
Assalamualaikum Pak Daniel, saya mohon izin untuk meminang Khalisa.
Daniel termenung di kursi taman belakang, pandangannya kosong pada kolam yang penuh dengan ikan koi berwarna-warni. Setelah menjadi seorang Ayah, ini adalah hal terberat bagi Daniel ketika ia harus menyerahkan sang anak kepada laki-laki lain.
Masih lekat di pikiran Daniel saat pertama kali mendengar suara tangisan Khalisa yang begitu nyaring lalu ia mengumandangkan adzan di telinga si kecil. Itu adalah adzan pertama yang Daniel lantunkan sejak menjadi mualaf. Setiap malam ia terjaga mengganti popok Khalisa dan menidurkannya kembali setelah menyusu pada Ica. Khalisa adalah permata hati Daniel, cinta keduanya setelah Ica. Kini Daniel harus merelakan Khalisa kecil yang sudah tumbuh menjadi gadis cantik dan periang kepada lelaki lain.
"Cece, Zunai juga mau baca!"
Daniel menyunggingkan senyum mendengar keributan di dalam sana. Khalisa memang hobi menggoda si cerewet Zunaira.
"Melamun aja dari tadi, Pa." Suara Ica membuat Daniel segera menegakkan tubuhnya dan mengusap matanya yang tak terasa sudah basah. Memikirkan Khalisa akan segera menikah membuat Daniel patah hati padahal ia sudah mempersiapkan diri bahwa itu adalah hal yang pasti terjadi pada anak-anak mereka. Suatu hari pasti Azmal juga akan menikahi seorang gadis sedangkan Zunaira dipinang oleh lelaki seperti Khalisa.
"Ada yang mengusik pikiran Papa?" Ica mengusap punggung Daniel dengan lembut, sejak mendapat pesan dari Azfan, Daniel lebih banyak melamun dan Ica menyadari perubahan itu.
Daniel menggeleng tersenyum tipis melihat Ica, ia menatap wajah sang istri yang membuatnya tenang dari segala rasa gundah.
"Aku setuju demi kebahagiaan Khalisa." Gumam Daniel.
"Papa tahu saat bercerita tentang Azfan, Khalisa tampak bersemangat sampai wajahnya memerah, sepasang matanya berbinar-binar."
"Khalisa memang terlihat begitu mencintai Azfan."
"Kita percayakan Khalisa bersama Azfan, ya?"
Daniel mengangguk dan sedetik kemudian ia menjatuhkan diri di pelukan Ica.
"Khalisa anak yang hebat, pernikahan nggak akan mengganggu kuliahnya." Ica mencoba membesarkan hati Daniel meski ia sendiri belum siap melihat Khalisa memiliki kehidupan baru. Namun bukankah Khalisa hanya menikah, Khalisa tak akan pergi kemana-mana.
"Kan Papa sendiri yang bilang kalau Azfan anak baik, tutur katanya juga sopan, inshaa Allah bisa membimbing Khalisa menjadi lebih baik."
Daniel mengurai pelukan, entah kenapa setiap kata yang keluar dari mulut Ica membuatnya terasa damai. Daniel mengusap pipi Ica lembut dan mengucapkan terimakasih karena telah melahirkan anak-anak yang luar biasa serta mendidik mereka menjadi anak yang baik.
"Papa mandi gih." Pinta Ica.
"Aku udah mandi lo Ma sebelum shalat dhuhur tadi."
"Mandi lagi, mau ketemu calon besan lo." Canda Ica yang membuat Daniel tertawa. Daniel hanya perlu mengganti sarung dan kaos oblong nya dengan pakaian formal.
Azfan sekeluarga diperkirakan akan datang pukul setengah 5 sore. Mereka telah menyiapkan hidangan untuk disuguhkan pada Azfan dan keluarganya sekaligus buka puasa bersama.
Mereka telah berdiskusi tentang acara khitbah itu sejak seminggu yang lalu. Mereka menunggu hingga jadwal kuliah Khalisa dan Azfan tidak terlalu padat serta bisa diikuti secara daring.
"Aku lihat Khalisa dulu, dari tadi dia masih ribut sama Zunai." Ica beranjak sementara Daniel mengekorinya di belakang.
"Cece, mau pakai baju yang mana?" Ica memastikan sekali lagi gamis yang hendak Khalisa pakai.
"Mama bilang yang hijau lebih bagus jadi pakai itu aja." Khalisa mengalihkan pandangan dari buku pada Ica, ia sedang membaca kisah 25 nabi bersama Zunai. Azmal juga tengah fokus pada bukunya di sudut ruang tengah, ia memang lebih suka menyendiri.
"Itu suara mobil siapa?" Azmal mengangkat wajahnya dari buku mendengar suara deru mobil di halaman rumah.
"Jangan-jangan mereka dateng." Daniel yang tadinya hendak duduk di antara Khalisa dan Zunaira mengurungkan niatnya.
__ADS_1
"Khalisa belum ganti baju." Khalisa ikut panik, apakah pesawat mereka landing lebih cepat dari jadwal tapi itu tidak mungkin.
"Biar Azmal lihat." Azmal meletakkan bukunya dan berlari ke ruang tamu.
Sedangkan Daniel dan Ica segera menaiki tangga menuju lantai dua untuk mengganti pakaian.
"Ama!" Teriakan Zunaira menghentikan langkah Daniel dan Ica yang tengah menaiki anak tangga. Mereka kembali turun dan bisa bernapas lega setelah melihat Renata, Jaya, Umar dan Aisyah.
"Kenapa wajah kalian seperti itu?" Jaya melihat Daniel dan Ica yang memasang wajah panik.
"Kami pikir Azfan dan keluarganya sudah datang sedangkan kami belum ganti baju." Jawab Ica, ia mencubit lengan Daniel yang menahan tawa karena kebodohan mereka barusan.
"Cucu Ama sudah dewasa." Renata memeluk Khalisa sangat lama, ia tidak menyangka bahwa Azfan akan melamar Khalisa secepat itu padahal saat mereka bertemu beberapa waktu lalu, Azfan masih malu-malu untuk menunjukkan perasaannya.
"Semoga Ama dan Akong sehat terus ya." Khalisa mencium pipi Renata, ia juga memeluk Jaya lama.
Khalisa menuntun mereka duduk di ruang tengah. Renata enggan ditinggal Khalisa seolah-olah cucunya itu akan pergi jauh setelah ini. Padahal Khalisa sudah terbiasa berada jauh dari mereka tapi mendengar gadis itu akan segera dilamar maka sebentar lagi status Khalisa akan berubah menjadi seorang istri.
"Khalisa, maafkan sikap Kafa." Aisyah berdiri dengan lututnya menggenggam tangan Khalisa untuk meminta maaf karena Kafa telah bersikap lancang terhadap Azfan. Meski Kafa beralasan itu semua untuk kebaikan Khalisa tapi Aisyah dan Umar tidak bisa membenarkan sikap tersebut.
"Ai, jangan begini." Khalisa menarik tangan Aisyah agar berdiri, "Khalisa sudah memaafkan Kafa tapi sejak hari itu kami belum ketemu jadi Khalisa nggak bisa bicara berdua dengan Kafa, telepon Khalisa juga nggak diangkat."
"Mungkin dia juga sudah mendengar kabar ini sehingga Kafa makin nggak mau ketemu kamu."
"Nanti Khalisa coba bujuk Kafa." Khalisa menepuk punggung tangan Aisyah untuk menenangkannya. Mereka biasa bertengkar seperti itu tapi semakin tumbuh dewasa maka Kafa jadi sulit memaafkan meski ia dulu yang memulai.
"Kamu ganti baju gih, pakai sedikit riasan juga nggak apa-apa khusus hari ini." Aisyah menepuk lengan Khalisa dua kali dan mengulas senyum.
"Papa kamu emang gitu." Aisyah geleng-geleng mengetahui sifat Daniel yang overprotektif terhadap Khalisa dan Zunaira, katanya anak perempuan harus lebih dijaga.
"Azfan nggak kaget kalau ada kami juga disini?" Umar menghempaskan tubuhnya ke sofa. Ia masih ngantuk karena menghadiri pengajian usai subuh tadi tapi ia juga harus tetap hadir disini untuk melihat calon suami Khalisa.
"Nggak apa-apa, sekalian latihan mental, belum aja ketemu anggota keluarga lain." Khalisa terkekeh pelan, jika sudah Imlek maka ia yakin Azfan akan kaget melihat keluarga besarnya berkumpul. Mereka berjumlah puluhan dan harus booking gedung agar cukup menampung semuanya.
Kakek dan nenek Khalisa juga datang hari itu untuk menyaksikan lamaran sang cucu pertama. Mereka juga ingin mengenal sosok lelaki yang telah membuat Khalisa jatuh hati. Pasti lelaki itu sangatlah istimewa sehingga Khalisa mau melamarnya lebih dulu.
******
Azfan tak pernah mengira bahwa ia akan menginjakkan kaki di Banyuwangi lagi dalam rentang waktu yang dekat dengan saat dirinya pertama kali kesini. Mengandalkan alamat yang Khalisa berikan melalui pesan, kini mereka berada di depan rumah dua lantai dengan 4 pilar di bagian depan.
Azfan turun dari mobil yang ia sewa dari bandara menuju rumah Khalisa yang ternyata jaraknya cukup dekat.
"Aduh rumahnya bagus sekali, Fan." Kirana ikut turun diikuti Adi. "Ibu jadi takut." Ia heran kenapa anaknya itu tidak jatuh cinta pada gadis yang sama dengan mereka.
Azfan hanya tersenyum samar karena ia juga terkejut melihat rumah Khalisa. Namun Azfan telah melangkah sejauh ini maka rumah itu tak bisa menjadi alasan baginya untuk memutar balik.
"Maaf Pak, benar ini rumah Khalisa?" Tanya Azfan pada seorang satpam yang menjaga gerbang.
"Benar, dengan Mas Azfan ya, langsung masuk aja Mas."
"Baik, terimakasih Pak." Azfan memberi kode pada Tris untuk masuk ke halaman.
__ADS_1
Pintu rumah terbuka bersamaan dengan Daniel dan Ica yang muncul dari balik pintu menyambut kedatangan Azfan dan keluarga.
"Assalamualaikum." Ujar mereka yang langsung dijawab oleh Daniel dan Ica. Mereka saling berjabat tangan dan menanyakan kabar masing-masing dengan ramah.
"Apa kabar Ama?" Azfan menyapa Renata dan seorang lelaki berusia 80 tahunan yang ia duga adalah Jaya, Akong Khalisa. Azfan juga menjabat tangan kakek dan nenek Khalisa.
"Saya suk-suk nya Khalisa." Umar memperkenalkan diri pada Azfan karena ini pertemuan pertama mereka berbeda dengan Aisyah yang sudah pernah bertemu Azfan.
"Ustadz Umar?" Azfan tidak asing dengan wajah itu karena beberapa kali ia mengikuti pengajian yang dipimpin oleh Umar.
"Kamu mengenal saya?"
"Saya beberapa kali menghadiri pengajian Ustadz." Azfan tak mengira bahwa Umar adalah paman Khalisa. Rasa minder semakin menguasai diri Azfan karena keluarga Khalisa bukan orang sembarangan.
"Masya Allah, lain kali kita bisa pergi sama-sama." Ujar Umar.
Azfan mengangguk samar dan tersenyum kaku.
Azfan cukup terkejut karena ia hanya datang berempat dengan ibu, Adi dan Tris tapi mereka disambut tak hanya oleh Daniel dan Ica tapi juga Akong, Ama, Kakek, Nenek Khalisa dan Aisyah serta Umar. Azfan menggenggam tangannya sendiri yang dingin seperti es, ia gugup luar biasa sejak masih berada di pesawat. Ia datang hanya bermodalkan cincin dan seserahan sederhana berupa pakaian, sepatu dan seperangkat alat sholat berdasarkan permintaan Khalisa.
"Saya dengar beberapa waktu lalu Azfan memenangkan lomba MTQ di Turki, kamu luar biasa." Daniel berusaha mencairkan suasana.
Azfan hanya tersenyum, fakta itu tetap saja tidak bisa menghilangkan rasa gugupnya. Seingatnya ia tak merasa se-gugup ini saat berdiri di hadapan para juri dan peserta lain di Turki. Namun sekarang rasanya ia ingin pingsan.
Khalisa mengintip dari balik dinding yang membatasi ruang tengah dan ruang tamu, meski tak terlalu jelas karena jaraknya cukup jauh tapi ia bisa melihat wajah gugup Azfan. Khalisa memegangi dadanya yang bergemuruh, apakah hari ini benar-benar terjadi atau hanya mimpi? Khalisa belum percaya.
"Mari Khalisa." Aisyah menjemput Khalisa agar bergabung dengan mereka di ruang tamu.
Khalisa mengenakan kaftan hijau muda yang dipadukan dengan pashmina berkelir senada tampak anggun meski tanpa riasan di wajahnya.
Untuk sesaat Azfan terkesima pada Khalisa yang memancarkan kecantikan dari dalam dirinya. Namun ia buru-buru menunduk, belum halal untuk menatap Khalisa lama. Jika hubungan mereka telah halal maka Azfan akan menghabiskan sepanjang malam untuk menatap wajah itu.
"Alhamdulillahi rabbil alamin kita semua diberi kesempatan untuk berkumpul disini dengan keadaan sehat wal afiat." Tris membuka acara khitbah tersebut setelah Daniel mempersilakannya. Tris membaca shalawat nabi sebelum mengutarakan niatnya datang kesini. "Kedatangan kami kesini adalah untuk melamar putri Bapak Daniel Alindra yakni Khalisa Syanin Alindra untuk Azfan Khuffa Ameezan."
"Silakan Khalisa." Ucap Umar.
"Bismillahirrahmanirrahim, Papa dan Mama yang Khalisa sayangi," Khalisa melihat Papa dan Mama nya yang memasang senyum paling manis, ia begitu bahagia memiliki orangtua Daniel dan Ica yang telah mendidiknya hingga menjadi seperti sekarang. Mereka adalah orang paling berjasa dalam kehidupan Khalisa, dua orang yang tak pernah menyerah demi kebahagiaan Khalisa dan adik-adiknya. Mereka adalah cinta pertama Khalisa yang posisinya tak akan tergantikan oleh siapapun.
"dengan memohon Ridho Allah subhanahu wata'ala dan restu Papa dan Mama, Akong, Ama, Kakek dan Nenek," Khalisa mengedarkan pandangan pada Renata, Jaya dan Kakek serta Neneknya. Mereka telah melimpahkan kasih sayang yang begitu besar terhadap Khalisa. Mengajarkan Khalisa banyak hal dari kecil.
Khalisa menarik napas dalam sebelum melanjutkan kalimatnya, sekilas ia melihat wajah Azfan begitu tenang seperti tidak sabar pada jawaban yang akan ia berikan. Khalisa tergelitik melihat ekspresi cowok itu,
"Khalisa bersedia menerima lamaran Azfan." Lanjutnya dengan suara lantang.
"Alhamdulillah." Ucap Azfan, Tris, Kirana dan Adi bersamaan.
Kirana menyematkan cincin yang untungnya sangat pas di jari manis Khalisa. Cincin itu tersemat amat cantik di jari Khalisa yang lentik dan putih bersih.
Mereka menentukan tanggal pernikahan yakni dua hari setelah Idhul Fitri. Mereka berdoa demi kelancaran semuanya hingga hari pernikahan tiba dan berharap Allah melindungi Khalisa dan Azfan hingga hubungan mereka halal.
__ADS_1