
Azfan mengusap-usap wajah Khalisa yang berada di pangkuannya sambil melantunkan surat Al-Baqarah usai shalat subuh. Mata Khalisa tampak bengkak karena banyak menangis selama tahajud tadi. Itu bukan tangisan kesedihan melainkan kebahagiaan dan rasa syukur yang tak terhingga karena Allah telah mempercayakan mereka untuk segera memiliki keturunan.
Cinta Allah benar-benar tak terhingga jumlahnya. Meskipun Khalisa sering mengeluh dan mengadu atau bahkan berpikir bahwa Allah tidak adil padanya karena cepat memberikan keturunan pada sebagian pasangan dan tak segera memberikan hal itu padanya, tapi Allah sama sekali tidak marah. Allah tetap berlemah lembut merengkuh Khalisa dengan kasih sayang yang banyak.
Begitupun dengan manusia lain ketika mereka berpikir Allah tidak adil, Allah tetap memberikan kasih sayang dan rahmat yang amat luas. Cara manusia menerima cinta Allah memang berbeda-beda. Kadang kita harus berhenti sejenak dan berpikir apa yang telah Allah berikan kepada kita. Tentu kita tidak dapat menghitungnya tapi yang jelas anugerah dan ampunan Allah jauh lebih banyak dari dosa-dosa kita. Maka jangan pernah berputus asa terhadap rahmat-Nya.
Bahkan neraka yang panas pun lahir karena Allah yang Maha Cinta. Seperti mesin cuci, neraka akan membersihkan dosa manusia sebelum memasukkannya ke surga.
"Aku nggak tidur Mas." Khalisa membuka mata ketika Azfan hendak mengangkat tubuhnya, pasti Azfan hendak memindahkannya ke tempat tidur.
Azfan tersenyum mengecup kening Khalisa, ia pikir istrinya itu tidur karena dari tadi tidak bergerak dan tak membuka mata.
"Aku lagi fokus dengerin bacaan Mas Azfan."
"Apa ada yang salah sayang?" Tanya Azfan lembut.
Khalisa mengangkat kepalanya dari pangkuan Azfan lalu menggeleng, "nggak ada sama sekali."
"Haura nangis lagi?" Azfan menangkup pipi Khalisa mengusap matanya yang basah.
"Ya Rabb kami, jangan sampai Engkau hukum kami bila kami lupa atau kami salah. Ya Rabb kami, jangan sampai Engkau bebankan pada kami beban yang berat seperti Engkau bebankan pada orang-orang sebelumnya kami. Ya Rabb kami, janganlah Engkau pikulkan kepada kami apa yang tidak mampu kami menanggungnya. Maafkanlah kami, ampunilah kami, serta rahmatilah kami. Engkaulah Penolong kami, jadi tolonglah kami terhadap kaum yang kafir." Khalisa menyebutkan sebagian arti dari surat Al-Baqarah ayat 286, terjemahan ayat yang sudah dihafalnya sejak lama.
"Itu hadiah Allah untuk Rasulullah shalallahu alaihi wa salam."
"Maha suci Allah." Khalisa memeluk Azfan erat, kehadiran Azfan di hidupnya juga merupakan wujud cinta Allah kepadanya. Azfan adalah laki-laki yang akan selalu membimbing Khalisa untuk meraih cinta Allah bersama-sama. "Allah memberikan kita lidah yang tidak bertulang agar tidak merasa lelah untuk berdzikir kepada-Nya."
"Masya Allah istriku yang shalihah."
Khalisa mengurai pelukan. Mereka saling berpandangan menyelami hati masing-masing.
"Hp Mas Azfan bunyi tuh." Khalisa melirik nakas dimana ponsel mereka berada.
Azfan beranjak dari atas sajadah untuk mengambil ponselnya. Jika ponsel Khalisa bergetar hampir setiap saat karena ratusan pesan dari grub chat maka berbeda dengan ponsel Azfan yang selalu sepi seperti gua. Jadi sekali berdenting berarti ada satu pesan penting masuk ke ponsel itu.
Khalisa melipat sajadah dan melepas mukena nya lalu meletakkannya ke tempat semula. Ia keluar kamar untuk mengecek stok bahan makanan di kulkas, apakah yang bisa dimasaknya hari ini.
Khalisa tersenyum saat melihat kulkasnya kosong, hanya ada satu wadah es batu berbentuk kotak-kotak. Itu adalah pemandangan yang hampir tidak pernah dilihatnya dulu sebelum menikah. Namun sekarang itu adalah pemandangan yang biasa dan Khalisa harus membiasakan diri. Kabar baiknya adalah Khalisa tidak pernah memiliki buah-buahan yang membusuk di dalam kulkas karena ia harus menghemat pengeluaran dan membeli buah secukupnya. Menikah dengan Azfan mengajarkan Khalisa banyak hal seperti menekan pengeluaran dan menyimpannya untuk kebutuhan lain.
Khalisa menyusun bunga-bunga pada botol kaca dan meletakkannya di meja makan. Itu adalah bunga pemberian orang-orang saat dirinya di rumah. Khalisa membawa pulang semua bunga segar itu kesini. Ia bisa mengeringkan dan menyimpan bunga-bunga tersebut.
"Kenapa senyum-senyum begitu?" Khalisa melihat Azfan datang dengan senyum merekah di wajahnya. Ia mencuci tangan setelah menyusun bunga Gerbera dan Lily menghampiri Azfan.
"Alhamdulillah ada yang pesen kaligrafi kita bukan satu tapi tiga sekaligus dan beliau mau ukurannya 1 meter." Azfan menjelaskan dengan antusias dan wajah berseri-seri.
Khalisa mencuci tangan lalu memegang kedua tangan Azfan, ia tersenyum lebar karena meskipun itu kaligrafi sepenuhnya buatan tangan Azfan, tapi Azfan selalu menyebutnya kaligrafi kita.
"Alhamdulillah Mas, nanti aku temenin Mas Azfan di toko karena pasti bikinnya sampai malam kan dan nggak akan selesai dalam satu hari."
"Geza mau bantuin aku bikin kaligrafi."
"Geza?"
"Iya waktu itu dia pernah nyoba mewarnai kaligrafi yang udah aku bikin sketsanya dan aku lihat Geza berbakat jadi aku minta dia untuk bantu aku di toko dan anaknya setuju, katanya lumayan untuk nambah uang jajan soalnya Tante Dianis masih nggak mau ngasih dia uang lebih."
Khalisa tertawa, Dianis memang paling tega memberi hukuman sekalipun itu pada anaknya sendiri. Itu karena Geza tidak mau menuruti kemauan orangtunya untuk kuliah Manajemen Bisnis Perhotelan.
"Ini rezeki anak kita." Azfan mengusap kepala Khalisa dan mengecup keningnya. Ia juga memberikan ciuman pada perut Khalisa yang masih rata. "Masak apa hari ini?"
"Nggak ada apa-apa di dalam kulkas, aku tiba-tiba pengen makan nasi kuning yang di pasar Pakem."
"Ayo pergi." Tukas Azfan meskipun ia tahu pasar itu masih akan buka satu jam lagi. Mereka bisa jalan-jalan sebentar di sekitar situ sambil menunggu pasar buka.
"Aku siap-siap dulu." Kata Khalisa bersemangat.
"Ya udah, aku keluarin motor dulu ya." Azfan melangkah meninggalkan dapur untuk mengeluarkan motor dan memanaskan mesinnya.
Jarak rumah kontrakan mereka dengan pasar Pakem hanya sekitar 3 kilometer. Mereka jarang berbelanja disana karena ada pasar yang lebih dekat dari rumah. Namun karena Khalisa ingin makan nasi kuning disana maka Azfan langsung menurutinya meski pasar tersebut belum buka. Azfan melakukan itu bukan karena Khalisa hamil, sebelumnya ia juga akan langsung menuruti permintaan Khalisa selama dirinya mampu.
"Sayang, ruko ini bagus ya." Khalisa menunjuk sebuah ruko di kiri jalan yang mereka lalui.
"Iya rukonya baru jadi dan masih kosong juga."
__ADS_1
"Bagus untuk jadi tempat Taman Tahfidz kita nanti kalau sudah ada rezeki."
"Aamiin, semoga uangnya lekas terkumpul."
Uang mereka untuk membuka bimbingan memang belum terkumpul tapi mereka sudah mulai memberi nama terhadap bimbingan tersebut yakni Taman Tahfidz. Azfan juga mulai mencari pembimbing yang kompeten agar anak-anak tersebut tak hanya menghafal tetapi juga menjadikan Al-Qur'an sebagai pedoman hidup.
Azfan menghentikan motornya di area parkiran pasar yang masih sepi. Khalisa mengeluarkan ponselnya setelah turun dari motor, ia akan mencatat belanjaannya agar tidak bingung saat masuk ke pasar nanti.
Azfan membantu Khalisa melepas helm dan merapikan jilbab sang istri.
"Makasih Mas." Ucap Khalisa. Ia melihat ada satu pesan masuk dari Naira yang dikirim beberapa menit lalu. Khalisa membaca pesan itu lebih dulu.
Assalamualaikum Khalisa, kemarin aku ke rumah tapi kamu nggak ada. Aku mau minta tolong bikinin baju kalau kamu ada waktu. Sebelum berangkat ke Yaman, aku mau bawa baju bikinan kamu untuk kenang-kenangan.
Pesan itu dikirim beserta satu foto gamis berwarna hitam dengan aksen mutiara di sepanjang pinggang hingga kaki. Tanpa berpikir dua kali Khalisa menyanggupi permintaan Naira. Ia akan berusaha membuat pakaian yang Naira inginkan sebagus mungkin.
"Mas Azfan kelas pertama nanti jam berapa?"
"Jam delapan."
"Kalau gitu belanjanya sedikit aja, takutnya Mas Azfan telat masuk kelas."
"Yang penting Haura bisa makan nasi kuning itu."
Begitu warung nasi kuning yang Khalisa inginkan buka, mereka pergi kesana dan memesan dua porsi nasi kuning sebagai sarapan pagi ini. Nasi kuning menjadi menu favorit Khalisa sejak awal kuliah dulu karena selain enak, mereka mudah ditemukan dimana-mana.
******
Kafa melepas kacamata nya begitu keluar dari laboratorium setelah 3 jam melakukan praktikum bersama teman-teman seangkatannya. Ia memijit pelipisnya yang terasa berdenyut akibat praktikum yang benar-benar memeras otaknya hingga kering.
"Kafa, makan siang dimana?" Salah seorang teman perempuan Kafa menepuk bahu Kafa dari belakang, ia berusaha menyamakan langkah Kafa yang lebar-lebar.
Kafa tidak segera menjawab karena ia belum sempat berpikir tentang makan siang nya. Biasanya ia akan keluar kampus untuk mencari makan siang, ia jarang makan di kantin karena tempat itu selalu penuh saat jam istirahat.
"Belum kepikiran." Jawab Kafa singkat.
"Itu mawar buat siapa?" Gadis itu melirik buket bunga berwarna merah muda peach di tangan Kafa.
Kafa sedikit mengangkat buket tersebut, "ini bukan mawar."
Kafa tersenyum miring, jelas-jelas mawar dan peony jauh berbeda. Kafa mempercepat langkah agar teman sekelasnya itu tidak lagi mengikutinya. Ia jelas menunjukkan ekspresi tidak suka terhadap gadis itu. Beberapa hari ini ia selalu mengikuti Kafa dan mengajaknya ngobrol padahal meski berada di jurusan yang sama, obrolan mereka tidak nyambung. Contohnya seperti mawar dan peony yang membuat Kafa makin tidak suka terhadap gadis itu. Tidak. Kafa memang tidak menyukai siapapun disini.
"Ahh!" Suara pekikan seorang gadis terdengar ketika Kafa tidak sengaja menabraknya. Keduanya jatuh tersungkur menyentuh paving.
Suara itu tidak asing di telinga Kafa tapi itu bukanlah suara yang membuatnya gembira, sebaliknya ia kesal hanya dengan mendengar suara tersebut. Kafa mendelik melihat buket bunganya jatuh ke dalam selokan. Ia merangkak melihat keadaan buket bunganya yang sudah tidak cantik lagi. Dada Kafa kembang kempis menahan emosi. Ia sudah memesan buket Peony itu dari kemarin untuk diberikan pada Khalisa. Kafa hendak memberi ucapan selamat pada Khalisa atas kehamilannya.
"Mahira!" Kafa meneriakkan nama gadis itu dengan lantang. Kenapa Manira selalu mengacaukan hidup Kafa yang indah. Semuanya berjalan lancar sejak Kafa bangun tidur sampai ia bertemu Mahira dan ketenangan hidupnya menguap terbawa angin.
Mengapa dari sekian banyak orang, Kafa harus selalu bertabrakan dengan Mahira. Ini bukan pertama kalinya mereka bertabrakan.
"Ya ampun Kafa." Mahira melongo bukan karena ia menjatuhkan buket bunga Kafa tapi—"akhirnya kamu inget nama ku!" Katanya dengan dramatis seolah jika Kafa menyebut namanya akan ada keajaiban yang terjadi.
Kafa beranjak membersihkan debu yang mengotori jubah putih dan celananya, "aku nggak mau tahu ganti buket ku sekarang juga!" Teriaknya penuh emosi hingga gadis yang dari tadi berdiri di belakangnya kabur karena takut terkena imbas amukan Kafa.
Mahira sama sekali tidak gentar melihat Kafa marah karena ia sudah sering menghadapi Kafa yang suka membentak orang. Mahira meraih buket tersebut dan ikut beranjak.
"Lima tangkai Peony, dua Lily dan tiga Krisan." Mahira mengabsen nama tiga bunga pada buket milik Kafa tersebut. "Nggak lebih dari 100 ribu kan." Katanya bangga.
"Gila!" Kafa mengumpat, ia bahkan menghabiskan lebih dari 500 ribu untuk mendapatkan Peony segar yang diimpor langsung dari Jepang. Kafa mengomel dengan bahasa Mandarin yang tidak Mahira mengerti.
Ekspresi Mahira langsung berubah, ia mengerjapkan matanya dua kali dan maju selangkah.
"Jadi berapa, nggak mungkin 30 ribu dong?"
Kafa juga maju selangkah hingga jarak mereka hanya sekitar 30 centimeter.
"Tujuh ratus delapan puluh!" Kalimat Kafa dengan penuh penekanan.
Mahira melongo mendengar angka yang Kafa ucapkan, tanpa sadar mulutnya terbuka untuk beberapa saat. Mahira bahkan bisa mencium aroma napas Kafa yang berbau mint, permen apa yang ia makan? Happydent, Fisherman's Friend, Hexos, Relaxa atau Lotte Xylitol. Tidak tahu. Mahira tidak mau memikirkan nama permen yang Kafa makan. Seharusnya Mahira lebih memikirkan nasibnya karena telah merusak bunga seharga lebih dari setengah juta. Apakah Kafa membohonginya? tidak mungkin. Tidak terlihat kebohongan di wajah Kafa.
"Aku nggak mau tahu, ganti bunga ini sekarang."
__ADS_1
"Tapi Kafa, kamu tahu kan aku nggak punya uang sebanyak itu."
Kafa tersenyum lebar, senyum yang dibuat-buat yang menggambarkan bahwa ia tak mau mendengar alasan apapun dari mulut Mahira.
"Sayangnya aku nggak mau tahu."
"Ya udah, ayo aku ajak kamu ke tempat jual bunga." Mahira menarik tangan Kafa.
"Lepasin ih!" Kafa menarik tangannya kembali dengan cepat. "Nggak usah pegang-pegang."
"Iya-iya maaf!" Mahira mengerucutkan mulutnya.
Akhirnya mereka menaiki mobil Kafa menuju Anjani Florist yang merupakan toko bunga di kota Yogyakarta milik kerabat Mahira. Itulah mengapa Mahira mengetahui banyak jenis bunga termasuk nama bunga pada buket milik Kafa.
"Kalau bukan karena minta ganti rugi, aku nggak mau semobil sama kamu." Desis Kafa seraya melirik Mahira yang duduk di sampingnya.
"Aku minta maaf, sumpah itu aku nggak sengaja lagian kenapa sih kamu jalan buru-buru banget kayak orang kebelet kencing."
Kafa hanya melepaskan napas kasar, tadi ia menghindar dari teman sekelasnya itu tapi justru berhadapan dengan Mahira yang jauh lebih menyebalkan. Kafa jadi tidak bisa memberikan bunga itu pada Khalisa sepulang kuliah.
Mereka sampai di sebuah toko bunga yang tidak terlalu besar dengan papan nama Anjani Florist di bagian depannya. Bangunannya terbuat dari kaca sehingga mereka bisa melihat isi di dalam toko tersebut. Puluhan jenis bunga terpajang di luar toko mulai dari Mawar, Tulip, Ranunculus, Baby Breath, Krisan hingga Gerbera.
"Assalamualaikum Tante Lita." Mahira mengucapkan salam pada seorang wanita berusia 40 tahunan yang tengah sibuk memotong-motong batang bunga mawar.
"Waalaikumussalam, loh Mahira kok nggak ngabarin mau kesini?" Wanita bernama Lita itu menyudahi aktivitasnya menghampiri Mahira.
"Tante punya Peony nggak?" Mahira mencium tangan Tante nya dan mengedarkan pandangan ke seluruh penjuru toko itu.
"Nggak ada, lagi nggak musim sekarang." Lita melihat cowok di belakang Mahira, "siapa?"
"Temen aku."
Kafa tersenyum sekilas pada Lita, sejak kapan mereka berteman? Kafa memberi label musuh untuk Mahira.
"Kafa, Peony nya diganti pakai Ranunculus ya, cantik juga kok." Mahira menyentuh bunga Ranunculus berwarna jingga di dekatnya.
Kafa melihat bunga yang Mahira sentuh, ia akui bunga bernama Ranunculus itu juga cantik berwarna jingga dengan semburat peach.
"Terserah deh." Kafa mengibaskan tangannya, "bikinin aja yang cantik." Ia tidak mau berurusan lebih lama dengan Mahira. Meski Kafa tahu harga bunga itu pasti lebih murah dari buket miliknya tapi ia tahu Khalisa pasti akan menyukainya. Khalisa bukan tipe orang yang melihat sesuatu dari harganya.
"Duduk dulu ya." Mahira meletakkan kursi dekat Kafa dan mempersilakannya duduk.
"Tante tolong bikinin buket yang bagus ya nanti Mahira bayar kalau udah dapet jatah bulanan dari Ibu." Mahira berbisik pada Lita.
"Emang ada apa sih?" Lita jadi ikut berbisik.
"Tadi Mahira rusakin buket bunga punya dia jadi Mahira harus ganti deh, mana punya dia mahal lagi, 780 ribu Tante." Mahira masih tidak percaya pada harga buket tersebut, mungkin saja Kafa membohonginya.
"Oh ya? mahal banget pasti bunganya impor."
"Peony Tante atau dia bohongin Mahira aja Tan?"
"Sekarang emang lagi nggak musim Peony makanya mahal, sebagai orang yang setiap hari bergelut dengan bunga, Tante percaya kalau harganya segitu."
Mahira mendelik, itu adalah separuh dari jatah bulanannya. Mengapa Kafa membeli bunga semahal itu padahal ada banyak bunga lokal yang juga cantik tapi harganya lebih murah.
"Mau kemana?" Mahira melihat Kafa beranjak keluar toko tapi ia tidak mendengar jawaban dari cowok berkulit putih pucat tersebut. "Ganteng tapi budek."
"Hus!" Lita memukul punggung tangan Mahira karena mengolok temannya sendiri.
30 menit kemudian Kafa kembali tepat setelah Mahira dan Lita menyelesaikan buket bunga Ranunculus merah muda yang sangat cantik meski tanpa tambahan jenis bunga lainnya.
Wajah Kafa tampak lebih cerah saat kembali, Mahira menduga Kafa baru melaksanakan shalat duhur di masjid dekat sini. Cowok Sholeh tapi sayang galaknya minta ampun! Mahira mengomel dalam hati mengingat kemarahan Kafa tadi.
"Udah?" Kafa mengambil alih bunga tersebut, "makasih ya." Alih-alih mengatakannya pada Mahira, Kafa berterimakasih pada Lita.
"Sama-sama." Balas Lita ramah.
"Balik duluan." Ia membalikkan badan keluar dari toko penuh bunga tersebut.
"Eh!" Mahira memekik, "aku gimana?"
__ADS_1
"Naik angkot aja, bye!" Kafa melambaikan tangan pada Mahira tanpa menoleh dengan satu tangan dimasukkan ke saku celana. Mahira dibuat mencak-mencak oleh tingkah Kafa, ia pikir Kafa akan mengantarnya pulang.