Mahabbah Cinta Khalisa

Mahabbah Cinta Khalisa
166


__ADS_3

Adzan berkumandang di masjid Nabawi sebagai pertanda masuknya waktu subuh. Para jamaah yang datang dari berbagai penjuru dunia berbondong-bondong untuk mendirikan shalat subuh berjamaah di masjid ketiga yang dibangun oleh Nabi Muhammad tersebut.


Azfan tak bisa berkata-kata ketika melihat pemandangan di hadapannya, ia takjub sekaligus tak percaya bahwa ia dengan sepasang kakinya bisa berada disini. Azfan mengusap matanya yang basah, jangan menangis dulu, begitu pikirnya. Karena masih banyak tempat menakjubkan yang akan ia datangi setelah ini.


Azfan, Khalisa, Azka, Kirana dan rombongan lainnya sampai di Madinah tengah malam tadi lalu istirahat sebentar di hotel. Shalat subuh ini menjadi ibadah pertama yang mereka lakukan setelah landing di King AbdulAziz Jeddah.


Ini bukan pertama kalinya bagi Khalisa tapi ia tetap terpesona dengan keindahan kota Madinah. Tempat ini begitu tenang dan selalu membuat Khalisa merindukannya.


"Ibu, di samping Khalisa ya." Khalisa memastikan Kirana untuk selalu berada di dekatnya. Walaupun bukan anak kecil tapi Khalisa takut Kirana menghilang atau nyasar.


Sinar kekuningan matahari mulai terlihat di ufuk timur. Langit biru tanpa awan memanjakan mata, tak kalah dengan pemandangan di bawahnya-langit Madinah juga mempesona. Udara sejuk dan hangat bisa dirasakan sekaligus.


"Itu Umma." Azfan melihat Khalisa sedang mengobrol dengan beberapa orang, ia melangkah menghampiri Khalisa dan ibunya.


Khalisa mengembangkan senyum melihat Azfan melangkah ke arahnya.


"Hei, anak Umma." Khalisa mengambil alih Azka, baru berpisah sebentar saja ia sudah sangat merindukan Azka. "Azka tadi shalat nggak?"


Azka mengangguk.


"Pinter nih anak Umma." Khalisa mencium Azka berkali-kali.


"Aku mau ambil air dulu, Azka haus katanya, kalau balik ke hotel terlalu jauh karena sebentar lagi kita harus ke Raudhah."


"Abi bawa botol nggak?"


"Aku bawa tiga di tas, buat Umma sama Ibu juga."


"Makasih Bi."


Azfan pergi untuk mengambil air zam-zam yang bisa mereka minum sepuasnya selama berada disini.


"Azfan ya?"


Azfan terkejut saat seseorang menepuk bahunya dari belakang dan memanggil namanya.


"Mas Faiz." Azfan mengulurkan tangan menjabat tangan Faiz. "Nggak nyangka ketemu disini." Azfan melebarkan senyum, ia berasal dari Sleman sedangkan Faiz dari Malang tapi mereka justru bertemu di Madinah. "Gimana kabar Mas?"


"Sperti yang kamu lihat, Alhamdulillah bisa diberi kesempatan untuk pergi umroh." Faiz adalah orang yang biasa menemani Azfan saat mengisi pengajian di Masjid Agung Jami' Malang. Namun satu tahun terakhir Azfan tak pernah lagi memenuhi undangan dari komunitas pemuda Masjid Agung Jami'.


"Oh iya Fan, mumpung ketemu disini, kenapa kamu udah nggak pernah datang ke pengajian kami, apakah ada dari kami yang menyinggung perasaan mu?" Faiz ingin menanyakan hal ini sejak lama, ia berencana datang langsung ke rumah Azfan tapi belum punya cukup waktu karena jarak tempat tinggal mereka jauh.


"Sama sekali enggak Mas, sebenarnya bukan hanya pengajian di Malang saja tapi saya memang sudah nggak datang ke pengajian yang jamaahnya perempuan." Azfan jadi tidak enak karena membuat Faiz dan tim panitia menebak-nebak. Azfan tak bisa menyebutkan alasannya melalui email atau pesan singkat karena khawatir menimbulkan kesalahpahaman.


"Jadi kamu datang ke pengajian dengan jamaah laki-laki saja?"


"Benar Mas." Azfan mengangguk mengiyakan.


"Boleh saya tahu alasannya?"


"Dulu ada jamaah perempuan kirim surat yang isinya membuat Khalisa dan saya bertengkar, sebenarnya bukan bertengkar tapi sedikit berselisih paham."


"Pasti menjurus kepada wanita yang ingin menjadi istri keduamu, saya nebak aja." Faiz mengerti kehidupan Azfan sekarang, "ketika laki-laki sudah punya segalanya pasti ujiannya adalah perempuan."


"Iya Mas, sebenarnya Khalisa nggak melarang saya tapi saya ingin menjaga hubungan rumah tangga kami." Azfan memutuskan untuk tidak menghadiri pengajian jika ada jamaah perempuan sejak Khalisa menemukan surat dari salah satu jamaah. Azfan tak mau membuat Khalisa terluka, ia juga ingin menjaga diri dari hal-hal seperti itu. Khalisa adalah segalanya bagi Azfan.


Faiz mengangguk mengerti, kini ia tahu alasan mengapa Azfan selalu menolak undangan tersebut.


"Niat saya datang ke pengajian supaya bermanfaat bagi orang lain dan menebar kebaikan tapi ternyata hal tersebut menimbulkan masalah dalam rumah tangga kami jadi saya memutuskan untuk membatasinya, saya ingin menjaga perasaan Khalisa."


"Saya setuju sama kamu Fan, sebagai suami kita harus mencegah hal-hal yang dapat merusak rumah tangga kita meski hal kecil sekalipun."


"Maaf sebelumnya karena sudah membuat Mas dan yang lainnya bertanya-tanya."


"Jadi kamu tetap hadir kalau jamaahnya laki-laki?"


"Iya Mas."


"Baik, terimakasih Fan, nanti inshaa Allah kita ketemu lagi di Raudhah."


"Inshaa Allah Mas."


Faiz mengucapkan salam sebelum pergi dari situ. Sementara Azfan lanjut mengisi botol dengan air zam-zam yang sempat tertunda barusan.


Azfan kembali setelah mengisi tiga botol yang dibawanya dengan air. Azfan memberi Azka minum terlebih dahulu karena anaknya itu merengek kehausan sejak usai shalat tadi.


"Abi bicara sama siapa barusan?" Khalisa berjongkok untuk meneguk air yang sudah Azfan bawa untuknya.


"Itu Mas Faiz, yang biasanya nemenin aku kalau lagi di Malang."


"Kebetulan banget ketemu disini." Khalisa kembali berdiri dan menyimpan sisa air di dalam tas.


"Iya udah lama nggak ketemu."


"Eh Azka nanti ikut sama Abi ya ke Raudhah, ke makam Rasulullah." Khalisa melihat Azka dalam gendongannya. Azka memandang ke seluruh penjuru dengan mata berbinar-binar, mungkin karena itu pertama kalinya ia melihat orang sebanyak itu di hadapannya. "Mau nggak ke makam Rasulullah?"


"Mau." Azka mengangguk.


"Coba tanya Abi, disana ada makam siapa aja Bi selain makam Rasulullah."


Azfan membuka mulutnya hendak menjawab tapi si cerdas Azka mendahuluinya.

__ADS_1


"Azka tahu." Azka menunjuk dirinya sendiri, alih-alih bertanya pada Azfan, ia ingat Khalisa memberitahu tentang hal tersebut sebelum mereka berangkat kesini.


"Coba kasih tahu Mbah Uti, ada siapa aja sih Uti nggak tahu." Kirana bertanya untuk memancing ingatan Azka.


"Abu Bakar sama Umar." Jawab Azka dengan pengucapan yang tidak terlalu jelas. Azka belum lancar mengucapkan beberapa huruf seperti R dan L.


"Masya Allah, cucu Uti pinter banget." Kirana mengusap puncak kepala Azka bangga.


"Umma, nama Akong Zulaikha juga Umar."


"Iya sama kayak nama sahabat Nabi ya sayang, nama Ama nya Zulaikha juga Aisyah kayak nama salah satu istri Nabi ya."


"Umma nanti kalau punya adik, aku maunya dikasih nama Khadijah."


"Kenapa Azka mau kasih nama Khadijah?" Khalisa melirik Azfan, apakah Azka mendengar percakapan mereka tentang adik untuknya. Mengapa Azka tiba-tiba membahas soal adik.


"Soalnya Bunda Khadijah baik jadi adik nanti juga baik."


"Aamiin sayang." Khalisa mencium wajah Azka berkali-kali dengan gemas, ia bangga karena pemikiran si kecil Azka begitu luas.


Mereka berjalan kaki kembali ke hotel untuk istirahat sebentar sebelum nanti pergi ke Raudhah. Jalan kaki dari masjid ke hotel tidak akan membuat mereka bosan karena pemandangan yang dilewati sangat indah. Selagi berada di tanah suci, mereka ingin merekam setiap keindahan di dalam kepala.


******


Sesampainya di hotel Khalisa melakukan panggilan video dengan Rindang dan Huma yang sedang disibukkan dengan persiapan pernikahannya. Huma akan menikah bulan depan jadi ia mempersiapkan segalanya dari sekarang mulai dari gedung, fitting baju, souvernir dan keperluan dokumen pernikahan.


"Lagi dimana?" Suara Huma mengawali.


"Di hotel abis sholat subuh terus jalan-jalan di sekitar sini barusan." Jawab Khalisa.


"Muka Rindang pucat amat."


Khalisa ikut melihat wajah Rindang, ia pikir pengaruh kamera dan layar yang membuat Rindang terlihat pucat.


"Asam lambung aku naik, makan sedikit langsung keluar lagi."


"Makanya jangan kerja sampai lupa waktu, kesehatan itu yang paling penting."


"Hamil kali." Celetuk Huma.


"Enak aja." Semprot Rindang.


"Sebentar lagi mau kemana Khalisa?"


"Mau ke Raudhah."


"Boleh titip doa nggak?" Rindang dan Huma bertanya bersamaan.


"Siapa yang hamil sayang?" Azfan keluar dari kamar mandi, ia mendengar percakapan Khalisa dan dua sahabatnya barusan.


"Nggak ada, Rindang muntah-muntah terus Huma bilang kayaknya Rindang hamil."


"Mungkin Huma bener, dulu Umma muntah-muntah juga waktu hamil Azka dan adiknya."


Khalisa terkekeh, "nggak semua orang yang muntah-muntah itu hamil Bi, lagian Huma cuma asal ngomong aja kok."


Azfan memeluk Khalisa dari belakang meletakkan dagunya di bahu sang istri. Mereka bisa melihat kubah hijau masjid Nabawi dari jendela hotel.


"Eh jangan mesra-mesraan!" Huma melotot melihat Azfan yang tengah bermanja-manja pada Khalisa.


"Emangnya kenapa, sebentar lagi kan kamu nyusul." Balas Khalisa yang membuat Huma salah tingkah.


"Akhirnya setelah bertahun-tahun Huma menemukan jawaban dari doanya, inshaa Allah kamu memilih orang yang tepat." Kata Rindang.


"Nggak bertahun-tahun juga lah, dua tahun doang."


"Dua tahun itu lama loh, Ravina aja udah bisa lari sekarang untung tuh cowok sabar."


"Kalau nggak sabar bisa cari yang lain, katanya kalau udah jodoh nggak bakal kemana."


"Yakin mau melepas laki-laki tampan dan sholeh itu?" Goda Khalisa, ia ingat Huma mengatakan itu dua tahun yang lalu.


"Udah ah aku tutup dulu, mau pilih kain." Huma langsung memutus sambungan. Rindang juga menyusul agar Khalisa dan Azfan bisa beristirahat sebelum melakukan kegiatan selanjutnya.


Khalisa meletakkan ponselnya dan membalikkan badan menghadap Azfan. Ia menatap sang suami dengan tatapan kagum karena mereka bisa sampai di titik ini.


"Aku nggak sabar pergi ke Raudhah." Gumam Azfan, ia telah mengganti pakaiannya dengan jubah abu-abu yang sama dengan gamis Khalisa. "Azka juga pasti exited banget karena selama ini dia udah denger banyak cerita Nabi."


"Semoga Azka tumbuh menjadi anak yang mencintai kekasih Allah."


"Aamiin, berkat Umma nya yang selalu telaten menceritakan kisah Nabi."


"Abi yang selalu membacakan ayat-ayat Al-Qur'an pada Azka sehingga dia senang belajar huruf Hijaiyah."


"Orang-orang bilang, Ibu adalah madrasah pertama anak-anak dan Umma adalah madrasah terbaik untuk Azka." Azfan melihat Azka yang terlelap di atas tempat tidur. Jadwal tidur Azka jadi teratur karena dalam perjalanan ia tidak bisa tidur nyenyak. Bahkan di masjid tadi Azka sempat ketiduran.


******


Raudhah adalah tempat antara mimbar dan makam Nabi Muhammad yang merupakan salah satu tempat mustajab untuk berdoa. Dulunya makam Nabi itu adalah rumah Aisyah yang berdampingan dengan rumah Hafshah. Katanya dulu Aisyah dan Hafshah sering mengobrol dari rumah masing-masing karena letak keduanya memang berdekatan.


"Assalamualaika Ya Rasulullah." Seruan dari para jamaah terdengar ketika mereka memasuki makam nabi Muhammad yang berpagarkan emas.

__ADS_1


"Ini makam Nabi kita sayang." Lirih Azfan pada Azka yang berada di gendongannya. Tak terasa air mata Azfan meleleh mengingat betapa kerasnya perjuangan Rasulullah menyebarkan Islam. Rasulullah melalui ujian yang berat, diludahi, dilempar batu hingga berdarah bahkan dianiaya oleh pamannya sendiri. Sekarang mereka harus tetap melanjutkan perjuangan Rasulullah.


Azka mengusap pipi Abi nya yang basah, ia tak mengerti mengapa Abi nya menangis padahal Azka bahagia sekarang.


"Kenapa Abi nangis?"


"Nggak apa-apa, Abi terharu karena kita bisa sampai disini."


Mereka shalat sunnah 2 rakaat, berdzikir, memanjatkan doa dan bersholawat kepada Nabi Muhammad sebanyak-banyak.


Azka menirukan gerakan Abi nya saat shalat, bibirnya juga berkomat-kamit walaupun ia tak tahu apa yang dibaca ketika shalat. Azka hanya senang meniru Azfan.


*****


Azka tampak menggemaskan mengenakan kain ihram yang membalut tubuhnya. Khalisa mengabadikan momen itu dengan foto berkali-kali dan video. Awalnya Azka merasa tidak nyaman dengan kain tersebut tapi beberapa saat setelahnya ia mulai terbiasa.


Azka mendapat banyak pengalaman dan pelajaran baru setelah kemarin mengunjungi masjid Quba yakni masjid yang dibangun pertama kali oleh Rasulullah setelah hijrah ke Madinah. Azka juga mendapat Al-Qur'an pertamanya di tempat percetakan Al-Qur'an secara gratis. Walaupun belum bisa membacanya tapi Azka senang mendapat mushaf cetakan Madinah bersampul hijau. Sepertinya Azka akan menyukai warna hijau karena itu adalah warna kamar dan mushaf pertama miliknya.


"Labbaik Allahumma labbaik. Labbaik laa syarika laka labbaik. Innal hamda wan ni'mata laka wal mulk laa syarika lak."


Seruan talbiyah tak henti menggema dari Masjid Bir Ali tempat dimulainya miqat hingga Masjidil Haram. Para jamaah mengelilingi Ka'bah dengan hikmat dan perasaan yang sulit dijelaskan, haru, bahagia, mereka tak percaya karena bisa melihat Ka'bah secara langsung.


"Ya Allah, aku memenuhi panggilan-Mu, Ya Allah aku memenuhi panggilan-Mu, tidak ada sekutu bagi-Mu, sesungguhnya pujian dan kenikmatan hanya milik-Mu, dan kerajaan hanyalah milik-Mu, tiada sekutu bagi-Mu"


Azfan menaikkan Azka ke atas tengkuk nya ketika mereka melakukan tawaf. Azfan tak bisa menahan air matanya, ia sungguh tidak percaya bisa menginjakkan kaki di rumah Allah sambil menyerukan kalimat tauhid.


Kalimat syukur terus Azfan bisikkan dalam hati karena ia diberi kesempatan untuk memenuhi panggilan Allah. Betapa Allah memberi banyak kenikmatan yang kadang tidak Azfan sadari. Allah melimpahkan kasih sayang yang amat banyak hingga memenuhi hati nya. Jika Azfan merasakannya, ia tak akan mampu menampung cinta Allah di hatinya yang kecil.


Azfan bersyukur dipertemukan dengan perempuan luar biasa yang telah menerima apapun keadaannya. Perempuan yang melahirkan anak-anaknya. Azfan tak tahu harus mengucapkan kalimat seperti apa untuk berterimakasih pada Khalisa yang telah menemaninya selama ini.


Saat pertama kali bertemu di Mangan Gelato, Azfan tak pernah berpikir bahwa seorang Khalisa akan menjadi istrinya. Saat itu Azfan cukup terkejut dengan Khalisa yang menyebut namanya lalu menitipkan buku sketsa padanya. Azfan heran karena Khalisa mempercayainya padahal mereka belum saling kenal sebelumnya. Hati Khalisa dipenuhi hal-hal positif, ia tak membiarkan dirinya berpikiran buruk pada orang lain.


Bagi Azfan, Khalisa adalah seseorang yang sangat sulit dijangkau. Sama seperti tanah suci yang membayangkannya saja Azfan tak berani. Azfan hanya bisa berdoa jika suatu hari ia diberi kesempatan untuk datang ke tempat suci ini. Jika tidak menikah dengan Khalisa mungkin Azfan tak akan bisa berada disini.


Azfan percaya bahwa doa-doa yang ia panjatkan tak mungkin menggantung di langit dengan sia-sia. Azfan hanya bisa memasrahkan segalanya pada Allah. Kemudian Allah melancarkan hubungan Azfan dan Khalisa dan menyatukan keduanya dengan pernikahan.


"Abi, kita mau kemana?" Azka mendongak melihat Azfan yang sama sekali tidak melepaskan tangannya sejak ia diturunkan setelah selesai mengelilingi Ka'bah.


"Ini kita lagi Sa'i sayang, dari bukit Safa ke bukit Marwah."


"Tante Safa dan Marwah?"


Azfan tertawa, Azka akan mendapati nama-nama orang di sekitarnya memiliki nama yang sama dengan tempat disini.


Azfan mengangkat Azka, ia tak kuasa melihat si kecil kepayahan menyamakan langkah dengannya. Azfan menceritakan di balik Sa'i yang mereka lakukan. Dahulu Siti Hajar istri Ibrahim berlari dari bukit Safa ke Marwah demi mencari air untuk Ismail yang kehausan. Hingga setelah bolak-balik sebanyak 7 kali ada air yang memancar dari bawah telapak kaki Ismail.


"Air itu nggak pernah surut sampai sekarang yang namanya air zamzam." Azfan mengakhiri ceritanya dengan napas tersengal.


"Kita disini aja Bi, jangan pulang." Kata Azka dengan polosnya.


"Kenapa nggak mau pulang?"


"Biar bisa minum air zamzam."


"Nanti kita nggak ketemu Ama, Akong, Ama, Om Kafa, Zulaikha, kira-kira Azka nggak kangen?


Azka mengatupkan bibir, ia jadi berubah pikiran. Namun Madinah dan Mekah menjadi tempat favoritnya setelah rumah. Azka ingin terus berada disini tapi ia juga tak mau berpisah dari orang-orang yang disayanginya.


"Mau gantian nggak?" Khalisa menawarkan untuk gantian menggendong Azka.


"Enggak sayang, masih sanggup." Azfan masih bisa membawa beban 15 kg ini hingga selesai melakukan Sa'i walaupun napasnya tersengal-sengal. Azfan bisa sekalian olahraga karena ia hampir tidak pernah melakukannya di rumah.


"Aduh keringetan ini anak Umma." Khalisa mengusap keringat di kening Azka, "Abi yang jalan, Azka yang keringetan."


"Aku mau jalan." Azka menunjuk lantai, ia ingin lari-lari sendiri.


"Hati-hati, jangan jauh dari Abi dan Umma sayang." Pesan Azfan sebelum menurunkan Azka dari gendongan nya.


Langit mulai gelap, adzan magrib berkumandang merdu di Masjidil Haram. Kakbah dipenuhi oleh jamaah yang hendak mendirikan shalat magrib.


Khalisa bermunajat dalam doa panjangnya pada Allah, ia mendoakan kebahagiaan Rindang dan Levin serta berharap mereka akan segera mendapat restu dari Valerie. Khalisa berdoa perilisan produk Alindra Beauty berjalan dengan lancar nanti.


Khalisa mendoakan orang-orang di sekitarnya sementara untuk dirinya sendiri ia berdoa agar diberi hati yang kuat untuk melalui ujian dari Allah. Khalisa percaya bahwa ujian yang Allah berikan itu semata-mata karena kasih sayang-Nya.


Hotel Khalisa dan Azfan di Mekah juga memiliki view yang sangat indah, pemandangan Kakbah tepat berada di bawah sana. Khalisa enggan menutup gorden meski hari sudah malam, ia tak ingin melewatkan pemandangan indah itu.


"Mata Umma bengkak." Azfan menyodorkan sendok yang sudah ia dinginkan di kulkas. Itu adalah cara yang paling ampuh untuk menghilangkan mata bengkak Khalisa akibat menangis karena mereka tidak membawa krim khusus mata.


"Makasih Bi." Khalisa menempelkan sendok tersebut hingga menutupi seluruh bagian matanya. Ia hampir tidak bisa membuka mata karena bengkak.


Azka sudah terlelap di atas tempat tidur setelah menghabiskan makan malamnya tadi. Azka juga kelelahan karena seharian ini ia tidak tidur.


Besok mereka akan pergi berkeliling di sekitar Mekah. Mengunjungi Jabal Rahmah dan Gua Tsur—tempat persembunyian Rasulullah dan Abu bakar saat hijrah ke Madinah. Mereka juga akan membeli oleh-oleh untuk orang-orang di rumah.





__ADS_1


__ADS_2