapa Ma, Mama bilang setelah selesai internship aku boleh menentukan hidupku sendiri termasuk soal menikah, sekarang bahkan aku udah diterima di rumah sakit tapi Mama masih aja bilang aku belum boleh nikah, Mama mau aku ngapain lagi?"


"Apa kamu udah puas dengan gelar dokter umum, kamu harus ambil pendidikan spesialis."


"Aku pasti lanjut ambil spesialis tapi nggak sekarang Ma, aku mau nikahin Rindang dulu."


"Memangnya kamu pikir bisa nikah sambil kuliah? nggak gampang Vin."


"Aku tahu nggak gampang Ma, tapi belum tentu nggak bisa kan, Levin belum jalanin Mama udah bilang nggak bisa."


"Keluar dari kamar Mama."


"Ma," Levin memegang lengan mama nya dengan pandangan memohon. "Levin bisa buktiin kalau Levin bisa kuliah S2 setelah menikah."


"Keluar!" Bentak Valerie, ia tidak mau lagi terusik oleh pembicaraan soal pernikahan ini.


Levin mengembuskan napas berat melepaskan lengan mama nya dan keluar dari situ. Levin kembali ke kamarnya, ia menghempaskan tubuhnya di atas sofa dekat jendela. Mengapa kisahnya tak semulus kisah cinta orang lain.


"Ya Allah, apa boleh hamba iri pada Kafa yang sekarang sudah bertunangan dengan gadis yang ia sukai." Pandangan Levin menengadah ke langit-langit kamarnya. Begitupun Azfan yang bisa menikah dengan Khalisa. "Bukankah jika Engkau memilihku untuk mengalami semua ini maka berarti aku mampu untuk melaluinya?"


******

__ADS_1


Rindang memasukkan beberapa pelembap ke dalam pouch make-up untuk ia berikan pada Mahira sesuai janjinya beberapa waktu lalu. Lagi pula Rindang tidak akan bisa menghabiskan beberapa botol pelembap, toner dan sunscreen dalam waktu singkat jadi lebih baik ia memberikannya pada orang lain.


Rindang tidak berbohong soal punya janji dengan seseorang tapi ia menyempatkan diri untuk kembali ke apartemen setelah pulang dari rumah Levin. Rindang sekalian membawa pouch tersebut, setelah urusannya selesai ia bisa mampir sebentar ke rumah Mahira.


Mobil Rindang merayap perlahan memasuki area pertokoan padat dimana ia telah membuat janji temu dengan Sandi di cabang Butik Muslimah milik Aisyah.


Rindang menghentikan mobilnya dan mengambil ponsel, memastikan keberadaan Sandi.


"Ko Levin?" Rindang melihat satu pesan masuk dari Levin ketika ia mencari nama Sandi. Dengan gerakan cepat Rindang mengetuk pesan dari Levin.


Bagaimana pendapat mu mengenai pernikahan tanpa restu orangtua?


Mata Rindang membulat membaca pesan tersebut, jangan bilang Levin akan nekat menikahi Rindang tanpa restu orangtuanya.


Rindang hendak membalas pesan tersebut tapi ia mendengar suara seseorang memanggilnya.


"Bang Sandi." Gumam Rindang melihat Sandi di depan butik. Ia segera keluar dari mobil dan memasukkan ponselnya ke dalam tas.


"Ayo masuk." Ajak Sandi ke dalam butik yang cukup ramai siang itu. "Kamu rencananya buka butik disini atau di Banyuwangi?" Ia mengajak Rindang duduk di sofa depan.


Dua kali Rindang mendengar pertanyaan tersebut tapi tak heran jika Sandi bertanya soal itu karena mereka pernah membahasnya sebelumnya.


"Menurut Bang Sandi lebih enak dimana?"


"Menurutku baik disini atau di Banyuwangi, sama-sama punya kelebihan, kalau mau tinggal menetap disini kamu bisa buka butik disini nanti aku bantu."


"Nggak takut aku jadi saingan Abang?"


Sandi tertawa, "enggak lah, setiap designer punya ciri khasnya masing-masing jadi kamu akan menemukan peminat karya mu sendiri."


"Aku belum kepikiran sampai situ sih, sekarang lagi fokus selesain skripsi." Rindang tidak bisa fokus pada percakapannya dengan Sandi karena terus memikirkan pesan Levin barusan. Padahal tujuan Rindang kesini adalah untuk mendapatkan gambaran mengenai butik dan selera fashion masyarakat karena Sandi sudah berpengalaman dalam hal ini. Terbukti dari dirinya yang menjadi designer kepercayaan Aisyah.


"Kamu mau lihat-lihat nggak?


"Mau Bang, mau banget." Rindang beranjak karena ia sudah sampai disini maka Rindang bisa membawa pulang satu atau dua potong pakaian yang menarik perhatiannya. "Itu kain untuk bridesmaids?"


"Iya, untuk bridesmaids nya Kafa dan calon istrinya, aku denger kamu juga diminta jadi bridesmaid?"


"Iya tapi aku nggak mau, aku bagian balik layar aja Bang." Rindang terkekeh.


"Ini sepertinya cocok untuk kamu." Sandi mengambil salah satu gamis berwarna Mocca. "Kamu suka pakai French Khimar?


"Iya aku sering pakai French Khimar." Rindang memperhatikan gamis di tangan Sandi, ia meraba bahannya yang halus dan pasti nyaman saat dikenakan. Tentu saja buatan Sandi tak ada yang jelek.


"Sayangnya stok French Khimar kami lagi kosong."


"Its okay Bang, aku mau gamis ini." Rindang tidak mau memilih terlalu lama, ia ingin segera menelepon Levin.


"Kalau gitu kamu coba dulu."


"Nggak usah, langsung aja." Rindang mengibaskan tangannya.


"Ini ukurannya agak besar lo Rin."


"Nggak apa-apa." Rindang suka memakai baju kebesaran.


Sandi meminta salah satu karyawan butik untuk membungkus gamis yang telah Rindang pilih.


Setelah menyelesaikan pembayaran Rindang pamit pulang walaupun sebenarnya ia masih ingin menanyakan banyak hal pada Sandi.


Tanpa menunggu lama Rindang mendial nomor telepon Levin, ia memasang airpods pada kedua telinganya seraya menjalankan mobil.


"Halo Rindang."


"Maksud pesan Koko apa tadi? jangan dijawab, biar aku tebak."


"Apa?"


"Tante Val nggak suka sama aku kan dan dia nggak merestui seandainya Ko Levin mau nikahin aku."


"Dia bukannya nggak suka sama kamu."


"Lantas?"


"Kamu belum jawab pertanyaan ku."


"Koko mau tahu jawabanku?"


"Iya."


"Pendapatku adalah seseorang nggak mungkin menikah tanpa restu orangtua."


"Rindang, asal orangtuamu merestui, aku akan menikahi mu."


Sambungan langsung terputus sebelum Rindang membalas kalimat Levin.


Rindang meminggirkan mobilnya, ia menempelkan keningnya pada kemudi. Rindang tahu bagaimana perasaan Levin saat ini tapi ia tak mungkin merusak hubungan Levin dengan orangtuanya. Rindang tak berhak melakukan itu, ia hanyalah orang yang baru masuk ke kehidupan Levin sedangkan Valerie dan Michael telah membesarkannya dengan susah payah.



__ADS_1


Levin gigit jari kalau nggak jadi nikah sama Rindang 😭


__ADS_2