
Pagi Kafa diawali dengan suasana hati yang buruk hanya karena ia melihat kotak makan Mahira berada di rak dapurnya. Kafa tak percaya setelah berminggu-minggu berlalu mengapa ia masih menyimpan kotak tersebut disana bahkan Mahira sudah tidak ingin bertemu dengannya lagi. Lalu apa yang Kafa harapkan.
"Kamu pikir kamu siapa, hm?" Kafa mengambil dan melempar kotak tersebut ke dalam tempat sampah. Karena jarang menggunakan dapur Kafa baru menyadari bahwa ia masih menyimpan kotak itu disana.
Kafa melangkah ke meja makan untuk mulai sarapan, ia memesan pancake dari restoran apartemen dan segelas susu dingin yang baru ia keluarkan dari kulkas. Kafa malas untuk menghangatkan susu tersebut karena ia akan terlambat ke kampus.
Kafa meraih tas kuliahnya dan menyampirkan nya di bahu. Namun ada sesuatu yang mengganjal sehingga Kafa kembali ke dapur dan membuka tempat sampah. Kafa mengambil kotak makan tersebut memindahkannya ke wastafel. Kafa tak percaya ini, bagaimana mungkin ia mengambil kotak yang beberapa menit lalu baru ia buang ke tempat sampah. Ah Kafa sudah tidak waras.
"Selamat pagi Mas Kafa." Seorang staf apartemen menyapa Kafa di lobi.
"Pagi." Balas Kafa dengan senyum tipis.
"Ganteng banget pagi ini."
"Setiap hari bukan cuma pagi ini aja." Canda Kafa membuat staf tersebut tertawa, ia segera berlalu dari sana.
Sebelum menginjak gas, Kafa lebih dulu melihat pantulan wajahnya di spion. Apakah ia tampan? tapi kenapa Mahira menjauh darinya. Apakah Mahira percaya pada Kafa yang mengatakan bahwa ia cantik jika menjauh dari Kafa.
"Bodoh banget tuh cewek." Kafa memukul setir dan mulai menjalankan mobilnya keluar dari basemen. "Tapi kangen juga sama tuh anak." Kafa melotot menyadari ucapannya sendiri, ia menepuk bibirnya berkali-kali. Kenapa juga ia harus kuliah di kampus yang luas, coba kampusnya tidak seluas itu pasti ia bisa bertemu Mahira setiap hari.
"Apaan sih Kafa!" Kafa mengomel sepanjang jalan karena pikirannya justru tak bisa teralih dari Mahira. "Stop, nyebut Kafa nyebut." Ia beristighfar dalam hati berkali-kali
Kafa melihat Mahira dan temannya di depan gerbang, ia sengaja memelankan laju mobilnya berharap Mahira memanggilnya. Bukankah dulu Mahira sering meminta numpang mobil Kafa.
"Dia nggak tahu kalau ini mobilku?" Kafa menggerutu kesal karena sampai mobilnya melaju cukup jauh dari gerbang, Mahira sama sekali tidak melihat ke arah mobilnya. "Jadi beneran nggak mau ketemu."
Setelah memarkirkan mobilnya Kafa melangkah menuju masjid Ulil Albab karena pagi ini diadakan lomba MTQ tingkat fakultas.
"Mau ke masjid?" Tegur Rizal—salah satu teman Kafa yang juga baru memarkirkan mobilnya.
"Iya." Kafa meninggalkan tasnya di dalam mobil karena sampai siang nanti ia hanya akan berada di masjid.
"Anak FK siapa sih yang ikut?" Tanya Rizal.
"Nggak tahu." Kafa mengedikkan bahu.
"Kok nggak lu aja sih yang ikut." Rizal menyikut Kafa yang berjalan di sebelahnya.
"Kenapa harus gue?" Kafa jadi tertular Rizal yang berbicara elo gue.
"Ya kan lu udah hafal 30 juz."
"Hafal aja nggak cukup kali Zal." Kafa tidak dikaruniai suara indah seperti Azfan, jadi ia tak memenuhi kriteria untuk ikut lomba tersebut.
Ketika hendak masuk masjid, Kafa melihat Mahira juga melangkah masuk. Kafa baru menyadari kalau Mahira mengenakan nomor peserta yang disematkan pada saku jas nya. Itu berarti Mahira mengikuti lomba tersebut.
Mulut Kafa terbuka hendak menegur Mahira tapi sebelum ia melakukan itu, seorang mahasiswa yang juga mengenakan tanda nomor peserta lebih dulu memanggil Mahira hingga terpaksa Kafa menutup mulutnya kembali dan melangkah masuk.
"Siapa sih tuh cowok, ganteng kagak." Gerutu Kafa.
"Hah, ngomong apaan lu?" Rizal mendengar Kafa bicara tapi tidak terlalu jelas apalagi suasana di masjid sedang ramai.
Kafa menggeleng mengibaskan tangannya, ia duduk di barisan nomor dua setelah tempat juri agar bisa melihat dengan jelas jalannya lomba.
__ADS_1
"Loh Mas Azfan nggak ikut?" Ia melihat Azfan duduk tepat di depannya. "Wah jadi juri sekarang." Ia menepuk punggung Azfan bangga. "Cece kemana?"
"Ada di luar, dia seksi sibuk, Mas aja belum ketemu lagi sejak sampai di kampus." Azfan juga mencari keberadaan Khalisa dari tadi tapi ia tidak kunjung menemukan keberadaan sang istri. Khalisa masih bisa bergerak lincah dan berjalan kemana-mana dengan perut buncitnya.
Lomba dimulai dengan sambutan oleh ketua panitia Muhammad Luthfi juga merupakan ketua umum HAWASI lalu dilanjutkan sambutan direktur DPPAI.
Peserta pertama berasal FPSB bidang prodi Ilmu Komunikasi. Ia membacakan surat Luqman ayat 1-5. Dilanjutkan dengan peserta berikutnya dari FH.
Kafa mengedarkan pandangan ke sekitar, meskipun tidak berniat mencari Mahira tapi sepasang mata Kafa menemukan keberadaan Mahira dengan sendirinya. Pandangan Kafa dan Mahira bertemu lalu terkunci untuk beberapa saat sebelum Kafa mengalihkan perhatian ke arah lain dengan panik seperti maling yang tertangkap basah.
Kafa beranjak dari duduknya melihat Khalisa berdiri di belakang sana. Khalisa dan beberapa panitia berdiri disana memastikan lomba berjalan dengan lancar.
"Cece berapa lama berdiri disini?" Kafa menghampiri Khalisa.
"Sejak Kak Luthfi ngasih sambutan." Khalisa merapikan kerah kemeja Kafa, "kamu buru-buru tadi?"
"Iya soalnya tadi ikut kajian online abis subuh terus ketiduran, bangun-bangun udah terang." Kafa melihat kali Khalisa yang terbungkus kaos kaki meski demikian ia bisa melihat jika kaki Cece nya itu bengkak, "kaki Cece bengkak loh."
"Kelihatan ya? pantes rasanya nggak nyaman." Khalisa ikut melihat kakinya.
"Mungkin orang lain nggak akan nyadar tapi aku tahu betul Kaki Ce Khalisa biasanya ramping."
Khalisa nyengir, mungkin dulu bisa disebut ramping tapi sekarang tidak lagi. Jika berdiri atau duduk terlalu lama kakinya akan bengkak.
"Aku cariin kursi dulu ya."
"Nggak usah." Khalisa menahan lengan Kafa yang hendak keluar masjid.
Kafa mengabaikan Khalisa dan tetap keluar masjid. Meskipun usia Kafa lebih muda tapi ia seringkali bersikap seperti seorang kakak bagi Khalisa.
"Makasih ya, aku mau ngurus yang lain dulu." Syifa mengusap lengan Khalisa lalu kembali keluar masjid.
Lima orang juri berasal dari berbagai lembaga dakwah UII yakni KODISIA, Al Fath, DHM, HAWASI dan jamaah Al-Faraby FIAI. Lomba tersebut dapat terselenggara berkat kerjasama berbagai lembaga.
Khalisa meletakkan kopi tersebut di hadapan masing-masing juri. Ikha menyusul meletakkan air putih dan roti.
"Hati-hati." Azfan menahan tangan Khalisa yang meletakkan kopi di mejanya.
Khalisa akhirnya mengangkat wajah hingga pandangannya bertemu dengan Azfan. Dada Khalisa berdesir, pernikahan mereka hampir memasuki tahun kedua tapi jantung Khalisa tetap berdegup kencang setiap kali bertatapan dengan Azfan.
"Aku nyariin Haura dari tadi." Gumam Azfan pelan.
"Aku berdiri di belakang." Khalisa salah tingkah ditatap lama oleh Azfan. Dari pada terlihat seperti pasangan yang sudah menikah, Azfan dan Khalisa justru lebih terlihat seperti dua orang yang berpacaran. Jika perut Khalisa tidak buncit maka orang-orang akan mengira ia bukan istri Azfan.
"Jangan berdiri terlalu lama nanti kaki Haura bengkak."
"Iya Mas Azfan nggak usah khawatir." Khalisa mengulas senyum mengusap punggung tangan Azfan sesaat sebelum beranjak pergi. Padahal kaki Khalisa memang sudah bengkak sebelum Azfan memperingatinya.
Kafa datang membawa bantal untuk alas Khalisa duduk. Karena Khalisa tidak mau dibawakan kursi maka Kafa memilih memberikan bantal tersebut untuk Cece nya.
"Dapat dari mana?" Tanya Khalisa.
"Aku bawa ini di mobil." Kafa meletakkan bantal tersebut dan meminta Khalisa duduk.
__ADS_1
"Kamsia adik Cece yang paling ganteng."
Dari jarak tidak terlalu jauh Mahira melihat Kafa yang begitu perhatian pada Khalisa. Tanpa sadar Mahira tersenyum, pertanyaan yang saat ini berputar di benaknya adalah mengapa Kafa begitu baik dan hangat pada Khalisa sedangkan terhadap dirinya, Kafa selalu bersikap dingin seolah amat membencinya. Mereka sudah tidak saling bertemu apalagi bicara sejak Kafa mendatangi Mahira di kelasnya. Mahira bingung dengan sikap Kafa saat itu hingga akhirnya ia memutuskan untuk menarik diri. Mahira menduga Kafa benar-benar tidak ingin ia dekati.
"Peserta berikutnya Mahira Atiqah dari FIAI yang juga merupakan anggota HAWASI."
Suara merdu Mahira mengumandangkan bacaan taawudz menggema ke seluruh penjuru masjid.
Kafa yang baru kembali ke tempat semula terpana mendengar suara Mahira. Untungnya Kafa duduk di barisan depan sehingga ia bisa melihat ekspresi Mahira dengan jelas.
Bulu kuduk Kafa berdiri, ia tak menyangka jika Mahira memiliki bakat seperti itu. Kafa pikir Mahira hanya gadis pecicilan yang suka mengganggu orang lain tanpa memiliki kelebihan apapun. Kafa salah besar. Tiba-tiba Kafa memiliki alasan untuk memperjuangkan Mahira. Kafa tidak bisa mengalihkan pandangan ke arah lain, ia hanya ingin melihat Mahira tanpa berkedip seolah takut kehilangan momen walaupun hanya sedetik.
Kafa baru berkedip setelah Mahira menyelesaikan bacaannya dan ia merasa sepasang matanya panas.
"Mbak!" Mahira memanggil Khalisa yang hendak keluar masjid. "Mau kemana?"
"Ke ruangan HAWASI dulu, bacaan kamu bagus banget barusan." Puji Khalisa karena ia baru beranjak setelah Mahira selesai.
Mahira tersenyum mendengar pujian Khalisa. Ia ikut pergi bersama Khalisa ke ruangan HAWASI.
"Mau aku bawain?" Mahira melihat bantal abu-abu di tangan Khalisa.
"Eh nggak usah."
"Kafa baik dan perhatian banget sama Mbak Khalisa."
"Kafa kalau udah perhatian itu perhatian banget tapi kalau ngambek juga sembuhnya lama bahkan dia pernah ngambek satu tahun sama aku."
"Oh ya?" Mahira membelalak tak percaya.
"Kamu inget nggak waktu di parkiran, yang kamu minta nebeng mobil Kafa, itu puncak pertengkaran kami." Mengingat itu Khalisa sebal juga pada Kafa karena telah berbuat terlalu jauh terhadap rumah tangganya dan Azfan. "Terlepas dari itu, Kafa kakak yang baik untuk dua adiknya."
"Kafa juga sekarang lagi ngambek kayaknya sama aku, aku nggak berani negur dia duluan."
"Ngambek kenapa?"
"Aku juga nggak tahu alasan pastinya Mbak, terakhir kali waktu itu Kafa berkomentar soal penampilan ku." Mahira menceritakan kejadian di lapangan basket waktu itu, ketika ia memberi nasi goreng untuk Kafa hingga saat Kafa mendatanginya ke kelas lalu sampai sekarang belum pernah bicara lagi. Meski telah memikirkannya Mahira tidak mengerti alasan Kafa marah.
Khalisa tertawa mendengar cerita Mahira. Dari cerita itu Khalisa langsung tahu bahwa Kafa memiliki perasaan pada Mahira. Namun si gengsi Kafa tidak mau mengakuinya. Khalisa bisa tebak jika ditanya pasti Kafa akan bersikeras menjawab tidak.
"Kalau kamu bisa bikin Kafa ngambek, itu artinya kamu udah berhasil mempengaruhi hidup Kafa." Khalisa menepuk-nepuk bahu Mahira, "aku harap kamu bisa sabar dengan sikap Kafa, jangan nyerah."
"Maksud Mbak?" Mahira mengerutkan kening.
"Aku dukung kamu."
Senyum Mahira melebar, tiba-tiba lampu hijau imajiner di kepalanya menyala meskipun tidak terlalu terang karena jalannya masih panjang. Mahira tidak akan pernah merasa lelah meskipun jalan yang dilaluinya sulit.
__ADS_1
Please welcome visual Mahira Atiqah ❤️