
Pemandangan persawahan dengan padi yang mulai menguning menyambut Khalisa dan Azfan di kampung halaman Mama Khalisa. Selain padi, terdapat tanaman cabai, jagung, mentimun dan kacang panjang yang baru berbunga.
Saat masih kecil Khalisa ingat area persawahan jauh lebih luas. Sekarang sebagian area itu telah berubah menjadi perumahan. Jika menoleh ke arah utara maka mereka bisa melihat pemandangan gunung Raung yang berdiri kokoh berwarna abu-abu gelap.
Khalisa pernah bercerita tentang tempat ini pada Azfan saat mereka dalam perjalanan menuju Bantul dulu. Karena kakek dan nenek Khalisa sudah pindah ke rumah Ica dan Daniel maka rumah mereka di kaki bukit itu sudah lama ditinggalkan. Namun Khalisa sudah berjanji untuk mengajak Azfan kesini.
"Ayo turun." Azfan menghentikan laju mobilnya mengajak Khalisa turun untuk menghirup udara persawahan yang segar.
Khalisa memutar badan melihat Azka yang tidur di atas carseat dan Zunaira di sampingnya. Sebelumnya Zunaira begitu bersemangat ingin ikut tapi setelah sampai ia justru ketiduran.
Mereka melangkah hati-hati di pematang sawah merasakan semilir angin dan kicau burung yang berterbangan-sesekali mereka hinggap di atas daun padi. Ketika si pemilik sawah bersorak, burung-burung itu kembali terbang.
"Bu, udah mau panen ya?" Khalisa menyapa seorang wanita paruh baya yang memegang kayu dengan ujungnya diberi plastik untuk mengusir burung.
"Iya, kamu Khalisa ya?" Ibu itu menyipitkan matanya demi melihat sosok yang menyapanya dengan lebih jelas.
"Iya Ibu masih ingat?" Khalisa melangkah ke gubuk bambu yang terletak di pinggir sawah.
"Tentu ingat, kamu cucunya Pak Yusuf kan anaknya Ica."
Khalisa mengulurkan tangan untuk bersalaman dengan ibu tersebut. Azfan tersenyum, tidak heran jika Khalisa mudah membuka obrolan dengan orang lain. Azfan senang melihat kembali senyum Khalisa setelah berhari-hari sang istri hanya menangis dan berdiam diri kamar.
"Benar Bu, saya mau ke rumah kakek tapi mampir dulu sebentar kesini."
"Itu siapa?" Ibu menunjuk Azfan yang berdiri tak jauh di belakang Khalisa.
"Oh, itu suami saya."
"Loh kamu sudah menikah?"
"Sudah Bu, anak saya yang pertama sudah tiga tahun, yang kedua masih disini." Khalisa mengusap perutnya, karena ia mengenakan gamis lebar perut buncitnya tidak terlihat.
"Masya Allah, lama nggak denger kabar kamu ternyata sudah mau punya dua anak."
Azfan ikut menyapa ibu yang duduk di gubuk tersebut.
"Sekarang orang-orang kota memang banyak yang main ke sawah, katanya bosan sama pemandangan gedung-gedung tinggi, itu mereka juga jauh-jauh dari Jogja cuma mau foto sawah." Ia menunjuk pada dua orang yang sudah dilihatnya dari tadi berpindah dari pematang sawah satu ke lainnya. Mereka seolah tak pernah puas berfoto dengan berbagai pose.
Khalisa tertawa ikut melihat pada dua orang laki-laki dan perempuan yang sibuk mengambil gambar, memangnya siapa yang mau menempuh jarak jauh hanya untuk berfoto di tengah sawah. Bukankah di Yogyakarta juga banyak pemandangan persawahan yang tak kalah bagus.
"Loh, itu bukannya Jason ya Bi?" Setelah makin lama melihatnya, Khalisa sadar bahwa orang yang sedang berfoto itu adalah Jason dan-
"Dan temen Umma?" Azfan tidak terlalu ingat pada wanita yang bersama Jason karena teman Khalisa sangat banyak.
"Clarin?" Khalisa meninggalkan gubuk itu setelah berpamitan pada ibu tadi. Ia melangkah mendekat memastikan bahwa mereka adalah Jason dan Clarin. Khalisa tidak tahu bahwa mereka saling kenal.
"Clarin, ini kamu?" Khalisa terkejut, itu benar-benar Clarin. Ia tak menyangka mereka bisa bertemu disini. Setelah lulus Khalisa tak pernah mendengar kabar teman-temannya termasuk Clarin.
"Loh Khalisa." Clarin tak kalah terkejut melihat Khalisa. "Kok kamu disini?"
"Kamu lupa, ini kampung halaman ku, harusnya aku yang tanya kenapa kamu disini-dan Jason?"
Jason dan Clarin saling berpandangan lalu tersenyum penuh arti. Pakaian mereka berwarna senada, Clarin mengenakan dress putih dengan ikat pinggang coklat sedangkan Jason mengenakan celana selutut coklat yang dipadukan dengan kemeja putih berlengan pendek.
"Kalian kayak orang lagi prewedding."
Clarin tertawa, karena ia dan Jason mengenakan pakaian dengan warna yang sama maka tak ada yang bisa disembunyikan. Tak hanya itu, warna rambut keduanya juga sama yakni abu-abu terang dan biru. Kedatangan Clarin dan Jason kesini memang untuk mengambil foto prewedding.
"Hah beneran?" Khalisa membelalak tak percaya, "kok bisa?"
__ADS_1
Clarin mengajak Khalisa duduk di salah satu gubuk kosong di pinggir sawah sementara Jason membereskan peralatan fotografi nya. Mereka memang tidak menggunakan jasa fotografer, walaupun agak ribet tapi mereka menikmati proses ini.
Clarin bercerita bahwa ia dan Jason tak sengaja bertemu dalam sebuah event fotografi di Jakarta. Saat itu Jason sedang mengikuti event tersebut. Clarin dibuat terkesima oleh salah satu foto kerbau yang berkubang pada lumpur di bawah pohon akasia. Sinar matahari yang menembus pohon akasia terlihat sangat indah.
"Siapa fotografer nya?"
"Aku."
Clarin terkesiap ketika tiba-tiba seseorang menyahut di belakangnya, tampak seorang lelaki berkulit putih pucat berada di hadapannya.
"Jason." Jason mengulurkan tangan yang mau tidak mau disambut oleh Clarin. "Itu foto kerbau liar di Taman Nasional Baluran."
"Jadi itu alasannya kalian foto prewedding nya di Banyuwangi?" Khalisa menanggapi cerita Clarin. Ia benar-benar tidak menduga jika Jason akan menikah dengan Clarin. Dua-duanya adalah orang yang ia kenal. Sama seperti Huma yang tiba-tiba menikah dengan Hamiz. Kisah cinta mereka penuh kejutan. Khalisa percaya seseorang yang hatinya dipatahkan oleh perasaan akhirnya akan menemukan tambatan cinta. Tuhan menyiapkan kado luar biasa untuk orang-orang yang mau bersabar melalui ujian.
"Sebagian iya, selain itu banyak tempat bagus disini." Clarin melempar tatapan pada Jason yang tengah memasukkan kamera ke dalam mobil dibantu oleh Azfan. "Kami udah bikin daftar tempat yang mau dikunjungi, kamu ada rekomendasi nggak?"
"Coba aku lihat daftar punya kamu."
Clarin memberikan ponselnya pada Khalisa dimana ia telah menulis daftar tempat yang akan dikunjungi bersama Jason. Mereka sama-sama suka traveling, itu sebabnya dari pada sekedar berlibur maka sekalian foto prewedding.
"Semua tempat bagus udah ada disini." Ujar Khalisa setelah melihat daftar tersebut.
"Oh ya, yakin nih nggak ada lagi?"
"Kalau aku bilang pantai Bomo nanti dikira promosi lagi." Canda Khalisa karena ia tidak melihat pantai Bomo dalam daftar yang Clarin tulis.
Clarin tertawa, "kalau ada waktu aku pasti kesana, katanya sunset disana cantik banget."
"Jujur iya."
"Jadi nggak sabar pergi ke semua tempat ini." Clarin mengetuk-ngetuk layar ponselnya.
Azfan ikut melihat ke arah yang sama dengan Jason, hanya saja tatapannya fokus pada Khalisa yang tengah asyik mengobrol dengan Clarin.
"Akhirnya kamu nemuin orang yang bisa bikin kamu jatuh cinta." Gumam Azfan.
Jason terkekeh,"mungkin karena sifat mereka mirip—eh tapi bukan berarti aku nggak bisa move on dari Rindang tapi emang kebetulan aja nemu yang mirip."
"Aku tahu." Azfan menepuk-nepuk bahu Jason.
Jason pernah merasakan patah hati luar biasa saat Rindang tiba-tiba memutuskannya padahal hubungan mereka saat itu baik-baik saja. Jason makin putus asa setelah tahu Rindang akan berpindah agama.
Saat itu Jason begitu ingin bersama Rindang kembali, akhirnya ia memutuskan untuk bersyahadat. Namun ternyata itu bertentangan dengan kata hatinya. Jason tak bisa memaksakan diri—mengorbankan kepercayaannya untuk mendapatkan Rindang kembali.
Harapan Jason pupus sudah saat Levin memberitahu hendak menikah dengan Rindang. Ia menutup hati dalam waktu yang lama hingga takdir mempertemukannya dengan Clarin. Kekasih impian Jason—seseorang yang bisa pergi beribadah di tempat yang sama pun dengan cara serupa. Jason tak mau menyia-nyiakan waktu lagi, kali ini ia ingin menjalani hubungan serius.
Mereka memasukkan alat-alat fotografi ke mobil Jason lalu menyusul Clarin di Khalisa ke gubuk yang terletak di pinggir sawah.
"Untung ada Azfan yang bantuin." Ujar Jason seraya duduk di samping Clarin sementara Azfan duduk di samping Khalisa.
Untuk sesaat mereka terdiam menikmati pemandangan hamparan sawah di hadapan mereka. Suasana seperti ini benar-benar bisa menjadi obat dari hiruk-pikuk dunia.
"Setelah ini mau kemana?" Khalisa memecah keheningan di antara mereka.
"Mau istirahat dulu di hotel besok lanjut pergi ke Baluran, aku pengen datengin tempat yang ada di foto itu." Jawab Clarin.
Jason menatap Clarin tak percaya, karena pacarnya tersebut masih ingat pada tempat yang membuat mereka saling kenal.
"Kamu mau foto sama kerbau?" Jason menanggapi.
__ADS_1
"Emang boleh?" Clarin menoleh pada Jason.
"Eh nggak boleh itu bahaya, biasanya pengunjung nggak boleh masuk ke area sabana nya." Sahut Khalisa.
"Tuh, dia nggak percaya aku bilangin." Jason menyikut Clarin, ia sudah mengatakan hal serupa pada Clarin sebelumnya.
"Kalau Khalisa yang bilang aku percaya."
"Emang muka aku muka pembohong?" Jason menunjuk wajahnya sendiri yang membuat Khalisa dan Clarin tertawa, sementara Azfan hanya tersenyum-ia jarang tertawa lepas apalagi di depan umum. Azfan bisa tertawa jika hanya berdua dengan Khalisa-si pemalu tulen.
"Bukan gitu, maksud aku Khalisa kan orang Banyuwangi."
Jason pura-pura memasang wajah kesal karena Clarin tidak mempercayainya.
"Cece!"
Perhatian mereka teralih ketika mendengar suara teriakan dari arah mobil Khalisa. Tampak Zunaira melambaikan tangan pada Khalisa.
"Ce, Azka bangun!"
Khalisa segera beranjak dari sana mendengar seruan Zunaira, ia membuka pintu mobil dan mendapati Azka sudah bangun. Khalisa melepas belt pada carseat lalu menggendong Azka.
"Azka nyariin Umma ya?"
Azka menempel pada Umma nya tanpa menjawab karena ia masih belum sepenuhnya sadar. Azka kembali memejamkan mata dalam gendongan Khalisa.
"Makasih Ai Unai udah jagain Azka." Ucap Khalisa pada Zunaira yang juga turun dari mobil.
Khalisa membawa Azka ke gubuk untuk menyapa Clarin dan Jason begitupun dengan Zunaira yang mengekori Cece nya.
"Ya ampun udah gede Azka!" Clarin mentowel pipi tembam Azka yang tampak kemerahan saat terkena cahaya matahari.
"Udah gede dong Aunty, makannya banyak sekarang." Khalisa mengintip Azka yang mulai mengangkat kepalanya dan melihat pemandangan sekitar.
"Gendong Abi." Azka menunjuk Azfan.
"Sini gendong Abi." Azfan mengambil alih Azka dari gendongan Khalisa.
"Eh gimana kalau kita makan bareng, aku bawa banyak makanan di mobil, kalian belum makan kan?" Khalisa ingat neneknya membawakan banyak makanan sebelum mereka berangkat tadi. Khalisa memang berencana makan di pinggir sawah sejak dari rumah. Khalisa tak tahu apakah ini gejala ngidam atau bukan, ia belum pernah menginginkan sesuatu yang aneh meski saat hamil Azka.
"Jason dan aku emang belum makan, aku skip sarapan tadi biar kelihatan ramping di kamera."
Khalisa mengambil makanan di dalam mobil dibantu Clarin dan Zunaira yang selalu ingin ikut andil dalam urusan orang dewasa. Sejak Khalisa kuliah, Zunaira jadi suka membantu mama nya melakukan pekerjaan rumah.
"Makasih sayang." Ucap Khalisa pada Zunaira yang membantunya membawa air mineral.
Khalisa membuka kotak makanan yang dibawanya dari rumah. Neneknya memasak nasi jagung, sayur asem,ikan goreng, tahu dan tempe, lalapan timun dan kemangi lengkap dengan sambal terasi. Tak ada yang bisa menolak kenikmatan kombinasi sayur asem dengan sambal terasi.
"Wah ngiler banget lihatnya." Clarin tidak sabar menyantap mereka semua begitupun dengan Jason.
Karena sejak hamil Khalisa memiliki selera makan yang bagus maka neneknya membawakan makanan cukup banyak untuknya dan Azfan.
"Ini sambalnya Abi." Khalisa membuka wadah sambal lain untuk Azfan.
"Buat suami beda ya?"
"Bukan gitu, Mas Azfan nggak bisa makan pedes."
Clarin manggut-manggut, ia pikir Khalisa membuat sambal spesial khusus untuk Azfan.
__ADS_1
Persawahan dan gunung Raung menjadi pemandangan sempurna untuk menikmati hidangan sederhana tersebut. Ditambah semilir angin yang menggoyangkan tanaman padi.