Mahabbah Cinta Khalisa

Mahabbah Cinta Khalisa
35


__ADS_3

Hal pertama yang Khalisa lakukan setelah pulang dari rumah sakit dan sampai di apartemen adalah memasang kaligrafi buatan tangan Azfan di dinding kamarnya. Untung saja Khalisa tidak membawa kaligrafi itu ke gudang malam itu, ia menyimpan di dalam mobilnya. Jika Khalisa membawa kaligrafi itu bersamanya pasti sekarang ia tak akan bisa melihat karya indah itu lagi karena bukan tidak mungkin Revan akan menghancurkannya. Khalisa tak pernah menyangka bahwa Revan se-gila itu. Sifatnya jauh berbeda dengan Bu Ira dan Pak Bowo.


Kemarin Bu Ira dan Pak Bowo datang menjenguk Khalisa di rumah sakit, mereka memohon maaf yang sebesar-besarnya terhadap Khalisa karena kejadian ini. Sebelum meminta maaf Khalisa juga sudah memaafkan mereka karena ia tahu Ira dan Bowo tidak ada kaitannya dengan ini. Hubungan mereka juga baik selama ini.


"Masya Allah." Khalisa tidak bisa berhenti tersenyum melihat kaligrafi itu, bagaimana ini bibirnya bisa kram karena terus-terusan tersenyum. Apalagi ketika Daniel bercerita bahwa Azfan begitu pandai berbicara saat memberi kesaksian di depan polisi, Khalisa semakin kagum pada cowok itu. Sebab Khalisa tahu Azfan adalah cowok pemalu yang mudah gugup tapi ternyata ia bisa juga melakukannya dengan baik. Namun sayang Khalisa tidak bisa melihat penampilan Azfan secara langsung saat lomba MTQ malam itu.


"Khalisa." Ica melongokkan kepala melalui pintu kamar Khalisa, "Huma udah datang tuh."


"Iya Ma." Khalisa mengenakan jilbabnya sebelum keluar dari kamar.


"Luka nya udah sembuh belum?" Huma beranjak melihat Khalisa keluar dari kamar, ia sedikit menyingkap jilbab Khalisa.


"Udah lumayan kering kok." Khalisa memasang senyum lebar, "mana kamera aku."


"Ada di tas, nggak sabaran banget sih." Huma membuka tasnya mengambil kamera milik Khalisa yang ia gunakan untuk merekam video Azfan beberapa saat lalu.


Khalisa menyalakan laptop agar bisa melihat video Azfan lebih jelas. Sementara Huma duduk di sampingnya, meski telah menonton nya secara langsung tapi ia masih ingin melihatnya lagi.


"Lihat apa sih, serius banget." Ica ikut bergabung dengan dua anak remaja yang sedang serius menatap layar laptop itu.


"Ini Azfan waktu lomba MTQ Tante." Jawab Huma.


Khalisa merinding mendengar lantunan ayat Al-Qur'an yang Azfan bacakan, rasanya ia seperti berada di tengah padang rumput yang penuh dengan angin sepoi-sepoi, sejuk dan menyegarkan.


"Masya Allah indah sekali suaranya." Puji Ica.


"Suaranya emang bagus Ma tapi Azfan selalu aja nggak PD, waktu itu dia sempet ketemu Hamiz di Mangan Gelato terus Azfan bilang makin nggak PD."


"Oh ya? kalian sempet ketemu Kak Arfan kalau gitu."


"Ya." Khalisa mengangguk. "Hamiz ikut lomba itu juga."


"Tapi suara Azfan bagus, dia harus percaya diri."


"Aku juga bilang gitu, dia harus PD karena suaranya bagus."


Bel apartemen berdenting mengalihkan perhatian mereka, Ica beranjak, itu pasti Dianis dan Alif suaminya serta Geza. Khalisa meminta Dianis untuk memasak untuknya sebelum kembali ke Banyuwangi. Selain itu Daniel juga mengundang Azfan. Waktu mereka pertama kali bertemu Daniel berjanji akan mengajak Azfan makan bersama dan baru hari ini mereka memiliki kesempatan.


"Wah banyak banget?" Ica terperangah melihat dua kantong plastik besar yang Alif dan Geza bawa. Ica bisa melihat berbagai macam bahan masakan di dalam kantong tersebut. Sepertinya Dianis benar-benar akan masak besar untuk semua orang.


"Bagus kan Tante kalau dia pemalu, nggak tebar pesona kesana kemari padahal dia ganteng loh." Kata Huma ketika Ica kembali ke ruang tengah. Jika Azfan sedikit saja menebar pesonanya pasti banyak mahasiswi yang menyukainya.


"Iya bener kamu." Sahut Ica.


Huma melongo melihat dua orang laki-laki membawa kantong plastik dengan tulisan Alindra Mall menuju dapur. Selain karena barang bawaan mereka banyak, Huma juga terkesima dengan cowok yang paling depan, siapa itu? kenapa Huma baru melihatnya, ia yakin itu bukan Azmal atau Kafa karena tak ada wajah Chinese di wajahnya.

__ADS_1


"Itu siapa?" Bisik Huma pada Khalisa.


"Itu Om Alif sama Geza anaknya, aku pernah cerita tentang Tante Dianis yang pinter masak kan nah siang ini Tante Dianis mau masakin kita." Jelas Khalisa.


"Ayo bantuin Tante masak." Dianis muncul dari belakang.


Khalisa beranjak diikuti Huma, ia begitu bersemangat membantu Dianis memasak karena ia akan mendapat banyak ilmu baru darinya.


"Oh iya kenalin dulu Tante ini sahabat aku, Humaira dipanggil Huma." Khalisa mengenalkan Huma pada Dianis. "Terus ini Om Alif sama Geza."


"Halo Tante, Om saya Huma." Huma menjabat tangan Dianis lalu tanpa sadar mengulurkan tangan pada Geza.


"Eh-eh mau ngapain." Khalisa segera menarik tangan Huma padahal tinggal sedikit lagi Huma dan Geza akan bersalaman. "Jangan macem-macem ya kamu." Khalisa menunjuk Geza yang nyengir memasang wajah tidak berdosa.


Huma menahan senyum melihat eskpresi cowok bernama Geza itu.


"Jadi Tante Dianis ini pernah dapet penghargaan chef terbaik se-Jawa Bali, jadi hari ini kita harus makan yang banyak karena Tante Dianis nggak lama disini."


"Aku perlu bantu nggak?" Tanya Geza.


"Nggak usah, biar cewek-cewek aja yang bantuin."


"Kalau gitu aku ke depan dulu." Alif pergi dari dapur bersama Geza menuju ruang tamu dimana Daniel juga berada disana.


"Khalisa punya sayur asin nggak di kulkas?" Tanya Dianis.


"Emangnya mau bikin apa sih?" Tanya Ica, ia heran melihat bahan makanan yang begitu banyak. Tidak mungkin mereka akan memasak semuanya sekaligus.


"Mau bikin nasi ayam hainan aja nanti pakai pendamping sayur asin sama telur kecap."


"Wah kayaknya enak Tante, nggak sabar." Khalisa bersemangat membantu Dianis menyiapkan bahan untuk membuat nasi ayam hainan. Ica dan Huma juga membantu memotong bahan untuk menu lainnya.


Untung saja dapur apartemen Khalisa cukup luas sehingga bisa menampung 4 orang sekaligus. Khalisa harus menambah ekstra kursi di ruang makan nanti ditambah Rindang dan Azfan yang belum datang.


Rindang tidak bisa ikut membantu memasak karena harus menyelesaikan pekerjaannya yang menumpuk karena ia libur beberapa Minggu ini setelah keluar dirawat di rumah sakit ditambah kejadian yang menimpa Khalisa.


"Geza rencananya mau kuliah dimana Tante?" Tanya Khalisa sembari mencuci wortel dan sawi sebelum dipotong.


"Katanya sih mau ikut Kafa kuliah disini tapi Tante bilang mending dia di Poliwangi aja kayak Tante dan Om dulu."


"Nggak apa-apa dong kuliah disini."


"Nanti deh Tante lihat tabungan dulu, cukup nggak buat daftar ke UII." Dianis tertawa di ujung kalimatnya.


"Tante jangan merendah, seorang kepala chef resor Jinggo masih harus lihat tabungan." Khalisa menyikut perut Dianis. Jika mendengar cerita Dianis dan Ica dulu mereka memang harus nabung untuk membayar biaya kuliah. Namun sekarang kehidupan mereka sudah jauh lebih baik.

__ADS_1


******


Nasi ayam hainan telah tersaji di atas meja makan berbentuk lingkaran dengan 9 kursi mengelilinginya. Selain ayam panggang dan rebus ada tahu dan telur kecap, tumis sayur asin dan capcay sebagai pendamping nasi tersebut.


Aroma gurih dari nasi yang dimasak dengan kaldu ayam dan rempah itu menyeruak memenuhi ruang makan. Melihat penampilannya saja membuat perut mereka keroncongan berdemo ingin segera diisi. Memasak nasi tersebut memang penuh perjuangan dan memakan waktu yang tidak sebentar tapi setelah melihat hasilnya, rasa lelah mereka akan terbayarkan.


"Azfan, terimakasih sudah datang kesini." Ucap Daniel pada Azfan yang duduk di seberang meja.


"Seharusnya saya yang berterimakasih karena Pak Daniel mengundang saya kesini." Balas Azfan dengan suara rendah karena pandangan orang-orang tertuju padanya.


"Terimakasih untuk Tante Chef yang udah masak enak buat kami semua." Khalisa mengulas senyum lebar.


Mereka berdoa bersama dipimpin oleh Daniel sebelum makan.


"Selamat makan." Ica mempersilakan mereka mengambil apapun di atas meja karena ia yakin semuanya sudah tidak sabar ingin segera menikmati masakan Dianis tersebut.


"Gimana makanannya?" Tanya Dianis.


"Tante masih nanya gimana masakan Tante?" Rindang menyahut, pertanyaan itu secara tidak langsung akan mendatangkan pujian karena masakan Dianis tidak pernah gagal. Selama Rindang kenal Dianis, ia pasti akan selalu memuji masakannya.


"Enak banget." Khalisa mendahului.


"Lebih dari enak Tante." Timpal Huma, meski ia sering makan salah satu masakan khas Tionghoa itu tapi ini adalah yang paling enak. Ia hendak mengambil ayam rebus di hadapannya bersamaan dengan Geza. "Eh kamu duluan aja." Ujarnya pada Geza.


Geza tersenyum karena Huma membiarkannya mengambil ayam lebih dulu. Namun tanpa disangka Geza meletakkan tiga potong ayam itu di atas piring Huma.


Untuk sesaat Huma dibuat melongo karena perlakukan Geza. Mungkin jika Ica atau Khalisa yang melakukan hal itu, Huma akan biasa tapi ini adalah Geza—cowok manis yang baru ditemuinya hari ini.


Huma mengerjapkan mata, sadar Hum dia lebih muda dari kamu!


"Azfan gimana tempat barunya, kamu suka nggak?" Khalisa bertanya soal bangunan kosong yang Daniel berikan pada Azfan untuk menjual kaligrafi. Daniel memang tidak langsung mengatakan bahwa ia memberikan bangunan karena Azfan pasti akan menolak.


"Tentu saja, tempatnya luas dan strategis, banyak orang yang berlalu-lalang di depan toko itu." Jawab Azfan. "Kalau bukan Pak Daniel, aku nggak akan pernah punya kesempatan untuk menjual kaligrafi sendiri."


"Tempat itu udah lama saya beli, awalnya untuk Khalisa karena dia ingin punya toko baju sendiri tapi setelah tahu kegiatan kuliah sangat padat, Khalisa menundanya."


Khalisa nyengir, saat pertama kali sampai di Jogja ia memang bersikeras ingin punya tempat sendiri untuk memajang koleksi pakaiannya. Namun sekarang ia ingin lebih fokus kuliah lebih dulu, suatu saat jika punya lebih banyak waktu ia akan lebih sering mendesain pakaian.


"Kapanpun Khalisa akan menggunakannya, saya akan mengembalikan tempat itu lagi." Ujar Azfan.


"Santai aja, kamu bisa pakai sampai kamu jual ratusan bahkan kaligrafi."


"Sekali lagi—"


"Stop, kamu selalu mengucapkan sekali lagi terimakasih tapi bahkan kamu telah mengatakannya berkali-kali." Timpal Daniel sebelum Azfan menyelesaikan kalimatnya.

__ADS_1


Semua orang tertawa mendengar kalimat Daniel sementara Azfan hanya tersenyum malu sembari mengusap tengkuknya yang tiba-tiba terasa dingin, mungkin karena AC berada tepat di atas kepalanya.


Makanan penutup siang itu adalah puding sutra dengan topping buah jeruk, leci dan stroberi yang Rindang beli di toko kue langganan Khalisa.


__ADS_2