Mahabbah Cinta Khalisa

Mahabbah Cinta Khalisa
143


__ADS_3

Semilir angin menggoyangkan pepohonan di pinggir pantai membawa hawa panas sekaligus sejuk pada saat yang bersamaan. Matahari mulai meninggi di langit biru tanpa awan. Prakiraan cuaca mengatakan hari ini cerah, tak ada tanda-tanda akan turun hujan.


Di bawah pohon Ketapang, Khalisa tengah menikmati pemandangan pantai dengan duduk di ayunan yang terbuat dari kayu. Dulu saat masih kanak-kanak, Khalisa selalu beristirahat di ayunan setelah lelah bermain bola dengan Kafa, Azmal, Geza dan Rindang. Tak peduli pada matahari yang menyengat permukaan kulit, mereka tetap bermain di siang bolong. Karena sejak kecil Khalisa selalu bermain dengan Kafa, ia lebih sering main bola dari pada boneka.


Pantai Bomo telah menjadi sahabat Khalisa sejak kecil. Disinilah ia sering menghabiskan waktu selain di rumah Jaya dan Renata. Dibandingkan Alindra Carnival, Khalisa dan Kafa lebih menyukai pantai dan itu berlaku hingga sekarang.


Bayangan Kafa dan Azmal kecil kejar-kejaran masih jelas teringat di benak Khalisa. Tiba-tiba Khalisa teringat saat ia dan Azmal mendapat kabar bahagia bahwa mama mereka hamil lagi. Saat itu Khalisa berusia 12 tahun dan Azmal 7 tahun. Khalisa amat gembira mendengar bahwa ia akan memiliki adik lagi. Sedangkan Azmal terlihat biasa saja tapi diam-diam ia menyentuh perut mama nya. Azmal terlihat dingin di luar tapi sebenarnya hatinya begitu hangat seperti mentari pagi.


"Umma!"


Khalisa mengerjapkan matanya melihat ke arah Azfan yang melangkah ke arahnya sambil menggendong Azka. Khalisa tersenyum lebar beranjak dari ayunan kayu yang tidak bergerak. Mata Khalisa melebar melihat kaki Azka penuh dengan pasir begitupun dengan popoknya. Khalisa geleng-geleng, kenapa Azfan melepas celana Azka hingga pasir pantai masuk ke popok si kecil. Kalau sudah kotor begitu, pasti tugas Umma yang harus membersihkannya padahal Azka bermain dengan sang Abi.


"Ya ampun kok kotor semua sih Bi?" Khalisa menatap Azfan kesal.


"Azka seneng tuh main disana tadi." Azfan menunjuk pada tumpukan mainan di pinggir pantai yang juga kotor setelah ia dan Azka bermain pasir.


"Kenapa Abi lepas celananya?"


"Biar nggak basah."


"Tapi pasirnya masuk ke dalam popoknya, ih Abi gimana sih?" Khalisa menatap Azka yang justru tertawa girang meski kakinya penuh pasir.


Azfan hanya menahan tawa melihat ekspresi kesal Khalisa, ia tak punya pilihan saat Azka ingin bermain pasir. Azfan tak bisa melarangnya karena ini pertama kalinya Azka bermain di pantai.


Wajah Khalisa memerah saat marah dan itu sangat menggemaskan di mata Azfan, jarang ia bisa melihat pemandangan ini.


"Sini sama Umma, Azka harus mandi ya." Khalisa mengulurkan tangan.


"Nggak apa-apa, biar aku yang mandiin." Azfan tak mau membuat Khalisa semakin kesal, ia harus bertanggungjawab memandikan Azka.


Khalisa mengerucutkan mulut melihat Azfan yang masih setia memasang senyum manis—manis seperti madu.


"Tuh Azka masih mau main."


Azka melihat ke arah bawah sambil menunjuknya dengan rengekan. Rupanya ia belum puas main pasir.


"Bikin istana sama Abi ya, Umma nggak mau takut kotor katanya." Azfan setengah berlari meninggalkan Khalisa, ia kembali ke arah tumpukan mainan plastik yang dulunya milik Khalisa lalu Zunaira dan sekarang menjadi milik Azka.


Khalisa tertawa melihat Azfan dan Azka, ia tak bisa kesal lebih dari 10 menit pada Azfan. Khalisa hanya bisa pasrah saat Azka kembali bermandikan pasir bercampur air laut.


Akhirnya Khalisa menyusul Azfan dan Azka untuk membuat istana pasir. Saat masih kecil dulu Khalisa paling mahir membuat istana pasir bersama Rindang dan Kafa yang jahil akan merusak istana mereka dengan air.


"Siapa bilang Umma takut kotor, ayo lomba bikin istana pasir sama Umma yang kalah bakal mandiin Azka."


Azfan menatap Khalisa tak percaya, awalnya ia ingin menolak tapi itu akan membuat Khalisa kecewa. Azfan pun menyetujui ide tersebut. Mereka berlomba membuat istana, lagi pula hukumannya juga menyenangkan.


Dari balik jendela Rindang memperhatikan Azfan dan Khalisa yang sedang bermain pasir bersama Azka. Rindang ikut tertawa saat Khalisa dan Azfan tertawa, mereka terlihat sangat bahagia.


"Lihatin apa?" Levin muncul dari kamar mandi, ia mengibaskan rambutnya yang basah usai mandi. Levin ikut melihat keluar jendela karena penasaran apa yang membuat Rindang senyum-senyum sendiri. "Kamu main pasir juga?"

__ADS_1


Rindang menggeleng, "aku denger Khalisa ngomel gara-gara Azfan bikin Azka kotor."


Levin tersenyum lebar, "terus?"


"Bukannya buruan dibersihin Azfan justru lanjut main pasir terus kayaknya Khalisa nggak punya pilihan jadi dia ikut main."


"Kalau aku jadi Azfan juga pasti bakal lanjut main karena mereka jarang bisa liburan ke pantai."


Rindang membalikkan badan menatap Levin yang masih melihat keluar jendela.


"Koko mau punya anak?"


"Hm?" Levin mengalihkan perhatian pada Rindang, "kenapa tiba-tiba nanya itu?"


Rindang terdiam tanpa mengalihkan perhatian dari Levin, ia menunggu jawaban.


"Bagaimana denganmu?"


Rindang menggeleng samar, ia juga tak tahu. Jika Levin menginginkan anak maka Rindang akan berusaha sebisa mungkin meskipun ia tahu rasanya akan sangat menyakitkan. Katanya seorang ibu akan menjadi sangat kuat demi sang anak.


"Aku ingin tapi kesehatan kamu lebih penting dan aku nggak mau kamu menderita dan kesakitan untuk mewujudkannya, kita bisa adopsi anak."


"Adopsi?"


"Ya, kita akan merawatnya seperti anak sendiri dan membesarkannya dengan penuh kasih sayang."


"Rindang," Levin menangkup pipi Rindang, "aku ingin hidup lama sama kamu."


Setelah Rindang diperbolehkan pulang dari rumah sakit, ia dan Levin menginap beberapa hari di resor Jinggo. Ini adalah hadiah honeymoon dari Daniel dan Ica untuk mereka. Sebenarnya Rindang dan Levin sama sekali tidak memiliki rencana honeymoon tapi mereka tak bisa menolak hadiah dari Daniel dan Ica yang sudah Rindang anggap seperti orangtuanya sendiri.


"Ayo aku bantu keringin rambut kamu." Levin mengurai pelukan, ia mengambil hair dryer di bawah nakas. Levin mempersilakan Rindang duduk menghadap kaca meja rias sementara ia mengeringkan rambut. "Rambut kamu panjang banget."


"Iya, udah lama nggak potong rambut karena nyari salon yang khusus perempuan dan tempatnya tertutup itu susah banget Ko."


"Kamu nggak warnai rambut lagi?" Levin menyibak rambut Rindang agar lebih cepat kering.


"Udah enggak, kalau dulu kan ada tuntutan pekerjaan jadi mau nggak mau harus sering warnai rambut dan akhirnya jadi hobi."


"Jason juga bilang kalau dia udah nggak warnai rambutnya." Levin tiba-tiba mengingat pertemuannya dengan Jason beberapa waktu yang lalu.


"Kapan Koko ketemu Levin?" Rindang mengerutkan kening, ia tak tahu jika Levin bertemu Jason.


"Sebelum berangkat kesini."


"Buat apa nemuin dia?"


"Aku cuma bilang kalau kamu dan aku akan menikah."


"Aku udah nggak ada hubungan apapun sama dia, harusnya Koko nggak perlu bilang."

__ADS_1


"Aku mau memperjelas semuanya supaya nggak ada kesalahpahaman jadi Jason nggak akan berharap lagi." Levin mematikan hair dryer, "makasih Rindang karena udah pilih aku." Ia mengecup pipi Rindang dari belakang.


"Aku yang harusnya berterimakasih." Rindang membalas kecupan Levin tapi bukan di pipi, ia memilih bibir kemerahan Levin yang anehnya terasa manis. Rindang merasa dirinya semakin aneh setelah menikah, pertama keringat Levin beraroma wangi dan sekarang bibir Levin terasa manis. Apakah jatuh cinta memang selalu tak masuk akal.


"Koko keringin rambut juga, aku mau ganti baju, kita siap-siap ke bawah." Rindang beranjak dari kursi dan mendorong punggung Levin agar duduk menggantikan posisinya.


"Mau kemana?"


"Tante Ica ngajak kita sarapan bareng, Tante Dianis mau masak spesial buat kita, Koko harus cobain masakan dia."


"Siapa?"


"Tante Dianis mama nya Geza, dia juga ketua chef disini, tahu nggak?"


"Dari pada Tante Dianis, aku lebih penasaran sama masakan kamu." Bukannya mengeringkan rambut, Levin justru memutar badan mengikuti Rindang yang sibuk memilih pakaian.


"Koko jangan berharap terlalu tinggi karena masakan ku standar aja dan aku cuma bisa masak beberapa makanan tertentu, nggak semua karena aku juga nggak bisa makan banyak jenis makanan kan."


"Nggak masalah, kita bisa beli makan di luar dan kalau lagi pengen kamu bisa masak sesekali."


Rindang tersenyum lebar membalikkan badan melihat Levin yang masih memegang hair dryer.


"Koko jangan ngalah terus, sekali-kali harus nuntut sesuatu dari aku."


"Emang boleh?"


"Boleh, Koko suamiku."


"Kalau gitu aku minta segini nanti malam." Levin mengacungkan 5 jarinya.


Rindang mendelik, "banyak banget, segini aja." Ia menutup dua jari Levin lainnya sehingga tersisa tiga.


"Ya udah segini." Levin kembali membuka jari telunjuknya.


"Sepakat!" Rindang menyalami Levin seolah mereka baru saja selesai berdiskusi tentang pekerjaan lalu menyepakati keputusan bersama.


Levin tersenyum puas lalu kembali memutar badan menghadap cermin untuk mengeringkan rambutnya. Sementara itu Rindang mengganti pakaian sebelum mereka turun ke lantai satu untuk sarapan bersama. Rindang tak sabar ingin menyantap masakan Dianis, ia merindukan hidangan lezat Dianis.







__ADS_1


Azka bahagia banget abis main pasir, tenang Abi tanggung jawab kok untuk mandiin Azka biar Umma nggak marah


__ADS_2