Mahabbah Cinta Khalisa

Mahabbah Cinta Khalisa
104


__ADS_3

Gempa vulkanik berkekuatan 7,0 Scala Richter mengguncang Provinsi Jawa Tengah dan Daerah Istimewa Yogyakarta. Gempa disebabkan oleh meningkatnya aktivitas gunung Merapi sejak seminggu terakhir. Puluhan gempa tercatat terjadi dalam sehari dan ini adalah gempa paling dahsyat selama erupsi. Daerah terdampak letusan gunung meliputi kabupaten Boyolali, Magelang, Klaten dan Sleman. Untuk sementara aktivitas penerbangan dihentikan akibat hujan abu vulkanik yang cukup tebal.


Azfan tertegun mendengar laporan seorang reporter di televisi ketika baru sampai di hotel usai pengajian di bangunan perusahaan penerbit orangtua Huma.


Gempa itu juga yang membuat warga Surabaya berhamburan keluar. Rupanya gempa itu berasal dari gunung Merapi yang terasa hingga Surabaya.


Azfan mencoba menghubungi nomor telepon Khalisa dan Rindang tapi tak ada yang menjawab. Azfan mondar-mandir dengan gusar di dalam kamarnya. Azfan harus tahu keadaan Khalisa sekarang. Harusnya ia bisa pulang sore ini juga. Namun bandara ditutup untuk sementara karena hujan abu vulkanik gunung Merapi.


"Ya Allah lindungi istri dan keluarga ku." Gumamnya.


Azfan duduk di ujung tempat tidur, televisi masih menayangkan situasi terkini di kabupaten Magelang akibat gempa tersebut. Jalan-jalan utama putus sehingga lalu lintas terhambat. Harapan Azfan untuk pulang menggunakan jalur darat pupus sudah.


Ponsel Azfan berdering membuatnya terperanjat dan segera menjawab telepon tersebut tanpa membaca nama si penelepon.


"Halo, gimana keadaan disana, semua baik-baik saja kan Haura?"


"Azfan, ini Papa jadi kamu nggak lagi sama Khalisa?"


"Iya Pa, Azfan ada pengajian di Surabaya dan rencananya sore ini juga Azfan pulang tapi jalur penerbangan ditutup."


"Papa juga sudah hubungi Khalisa tapi nggak ada jawaban."


Azfan menghela napas berat mengusap matanya yang basah, ia hanya bisa berdoa agar Khalisa baik-baik saja begitupun dengan yang lainnya. Mengapa harus ada bencana seperti ini saat Azfan sedang tidak bersama Khalisa. Aktivitas gunung Merapi memang sedang meningkat tapi kemarin masyarakat masih bisa beraktivitas seperti biasa.


"Semoga disana baik-baik saja, Papa tutup dulu."


"Iya Pa."


Daniel memutus sambungan setelah mengucapkan salam.


Azfan menelepon ibunya di Bantul untuk menanyakan keadaan disana.


"Assalamualaikum Mas."


"Waalaikumussalam Safa, dimana Ibu? gimana keadaan disana? kalian baik-baik aja kan?" Azfan bertanya bertubi-tubi setelah mendengar suara Safa di seberang sana.


"Kami semua baik-baik aja Mas, cuma dinding rumah banyak yang retak, barusan kami lagi lihat siaran langsung Mas Azfan di YouTube terus tiba-tiba ada gempa."


"Syukurlah kalau kalian baik-baik aja."


"Mas Azfan pergi sama Mbak Khalisa kan?"


"Enggak Safa, Mbak Khalisa nggak ikut, Mas coba hubungin dia tapi nggak diangkat, kita berdoa semoga Mbak Khalisa baik-baik saja ya."


"Aamiin Mas, Safa akan selalu berdoa supaya kita semua baik-baik aja."


Azfan juga bicara dengan ibunya untuk memastikan keadaannya baik-baik saja. Azfan juga meminta ibunya untuk tidak panik dan jangan berhenti berdoa memohon perlindungan kepada Allah.


Azfan mendengar pintu kamarnya diketuk beberapa kali, ia memutus sambungan telepon tersebut untuk melihat siapa yang datang.


"Azfan, aku SMS Khalisa nggak dibales, dia baik-baik aja kan?" Huma muncul ketika Azfan membuka pintu, wajahnya gusar setelah mendengar kabar erupsi gunung Merapi dan gempa tersebut.


"Aku juga lagi berusaha telepon Haura tapi belum diangkat." Azfan mengacak-acak rambutnya frustrasi. Rasanya ia ingin terbang dari sini ke Sleman dan mencari Khalisa.


"Coba telepon lagi, pasti semua orang lagi panik sekarang dan Khalisa nggak sempet lihat hp."


Azfan membaca pesan terakhir Khalisa yang dikirim sekitar 1 jam lalu.


Semoga pengajiannya lancar Mas, buruan pulang aku kangen, kangen beratttt!


Entah sudah berapa kali Azfan membaca pesan tersebut, ia sedikit mendongak untuk menahan air matanya yang sebentar lagi akan luruh.

__ADS_1


"Ayo turun dulu, yang lain udah nungguin buat makan siang." Ajak Huma.


"Kamu duluan aja, ntar aku nyusul." Azfan kembali menutup pintu. Bagaimana Azfan bisa makan jika ia sendiri belum mendengar kabar Khalisa.


Akhirnya Azfan mencoba menghubungi nomor telepon Kafa setelah beberapa kali teleponnya tak mendapat jawaban dari Khalisa. Butuh waktu lama untuk Azfan mendengar jawaban Kafa, hingga nada sambung terakhir ketika Azfan hendak menekan ikon telepon berwarna merah, suara Kafa baru terdengar.


"Kafa, kamu lagi sama Cece mu nggak soalnya dari tadi Mas telepon nggak diangkat."


"Halo, iya Mas aku lagi sama Cece, kami di rumah sekarang."


"Rumah sakit? ada apa dengan Haura?" Azfan hampir menjatuhkan ponselnya mendengar Kafa dan Khalisa berada di rumah sakit.


"Ce Khalisa nggak apa-apa kok."


Azfan mengembuskan napas lega, ia menghempaskan tubuhnya ke sofa setelah beberapa detik yang lalu dibuat tegang.


"Ce Rindang harus dibawa ke rumah sakit soalnya gula darahnya naik drastis karena tadi saking paniknya Ce Rindang nggak pakai pompa insulin nya."


"Terus gimana keadaan Rindang sekarang?"


"Masih ditangani dokter, mata Cece Khalisa sampai bengkak Mas dia nangis sepanjang perjalanan karena itu bahaya banget Mas, kita bisa kehilangan Ce Rindang."


"Semoga kondisi Rindang segera stabil, Mas boleh bicara sama Cece kamu?"


"Sebentar."


Terdengar suara gemerisik sesaat lalu berganti suara Khalisa mengucapkan salam.


"Mas, maafin aku nggak angkat telepon soalnya hp ku ketinggalan di apartemen Rindang."


Azfan menggeleng, disaat seperti ini Khalisa masih sempat minta maaf padahal seharusnya Azfan yang meminta maaf.


"Ini di luar kendali kita Mas."


"Begitu jadwal penerbangan kembali dibuka aku pasti langsung pulang, sementara aku nggak ada disana Haura janji sama aku untuk jaga diri baik-baik."


"Mas tenang aja, sebelum berangkat tadi kan Mas Azfan sudah mendoakan aku agar Allah selalu melindungi ku dan bayi kita jadi nggak ada yang perlu dikhawatirkan."


Azfan menutup mulutnya dengan satu tangan agar tidak ada isakan yang terdengar. Khalisa bisa menyembunyikan kesedihan dan ketakutannya dari orang lain tapi tidak pada Azfan. Suara Khalisa gemetar dan Azfan bisa mendengarnya dengan jelas.


Betapa sekarang Azfan ingin mendekap tubuh mungil Khalisa lalu mengatakan semuanya akan baik-baik saja. Ketegaran Khalisa semakin membuat Azfan merasa bersalah. Setelah ini Azfan akan membawa Khalisa kemana pun ia pergi.


"Mas, nanti aku telepon lagi setelah kembali ke apartemen."


"Iya sayang, assalamualaikum." Sambungan terputus setelah Khalisa menjawab salam.


Azfan tak bisa tenang hanya dengan mendengar suara Khalisa, ia harus segera kembali ke Sleman. Azfan terus berdoa agar Allah melindungi istrinya disana.


******


Ibu jari Khalisa menggulir tasbih di tangannya, mulutnya tak henti membisikkan shalawat. Khalisa bersandar pada sofa dengan mata terpejam, ia berada di posisi itu selama satu jam. Khalisa berharap bisa terlelap meski hanya sebentar karena jam sudah menunjukkan pukul 11 malam.


Sementara itu Rindang berbaring di brankar, kondisinya sudah mulai stabil setelah dokter menanganinya. Ia berhasil melalui masa kritis karena gula darahnya melonjak naik. Untung saja mereka membawa Rindang ke rumah sakit tepat waktu kalau tidak pasti nyawa Rindang tak akan tertolong, begitu ucapan dokter siang tadi.


Untuk penderita diabetes seperti Rindang, ia harus ekstra memperhatikan gula darahnya. Jika mengalami penurunan secara drastis itu juga akan mengancam nyawanya.


Khalisa membuka mata ketika mendengar pintu terbuka, tampak Kafa masuk dengan membawa kantong plastik di tangannya.


"Aku beli bakso, Cece belum makan malem kan?" Kafa duduk di sebelah Khalisa meletakkan bungkusan tersebut. "Dapet mangkoknya juga."


"Ya Allah, makan bakso hampir tengah malem?" Khalisa melirik jam dinding memastikan bahwa penglihatannya tidak salah. Ia paling anti makan lebih dari jam 9 malam.

__ADS_1


Mereka biasa dididik disiplin oleh Renata dan Jaya termasuk soal makan. Namun karena Khalisa belum makan malam, ia akan mengisi perutnya dengan bakso yang Kafa bawa.


"Ini bakso terenak selama aku tinggal disini Ce, cobain deh." Kafa menuang bakso itu ke dalam mangkok dan mendekatkannya pada Khalisa.


Khalisa mengucapkan basmalah sebelum mencicipi kuah bakso tanpa menambahkan apapun. Kafa juga mulai melahap baksonya sebelum dingin.


"Allah marah ya sama kita sampai Dia ngasih bencana seperti ini." Celetuk Kafa disela kunyahan nya.


"Astaghfirullah, istighfar Kafa, jangan berpikir kalau Allah itu pemarah."


"Aku nggak berpikir Allah pemarah, cuma sekarang lagi marah aja."


Khalisa menggeleng, "Allah mencintai kita, dengan bencana ini Allah ingin kita lebih mengingat-Nya, Allah meminta kita kembali."


Kafa terdiam mencerna perkataan Khalisa bahkan ia berhenti mengunyah demi memahami kalimat.


"Kamu juga pasti ngerasa setelah bencana ini terjadi kita lebih banyak mengingat Allah, ini tanda cinta Allah."


Perlahan Kafa mengangguk, ia beristighfar dalam hati karena telah berburuk sangka pada Allah.


"Jangan melihat sesuatu dari sisi negatif nya, seperti waktu Mahira ngasih makanan kamu bilang dia menghinamu dan berpikir kalau kamu nggak punya uang untuk beli makan padahal niat Mahira bukan itu, cobalah untuk melihat sesuatu dari sisi positif nya."


"Aku nggak bisa."


"Bisa."


Kafa tak lagi membalas ucapan Khalisa, ia tak bisa mengubah pandangannya semudah itu. Lagi pula ia bukan Khalisa yang selalu berpikir tentang kebaikan orang lain. Tidak. Kafa tidak mau lemah karena memiliki sifat seperti itu.


"Baunya enak banget Masya Allah." Suara Rindang mengejutkan Kafa dan Khalisa yang sedang menikmati bakso. Aroma kaldu sapi ditambah seledri dan bawang goreng membangunkan Rindang dari tidurnya.


"Rindang, maaf-maaf aku jadi bangunin kamu." Khalisa beranjak mendekati brankar Rindang.


"Nggak apa-apa, rezekinya hidung." Rindang mengucek matanya, ia sudah terlalu lama tidur hingga punggungnya terasa pegal. "Besok udah boleh pulang kan?" Ia menatap Khalisa.


"Dokter masih harus periksa kamu lagi, muka kamu masih pucet gitu kok udah minta pulang."


"Khalisa, kamu tahu sendiri kan rumah sakit itu udah kayak rumah kedua buat aku, aku sering keluar masuk rumah sakit jadi kamu jangan terlalu khawatir."


"Gimana aku nggak khawatir, tadi kamu lagi nggak pakai pompa insulin."


Rindang tersenyum mengusap perut buncit Khalisa, ia masih diberi kesempatan untuk melihat dunia. "Alhamdulillah, semoga aku masih punya kesempatan untuk lihat kamu lahiran."


"Tentu aja kamu bisa." Khalisa mengusap jilbab hitam Rindang. Percaya atau tidak lemari Rindang kini dipenuhi pakaian hitam.


"Aku nggak sabar dipanggil Ai." Rindang bangun dari posisi tidur, "lanjutin gih makannya, aku mau ke toilet."


"Mau dianterin nggak?"


"Nggak usah, udah pro." Rindang turun dari brankar melangkah menuju toilet untuk buang air kecil sekaligus berwudhu karena ia belum shalat isya'.


Khalisa melanjutkan makannya, ia akan menginap disini begitupun dengan Kafa. Gempa yang mengguncang tadi siang membuat Kafa trauma, ia tidak mau jauh-jauh dari Khalisa. Saat bersama seperti Kafa lebih tenang apalagi Azfan sedang tidak berada di sisi Khalisa.


"Besok kampus kita mau kirim relawan ke tempat evakuasi warga terdampak erupsi Merapi."


"Cece ikut." Sahut Khalisa cepat.


"Aku juga ikut kalau gitu, mahasiswa kedokteran dianjurkan ikut karena kalau lagi ada bencana alam gini pasti banyak penyakit yang cepat menyebar." Kafa berharap keberadaannya disana akan berguna bagi warga yang terkena dampak erupsi Merapi.


"Masya Allah, adik Cece udah mau jadi dokter." Khalisa tersenyum bangga melihat Kafa yang ini telah tumbuh dewasa dan jauh lebih tinggi darinya. Anak laki-laki memang tumbuh tinggi lebih cepat.


.

__ADS_1


__ADS_2