Mahabbah Cinta Khalisa

Mahabbah Cinta Khalisa
26


__ADS_3

"Vanilla Butterscotch kan?" Azfan langsung menyebutkan menu gelato yang biasa Khalisa pesan ketika gadis itu baru sampai.


Khalisa tersenyum mengiyakan, ia sudah mencoba berbagai rasa es krim dan gelato tapi Vanilla Butterscotch akan tetap menjadi rasa favoritnya. Khalisa memperhatikan tangan Azfan yang begitu lihai mencampur rasa gelato dan memberinya topping serta sirup berbagai rasa. Hal yang paling Khalisa suka adalah ketika Azfan menulis nama pemesan pada cup plastik dengan tangan kiri. Kemampuan Azfan tersebut membuat Khalisa kagum, mungkin karena ia tak pernah melihat orang kidal sebelumnya.


"Mas, saya mau rasa coklat campur vanilla ya." Seorang gadis yang baru masuk menyebutkan pesanannya, "buruan ya Mas saya buru-buru soalnya." Lanjutnya.


"Maaf Kak setelah saya membuat pesanan Mbak ini ya." Ujar Azfan karena Khalisa datang lebih dulu jadi ia harus membuat pesanan Khalisa dulu.


"Duh nggak bisa ya soalnya keburu hujan." Gadis itu tampak gelisah melihat keluar, langit memang mendung seperti hendak turun hujan deras.


"Nggak apa-apa bikinin kakak nya duluan, aku nggak buru-buru kok." Tukas Khalisa, ia bisa menunggu lebih lama lagi.


Azfan menggeleng samar, ia harus melayani pembeli yang lebih dulu datang. Semua orang juga bisa mengatakan buru-buru tapi Azfan harus bersikap adil pada semua pembelinya.


"Nggak apa-apa, aku tungguin sambil duduk." Ucap Khalisa sekali lagi.


"Beneran nggak apa-apa Mbak?"


Khalisa mengangguk lalu melangkah menuju salah satu kursi dan duduk disana. Sekilas ia mendengar kakak pemesan gelato coklat dan vanilla itu mengucapkan terimakasih dan dijawab sama-sama oleh Khalisa.


Khalisa mengeluarkan buku sketsanya dan mulai menggoreskan pensil disana. Ia membuat desain seragam pegawai untuk resort milik mamanya. Khalisa membuat seragam kerja tersebut dengan model sederhana tapi tetap terlihat anggun dengan rok span dan kemeja berlengan pendek untuk wanita yang tidak berjilbab. Kemejanya memikiki motif batik berdasarkan permintaan mama Khalisa.


"Katanya tempat ini terkenal di kalangan anak kampus UII."


Khalisa mengangkat wajah mendengar suara yang tidak asing di telinganya, ia mengedarkan pandangan ke seluruh penjuru Mangan Gelato yang ramai siang itu. Mangan Gelato memang tidak pernah sepi.


"Uncle!" Khalisa beranjak melambaikan tangan pada seorang lelaki seumuran papanya yang duduk tak jauh darinya. "Masya Allah Uncle Arfan." Matanya membulat tidak menyangka bahwa ia akan bertemu dengan Arfan yang merupakan teman akrab mama dan papanya.


"Khalisa, Uncle nggak nyangka loh bisa ketemu kamu disini, gimana kabar kamu?" Arfan menarik kursi membiarkan Khalisa duduk disana.


"Baik Uncle, kalian cuma berdua?" Khalisa melihat Arfan dan Hamiz bergantian, Hamiz adalah anak Arfan yang usianya selisih satu tahun lebih muda dari Khalisa. "Aunty Zayaan nggak ikut?"


"Aunty bentar lagi nyusul, Masya Allah tadi Uncle sempet pesimis nggak akan ketemu kamu walaupun ini kampus tempat kamu kuliah."


"Uncle ada urusan kerjaan ya disini?" Tanya Khalisa.


"Enggak, Uncle sama Aunty nganterin Hamiz ikut lomba MTQ besok di kampus kamu."


"Oh ya? Hamiz ikut MTQ juga?"


"Iya, loh emangnya Mbak Khalisa ikut?" Tanya Hamiz, anak pertama Arfan yang memiliki wajah mirip dengan ayah nya.


Khalisa membuka mulutnya hendak menjawab pertanyaan Hamiz tapi ia menggeleng cepat, "bukan aku, temen aku." Jawabnya.


Azfan datang membawa pesanan Khalisa sekaligus gelato pesanan dua orang yang sedang mengobrol dengan Khalisa serta satu lagi yang Azfan tidak tahu untuk siapa.


"Azfan, ini yang aku bilang temen Mama aku yang namanya mirip kamu, Uncle kenalin ini temen aku namanya Azfan, mirip banget kan cuma beda satu huruf." Khalisa melihat Arfan dan Azfan bergantian, meski namanya mirip mereka memiliki wajah yang sangat berbeda.


"Saya Azfan, Khalisa pernah bercerita tentang Om." Azfan mengulurkan tangan pada Arfan untuk berkenalan, ia juga menyalami cowok di samping Arfan.


"Azfan, dia Hamiz salah satu peserta MTQ juga."


"Oh jadi Azfan ini temen kamu yang ikut MTQ?" Tanya Arfan.


"Iya Uncle." Khalisa mengangguk.

__ADS_1


"Setelah melihat peserta MTQ datang dari berbagai daerah, saya jadi makin grogi." Ujar Azfan seraya tersenyum gugup, pasti para peserta saat ini sedang berlatih atau beristirahat untuk persiapan lomba besok. Namun Azfan tak ada waktu untuk bersantai, ia tetap harus bekerja karena ujian akhir sudah di depan mata. Ia tidak boleh menunggak biaya kuliah jika ingin ikut ujian.


"Nggak boleh grogi, belajar dari Khalisa kalau soal membangun percaya diri." Kata Arfan.


"Nanti aku dateng semangatin kamu." Timpal Khalisa, ia tidak sabar menunggu besok untuk menyaksikan penampilan Azfan.


Azfan terdiam, entah ia akan semangat atau justru semakin gugup ketika melihat Khalisa.


"Kalau gitu saya kembali kerja dulu, selamat menikmati." Azfan undur diri dari sana karena ada pembeli yang telah menunggunya.


"Itu Umma." Hamiz menunjuk ke arah pintu dimana ada seorang  perempuan bercadar yang baru masuk. Hamiz melambaikan tangannya pada umma nya.


Khalisa mengikuti arah pandang Hamiz, "Aunty Zayaan, ya ampun kangen banget."


"Khalisa, gimana kabar kamu?" Zayaan memeluk Khalisa dan mencium pipi kanan kirinya. "Kok kalian bisa bareng padahal nggak janjian?"


"Aku juga nggak nyangka bisa ketemu Khalisa disini." Arfan menarik kursi untuk istrinya.


"Khalisa kamu makin cantik." Puji Zayaan. "Gemukan juga, betah ya tinggal disini?"


"Gimana nggak gemuk kalau makannya setiap hari kayak gini." Khalisa tertawa menunjuk gelato miliknya yang tinggal separuh sama sekali tidak tersinggung saat Zayaan menyebutnya lebih gemuk. "Aunty mau pesen apa biar aku pesenin?"


"Apa yang paling enak disini menurut kamu?" Zayaan membolak-balik buku menu bingung hendak memesan rasa gelato yang mana karena ia bukan pecinta berat es krim atau gelato.


"Aunty suka vanilla nggak?"


"Suka." Zayaan mengangguk.


"Kalau gitu aku pesen gelato vanilla yang di atasnya disiram saus karamel ya, menurutku itu enak banget."


Khalisa beranjak untuk memesan satu gelato lagi untuk Zayaan. Ia memesan Vanilla Butterscotch karena menurutnya menu itu tak ada tandingannya dengan yang lain. Khalisa jamin Zayaan akan ketagihan.


"Kalian terlihat sangat akrab seperti keluarga." Kata Azfan ketika ia membuat Vanilla Butterscotch kedua yang Khalisa pesan.


"Mereka temen baik Papa Mama ku, dulu waktu Papa baru jadi mualaf Uncle Azfan salah satu orang yang paling sabar ngajarin Papa ilmu tentang Islam."


Azfan diam-diam tersenyum, senyum yang tidak disadari oleh Khalisa. "Dunia mu sangat ramai." Lirihnya. Berbeda dengan dunianya yang terasa sepi.


"Ayo ikut ke dunia ku."


Azfan mengangkat wajahnya, hampir saja sendok gelato di tangannya jatuh mendengar ucapan Khalisa. Ia melongo tapi Khalisa justru tertawa.


"Ucapan mu itu seolah-olah aku datang dari dunia lain."


Azfan kembali menunduk, ia memang merasa mereka berasal dari dunia yang berbeda. Kehidupan Khalisa jauh berbeda dengan Azfan.


"Tapi yang barusan itu serius lo." Khalisa mengulurkan tangan untuk mengambil alih Vanilla Butterscotch yang sudah selesai dibuat.


"Hm?" Alis Azfan terangkat, yang barusan?


Khalisa berlalu begitu saja meninggalkan Azfan membiarkan cowok itu menerka sendiri apa maksud dari ucapannya. Khalisa yakin Azfan cukup cerdas untuk mengerti kalimat itu tapi ketidakpercayaan diri Azfan yang membuatnya menepis pikirannya sendiri.


"Biar Uncle yang bayar." Arfan beranjak ketika Khalisa kembali dengan satu gelato untuk Zayaan.


"Syukron katsiran Uncle, kalau gitu boleh tambah nggak?"

__ADS_1


"Boleh, mau tambah tiga piring lagi juga boleh." Ujar Zayaan dengan senang hati mengizinkan Khalisa untuk tambah satu piring gelato lagi. Ia menyingkap cadarnya ketika menyuapkan sesendok gelato dengan Butterscotch.


"Udah kenyang Aunty, aku baru aja makan nasi gudeg di kampus." Khalisa menepuk-nepuk perutnya yang rata. Ia kesini untuk makan gelato sebagai hidangan penutup. "Gimana enak kan?" Khalisa bertanya dengan penuh harap bahwa Zayaan juga menyukai Vanilla Butterscotch tersebut.


Zayaan mengangguk beberapa kali, "enak, nggak salah Aunty minta rekomendasi ke kamu."


"Kalian nginep dimana?"


"Di Java Village Resort nggak sampai 30 menit dari sini."


"Kalau butuh sesuatu Aunty jangan sungkan kasih tahu aku."


"Tentu Khalisa."


Khalisa merogoh tasnya mendengar ponselnya berdering panjang. Khalisa melihat nama Jason pada layar datar ponselnya, dengan sekali ketuk ia menjawab telepon tersebut.


"Kenapa Jes?"


"Kamu lagi dimana, buruan pulang deh." Bukan suara Jason yang Khalisa dengar melainkan suara Rindang yang terdengar panik.


"Ada apa sih jangan bikin takut deh."


"Udah buruan kesini, aku tunggu." Rindang memutus sambungan begitu saja membuat Khalisa kebingungan bertanya-tanya apa yang terjadi di apartemen hingga membuat Rindang panik.


"Aunty, Hamiz aku pamit dulu ya kalau perlu sesuatu jangan lupa telepon aku." Khalisa memasukkan ponsel dan buku sketsanya ke dalam tas dengan buru-buru dan beranjak dari sana. "Uncle aku pamit, inshaa Allah kita ketemu lagi di kampus ya." Khalisa melambaikan tangan pada Arfan ketika keluar.


Arfan menatap kepergian Khalisa lalu ia melihat Zayaan seolah bertanya mengapa Khalisa tiba-tiba pergi. Zayaan menggeleng samar pertanda ia juga tidak tahu alasan Khalisa pergi dengan terburu-buru.


Azfan mengerutkan kening, mengapa Khalisa buru-buru pulang setelah menerima telepon. Azfan harap tak ada sesuatu yang buruk terjadi pada Khalisa.


*******


Sebuah tulisan berwarna merah di atas kertas berukuran cukup besar berada di lantai apartemen Rindang membuat si pemilik heboh. Rindang tidak mengerti melihat tulisan H-1 pada kertas tersebut, ia bukan menerka arti dari tulisan itu melainkan apa yang digunakan orang itu untuk menulisnya. Warnanya merah pekat tapi Rindang yakin itu bukan ditulis dengan darah karena baunya seperti buah.


"Khalisa datang." Jason melihat ke arah monitor di samping pintu, tampak Khalisa dengan wajah panik disana. Jason beranjak membuka pintu untuk Khalisa.


"Ada apa?" Khalisa langsung fokus pada kertas di atas lantai dengan tulisan H-1 tersebut, ia melangkah menghampiri Rindang yang duduk di sofa. "Ini apa Rin?"


Rindang menggeleng dan mengedikkan bahu, ia juga tidak tahu apa maksud dari tulisan itu karena ketika pulang dari kampus ia langsung menemukan kertas itu berada di apartemennya.


"H-1 artinya besok, Rindang mending besok kamu jangan kemana-mana deh sumpah aku takut terjadi sesuatu yang buruk lagi sama kamu." Khalisa duduk di samping Rindang. Tempat ini seperti tak aman lagi bagi mereka padahal Casey Avenue terkenal karena keamanannya yang ketat.


"Kamu dari mana?" Tanya Rindang pada Khalisa.


"Aku makan gelato setelah pulang dari kampus."


"Nggak ada sesuatu yang aneh kan?"


Khalisa menggeleng, ketika berjalan kaki dari Mangan Gelato ke apartemen ia sama sekali tidak merasakan sesuatu yang aneh mungkin juga karena ia buru-buru. Namun Khalisa berharap semuanya baik-baik saja.


"Malam ini aku tidur disini karena aku nggak mau ada lagi kejadian kayak kemarin." Ujar Jason, ia tak ingin Rindang mendapat pelecehan atau teror lagi, ia sudah mendengar cerita Rindang soal pintu apartemennya yang digedor saat lewat tengah malam.


"Khalisa kamu tidur disini aja ya sama aku." Rindang juga mengkhawatirkan Khalisa karena saat ia mendapat pelecehan beberapa saat lalu dirinya juga sedang bersama Khalisa.


Khalisa mengangguk. Ketika seperti ini Khalisa ingin meminta Rindang berhenti menjadi influencer atau selebgram dan semacamnya karena di antara banyak penggemar Rindang pasti ada saja yang berbuat nekat seperti itu. Namun itu hobi Rindang, Khalisa tidak bisa membatasi hobi seseorang karena ia tahu rasanya menyakitkan. Seperti Khalisa yang tidak bisa mengembangkan hobi desainnya karena harus kuliah di jurusan yang jauh berbeda dengan hobi tersebut.

__ADS_1



__ADS_2