
Khalisa mengantar Daniel dan Ica hingga depan lobi apartemen. Sebenarnya jika boleh Khalisa ingin meminta mereka tinggal lebih lama disini. Namun Khalisa tahu ada banyak pekerjaan yang harus mereka lakukan di Banyuwangi. Daniel bertanggungjawab atas semua jalannya perusahaan sementara Ica tidak bisa meninggalkan resornya terlalu lama. Lagi pula Khalisa sudah bertekad untuk belajar mandiri dengan tinggal jauh dari orangtua.
"Hati-hati di jalan ya Ma, Pa." Khalisa mencium tangan Ica dan Daniel bergantian. Khalisa memeluk Ica sangat lama enggan membiarkan mereka pergi.
"Jaga diri kamu baik-baik ya." Daniel memeluk sang putri sulung.
"Iya." Khalisa mengangguk, ia melambaikan tangan sebelum Daniel dan Ica masuk mobil meninggalkan halaman apartemen. Mereka sering bolak-balik Banyuwangi-Yogyakarta tapi setiap kali hendak pulang, Khalisa selalu merasa berat hati ingin mereka tinggal lebih lama.
Khalisa memutuskan untuk keluar dari pada kembali ke apartemen lagi pula Rindang belum pulang kuliah sehingga tak ada yang diajaknya mengobrol.
Sore itu cuaca tidak terlalu panas tak seperti Sleman biasanya yang membuat orang-orang kepanasan. Hari ini bumi lebih ramah di tengah ramainya gerakan atasi global warming.
"Oh udah mau tutup ya?" Khalisa menginjakkan kaki di depan pintu Mangan Gelato, ia melihat ruangan itu sudah sepi. Hanya ada seorang gadis yang duduk di tengah ruangan tampak menikmati gelato di dalam cup berukuran sedang. Khalisa kesini tanpa melihat jam terlebih dahulu sehingga ia tidak tahu kalau ini jamnya tutup.
Azfan melihat sesaat pada gadis yang berdiri di depan pintu, sebenarnya tanpa melihat pun ia bisa langsung tahu kalau itu adalah suara Khalisa. Ia melihat stok gelato yang masih tersisa, "Khalisa mau pesan apa?" Tanyanya.
"Nggak usah, besok aja lagian kamu udah mau tutup kan." Khalisa tidak enak jika harus membuat Azfan menunda menutup tempat tersebut hanya karena dirinya.
"Nggak apa-apa, rasa kesukaan kamu masih ada kok."
"Emangnya kamu tahu rasa kesukaan aku?" Khalisa tersenyum lebar melangkah masuk mendekati Azfan. Ia memeriksa wadah-wadah di dalam etalase yang menyimpan berbagai rasa gelato. Sebagian besar wadah sudah kosong tak tersisa sedangkan beberapa lainnya masih terisi oleh gelato.
"Vanilla kan?" Duga Azfan, tak salah lagi dua hari yang lalu ia juga melihat Khalisa makan es krim rasa vanilla.
"Butterscotch nya masih ada?"
"Tinggal dikit banget, inshaa Allah cukup."
"Ya udah deh bikinin." Khalisa sumringah karena ia masih bisa makan gelato vanilla yang dikombinasikan dengan butterscotch kesukaannya.
Azfan melangkah ke depan pintu dan menutupnya, ia juga membalik kertas bertuliskan Open menjadi Close. Jika tetap membiarkan pintu terbuka Azfan khawatir akan ada pembeli lagi yang masuk sedangkan gelato mereka sudah habis.
Gadis berambut panjang yang duduk di tengah ruangan memperhatikan interaksi antara Azfan dan Khalisa, ia penasaran siapakah sosok perempuan yang menghampiri Azfan tersebut karena mereka tampak akrab. Ia tak pernah melihat Azfan bicara seakrab itu dengan seorang perempuan.
"Itu siapa?" Khalisa melirik ke arah gadis yang mengenakan seragam SMA tersebut.
"Itu Ayu anak Ibu kos aku." Jawab Azfan.
Khalisa tersenyum pada gadis bernama Ayu tersebut tapi bukannya balas tersenyum Ayu justru segera memalingkan wajahnya. Khalisa tertawa geli, menurutnya Ayu lucu dengan eskpresi seperti itu.
"Khalisa duduk aja, nanti aku antar ke meja kamu." Pinta Azfan.
"Ayu, aku boleh gabung di meja kamu nggak?" Tanya Khalisa dengan suara lantang membuat Ayu terkejut karena mereka tidak saling mengenal tapi Khalisa memanggil nama Ayu seperti mereka sudah berteman sejak lama.
Ayu melihat Azfan seolah meminta jawaban. Azfan mengangguk samar mengerti arti dari tatapan Ayu.
"Boleh." Ayu mengangguk pelan, ia menduga perempuan itu adalah teman yang Azfan bicarakan.
Khalisa melangkah bergabung dengan Ayu, ia melihat gelato berwarna hijau di dalam cup yang tinggal setengah, itu berarti Ayu sudah cukup lama ada disini.
"Kamu juga suka rasa matcha?" Tanya Khalisa.
"Enggak, penasaran aja sama rasanya."
"Enak ya?"
"Enggak." Ayu menggeleng, "sayang aja kalau nggak dihabisin telanjur beli, emangnya kamu juga suka matcha?"
"Koko aku suka." Maksudnya adalah Levin, karena Khalisa sudah menganggap Levin seperti koko nya sendiri.
__ADS_1
"Koko? kamu orang Chindo ya?" Ayu melihat Khalisa dari ujung kepala hingga kaki yang terbungkus kaos kaki dan sandal jepit. Penampilannya biasa saja seperti mahasiswi pada umumnya, Ayu tebak Khalisa pendatang dari luar kota atau bahkan luar provinsi.
Khalisa tak jadi menjawab pertanyaan Ayu karena Azfan lebih dulu datang mengantarkan pesanannya.
"Makasih ya." Ucap Khalisa.
"Ini teman Mas Azfan yang ngelukis baju pengantin di kamar Mas?" Ayu mendongak melihat Azfan.
Azfan berdeham menggeleng pelan, sungguh ia tak ingin membicarakan hal itu di depan Khalisa.
"Bukan? terus yang mana bukannya Mas Azfan nggak punya teman perempuan?"
Khalisa ikut melihat Azfan.
"Iya ini orangnya, sudah jangan bicara lagi." Tukas Azfan sebelum pergi meninggalkan Khalisa dan Ayu.
Khalisa cukup mengerti apa yang mereka bicarakan, sepertinya Azfan meletakkan lukisannya di kamar dan Ayu tak sengaja melihatnya. Khalisa sudah memberikan lukisan itu pada Azfan jadi ia tak mempermasalahkan dimana pun Azfan akan melekatkannya.
"Aku udah kenal Mas Azfan sejak satu tahun yang lalu." Ayu melempar tatapan tajam pada Khalisa.
"Oh ya? terus?" Khalisa menunggu kalimat Ayu selanjutnya, ia menduga Ayu akan berbagi cerita dengannya.
Ayu merengut, ia berkata seperti itu dengan maksud agar Khalisa sadar diri untuk tidak mendekati Azfan karena dirinya lah yang lebih dulu mengenal Azfan. Tanpa menjawab pertanyaan Khalisa, Ayu membungkuk membuka tas di dekat kursi yang ia duduki.
"Ahh, kamu bawa kucing?!" Khalisa spontan beranjak mundur selangkah melihat kucing melompat dari dalam tas Ayu.
Ayu terkejut melihat ekspresi ketakutan Khalisa.
"Ayu, kenapa kucingnya dikeluarin?" Azfan segera menangkap kucing putih milik Ayu. "Ayo masukin lagi."
"Nggak mau, emangnya kenapa sih?" Ayu merebut kucingnya kembali dan mengelus bulunya yang lembut.
"Khalisa takut sama kucing, ayo masukin ke tasnya."
Khalisa membalikkan badan melangkah ke arah pintu.
"Ayu, ketakutan orang itu berbeda-beda, tolong jangan bilang begitu." Tatapan Azfan tajam membuat Ayu tertegun karena tak pernah melihat wajah Azfan seperti itu sebelumnya.
Ayu menelan salivanya memasukkan kucingnya kembali, mengapa Azfan harus marah seperti itu padahal ia hanya ingin mengeluarkan kucingnya yang terlihat bosan di dalam tas.
"Khalisa, kucingnya udah masuk." Ucap Azfan menghampiri Khalisa.
Khalisa mencengkram gagang pintu dengan gemetar, ia melihat bagaimana kucing Ayu melompat ke atas meja hingga membuatnya ketakutan.
"Khalisa, tenang ya kucingnya udah dimasukin." Tangan Azfan bergerak hendak menyentuh pundak Khalisa yang bergetar tapi gerakan itu terhenti di udara setelah sadar jika hal tersebut tidak boleh dilakukannya. Azfan tak kuasa melihat tubuh mungil yang biasanya terlihat ceria dan tegar itu kini rapuh. Azfan ingin merengkuhnya dan berkata bahwa semua baik-baik saja sekarang.
"Aku mau pulang." Lirih Khalisa agak tersendat.
"Iya, aku bukain pintunya."
Khalisa mundur membiarkan Azfan membuka pintu, ia terlalu takut hingga tidak bisa memutar kenop pintu itu sendiri.
"Maaf Khalisa."
Khalisa ingin berkata bahwa Azfan tak perlu minta maaf tapi ia tidak sedang baik-baik saja sehingga tak ada suara yang bisa keluar dari mulutnya.
"Kamu bisa pulang sendiri?"
Khalisa mengangguk, ia mengusap pipinya yang basah oleh air mata.
__ADS_1
Azfan melihat sebuah mobil berwarna merah mengkilap berhenti di depan bangunan Mangan Gelato. Sesaat kemudian Rindang tampak turun melangkah menghampiri Khalisa.
"Khalisa, kamu kenapa?" Rindang memegang lengan Khalisa, ia tak sengaja melihat Khalisa ketika lewat barusan. Dari kejauhan ia bisa tahu kalau Khalisa tidak sedang dalam keadaan baik-baik saja.
"Barusan Khalisa lihat kucing di dalam jadi dia—"
"Kucing!" Ulang Rindang sebelum Azfan menyelesaikan kalimatnya. "Khalisa, ayo masuk mobil." Rindang menarik tangan Khalisa membawanya masuk ke dalam mobil.
Rindang kembali menghampiri Azfan.
"Rindang, maaf tadi aku nggak tahu kalau kucing itu melompat ke atas meja."
"Azfan, aku harus kasih tahu kamu sesuatu, Khalisa itu pengidap ailurofobia." Tukas Rindang sebelum pergi meninggalkan Azfan.
Mobil Rindang perlahan bergerak meninggalkan halaman Mangan Gelato yang tidak terlalu luas, hanya cukup untuk satu mobil dan beberapa motor. Azfan masih terpaku di depan pintu bahkan ketika mobil Rindang tak lagi terlihat. Azfan pikir ketakutan Khalisa pada kucing hanya lah rasa takut biasa seperti orang lain pada umumnya. Namun ternyata Khalisa mengidap ailurophobia.
"Ayu, habiskan gelato mu dan segera pulang." Ujar Azfan dingin pada Ayu.
"Kemana temen Mas?" Ayu melihat gelato milik Khalisa yang belum tersentuh.
"Pulang."
"Masa gitu aja langsung pulang?"
"Harusnya kamu minta maaf bukan justru bilang seperti itu." Azfan melanjutkan membersihkan etalase dengan cepat karena ia ingin segera pulang.
Ayu terdiam mendengar suara dingin Azfan, ia beranjak membawa tas kucingnya dan keluar dari ruangan itu tanpa mengucapkan apapun lagi.
******
Rindang melirik Khalisa yang sedang menutup mata bersandar pada kursi mobil. Rupanya Khalisa sudah tahu cara menenangkan diri sendiri seperti yang telah diajarkan dokter. Beberapa tahun terakhir Khalisa harus rutin mengunjungi psikiater ketika ia menunjukkan ketakutan yang lebih parah pada kucing. Baru setelah Khalisa mulai berkuliah, ia tak lagi melakukan terapi karena fobia nya terhadap kucing mulai bisa diatasi.
"Tante dan Om udah pulang?" Rindang berusaha mengalihkan pikiran Khalisa.
"Udah." Jawab Khalisa dengan suara sangat pelan hampir tidak terdengar.
"Malam ini aku tidur di apartemen kamu ya." Rindang khawatir terhadap keadaan Khalisa jika membiarkannya sendiri.
Khalisa mengangguk.
Rindang enggan menanyakan bagaimana hal itu bisa terjadi. Pertanyaan Rindang hanya akan membuat Khalisa semakin ketakutan dan tak bisa melupakan peristiwa tersebut. Selama ini Khalisa baik-baik saja karena di kawasan kampusnya memang tidak ada kucing berkeliaran. Di apartemen pun demikian, tak ada dari penghuninya yang memelihara kucing.
"Mau makan apa biar aku masakin atau kita delivery order aja?" Tanya Rindang sesampainya di unit apartemen Khalisa. Ia meletakkan tas kuliahnya di sofa dan melangkah menuju dispenser untuk mengambil air minum.
"Aku mau sholat magrib dulu, udah adzan." Khalisa masuk ke kamarnya meninggalkan Rindang yang sedang meneguk air.
"Kamu bener-bener mencintai Tuhan mu." Gumam Rindang lalu menghempaskan tubuhnya ke sofa empuk di ruang tamu. Rindang tebak Khalisa tak akan beranjak dari sajadahnya hingga nanti malam. Itulah cara Khalisa menenangkan pikirannya. Rindang tak tahu apa yang Khalisa katakan pada Tuhan nya pada saat seperti ini.
Rindang beranjak mendengar suara pintu kamar mandi dibuka, ia akan mandi lebih dulu dan berganti pakaian karena tubuhnya terasa lengket.
"Aku numpang mandi ya, pinjem baju juga."
"Baju apa?" Khalisa menyeka wajahnya yang basah oleh air wudhu.
"Baju tidur, emangnya kamu punya baju apalagi selain baju tidur dan gamis?" Rindang memiringkan kepalanya menatap Khalisa yang sama sekali tidak tertawa padahal ia sudah berusaha melawak.
"Pilih aja yang kamu suka." Khalisa menggelar sajadah dan mengenakan mukenah putih berbahan sutra yang membuatnya terlihat semakin cantik.
Sebagai seorang perempuan, Rindang tak memungkiri bahwa mukenah membuat muslimah semakin terlihat menawan.
__ADS_1
"Oke!" Rindang membuka lemari pakaian Khalisa yang sebagian besar diisi oleh gamis. Pakaian lainnya adalah baju tidur yang juga berlengan panjang, jas almamater dan beberapa jas organisasi.
Sebelum masuk ke kamar mandi, Rindang melirik Khalisa yang sedang sholat. Ia tak rela jika sahabatnya yang ceria kembali murung karena fobia itu.