Mahabbah Cinta Khalisa

Mahabbah Cinta Khalisa
46


__ADS_3

Pertemuan itu begitu singkat untuk rindu yang telah membuncah di dalam dada. Namun mereka tak berhak bercengkrama lebih lama sebab tak ada ikatan di antara keduanya. Andai mengikat semudah membalikkan telapak tangan maka Azfan pasti telah melakukannya sejak lama, sejak ia menyadari perasaan itu muncul lalu kian tumbuh subur hingga ia sulit mengendalikannya seperti rumput liar yang tumbuh di pematang sawah.


Azfan bertanya-tanya mengapa bagi orang lain pernikahan terasa begitu mudah.


Sedangkan bagi Azfan menikahi Khalisa seperti ketidakmungkinan yang membisikkannya di setiap shalat saja ia tak berani. Azfan hanya berani mengatakan semoga di dalam hati. Sudi kah Khalisa menerima Azfan si laki-laki biasa saja yang tak ada apa-apanya dibandingkan dengan gadis ceria itu.


Wajah pucat Khalisa kemarin masih melekat jelas di pikiran Azfan. Wajah pucat yang tetap cantik ditambah dengan senyum manis Khalisa membuat Azfan enggan pulang. Namun itu bukan tempatnya, itu bukan dunianya.


Dunia Khalisa sangat ramai dan dipenuhi oleh orang-orang baik yang ramah. Kemarin semua anggota keluarga Khalisa menyambut Azfan dengan baik. Bahkan Daniel dan Ica mengajak Azfan buka bersama di resor Jinggo tapi Azfan dan Tris harus segera pulang.


Kamu harus berjuang, Fan, kamu mencintainya kan? Kamu boleh miskin tapi kamu punya Allah yang maha besar. Bagaimana jika Khalisa menikah dengan orang lain? kamu rela? tidak kan?


Azfan bangkit dari tempat tidurnya ketika tiba-tiba ia memikirkan sesuatu yang mungkin bisa menjadi penyemangat nya untuk memperjuangkan Khalisa. Ia harus mencobanya meski kemungkinan kecil untuknya berhasil.


"Mau kemana Fan?" Tanya ibu melihat Azfan mengeluarkan motornya.


"Aku ke toko dulu buk." Azfan menghampiri ibunya dan mencium punggung tangannya. "Assalamualaikum."


"Waalaikumussalam, kok tiba-tiba Fan, katanya dua Minggu disini dulu."


"Nanti aku pulang lagi kok buk." Azfan menaiki motor listriknya.


Kaligrafi sebesar satu meter mungkin?


Azfan ingat kalimat Khalisa saat itu di depan warung bakmi. Azfan akan membuat kaligrafi satu meter tersebut meski membutuhkan waktu yang cukup lama karena ia harus menyelesaikan kaligrafi lain. Azfan akan mengerahkan seluruh tenaga dan perasaannya ke dalam kaligrafi itu.


Azfan seperti mendapat energi baru untuk mulai membuat kaligrafi itu. Ia membeli kanvas, media kaca dan bingkai. Azfan menggunakan dana darurat yang selama ini ia simpan di dalam wadah dan tabungan bank. Azfan memulainya dengan bismillah berharap Allah melancarkan urusannya memulai bisnis sendiri.


"Media kaca agak mahal, Mas." Ucap salah satu penjaga toko yang menjual berbagai macam alat tulis dan media untuk membuat kaligrafi.

__ADS_1


Azfan mengintip label harga kaca berukuran sekitar setengah meter itu, hampir menyentuh angka satu juta. Bagaimana dengan yang satu meter pasti harganya dua kali lipat.


"Iya nggak apa-apa." Azfan bergerak mengikuti penjaga toko itu memilih media kaca yang berukuran lebih besar. Bukankah uang bisa dicari lagi?


Setelah berkeliling sekitar 1 jam di toko itu akhirnya Azfan mendapatkan semua yang ia butuhkan untuk keperluan membuat kaligrafi. Pihak toko nanti akan mengirimnya langsung pada Azfan karena ia tak mungkin membawanya semua sendirian kecuali ia datang dengan mobil.


Bangunan toko yang cukup luas itu tak banyak berubah sejak terakhir kali Azfan mengunjunginya. Azfan juga tidak mengecat ulang untuk meminimalisir biaya yang dibutuhkan. Azfan lebih fokus pada kaligrafi yang akan ia buat.


"Bismillah." Azfan berbisik, menepuk pundaknya untuk memberi semangat pada diri sendiri. Ia harus memanfaatkan kelebihan yang Allah berikan untuk hal-hal baik contohnya seperti apa yang ia lakukan sekarang.


Tangan kiri Azfan luar biasa.


Sepenggal kalimat yang Khalisa ucapkan berkelebat di pikiran Azfan menjadi pecut semangat baginya. Azfan memandangi tangan kirinya sebelum mengambil alat tulis untuk mulai menorehkannya pada media kanvas.


Tidak seharusnya Azfan terus merasa minder padahal Allah telah mempermudah jalannya. Azfan menggoreskan alat tulisnya dengan percaya diri, kali ini ia tidak mencari refrensi di internet karena menemukan inspirasi di dalam kepalanya sendiri untuk membuat kaligrafi tersebut.


******


"Selamat sore." Beberapa staf menyapa Khalisa dan Kafa yang berjalan bersisian melewati lobi rumah sakit.


"Sore mbak Mala." Khalisa membalas sapaan perawat berjilbab yang berjalan dari arah berlawanan.


"Wah, aku yang sering kesini aja nggak hafal sama nama-nama perawat disini, Cece yang setengah tahun sekali kesini masih inget aja." Ujar Kafa masih kagum pada kemampuan mengingat Khalisa.


"Kamu ngomong gitu kayak orang baru kenal aja, aku mau ke apotek dulu." Khalisa berpisah dengan Kafa di persimpangan koridor. Ia hendak menuju apotek melihat persediaan obat sekaligus ingin membuat racikan obatnya sendiri. Khalisa telah mencoba meracik obat khusus Rindang tentu dengan bimbingan apoteker yang telah lama berkecimpung di dunia perobatan.


"Assalamualaikum." Khalisa mengucap salam ketika hendak masuk ke apotek melalui pintu samping.


Aroma obat-obatan menyambut Khalisa, tentu itu sudah tidak asing lagi mengingat jurusannya tidak jauh-jauh dari obat. Maka bau obat sudah seperti makanan sehari-hari bagi Khalisa. Jika gadis seusianya mengeluarkan aroma wangi karena memakai parfum maka Khalisa memiliki bau obat yang ia anggap sebagai parfum alaminya.

__ADS_1


"Waalaikumussalam." Jawab semua pegawai apotek yang sedang sibuk melayani pasien.


Ce kok nggak bilang kalau mau kesini?" Zeni beranjak menyalami Khalisa.


"Kalau bilang mau siapin apa buat aku Mbak Zen?" Canda Khalisa.


"Siapin Paracetamol nih banyak." Zeni yang usianya selisih 10 tahun dengan Khalisa itu masih bisa menjadi teman ngobrol seolah mereka adalah teman sebaya.


"Aku boleh masuk nggak?" Tanya Khalisa ketika hendak masuk ke ruangan khusus untuk meracik obat.


"Yang punya bebas Ce, boleh masuk kapan pun." Balas Zeni.


Khalisa mengucapkan terimakasih pada Zeni sebelum masuk, di dalam ruangan serba putih yang tertutup itu terdapat 3 orang pegawai termasuk Anne kepala apoteker disitu.


Menyadari kehadiran Khalisa, Anne langsung menghentikan aktivitasnya dan menghampiri gadis yang mengenakan gamis hitam tersebut.


"Mbak Anne, gimana kabarnya?" Sapa Khalisa.


"Alhamdulillah, Khalisa baik."


"Saya izin pakai alat-alat disini buat bikin obat." Ucap Khalisa, ia juga menyapa pegawai lain dan meminta mereka untuk menganggap dirinya tak ada di ruangan ini. Khalisa tidak mau membuat mereka merasa sungkan karena kehadirannya disitu.


"Nggak izin pun boleh." Balas Anne ramah.


Sebelum berkutat dengan obat-obatan, Khalisa lebih dulu mencuci tangan dan mengenakan pakaian khusus agar lebih steril. Ia akan menghabiskan waktunya di ruangan ini.


"Bagaimana keadaan Rindang?" Tanya Anne pada Khalisa.


"Dia sehat, waktu itu kami sempat makan satu mangkok bakmi dan Alhamdulillah dia baik-baik saja, Rindang santai tapi aku yang ketar-ketir Mbak."

__ADS_1


"Syukurlah kalau begitu, Rindang beruntung punya sahabat seperti mu."


Khalisa menggeleng, ia yang beruntung karena Rindang menjadi sahabatnya. Khalisa akan lebih termotivasi untuk menyelesaikan kuliah meski itu tidak seusai keinginannya. Kadang dunia ini berjalan tidak sesuai keinginan tapi Khalisa harus tetap melangkah di jalan itu karena ia ingin bermanfaat bagi orang lain tak hanya sekedar menjalani kehidupan sesuai kemauannya.


__ADS_2