Mahabbah Cinta Khalisa

Mahabbah Cinta Khalisa
141


__ADS_3

Dingin. Levin merasakan tangan Rindang begitu dingin saat ia menggenggamnya. Levin menatap wajah pucat Rindang. Tidak, bukan hanya wajahnya tapi setiap permukaan kulitnya pucat. Levin telah berada di posisi itu selama 30 menit, ia sama sekali tidak beranjak dari duduknya menunggu Rindang siuman. Namun Rindang tak kunjung bangun.


"Kamu bisa merasakan tanganku yang hangat kan?" Levin mengecup telapak tangan Rindang yang harum. Levin tak tahu apakah itu aroma parfum atau body lotion Rindang yang ia tahu, aroma tersebut sangat harum. "Aku baru tahu kalau kamu punya aroma yang sangat harum." Gumam Levin seolah Rindang bisa mendengarnya.


"AC nya terlalu dingin?" Levin mendongak melihat suhu AC di ruangan tersebut. Tidak juga. AC nya diatur dengan suhu seperti biasa tapi mengapa tangan Rindang begitu dingin. "Dokter Irwan marahin aku karena mengambil tindakan yang beresiko jadi aku mohon, kamu harus pulih Rindang." Levin menghela napas berat. Ia sering melihat keluarga pasien mengobrol meskipun pasien tersebut dalam keadaan tak sadar. Sekarang Levin mengalaminya, ia merasa putus asa.


Levin benar-benar hancur sekarang, ia mengingat-ingat kapankah ia pernah merasa hancur seperti ini. Mungkin saat Khalisa menolaknya atau ketika Valerie mengusirnya. Tidak. Dua hal itu tak ada apa-apanya dengan perasaan Levin saat ini. Levin berada di titik paling rendah. Tubuhnya seperti terkubur ke dasar jurang yang dalam hingga membuatnya sesak.


"Ini baju punya Ci Rindang ditaruh dimana dok?" Seorang perawat membawa gaun pengantin berwarna putih yang beberapa jam lalu masih melekat di tubuh Rindang. Baju yang didesain sendiri oleh pemiliknya. Rindang menggambar dan memilih bahan sendiri untuk membuat gaun tersebut. Namun sayang Rindang memiliki waktu yang sangat singkat untuk mengenakan gaun indah tersebut.


Levin mengambil alih gaun tersebut dan memandanginya lama, masih terekam jelas bagaimana Rindang melangkah menghampirinya dengan mengenakan gaun itu. Masih lekat di pikiran Levin ketika Rindang begitu bahagia melihat gaun pengantinnya di butik Gracia. Sepulang dari sana Rindang terus membicarakan kemampuan Gracia menjahit pakaian, itu benar-benar sesuai dengan yang Rindang bayangkan. Rindang salah, sebenarnya ia juga luar biasa karena berhasil mendesain gaun pengantin sebagus itu.


Levin kembali keluar dari UGD membawa gaun Rindang di tangannya, ia akan meletakkan gaun itu di mobilnya.


"Ko, ruangan untuk Rindang susah siap." Khalisa menghampiri Levin. Mereka menunggu beberapa jam sebelum memindahkan Rindang ke ruang rawat.


"Terimakasih ya." Levin melangkah melewati Khalisa menuju tempat parkir mobil yang tidak jauh dari UGD.


Sesampainya di tempat parkir Levin baru ingat kalau ia tak membawa kunci mobil. Akhirnya Levin kembali untuk meminta kunci mobil pada Jonas.


"Biar Mama yang bawa bajunya, kamu makan dulu gih dari tadi pagi kamu belum makan apapun, mama nya Khalisa udah pesenin kita makanan."


"Nggak apa-apa Ma, aku belum laper."


"Harus makan, kamu nggak boleh sakit supaya tetep bisa pantau Rindang atau kamu mau pingsan juga karena nggak makan?" Michelin mengambil alih gaun pengantin Rindang.


Levin menuruti perintah mertuanya untuk makan. Ia duduk di samping papa nya yang juga belum beranjak dari kursi tunggu.


"Papa nggak balik?" Tanya Levin.


"Papa nggak bisa pulang sebelum Rindang siuman."


"Kita nggak tahu Rindang akan siuman." Levin mengusap wajah dan mengacak-acak rambutnya frustrasi.

__ADS_1


"Papa akan terus disini."


"Papa tidur di hotel aja malam ini." Levin mengeluarkan kartu kunci dari saku celananya.


"Kalau Rindang siuman langsung kabarin Papa."


Levin mengangguk. Ia melahap makan siangnya dengan terpaksa. Sebenarnya Levin tidak lapar tapi benar apa yang Michelin katakan, ia tak boleh sakit agar bisa terus menjaga Rindang.


"Dokter, kami akan memindahkan Cici Rindang." Ujar salah seorang perawat.


Levin meletakkan makanannya meski ia belum selesai, baginya Rindang jauh lebih penting dari pada dirinya sendiri.


"Biar aku yang dampingi Rindang, Ko Levin belum selesai makan." Ucap Khalisa melihat Levin datang. Khalisa menarik selimut hingga menutupi seluruh tubuh Rindang kecuali matanya. Khalisa harus tetap menjaga aurat Rindang.


"Aku harus ikut." Levin memposisikan diri di ujung ranjang bersiap mendorongnya keluar UGD.


"Koko nggak percaya sama aku?" Khalisa menahan ujung yang lain.


"Bukan begitu."


"Benar apa yang Khalisa bilang." Ujar Jonas yang juga akan ikut memindahkan Rindang.


Akhirnya Levin melepaskan pegangannya. Ia melihat Jonas, Khalisa dan tiga perawat lainnya mendorong ranjang Rindang keluar UGD.


Mereka memasuki lift menuju lantai dua dimana Khalisa telah menyiapkan ruangan untuk Rindang. Khalisa mewanti-wanti untuk tak ada perawat laki-laki yang memasuki ruangan Rindang nanti.


"Bukankah dokter Irwan juga harus memeriksa Ci Rindang?" Tanya salah satu perawat.


"Dokter Tiwi akan melakukannya." Khalisa telah memberitahu dokter spesialis penyakit dalam lainnya untuk memeriksa Rindang nanti. Saat ini rumah sakit Kafasa memiliki dua Sp.Pd yakni Tiwi dan Irwan.


Karena Rindang saat ini tak mungkin mengenakan cadar, Khalisa harus memastikan tak ada laki-laki yang melihat Rindang kecuali Levin, Jonas dan Michael.


"Kamu harus tahu betapa paniknya semua orang sekarang, kamu harus pulih Rin." Khalisa mengusap kepala Rindang setelah mereka sampai di ruang rawat. "Tadi kamu bilang udah sarapan padahal belum, lain kali aku nggak bakal percaya sama kamu."

__ADS_1


Khalisa memutar kepala mendengar ketukan pintu, ia melangkah keluar melihat Levin sudah berada di depan ruangan.


"Lebih baik kamu sekarang pulang, aku lihat Azka nggak bisa digendong orang lain, nanti setelah Rindang siuman aku akan hubungi kamu."


"Iya, nanti Koko langsung kasih tahu kalau Rindang bangun."


"Iya."


"Aku pergi dulu." Khalisa pergi dari sana setelah mengucapkan salam pada Levin.


Khalisa menuruni tangga menuju lantai satu, Azka pulang lebih dulu bersama Daniel dan Ica tadi setelah ia tertidur.


"Mau pulang?" Azfan menunggu Khalisa di ujung tangga.


"Iya, takutnya Azka bangun nyariin kita." Khalisa mengambil tas selempangnya yang tergantung di bahu Azfan. "Makasih udah bawain tas aku." Khalisa merogoh tasnya dan mengeluarkan ponsel. "Aku lupa mau ngasih tahu Huma kalau dia nggak perlu nginep di hotel." Ia mengetik pesan pada Huma agar beberapa hari ini menginap di rumahnya.


Khalisa hendak memasukkan ponselnya kembali tapi ia melihat satu pesan masuk dari Naira. Sudah lama sekali mereka tidak bertukar pesan sejak Naira pindah ke Yaman.


Khalisa membelalak melihat pesan yang Naira kirimkan. Naira memberitahu bahwa ia telah menikah dengan laki-laki Yaman satu tahun yang lalu dan sekarang ia dan suami sedang menunggu kelahiran anak pertama mereka. Mata Khalisa berkaca-kaca mengetahui kabar bahagia tersebut.


Maaf, aku baru sempat memberitahu sekarang karena percaya atau enggak aku lupa kalau aku punya ponsel.


Itu kalimat terakhir yang Khalisa baca, "Bi, Naira baru aja ngasih tahu kalau dia udah nikah dan sekarang lagi hamil."


"Alhamdulillah." Azfan ikut senang mendengar kabar tersebut. "Lihat lah Allah pasti selalu menentukan takdir terbaik untuk umat-Nya karena sesungguhnya di balik kesulitan itu ada kemudahan."


Khalisa mengangguk setuju, "dulu Naira terlihat sangat putus asa waktu ngasih tahu kalau dia mau pindah ke Yaman."


"Tapi bersama itu juga Allah memberikan Naira kekuatan."


Khalisa membalas pesan Naira dan memasukkan ponselnya kembali, ia menggandeng tangan Azfan keluar lobi rumah sakit menuju tempat parkir. Mereka harus segera sampai di rumah sebelum Azka bangun.


__ADS_1


Azka: Umma, Azka udah bangun tapi nggak nangis lo


__ADS_2