Mahabbah Cinta Khalisa

Mahabbah Cinta Khalisa
177


__ADS_3

Gunung Merapi berdiri kokoh penuh kuasa di depan sana. Gunung aktif yang sempat erupsi 3 tahun lalu itu menjadi pemandangan utama kampus UII yang berdiri di atas lahan 35 hektar. Pepohonan rimbun tersebar ke seluruh wilayah kampus menjaga udara tetap sejuk meski matahari bersinar terik.


Kampus UII dipenuhi oleh alumni yang tengah mengadakan acara reuni ke 100 sejak UII didirikan. Mereka terdiri dari angkatan 96 hingga 100.


Setelah lebih dari satu tahun lulus akhirnya mereka bisa kembali menghirup udara kampus yang dirindukan. Saatnya mengingat kembali masa-masa perjuangan selama kuliah. Canda tawa, keluh kesah dan tangisan bahagia kembali muncul di kepala seperti video playback.


Untuk mendukung usaha kecil di sekitar kampus, mereka sengaja mengundang pedagang kaki lima yang berada di sepanjang jalan Kaliurang ke kampus. Mereka adalah penjual makanan tradisional Jawa Tengah seperti gudeg, sate klatak, tengkleng hingga makanan ringan.


Mereka berkumpul bukan lagi sebagai mahasiswa, mereka kembali dengan pekerjaan yang beragam.


Wajah Khalisa tampak berseri-seri saat baru turun dari mobil. Ia tidak sabar bertemu dengan teman-temannya semasa kuliah dulu. Khalisa sangat merindukan mereka.


"Biar aku yang gendong Khadijah." Azfan memasang hipseat dan mengambil alih Khadijah di gendongan Khalisa. Sama seperti Umma nya, Khadijah juga bersemangat sejak mereka berangkat dari rumah.


"Umma, banyak orang ya disini." Azka mengedarkan pandangan ke seluruh penjuru.


Ada banyak alumni lain yang berlalu-lalang di sekitar tempat parkir. Para panitia sibuk mengarahkan alumni untuk berkumpul di aula. Mereka merencanakan reuni tersebut sejak tahun lalu tapi baru hari ini bisa terlaksana karena mengumpulkan semua orang yang memiliki kesibukan bukanlah sesuatu yang mudah.


Banyak dari alumni yang juga berada di luar negeri tapi berkat kekompakan mereka akhirnya semuanya bisa berkumpul dalam acara tersebut.


"Azka jangan lepasin tangan Umma ya." Khalisa memperingatkan Azka.


Khalisa menyapa beberapa orang yang ia kenal di tempat parkir. Mereka saling menanyakan kabar masing-masing setelah lama tidak bertemu.


Sama seperti Khalisa, banyak alumni yang juga membawa pasangan dan anak mereka.


Mereka bertemu kembali dengan keadaan yang berbeda. Ada yang sudah bertunangan, menikah, hamil dan memiliki anak. Namun tidak sedikit juga yang masih sendiri—mengutamakan karir atau melanjutkan pendidikan S2 seperti Levin dan Kafa yang melanjutkan pendidikan spesialis mereka. Ini adalah tahun terakhir Levin mengenyam pendidikan spesialis penyakit dalam.


"Umma, itu Ravina!" Azka menunjuk Ravina yang juga baru turun dari mobil tak jauh dari mereka berada.


Khalisa melambaikan tangan pada Rindang yang tengah menggendong Raline—putri keduanya. Ia setengah berlari menghampiri Rindang. Ini adalah pertemuan pertama mereka setelah melahirkan tiga bulan yang lalu. Khadijah dan Raline hanya selisih satu hari itu sebabnya Khalisa dan Rindang tidak bisa saling mengunjungi. Mereka hanya bisa melakukan panggilan video. Rindang menanyakan banyak hal pada Khalisa yang lebih berpengalaman soal bayi. Meski dulu Rindang juga mengurus Ravina tapi ternyata setiap bayi tidak sama. Rindang merasa harus belajar dari awal.


"Aku senang lihat kamu baik-baik aja." Khalisa memeluk Rindang, ia sangat mengkhawatirkan keadaan Rindang karena kesehatannya sempat memburuk beberapa hari setelah melahirkan Raline. Sekarang Khalisa lega setelah melihat Rindang kembali sehat seperti sedia kala.


"Aku akan jadi ibu yang lebih kuat." Rindang menepuk-nepuk punggung Khalisa.


"Kamu ibu paling kuat sedunia." Mata Khalisa berkaca-kaca saat mengatakan itu. Semua ibu di dunia itu luar biasa. Khalisa memandangi wajah Raline yang terlelap meski sinar matahari mengenainya. "Menurutku sih mirip Ko Levin."


"Oh ya? banyak yang bilang Raline mirip aku."


"Raline perpaduan antara aku dan Rindang." Timpal Levin.


"Khadijah juga, sekilas mirip Azfan tapi versi mata sipit aja." Rindang ingin menggendong Khadijah nanti setelah Raline bangun. Selama ini ia hanya bisa melihat si kecil Khadijah melalui layar laptop.


"Akhirnya ada yang bilang Khadijah mirip aku." Azfan tersenyum lebar.


"Aku juga bilang Khadijah mirip Abi." Khalisa menghibur Azfan, "ayo kita coba terus sampai mirip kamu."


"Coba terus apa nih maksudnya?" Rindang menyipitkan matanya menatap Khalisa.


"Bikin adik buat Azka." Jawab Khalisa dengan santai membuat Azfan dan Levin tertawa sementara Rindang hanya geleng-geleng. Khadijah baru berusia tiga bulan tapi Khalisa sudah berpikir untuk hamil lagi.


"Halo Ravina, kamu cantik sekali pakai baju ini." Khalisa memuji Ravina. Mata Ravina yang indah membuat semua orang tidak tahan untuk tak memujinya.


"Mama yang jahit bajunya." Ravina mendongak melihat mama nya, ia senang karena selalu bisa mengenakan baju yang mama nya jahit sendiri untuknya.


"Baju aku juga Umma yang jahit." Azka mengangkat lengannya menunjukkan pada Ravina bahwa pakaian itu juga dijahit oleh Umma nya.


"Kan Mama dan Umma sama-sama jago bikin baju." Sahut Rindang.


"Eh ayo ke aula, Huma juga kayaknya udah nunggu disana." Ajak Khalisa. "Ko Azka, adik Ravina dituntun ya, kita sama-sama pergi ke aula." Titahnya pada Azka.


Azka dan Ravina saling berpegangan tangan berjalan di depan orangtua mereka. Azka berperan seperti Koko yang selalu melindungi adik kecilnya padahal tinggi badan mereka hampir sama.


"Khalisa!" Clarin memanggil dari kejauhan.


Khalisa menoleh ke arah sumber suara, ia melihat Clarin dan Jason melambaikan tangan padanya. Mereka melangkah menghampiri Khalisa, keduanya tampak serasi mengenakan baju dengan warna senada.


"Gimana kabar kamu?" Khalisa memeluk Clarin setelah menjabat tangannya. "Kamu makin cantik setelah menikah." Bisiknya di telinga Clarin.


"Mungkin karena diajak liburan terus ya." Canda Clarin, "berkat storage bag dari kamu, itu kepake banget buat traveling."


"Aku senang kalau barang itu berguna buat kalian."


"Kamu Rindang ya?" Clarin menunjuk Rindang, ia pernah bertemu Rindang dulu sebelum penampilan wanita berubah seperti sekarang. Namun Clarin masih bisa mengenalinya, ia pernah membahas soal Rindang beberapa kali dengan Jason.


"Iya, kamu istrinya Jason?" Rindang menjabat tangan Clarin lebih dulu.


"Iya, Jason pernah cerita soal kamu."


"Ah begitu, maaf kalau ada perilaku aku yang bikin Jason sakit hati." Rindang meminta maaf pada Clarin, mungkin Jason juga menceritakan soal masalah mereka dulu.


"Terimakasih sudah menolak Jason, ternyata dia untukku." Canda Clarin.


"Jangan berterimakasih, Jason memang harus mendapat wanita terbaik sepertimu."


Rindang tersenyum lebar di balik cadarnya. Rindang setuju dengan perkataan Clarin, jodoh sudah ada yang menentukan. Hanya Allah yang tahu siapa pasangan terbaik untuk mereka. Rindang juga tidak mau Jason memaksakan diri memeluk Islam hanya karena dirinya. Itu harus murni karena niat dari hati.


Mereka pergi bersama menuju aula untuk berkumpul dengan alumni. Dafa sebagai ketua panitia reuni memberikan sambutan lebih dulu. Ia mengucapkan terimakasih kepada semua orang yang telah meluangkan waktunya untuk berkumpul disini.


"Tercatat hampir 90% alumni angkatan 97,98,99 dan 100 hadir disini."


Seluruh alumni bertepuk tangan riuh menggema ke seluruh aula siang itu.


"Karena ada sebagian yang sudah menikah bahkan memiliki anak maka jumlah kita semua bertambah menjadi dua kali lipat, terimakasih juga untuk teman-teman dari luar daerah yang mengorbankan waktunya untuk datang kesini."


Selanjutnya layar di depan mereka menampilkan foto kenangan semasa kuliah dulu. Momen Pesona Ta'aruf yang menjadi awal dari bergabungnya mereka sebagai mahasiswa UII. Momen shalat berjamaah di masjid Ulil Albab, makan di kantin saat istirahat dan kegiatan belajar di kelas maupun praktek di laboratorium. Dulu mungkin kegiatan itu terasa biasa saja tapi setelah menontonnya sekarang, momen itu jadi berharga.


"Abi!" Azka menunjuk layar yang menampilkan video Azfan memasuki gerbang, ada kalung dari bunga yang melingkar di lehernya. Itu adalah saat Azfan pulang dari Turki setelah mendapatkan gelar juara lomba MTQ internasional.


"Itu Abi baru dapat juara lomba MTQ." Ucap Khalisa pada Azfan.


"Wah Abi hebat ya Umma."


Azfan tersenyum mendengar pujian Azka. Itu adalah salah satu momen yang tidak terlupakan bagi Azfan dan Khalisa. Setelah mengikuti lomba tersebut Azfan jadi sedikit lebih berani untuk tampil di depan umum.

__ADS_1


"Abi ngasih pashmina buat aku waktu itu." Khalisa melihat Azfan.


"Ya, dan Umma masih sering pakai sampai sekarang."


Khalisa selalu menghargai pemberian orang lain termasuk pashmina yang sebenarnya Khalisa tidak suka karena motifnya.


"Tapi aku lebih kagum sama Abi karena belum pernah ganti hp sejak dikasih Rindang."


Azfan terkekeh, ia baru ingat kalau belum pernah membeli ponsel baru sejak Khalisa memberinya ponsel milik Rindang. Karena ponsel itu masih bisa digunakan maka Azfan belum berpikir untuk membeli yang baru. Azfan juga lebih sering menggunakan laptop dari pada ponsel.


Azfan termasuk orang yang awet dalam menggunakan barang. Khalisa sudah tiga kali membeli ponsel baru bahkan sekarang ia memiliki dua ponsel sekaligus dan satu tablet untuk kebutuhan pekerjaannya.


"Terimakasih sudah bersama hingga hari ini." Azfan menggenggam Khalisa.


Khalisa mengangguk samar, Azfan berterimakasih hampir setiap hari. Selain mengatakan Khalisa semakin cantik, terimakasih adalah kata yang wajib Azfan ucapkan setiap hari.


"Sekarang saya akan menampilkan foto beberapa alumni di layar, kalian harus tebak." Seru Hasan yang merupakan bagian dari panitia reuni.


"Kalau berhasil tebak dapat apa?" Tanya mereka.


Hasan menunjuk kotak dengan berbagai ukuran di atas meja. Di dalamnya terdapat hadiah untuk mereka yang berhasil menebak dengan benar.


"Kalau saya tampilkan foto, silakan tunjuk tangan dan sebutkan nama orang di foto tersebut, kalau kalian bisa menyebutkan fakultas atau bidang prodinya maka saya akan memberikan hadiah utama disini." Hasan mengacungkan sebuah kotak berukuran sedang. "Ini adalah ponsel keluaran terbaru."


Mereka semakin heboh mendengar hadiah yang Hasan sebutkan.


Foto yang ditampilkan memiliki resolusi rendah dan sangat berbeda dengan mereka saat ini sehingga sulit untuk mengenalinya. Awalnya mereka berpikir permainan ini akan mudah. Namun untuk sebuah ponsel tentu tak akan semudah itu.


Beberapa orang di barisan tengah tunjuk tangan.


"Silakan." Hasan menunjuk salah satu orang.


"Lutfi."


"Salah, dia sama sekali nggak mirip Lutfi."


Mereka bersorak karena jawaban tersebut salah. Permainan itu semakin seru ketika beberapa orang menjawab salah.


"Jawab gih!" Huma menyikut Khalisa, ia yakin Khalisa tahu nama orang yang fotonya ditampilkan di layar sekarang.


Akhirnya Khalisa mengangkat tangan, ia ahlinya dalam menghafal nama orang. Dari tadi ia diam karena ingin memberi kesempatan pada yang lain untuk menjawabnya.


"Silakan Khalisa." Hasan mempersilakan.


"Rizal Fakultas Kedokteran angkatan ke 100." Khalisa menyebutkan dengan lantang membuat semua orang tercengang termasuk Rizal.


"Wah Khalisa, apa kamu kenal Rizal?"


"Enggak tapi aku tahu karena dia temennya Kafa adik sepupuku."


"Wah!" Kafa ikut bertepuk tangan heboh, bahkan ia yang satu kelas dengan Rizal tidak bisa mengenali foto tersebut.


"Khalisa, kamu bisa ambil hadiah utamanya nanti setelah keluar dari aula." Ucap Hasan.


"Kok bisa sih kamu tahu namanya padahal nggak kenal." Meski sudah lama bersahabat dengan Khalisa tapi Huma masih saja heran pada kemampuan Khalisa mengingat nama orang.


"Jangan heran, Azka juga gitu tapi bedanya dia menghafal nama sahabat Rasulullah."


"Oh ya?" Huma lebih heran lagi jika Azka bisa menghafal nama-nama itu. "Aku harap anakku bisa seperti Azka."


"Zayn akan tumbuh jadi anak yang luar biasa, Papa dan Mama nya orang hebat." Khalisa mengusap kepala Zayn yang terlelap di gendongan Huma. Zayn lahir dua bukan setelah kelahiran Khadijah dan Raline, mereka bertiga akan menjadi teman seangkatan.


Hadiah yang tersusun di atas meja telah habis setelah mereka melakukan berbagai permainan. Tak hanya para alumni, anak-anak mereka juga ikut serta menambah keseruan acara tersebut.


Waktu makan siang telah tiba, mereka bebas memilih makanan apapun di sepanjang jalan Boulevard.


"Khalisa, buat kamu." Syifa datang menghampiri Khalisa membawa satu cup gelato vanilla, "rasanya hampir sama kayak Mangan Gelato."


"Wah makasih banyak Syifa, kamu masih ingat." Khalisa menerima gelato dari Syifa.


"Aku nggak mungkin lupa, kamu selalu pesen gelato vanilla."


"Kamu sendirian?" Khalisa melihat ke sekitar Syifa, sepertinya Syifa datang sendiri.


"Iya, suami aku nggak bisa datang." Syifa menikah dengan seorang Lifeguard kapal pesiar yang saat ini sedang berlayar ke luar negeri. Syifa menjalani LDR sejak menikah tapi ia sama sekali tidak keberatan.


Mereka menempati meja yang tersebar di sekitar situ. Mereka sudah memilih makanan utama berupa gudeg, tengkleng, sate klatak dan soto daging sapi yang disajikan dalam wadah tempurung kepala.


Untuk makanan penutup mereka sudah memesan es krim rujak. Potongan buah-buahan dengan saus gula merah dan es krim di atasnya. Cocok dinikmati saat cuaca panas seperti hari ini.


"Abi makan duluan biar aku yang gendong Khadijah." Khalisa mengambil alih Khadijah, ia bisa membawa si kecil jalan-jalan di sekitar sini agar tidak bosan sementara Azfan makan. Sejak ada Azka, Khalisa dan Azfan sudah biasa makan gantian. Kadang Azfan juga menyuapi Khalisa begitupun sebaliknya.


"Koko bisa makan sendiri ya?" Khalisa mendekatkan mangkok soto pada Azka.


"Bisa." Azka mengangguk.


"Pelan-pelan ya makannya biar nggak tumpah."


"Iya Umma."


"Biar aku suapin Umma." Azfan tidak bisa makan dengan nyaman jika Khalisa belum makan.


"Sini Khadijah sama aku aja." Mahira menghampiri Khalisa, ia telah menghabiskan seporsi soto daging sapi dan nasi serta es krim rujak.


"Nggak apa-apa Mahira, kamu makan aja."


"Aku udah selesai makan Mbak." Mahira menepuk-nepuk perutnya yang terasa penuh. Ia mengambil alih Khadijah dan membawanya menjauh dari sana.


"Pendidikan spesialis kamu gimana Vin?" Jason bertanya pada Levin, saat sesekali bertukar pesan ia tahu Levin sedang menjalani pendidikan spesialis.


"Ini tahun terakhir ku."


"Wah aku kagum sama kamu, jadi dokter umum aja susahnya minta ampun."


Levin tersenyum, ia tidak mengatakan bahwa itu mudah. Namun dengan adanya Rindang dan Ravina, Levin tak bisa menyerah begitu saja apalagi setelah kehadiran Raline.

__ADS_1


"Ko Levin panutan ku." Sahut Kafa. Setelah Jaya tiada Kata berpikir untuk menyerah dengan gelar dokter umum tapi demi rumah sakit Kafasa, ia kembali bangkit dan melanjutkan pendidikan.


"Semoga kalian berhasil." Timpal Azfan yang dibalas ucapan terimakasih oleh Kafa dan Levin.


"Aku susul istriku dulu." Kafa beranjak meninggalkan Zulaikha yang asyik bermain dengan Ravina hingga tidak sadar jika papa nya pergi.


"Dasar si Kafa mau pacaran terus, anaknya ditinggalin." Rindang geleng-geleng heran melihat tingkah Kafa.


"Kalian semua luar biasa, selain jadi istri, Khalisa mengelola Alindra Beauty, Rindang punya butik, Huma dan Clarin kerja di rumah sakit sedangkan aku cuma di rumah." Syifa mengedarkan pandangan pada teman-temannya.


"Justru jadi ibu rumah tangga itu nggak gampang lo." Khalisa mengusap lengan Syifa untuk membesarkan hatinya.


"Capek dan nggak dapat gaji, itu yang bikin berat." Clarin nyengir, ia tidak berbohong soal itu. Menurutnya menjadi ibu rumah tangga adalah pekerjaan paling berat sedunia.


"Jadi wanita karir maupun ibu rumah tangga, para perempuan tetap luar biasa." Kata Levin bijak.


******


Matahari mulai bergeser ke sisi barat pertanda acara reuni yang menyenangkan itu akan segera berakhir. Rasanya tidak cukup bertemu beberapa jam untuk menceritakan kehidupan baru mereka dan melepas rindu. Namun pertemuan singkat itu harus segera berakhir, saatnya kembali ke kehidupan biasa merajut masa depan yang lebih baik.


Seluruh alumni berkumpul untuk mendokumentasikan momen tersebut dalam bentuk foto dan video. Mereka tertawa gembira di depan kamera hati merasa berat untuk berpisah.


Acara reuni yang dulu identik dengan ajang pamer kekayaan dan kesuksesan sudah lama ditinggalkan. Reuni yang sebenarnya adalah bertemu untuk melepas rindu, mengingat masa-masa kuliah yang menyenangkan.


Terakhir mereka menuju Masjid Ulil Albab untuk shalat berjamaah. Azfan dipilih untuk mengumandangkan adzan, ia sudsh terkenal di seluruh angkatan dengan suaranya yang merdu. Cowok pemalu yang dulu pernah menjadi idola anak-anak HAWASI. Suaranya tak pernah berubah, selalu merdu kecuali saat mengadzani bayinya.


"Teman-teman, sekedar informasi bahwa kaligrafi di dinding atas dan langit-langit adalah hasil karya Azfan dan orang-orang yang tergabung di Griya Ameezan."


Tak hanya bersuara merdu, Azfan juga memiliki tangan yang luar biasa.


Khalisa mendongak menatap langit-langit masjid, akhirnya setelah hampir 7 bulan proyek kaligrafi masjid Ulil Albab bisa selesai. Kaligrafi dengan komposisi warna yang hangat itu menghipnotis semua orang. Ayat-ayat Allah sudah sangat indah dan Azfan membuatnya enak dipandang lama.


"Umma shalat dulu." Khalisa mencondongkan badannya mencium Khadijah yang berbaring di atas sajadahnya.


Khadijah menendang-nendang dengan tangan bergerak aktif memperhatikan Khalisa yang sedang shalat. Ia tertawa berpikir bahwa Khalisa sedang bercanda dengannya.


Satu per satu alumni keluar dari masjid setelah para panitia mengucapkan salam penutup. Mereka berharap bisa berkumpul lagi dilain kesempatan.


Mereka semua sangat menikmati acara ini. Mengingat masa-masa kuliah adalah hal yang menyenangkan karena kehidupan mereka sekarang sudah jauh berbeda.


"Sedih banget harus pisah sekarang." Huma memeluk Khalisa, ia masih ingin mengobrol dengan Khalisa dan Rindang.


"Kita ketemu lagi setelah anak-anak bisa jalan." Khalisa menepuk punggung Huma.


"Kamu selalu bisa menghibur orang lain padahal kamu sendiri juga sedih." Huma memperhatikan mata Khalisa yang juga berkaca-kaca.


"Jaga diri baik-baik ya." Rindang juga memeluk Huma, "kalian akan menempuh perjalanan jauh."


"Kamu juga jaga kesehatan, jangan sampai sakit." Balas Huma.


Sebelum pergi mereka kembali mengabadikan momen di depan masjid. Kesempatan seperti ini tak akan sering terjadi, sebisa mungkin mereka mengambil foto sebanyak mungkin.


Dulu Khalisa dan Huma dipertemukan pertama kali saat Pesona Ta'aruf. Mereka menjadi teman sekelas dengan bidang prodi yang sama yakni farmasi. Khalisa ingat dulu Huma selalu membawa novel Harry Potter, kapanpun ada kesempatan ia akan membacanya. Sekarang Huma sudah menikah dengan Hamiz dan memiliki seorang anak tampan yang mereka beri nama Zayn.


Setelah semakin dekat, Khalisa mengenalkan Huma pada Rindang. Ketiganya menjadi sahabat dekat hingga sekarang setelah mereka memiliki pasangan dan anak.


"Sampai ketemu lagi Ravina." Azka melambaikan tangan pada Ravina.


"Peluk adik Ravina dong." Seru Huma, ia senang melihat interaksi antara Ravina dan Azka.


Azka dan Ravina saling berpelukan sebentar membuat Huma berseru heboh dan orangtua mereka senyum-senyum. Azka menjaga Ravina seperti seorang kakak sejati. Setelah besar nanti pasti Azka juga akan menjaga Khadijah dengan baik.


Rindang dan Levin pamit lebih dulu disusul Huma dan Hamiz, mereka pergi ke parkiran menuju mobil masing-masing.


Khalisa dan Azfan saling berpandangan, setiap berpisah dengan dua sahabatnya, Khalisa selalu merasa sedih karena ia tak tahu kapan akan bertemu mereka lagi. Mereka hidup di kota yang terpisah jauh. Namun doa ketiganya selalu menggema di langit, hubungan mereka akan selalu direkatkan oleh doa-doa itu.


"Dunia itu penuh keseimbangan pun dengan takdir Allah, Dia Maha Adil atas segala sesuatu termasuk pertemuan dan perpisahan, bukankah dengan begitu persahabatan kalian akan semakin erat?" Azfan merangkul bahu Khalisa.


Khalisa mengangguk, betapa beruntungnya ia memiliki suami seperti Azfan yang selalu bisa menghiburnya disaat seperti ini. Azfan juga selalu mengatakan Khalisa saat merasa terpuruk.


"Tapi ada satu di dunia ini yang nggak seimbang."


"Apa itu?" Khalisa mendongak.


"Aku jatuh cinta sama istriku, Umma nya anak-anak dan nggak pernah bisa bangun lagi, aku jatuh selamanya."


Khalisa tak bisa menahan senyum bahkan sekarang pipinya memerah. Belajar dari mana Azfan mengatakan hal manis seperti itu.


.


.



Khalisa waktu hamil Khadijah











__ADS_1


__ADS_2