
Khalisa keluar dari mobil bersamaan dengan Rindang yang baru pulang dari kampus. Rindang kerepotan membawa tas kuliah, laptop dan beberapa barang lainnnya. Rindang memang tak pernah ke kampus hanya untuk kuliah, ia juga bekerja. Khalisa hendak membantu Rindang tapi ia juga membawa barang belanjaannya.
"Kusut amat mukanya kayak cucian belum kering." Rindang bisa melihat wajah Khalisa cemberut sejak baru turun dari mobil.
"Duh berat jangan ngomong dulu." Khalisa melangkah cepat menekan tombol pada lift dengan sikunya, ia ingin segera sampai di apartemennya dan meletakkan semua buah-buahan nya ini.
Setelah makan bersama saat itu, Khalisa mengeluarkan persediaan buahnya untuk semua orang dan ia baru sempat membelinya lagi hari ini setelah mama dan papanya pulang. Sebenarnya mereka hendak tinggal lebih lama disini tapi Khalisa meyakinkan keduanya bahwa ia akan menjaga diri. Sebab Khalisa tahu mama dan papanya memiliki banyak pekerjaan di Banyuwangi. Jika lebih lama disini itu berarti pekerjaan mereka akan semakin menumpuk. Lagi pula kurang dari 1 bulan Khalisa akan pulang.
Khalisa dan Rindang berpisah di koridor masuk ke apartemen masing-masing. Khalisa bisa melepas napas panjang setelah meletakkan buah-buahannya di atas meja makan.
"Capek banget." Khalisa menghempaskan tubuhnya ke atas sofa menikmati dinginnya AC yang berada di atas kepalanya. Khalisa tak percaya Azfan mengatakan bahwa ia senang dikelilingi para cewek itu. Khalisa masih ingat bahwa Azfan tidak nyaman jika dikelilingi banyak orang lalu kenapa sekarang jawabannya berbeda.
Khalisa beristighfar berkali-kali dalam hati untuk menenangkan diri. Apakah ia cemburu pada para mahasiswi itu, tentu saja tidak, untuk apa ia merasa cemburu. Khalisa tidak punya alasan untuk cemburu. Namun ia sendiri tidak tahu apa sebenarnya arti dari kata cemburu.
Khalisa mendengar seseorang menekan sandi di pintu apartemennya, sesaat kemudian Rindang masuk dengan membawa iPad miliknya.
"Ada apa sih, kamu dapet buah apel yang jelek lagi?" Rindang duduk di samping Khalisa, melihat wajah sahabatnya yang sangat kusut seperti kain belum disetrika itu pasti ada sesuatu yang membuatnya kesal. Karena Khalisa baru saja dari pasar, Rindang menduga Khalisa tidak berhasil mendapat apel segar karena hari sudah sore sehingga wajahnya kusut begitu. "Makanya kalau beli buah pagi aja, besok ya aku anterin deh ke pasar." Rindang menepuk-nepuk bahu Khalisa.
"Astaghfirullah siapa sih yang kesel sama buah, enggak kok." Khalisa mengubah posisinya menghadap Rindang.
"Oh tukang buah langganan kamu udah tutup ya?"
"Bukan-bukan." Khalisa menggeleng.
"Ya terus kenapa?" Rindang menyalakan iPad di pangkuannya untuk melanjutkan gambar desain pakaiannya yang belum selesai.
Jika Khalisa lebih suka membuat sketsa pada buku maka Rindang lebih senang menggambar di iPad karena lebih praktis. Rindang bisa mengkreasikan warna apapun sesuai keinginannya dengan mudah berbeda dengan Khalisa yang harus berkeliling toko stationery untuk mendapatkan warna yang diinginkannya. Bahkan Khalisa akan mencampur beberapa warna untuk mendapat gambar sesuai bayangannya.
"Emang seseorang itu bisa berubah ya?" Khalisa menatap Rindang yang sedang sibuk dengan iPad nya.
Rindang mendongak, sepertinya Khalisa hendak membicarakan sesuatu yang serius. Ia meletakkan iPad nya dan menatap Khalisa sepenuhnya.
"Ya bisa aja, nggak ada sifat yang bener-bener permanen kalau orang tersebut mau berubah."
"Masalahnya tuh dia cepet banget berubahnya."
"Ya lihat dia berubahnya gimana dulu."
"Menurut artikel yang pernah aku baca orang dengan sifat introvert itu nggak akan berubah jadi ekstrovert."
"Kamu tahu dari mana dia berubah jadi ekstrovert, kita nggak bisa menjudge orang itu dalam sekali lihat."
Khalisa terdiam mencerna kalimat Rindang. Ia bukannya menjudge dalam sekali lihat tapi ucapan Azfan tadi membuatnya berasumsi seperti itu.
"Sabar aja dulu, siapa tahu nanti dia bisa berubah jadi introvert lagi." Rindang nyengir mengusap lengan Khalisa.
Khalisa mendelik mendengar ucapan Rindang.
"Emang tipe kamu cowok yang introvert gitu ya?"
__ADS_1
Khalisa menggeleng samar, ia bahkan tidak pernah memikirkan tipe cowok seperti apa yang akan membuatnya jatuh hati. Apakah sekarang ia telah jatuh hati? bukankah seharusnya masih 5 tahun lagi? Khalisa dulu sempat berpikir akan jatuh cinta pada seseorang di usia 25 ketika dirinya sudah siap menikah.
"Ayo bikin jus, kamu kan abis beli buah-buahan banyak." Rindang beranjak dari sofa, ia urung melanjutkan menggambar desainnya dan memilih mengajak Khalisa membuat jus untuk meredakan emosi sahabatnya itu.
Rindang tidak mau memaksa Khalisa untuk menceritakan apa yang telah membuatnya begitu kesal. Nanti pasti tanpa sadar Khalisa akan menceritakannya dan saat itu terjadi Rindang akan mentertawakan Khalisa jika alasan dari kekesalannya adalah hal-hal konyol.
"Wah pisangnya banyak banget, bikin smoothies aja ya." Rindang melihat Khalisa mengangguk menyetujui usulan nya untuk membuat smoothies pisang.
Rindang mengeluarkan dua buah pisang dan mangga karena Khalisa dan dirinya paling suka kombinasi dua buah tersebut untuk dijadikan smoothies.
"Oh iya aku denger pengumuman lomba MTQ di kampus kamu udah keluar ya?" Rindang mencuci mengupas pisang sementara Khalisa mencuci mangga.
"Iya."
"Azfan nggak dapet?"
Khalisa berhenti sejenak mendengar pertanyaan Rindang, "dapet." Jawabnya.
"Oh ya? wah hebat juga si Azfan, baru pertama kali ikut udah bisa dapet juara."
"Bukan juara utama kok tapi temen-temen tadi pada ngerumunin Azfan, ngasih bunga, makanan." Khalisa mengupas mangga setelah dicuci.
"Temen-temen?"
"Iya cewek-cewek sampai Azfan nya nggak kelihatan." Khalisa bersyukur tidak bisa melihat ekspresi bahagia Azfan tadi siang.
"Ahh!" Khalisa memekik spontan menjatuhkan mangga yang belum selesai dikupas karena tangannya tak sengaja tergores pisau. Sedikit tapi perih, tidak salah Khalisa memilih pisau merek ini karena memang benar-benar tajam. Khalisa buru-buru mencuci tangannya di bawah kran.
"Pelan-pelan dong Sha." Rindang memungut mangga yang menggelinding di lantai. "Udah-udah biar aku yang kupas, kamu potong pisang aja tuh." Ia mencuci lagi mangga tersebut.
"Kamu sih."
"Kok aku?" Rindang pura-pura tidak tahu padahal ia tengah menahan tawa karena ternyata menyenangkan melihat seorang Khalisa yang sedang cemburu. Sepertinya Khalisa akan menjadi pasangan yang posesif di masa depan.
"Udah lah kamu yang bikin, aku mau wudhu dulu udah adzan." Khalisa menghentakkan kaki sebelum meninggalkan dapur.
Rindang melongo melihat kepergian Khalisa, perutnya tergelitik oleh tingkah sahabatnya itu. Rindang tidak pernah melihat Khalisa seperti itu. Dari dulu hanya Rindang yang memiliki kisah cinta dengan lawan jenis. Namun sekarang saatnya Khalisa memulai kisah cintanya.
"Jangan lupa lukanya dikasih plester." Rindang setengah berteriak.
"Iya mau wudhu dulu." Suara Khalisa terdengar samar.
Rindang lanjut membuat smoothies mangga dan pisang, ia menambahkan banyak es batu serta susu dan yogurt.
"Enak banget." Rindang meminum smoothies kental berwarna oranye tersebut. Rindang tidak mau menunggu Khalisa karena ia yakin Khalisa tak akan beranjak dari sajadahnya sampai adzan isya. Rindang memasukkan smoothies milik Khalisa ke dalam kulkas.
Rindang membaringkan tubuhnya di ruang tengah dan menyalakan televisi dengan volume rendah, ia mengambil ponsel untuk melihat artikel tentang lomba MTQ di kampus UII beberapa waktu yang lalu. Televisi hanyalah figuran di apartemen itu karena meski ia menyala, Rindang tetap lebih fokus pada ponselnya.
"Wah banyak juga artikel tentang Azfan, yang ganteng emang selalu mencuri perhatian." Rindang memutuskan menelepon Azfan untuk memberi ucapan selamat.
__ADS_1
"Halo Rindang." Suara Azfan menyambut pada nada sambung ketiga.
"Malem Fan, lagi sibuk ya atau mau shalat?" Rindang melirik ke pintu kamar Khalisa, apakah ia harus mengeraskan suaranya agar Khalisa mendengar? tidak-tidak, Khalisa sedang shalat.
"Baru aja selesai, ada apa Rin?"
"Selamat ya kamu berhasil menang lomba MTQ kemarin, aku yakin sih kamu bakal juara."
"Iya makasih."
Rindang mendengar suara perempuan di seberang sana, "itu suara siapa?"
"Suara Ayu, anak ibu kos aku, keluarganya ngajak makan bareng."
"Oh ya udah kalau gitu aku tutup dulu."
"Maaf ya Rindang, lain kali aku ajak kamu dan Khalisa makan tapi bukan makanan mahal sebelum kalian pulang ke Banyuwangi."
"Iya, aku udah rekam nih kalau lupa aku tagih lo ya."
Azfan tertawa, "inshaa Allah nggak lupa."
"Assalamualaikum." Rindang menutup mulutnya karena keceplosan mengucap salam, itu karena ia terbiasa mendengarkan Khalisa saat berbicara dengan seseorang melalui telepon. Seharusnya Rindang tidak pernah menguping karena ia bisa tertular assalamualaikum Khalisa.
"Waalaikum." Azfan memutus sambungan setelah menjawab salam.
******
Azfan sudah sering makan masakan ibu Ayu karena hampir setiap hari Ayu memberi makanan untuknya. Namun makan bersama keluarga Ayu adalah hal pertama bagi Azfan.
Semua orang di rumah itu menyambut Azfan dengan baik termasuk kakak Ayu yang bernama Ariani. Mereka bahkan membuat kue tart berukuran kecil untuk memberi selamat pada Azfan atas kemenangannya.
"Ibu dan Bapak nggak perlu bikin kayak gini lain kali, saya jadi nggak enak." Ujar Azfan setelah mereka membaca doa sebelum makan.
"Nggak apa-apa lo Fan biar kamu semakin deket sama keluarga kami, saya juga udah anggap kamu seperti anak sendiri." Sahut ibu Ayu.
"Terimakasih Bu, Pak sekali lagi, Ayu dan Mbak Ariani."
"Ya udah ayo makan."
Mereka mulai menikmati nasi dan tengkleng yang memiliki rasa penuh rempah. Masakan ibu Ayu memang enak, Azfan jadi teringat masakan ibunya di rumah. Azfan makin merindukan keluarganya karena cukup lama ia tidak pulang ke Bantul.
"Kamu sudah punya pacar Fan?"
Azfan berhenti mengunyah mendengar pertanyaan ibu Ayu, "tidak Bu." Jawabnya, jika tidak berarti ia memang tak punya niat untuk memiliki pacar.
"Bagus kalau begitu."
Azfan mengangguk canggung. Sementara itu Ayu senyum-senyum sendiri mendengar Azfan tidak memiliki pacar, itu artinya ia masih punya kesempatan mendekati Azfan. Bagi Ayu, Azfan adalah tipe cowok ideal nya. Shalih, tampan dan rajin bekerja, itu lebih dari cukup untuk membuat Ayu jatuh cinta apalagi jarak usia mereka hanya satu tahun. Selain itu tempat tinggal mereka sangat dekat, kesempatan Ayu untuk menggapai Azfan lebih besar.
__ADS_1