Mahabbah Cinta Khalisa

Mahabbah Cinta Khalisa
168


__ADS_3

Valerie menenteng tasnya memasuki Doubletree by Hilton Hotel, ia kehilangan kewarasannya karena telah terbang dari Jogja ke Surabaya hanya untuk bertemu Rindang. Padahal Valerie masih ingat betapa ia membenci istri Levin tersebut. Namun setelah menghabiskan waktu merenungi ucapan Michael, Valerie menyadari bahwa ia keliru.


"Levin sudah cukup susah dan merasa terasing di dalam keluarganya sendiri karena dia satu-satunya muslim di antara kita, sekarang dia sudah bahagia dengan istrinya, kita harus memberinya dukungan agar kebahagiaan mereka terasa lengkap, sudah cukup Mama marah sama Levin, lagi pula sekarang Rindang sedang hamil, kita harus menerima Rindang apapun keadaannya."


Valerie telah dikuasai oleh ego sehingga ia tetap pada pendiriannya untuk menolak Rindang sebagai menantu. Valerie terlalu terobsesi pada Khalisa untuk menjadi menantunya. Penyakit yang Rindang idap juga membuat Valerie tidak bisa menerimanya. Valerie selalu berpikir bahwa Levin terlalu baik dan sempurna untuk Rindang—yang penyakitnya tak bisa sembuh seumur hidup. Namun saat Levin memberitahu Valerie bahwa penghasilannya tak ada apa-apanya dibandingkan dengan Rindang, Valerie sedikit sadar bahwa pemikirannya salah.


Tentu dua pasangan yang disatukan oleh pernikahan akan melengkapi satu sama lain. Tak ada yang lebih sempurna dan unggul. Mereka memiliki kelebihan dan kekurangan masing-masing yang bisa ditutupi oleh pasangan.


"Ravina, jangan lari!"


Valerie tersadar dari lamunan panjangnya ketika ada seorang anak yang menabrak kakinya saat ia melewati lobi. Valerie terhipnotis beberapa saat melihat sepasang mata lebar milik anak itu lalu rambut ikalnya yang dikuncir dua sangat menggemaskan. Tunggu dulu, anak ini tidak asing.


Valerie mengalihkan pandangan ke depan sana hingga ia mendapati seorang wanita berpakaian hitam-hitam dengan cadar yang menutupi hampir seluruh bagian wajahnya.


Tanpa sadar Valerie mundur selangkah saat melihat Rindang padahal inilah tujuannya datang kesini yakni untuk bertemu Rindang. Namun rasanya Valerie terlalu malu karena ia mengatakan kalimat menyakitkan untuk Rindang saat terakhir kali mereka bertemu. Untuk meminta maaf pun Valerie terlalu gengsi tapi ia juga ingin mengakhiri semuanya. Valerie ingin menerima Rindang dan Levin kembali. Bisakah Valerie melompati bagian meminta maaf itu, lagi pula ia ibu Levin. Haruskah ia meminta maaf?


Rindang terpaku di tempatnya karena tiba-tiba bertemu Valerie disini. Rindang mungkin tak akan terkejut jika ini adalah rumah sakit tempat Valerie bekerja tapi mereka bertemu di tempat yang jauh dari Jogja.


"Ama!" Ravina menunjuk Valerie dan menyerukan Ama, ia familiar dengan wajah Valerie karena papa dan mamanya sering menunjukkan foto Valerie.


Valerie menelan ludah karena tenggorokannya terasa amat kering, sepertinya ia lupa tidak minum air setelah makan roti barusan.


"Maaf Ma." Rindang segera mengangkat Ravina, ia menunduk takut jika Valerie marah karena Ravina telah memanggilnya Ama.


Rindang melangkah melewati Valerie setelah menganggukkan kepala.


Valerie membalikkan badan mengikuti arah perginya Rindang.


"Rindang." Panggil Valerie.


Langkah Rindang spontan terhenti, jantungnya berdegup kencang bahkan keringat mulai membasahi telapak tangannya. Bagaimana jika Valerie memarahi Ravina karena telah sembarangan memanggilnya Ama. Ravina masih terlalu kecil untuk menerima omelan Valerie. Rindang bisa mengerti jika Valerie marah padanya tapi tidak dengan Ravina. Di mata Ravina, Valerie adalah salah satu Ama nya selain Michelin. Itu karena Levin dan Rindang selalu menceritakan tentang Valerie dengan harapan suatu hari nanti Valerie akan menerima mereka.


"Maaf Ma, saya dan Ko Levin sering menunjukkan foto Mama, maaf kalau Ravina panggil Mama tiba-tiba barusan, jangan marah sama Ravina Ma."


Valerie tertegun mendengar kalimat Rindang, ia memang terlalu kejam di masa lalu sehingga Rindang berpikir ia akan marah. Valerie tak pernah memberikan kesan baik di depan Rindang.


"Kamu nggak nanya kenapa saya ada disini?" Valerie berjalan mendekat.


"Mama pasti ada urusan disini." Rindang menempelkan kepala Ravina di dadanya seolah takut jika Ravina akan melihat kemarahan Valerie.


"Saya mau ketemu kamu."


Mata Rindang membulat mendengar itu, apakah ia telah membuat kesalahan pada Valerie. Apakah Rindang menulis sesuatu di media sosial yang menyinggung perasaan Valerie. Rindang berpikir keras apakah kesalahannya pada Valerie.


"Saya minta maaf." Rindang kembali menunduk, apapun itu ia harus minta maaf lebih dulu berjaga-jaga jika Valerie memarahinya disini—di lobi hotel dimana banyak tamu lain yang sedang berlalu-lalang.


"Saya dengar kamu hamil."


Rindang sudah menduga bahwa Valerie akan mengetahui kabar kehamilannya karena Levin telah memberitahu Michael.


"Saya pengen lihat keadaan kamu makanya saya kesini." Valerie menyentuh perut Rindang. Ia tak bisa berpura-pura ada urusan lain disini. Valerie harus menaruh ego nya sebentar.


Tubuh Rindang menegang tapi ketika Valerie mengelus perutnya pelan, ia mulai tenang.


"Dia akan jadi cucu pertama saya." Valerie menatap Rindang.


"Dia cucu pertama Mama." Rindang menepuk punggung Ravina. Rindang tak tahu angin apa yang telah membawa Valerie kesini dan ingin menemuinya. Namun Rindang berpikir mungkin doa-doanya telah terjawab.


Valerie melirik Ravina yang sempat memanggilnya Ama tadi. Bagaimana mungkin anak bermata lebar ini cucunya? tidak.


"Gimana kalau kita ngobrol di kamar Ma?" Ajak Rindang. Tadinya ia hendak pergi ke toko roti di depan hotel. Namun bagi Rindang, mengobrol dengan Valerie jauh lebih penting dibandingkan membeli roti yang ia inginkan.


Valerie menerima ajakan Rindang untuk pergi ke kamar mereka.


Suasana canggung menguasai lift karena hanya ada mereka bertiga disitu. Kamar Rindang berada di lantai 13, angka pada lift terus bergerak naik tapi itu terasa sangat lama bagi Rindang.


"Kami rencananya mau check out nanti siang Ma, jadi kamarnya sedikit berantakan." Ucap Rindang ketika mereka hampir sampai di kamarnya.


"Kalian memang harus membuat kamar berantakan sebelum check out."


Rindang mempersilakan Valerie duduk di sofa sementara ia mencari Levin.


Levin tengah memasukkan pakaiannya ke dalam koper ketika Rindang memanggilnya. Levin heran melihat Rindang kembali begitu cepat.


"Nggak jadi beli roti?" Tanya Levin.


"Ada Mama." Lirih Rindang.


Alis Levin terangkat, mama siapa? Michelin atau Valerie? Tidak mungkin Valerie tiba-tiba kesini.


"Mama Valerie."


Levin tak bisa mengucapkan apapun karena terlalu banyak kalimat di otaknya. Ia hanya bisa mengekori Rindang ke ruang tamu.


"Mama." Levin tak percaya melihat mama nya benar-benar ada disini. "Kenapa Mama tiba-tiba kesini?" Levin duduk di hadapan Valerie disusul Rindang dan Ravina di pangkuannya.


"Mama dengar dari Papa kalian ada disini, Surabaya lebih dekat dari pada Banyuwangi." Valerie tak mau membuang kesempatan ini karena ia tidak bisa meninggalkan rumah sakit terlalu lama. "Mama cuma mau tahu kabar kalian, udah lama kamu nggak pulang Vin."


Bagaimana Levin bisa pulang jika keberadaannya tidak dianggap oleh Valerie. Levin tak bisa menemui Valerie lagi sejak saat itu.


"Kata yang harus Mama ucapkan pertama adalah maaf, Mama harus minta maaf sama Rindang." Levin mengatakan itu dengan tegas, ia masih ingat betapa mama nya mengucapkan kata-kata yang menyakiti Rindang.


Valerie menelan ludahnya, ternyata momen dimana ia harus minta maaf tak bisa dilewati. Valerie malu karena setelah mengeluarkan cacian pada Rindang, pada akhirnya ia harus minta maaf.


"Mama sendiri yang mengajariku dan Meylin untuk meminta maaf pada orang lain, Mama sudah melukai perasaan Rindang waktu itu."


Rindang menyentuh punggung tangan Levin lalu menggeleng samar sebagai kode bahwa Valerie tak perlu minta maaf padanya. Dengan Valerie datang kesini saja itu sudah cukup untuk Rindang.


"Mama minta maaf dengan tulus pada kalian, Rindang—kata-kata saya waktu itu sudah keterlaluan, semoga kamu bermurah hati untuk memaafkan saya."


"Saya sudah memaafkan Mama sejak hari itu."


Valerie tak menyangka bahwa Rindang memiliki hati yang besar, sekarang ia mengerti menyapa Levin bersikeras untuk menikahi Rindang.


"Mari berhubungan baik setelah ini seperti keluarga pada umumnya." Valerie mengembangkan senyum tipis.


"Terimakasih Ma." Ucap Rindang.

__ADS_1


Valerie mengajak mereka sarapan bersama di restoran hotel. Valerie juga butuh sarapan berat karena hanya makan sepotong roti di pesawat tadi. Valerie juga harus segera kembali ke Jogja setelahnya.


"Kalian juga akan kembali ke Banyuwangi hari ini?" Valerie melihat Rindang dan Levin bergantian.


Sementara Rindang memangku Ravina, Levin menyuapinya. Ravina sudah tidak bisa diam sekarang sehingga Rindang kesulitan untuk makan sendiri.


"Iya Ma." Jawab Levin.


"Jaga istri mu, pasti sulit untuknya hamil dengan kondisi yang selalu berubah-ubah setiap saat."


"Ko Levin selalu menjaga saya dengan baik." Sahut Rindang.


Valerie menatap Rindang, ia dulu pernah mengatakan bahwa tujuan Rindang menikah dengan Levin agar ia bisa mendapat perawatan seumur hidupnya. Valerie yakin meski Rindang sudah memaafkannya tapi kata-kata itu akan tetap membekas di hati Rindang. Valerie tak bisa memperbaiki semua yang sudah berlalu. Namun ia akan berusaha lebih baik sekarang dan di masa depan.


"Kenapa kamu memutuskan untuk hamil Rindang, apa karena kata-kata saya waktu itu?" Valerie penasaran soal itu, jika benar maka ia akan sangat menyesal karena sudah keterlaluan pada Rindang. Bagaimana jika sesuatu yang buruk menimpa Rindang. Tentu Valerie paham betul pada keadaan Rindang.


"Sebenarnya ini di luar rencana kami Ma." Rindang dan Levin saling berpandangan. Saat pertama kali menggunakan test pack dan melihat dua garis, Rindang merasa tak percaya sekaligus bahagia. Ini adalah berkah yang tak terhingga untuk keluarga kecil mereka.


"Mama harap cucu pertama kami lahir dengan sehat."


Rindang dan Levin mengaminkan doa Valerie.


Valerie mengeluarkan sebuah kotak dari tasnya. Valerie meletakkannya di atas meja dan mendorongnya ke dekat Rindang.


"Ini apa Ma?" Rindang melihat kotak berwarna hitam tersebut. Itu terlihat seperti kotak perhiasan dengan lapisan beludru di seluruh permukaannya.


"Kamu boleh buka."


Rindang mengambil dan membuka kotak itu, ia melihat sebuah kalung, gelang dan cincin yang berkilauan memukau mata.


"Maaf kalian harus menikah dengan sederhana tanpa kehadiran Mama." Valerie ingin menebus kesalahannya karena tak merestui pernikahan mereka dulu.


"Ma tapi saya nggak pakai perhiasan."


"Setidaknya pakai itu di depan Levin, walaupun itu nggak akan bisa menebus kesalahan saya di masa lalu tapi kamu harus tetap menerimanya."


"Sebenarnya Mama nggak perlu memberikan ini karena pernikahan sederhana adalah keputusan kami berdua tapi— terimakasih Ma."


"Ma, Levin harap Mama juga menerima Ravina."


Valerie mengangguk samar, tentu tidak semudah itu ia bisa menerima anak yang tidak memiliki hubungan darah dengan Levin dan Rindang. Valerie tak akan bisa menganggap Ravina sebagai cucunya.


"Coba Mama pangku Ravina." Tukas Levin.


Valerie hendak menolak tapi Levin lebih dulu memindahkan Ravina ke pangkuannya. Ravina tertawa menatap Valerie yang memasang senyum hambar.


"Ni hao Ama."


Valerie terkejut ketika bibir mungil Ravina mengucapkan kata dalam bahasa mandarin. Valerie kagum, anak dua tahun ini sudah pandai berbahasa mandarin. Rupanya Rindang mengajari Ravina dengan baik.


Sepasang mata Ravina membuat Valerie terpesona untuk kedua kalinya. Valerie tak bisa tidak jatuh cinta pada bayi Arab yang anehnya pandai berbicara dalam bahasa mandarin tapi itulah Ravina, ia dibesarkan oleh orangtua Chinese.


******


Kafa keluar dari kamar hotel dengan malas mengekori Mahira yang bersikukuh ingin mengajarinya naik sepeda. Zulaikha yang berada di gendongan Mahira, menatap wajah lesu papa nya. Zulaikha tertawa saat Kafa membalas tatapannya, seolah ia ingin menghibur kegalauan sang papa.


"Kapan-kapan aja ya belajar naik sepeda nya." Kafa menarik gamis Mahira berharap itu bisa mengurungkan niat Mahira untuk mengajarinya menyetir sepeda motor.


"Mumpung lagi disini, aku titipin Zulaikha ke Mbak Khalisa." Mahira sudah menyewa sepeda listrik untuk Kafa belajar mengendarainya.


"Emang Cece mau jagain Zulaikha?"


"Mau kok, aku udah SMS tadi."


Kafa mencium hidung Zulaikha, "Zulaikha cantik sekali." Kafa menatap sang buah hati kagum—masih tak percaya jika ia bisa memiliki anak. Itu adalah keajaiban yang menakjubkannya bagi Kafa.


"Mama nya aja cantik."


"Tapi Zulaikha lebih mirip aku nggak sih?"


"Semua orang bilang Zulaikha mirip aku." Mahira menekan angka pada lift, mereka akan menghampiri Khalisa di restoran hotel untuk menitipkan Zulaikha.


"Padahal aku yang tanam benihnya." Lirih Kafa.


"Hm?" Mahira menoleh pada Kafa, ia tidak dengar Kafa bilang apa barusan. Namun Kafa tidak mengulang kalimatnya, ia tak mau berdebat dengan Mahira. Mereka harus mengurangi perdebatan karena Zulaikha sudah mulai mengerti ucapan orang-orang di sekitarnya.


"Eh Ci Rindang lagi sama siapa?" Mahira melihat Rindang di salah satu kursi restoran bersama seorang wanita berusia 50 tahunan.


"Itu Mama nya Ko Levin." Jawab Kafa. "Tapi bukannya Mama Ko Levin belum merestui hubungan mereka?"


Mahira membelalak, itu artinya mama Levin sudah menerima Rindang sebagai menantu karena sesekali mereka terlihat tertawa renyah. Mahira melebarkan senyum ketika Rindang melihat ke arahnya.


"Mau sarapan ya?" Rindang menyapa Mahira dan Kafa. "Khalisa di pojok tuh." Ia menunjuk Khalisa di salah satu meja di sudut ruangan bersama Azfan, Azka serta pasangan pengantin baru Huma dan Hamiz.


"Enggak Ce, mau titipin Zulaikha ke Cece Khalisa bentar." Jawab Kafa.


"Kalian mau kemana?"


"Mau pacaran jadi anaknya dititipin dulu." Kafa terkekeh menutupi ketegangannya karena sebentar lagi akan naik sepeda, ia masih belum lupa saat dirinya jatuh bersama Azfan dan menabrak pohon.


Mahira menyikut Kafa, "mari Ci Rindang." Ia mendorong Kafa agar segera pergi dari sana.


Mereka berjalan menghampiri meja Khalisa.


"Cece beneran nggak masalah kalau kami titip Zulaikha?" Tanya Kafa.


"Nggak apa-apa, Azka seneng kalau dia punya temen." Khalisa mengambil alih Zulaikha yang tampak menggemaskan dengan jumper merah.


"Itu artinya Azka udah siap punya adik." Celetuk Huma.


"Lagi proses."


"Titip Zulaikha dulu ya Mbak." Mahira melambaikan tangan pada Zulaikha.


Sepeda listrik yang Mahira sewa sudah berada di depan hotel, ia akan membawa Kafa menuju lapangan untuk belajar mengendarai sepeda.


"Kamu pernah belajar kan sebelumnya, jadi harusnya akan lebih mudah untuk yang kedua kalinya." Mahira duduk di depan lalu Kafa menyusul di belakangnya.

__ADS_1


Kafa tak menjawab, karena ini kali kedua setelah dirinya jatuh maka ia merasa akan lebih sulit. Kafa tak lagi memiliki keberanian.


"Kalau nabrak gimana?"


"Kamu kan punya banyak uang, ganti rugi aja." Jawab Mahira enteng padahal ia juga takut jika sampai Kafa membuat sepeda ini rusak.


"Kenapa sih aku harus belajar naik motor, kita bisa naik mobil kemana-mana."


"Kalau ke tempat yang deket, kita bisa naik sepeda biar hemat listrik juga."


"Kenapa harus hemat listrik?"


Mahira tak menjawab, perdebatan tidak penting ini akan terus berlanjut jika salah satu mereka tak ada yang mengalah. Karena Mahira sedang fokus menyetir maka ia harus mengalah. Kafa pasti sedang mencoba bernegosiasi dengannya agar tak jadi belajar naik sepeda.


"Semua orang pakai listrik tanpa mikir kenapa kita harus peduli sama penggunakan listrik?" Kafa masih belum puas meski mereka telah sampai di lapangan yang cukup sepi karena ini adalah hari kerja.


"Kesadaran itu harus dimulai dari hal kecil, lagian nggak ada salahnya kalau kamu belajar nyetir sepeda." Mahira turun dari sepeda, "aku percaya kamu bisa." Ia menepuk pundak Kafa dua kali untuk memberi semangat. "Nggak ada pohon disini, kamu nggak bakal nabrak."


Kafa menggeser duduknya ke depan, ia memegang kemudi sepeda dengan kaku.


"Inget, pelan-pelan aja nge-gas nya walaupun aku tahu hobi kamu nge-gas tapi kali ini kamu harus perlahan."


"Siapa yang hobi nge-gas?" Semprot Kafa.


"Nah itu."


Kafa langsung menutup mulutnya, ia ingin segera menyelesaikan sesi belajar ini. Kafa suka mempelajari hal baru tapi tidak dengan sepeda, ia sangat membencinya. Bahkan sekarang ia harus panas-panasan di bawah terik matahari Surabaya. Kafa akan menuntut Mahira jika sampai kulitnya gosong, ia harus minta Mahira membalur tubuhnya dengan lulur hingga cerah kembali.


Mahira memakaikan topi pada Kafa, ia tahu suaminya bermusuhan dengan matahari. Walaupun itu tak membantu banyak tapi setidaknya wajah tampan Kata terlindungi.


"Pelan-pelan." Ucap Mahira lagi.


Kafa menarik napas dalam-dalam sebelum memutar gas. Kafa berhasil menjalankan sepeda itu dengan kecepatan sedang mengelilingi lapangan. Ah Mahira benar, setelah mencoba untuk yang kedua kalinya Kafa merasa ini lebih mudah.


"Rem nya yang kiri sayang!" Mahira berteriak sambil melompat-lompat kegirangan karena Kafa bisa menaiki sepeda tersebut. Harusnya Kafa mencoba lebih awal.


Mahira duduk di gazebo karena tak tahan dengan sengatan matahari padahal ini baru jam 10.


Kafa mengelilingi lapangan hingga beberapa kali putaran. Hingga akhirnya Kafa berhenti tepat di depan gazebo, ia memperhatikan Mahira bersandar pada dinding kayu gazebo.


Kafa terkikik geli menyadari bahwa Mahira ketiduran padahal belum 30 menit mereka berada disini. Kafa duduk di samping Mahira dan memandangnya lama.


"Kok bisa sih kita nikah? dulu lihat muka kamu aja aku kesel loh, eh ternyata kamu yang melahirkan anak ku, anak yang cantik dan menggemaskan kayak Mama nya."


Mahira mendengar semua kalimat Kafa tapi ia pura-pura masih terlelap. Semoga pipi Mahira tidak memerah karena Kafa pasti akan tahu jika ia hanya pura-pura tidur.


"Makasih udah jadi pasangan debat aku, kita akan berdebat lagi besok, lusa dan tahun-tahun berikutnya." Kafa mengusap kepala Mahira.


Kafa terkejut ketika Mahira tiba-tiba membuka mata.


"Kamu pura-pura tidur ya?"


"Barusan beneran tidur terus kamu ngomong jadi aku kebangun, akhirnya kamu ngaku kalau istrimu ini cantik." Mahira mendekatkan wajahnya pada Kafa.


"Kapan aku bilang?"


"Barusan aku denger kamu bilang, anak yang cantik dan menggemaskan kayak Mama nya itu secara nggak langsung bilang kalau aku cantik."


Kafa melihat ke arah lain, jika tidak cantik mengapa ia mau menikah dengan Mahira. Walaupun Kafa tahu ada banyak wanita cantik di luar sana tapi pilihannya jatuh pada si bawel Mahira. Wanita yang dengan berani mendekati Kafa lebih dulu.


"Udah bisa naik sepeda nya?"


"Bisa, kamu nggak lihat barusan?"


"Coba naik lagi."


"Enggak ah, panas." Kafa melihat ke langit biru tanpa awan, ia tak mau kulitnya terbakar. "Ayo pulang, aku yang nyetir."


Mahira melihat Kafa ragu, bukankah Kafa baru bisa mengendarai sepeda. Bagaimana jika mereka jatuh?


"Aku beneran bisa, kamu nggak percaya?"


"Aku aja yang nyetir." Mahira buru-buru melompat dari gazebo dan naik ke sepeda sebelum Kafa mengambil kemudi. "Kamu bonceng aja, lain kali kalau pakai sepeda ku, kamu deh yang nyetir."


Kafa mengerucutkan mulutnya, apa gunanya ia belajar kalau pada akhirnya Mahira yang tetap menyetir.


"Pegangan yang kenceng, aku mau ngebut, kamu takut matahari kan?"


Kafa memeluk perut Mahira, "siapa yang takut matahari, aku lebih takut kalau nggak dikasih jatah malem."


"Dih dasar mesum!" Mahira memukul punggung tangan Kafa sebelum menancap gas.


Kafa hanya terkekeh di belakang, ia menyandarkan kepalanya pada punggung Mahira yang mungil.


Menikah dengan Mahira membuat Kafa sadar bahwa kebahagiaan tak melulu didapatkan dengan uang dan sesuatu yang mahal. Kafa ingat betapa ia membenci Azfan karena berpikir jika Khalisa harus hidup menderita setelah menikah. Namun setelah mengenal Mahira dan menikahinya, Kafa sadar kebahagian didapat dari hal-hal sederhana seperti memasak sebungkus mie instan untuk berdua saat hujan turun di malam hari. Bahkan Mahira sengaja mematikan lampu ruangan dan menyalakan lilin agar lebih romantis katanya. Padahal Kafa bisa saja mengajak Mahira candle light dinner di restoran.


"Aku baru tahu kalau mie instan seenak ini."


"Iya kan, apalagi ditambah cabe rawit sama telur setengah mateng."


Kafa menyadari bahwa hari-hari yang ia lewati bersama Mahira terasa jauh lebih menyenangkan walaupun banyak sifat mereka yang berlawanan. Kafa seperti mengenal dunia baru setelah memiliki Mahira.


Ada ungkapkan zaman dulu yang mengatakan bahwa jangan terlalu membenci seseorang nanti jatuh cinta. Ternyata ungkapan itu tak sepenuhnya salah. Kini Kafa sudah jatuh begitu dalam pada sosok Mahira.







Kafa: Jangan paksa aku foto di bawah matahari


Mahira: Kenapa sih, matahari nggak gigit kok.

__ADS_1


__ADS_2