Mahabbah Cinta Khalisa

Mahabbah Cinta Khalisa
74


__ADS_3

Jika ditanya mengapa Rindang mendadak ingin bersyahadat maka jawabannya adalah ia tak pernah mengambil keputusan secara tiba-tiba. Rindang telah memikirkan hal ini sejak lama. Beberapa hari ini Rindang sering menyendiri di apartemennya sepulang kuliah. Biasanya Rindang akan pergi ke apartemen Khalisa tapi ia tak ingin mengganggu Khalisa dan Azfan. Hingga akhirnya kesendirian itu menghasilkan banyak pemikiran, salah satunya adalah Rindang ingin memeluk Islam.


Rindang terus mengelak, membuang jauh pikiran-pikiran itu. Rindang mempertimbangkan banyak hal seperti bagaimana reaksi keluarganya saat ia mengungkapkan keinginannya tersebut. Bagaimana jika Rindang tidak diakui sebagai anggota keluarga lagi. Bagaimana jika para penggemar Rindang menghujatnya bahkan meninggalkannya. Bagaimana jika brand-brand yang telah bekerja sama dengan Rindang membatalkan perjanjian mereka. Dan banyak hal yang berputar-putar di kepala Rindang.


Namun ketika tadi bertemu Khalisa, seolah ada yang mengetuk hatinya. Keyakinan dalam hati Rindang semakin tertanam kuat.


Malam itu Umar dan Aisyah mampir ke apartemen Khalisa sebelum menghadiri pengajian di salah satu pondok pesantren di Yogyakarta. Sebenarnya mereka tidak mau pergi ke pengajian itu karena Renata sedang dirawat di rumah sakit. Namun Renata sendiri meminta Aisyah dan Umar menengok keadaan Khalisa serta suaminya. Walaupun Renata sering melakukan panggilan video dengan Khalisa, ia tak percaya pada apa yang terlihat di layar.


Malam itu juga Khalisa meminta tolong pada Umar untuk membimbing Rindang mengucapkan dua kalimat syahadat.


"Rindang, kamu benar-benar mau memeluk Islam?" Umar yang duduk di hadapan Rindang mengajukan pertanyaan sebelum ia membimbing gadis itu untuk bersyahadat.


"Iya Suk." Rindang mengangguk mantap, jantungnya berdebar hebat rasanya tidak sabar untuk mengucapkan kalimat itu.


"Apa ada paksaan?"


"Nggak ada sama sekali." Rindang menggeleng, meski ia amat dekat dengan Khalisa tapi mereka tak pernah saling mempengaruhi dan beribadah menurut keyakinan masing-masing serta saling menghargai satu sama lain.


Khalisa yang berada di sofa menggenggam tangan Azfan dengan perasaan yang sulit dijelaskan. Khalisa bahagia sekaligus tak percaya bahwa hal seperti ini akan terjadi di hidupnya. Ini memang bukan pertama kalinya Khalisa melihat proses syahadat seseorang yang hendak menjadi muslim. Namun ketika melihat Rindang yang akan melakukannya, Khalisa tak bisa menyembunyikan kebahagiaannya.


"Tolong ulangi perkataan saya." Umar membacakan kalimat syahadat secara perlahan yang diikuti oleh Rindang. Meski terbata-bata tapi akhirnya Rindang berhasil mengucapkannya.


Malam itu apartemen Khalisa dipenuhi oleh tangis kebahagiaan. Mereka berdoa bersama agar Rindang senantiasa Istiqomah di jalan Allah. Jika melihat penampilan Rindang sehari-hari maka tak akan ada yang menyangka jika ia bisa memiliki keinginan memeluk Islam. Namun Allah menanamkan hidayah kepada siapapun yang Dia kehendaki.


"Masya Allah aku nggak nyangka dengan kita mampir ke apartemen Khalisa bisa membantu Rindang mengucapkan dua kalimat syahadat." Aisyah memeluk Rindang, selama berpelukan itu juga ia berdoa agar Rindang dikuatkan hatinya dalam menghadapi cobaan yang akan menghampirinya setelah ini.


"Ini salah satu hari paling bahagia di hidup aku." Khalisa juga memeluk Rindang, "ya Allah, aku nggak nyangka Rin."


"Ini bukan mimpi kan?" Rindang sendiri tidak percaya pada apa yang terjadi padanya. Ia begitu mudah mengatakan bahwa ia ingin putus dari Jason. Sore tadi Jason pergi dengan perasaan hancur karena Rindang tak lagi bisa mempertahankan nya sekaligus akan berpindah keyakinan. Jason tak tahu harus marah pada siapa, ia memaki Khalisa tapi tak ada gunanya. Rindang tetap pada keputusannya.


"Aku boleh pakai jilbab nggak?" Rindang memandang Khalisa dengan mata berbinar-binar, ia ingin mengenakan jilbab seperti Khalisa. "Aku nggak sabar bilang, selamat tinggal gonta-ganti warna rambut."


"Boleh." Khalisa mengajak Rindang ke kamarnya untuk memilih jilbab yang Rindang inginkan.


"Ama, dirawat di rumah sakit Ai?" Azfan bertanya pada Aisyah ketika Khalisa dan Rindang meninggalkan ruang tamu.


"Khalisa tahu?" Aisyah terkejut karena Azfan mengetahui hal itu.


"Justru Khalisa yang pertama kali sadar kalau Ama dirawat, Khalisa bilang dia hafal betul sama kamar rumah sakit Kafasa jadi dia nggak percaya kalau Ama cuma medical check up."


"Ai sudah menduga kalau kalian pasti akan menyadari hal itu walaupun kami nggak ada yang bilang, Khalisa marah nggak waktu tahu itu?"


"Khalisa minta jadwal pulang ke Banyuwangi dipercepat, Khalisa juga menjahit dress Ama sampai larut malam."


"Azfan, kamu harus nenangin Khalisa ya." Pinta Aisyah.


"Inshaa Allah Ai." Azfan akan selalu menjadi penenang Khalisa apalagi saat seperti ini.


Karena Umar dan Aisyah sudah mampir ke apartemen tersebut maka mereka sekalian mengajak Khalisa dan Azfan untuk ikut pengajian. Rindang yang sudah mengenakan gamis dan jilbab milik Khalisa juga akan ikut. Itu akan menjadi pengalaman pertamanya sebagai umat muslim.


"Sedikit kependekan ya?" Khalisa melihat gamisnya yang hanya mencapai sebatas mata kaki saat dikenakan Rindang. Itu karena tubuh Rindang lebih tinggi dari Khalisa. Namun untuk sementara Rindang tak masalah dengan hal ini.


"Masya Allah, cantik sekali." Puji Aisyah membuat Rindang tersipu.


Rindang selalu mendapat pujian dari orang-orang di sekitarnya karena wajah cantiknya dan badan yang bagus. Namun setelah berpakaian tertutup begini Rindang terlihat berbeda.


"Pengajiannya dimana Suk?" Azfan duduk di kursi kemudi dengan Umar berada di sampingnya. Sedangkan tiga wanita berada di jok belakang.

__ADS_1


"Pondok pesantren Nurul Islam, nggak jauh dari sini kan?"


"Oh itu tempat saya mondok dulu." Azfan tidak mengira bahwa mereka akan menuju pondok pesantren tempatnya belajar dulu karena sebelumnya Umar tidak memberitahu.


Khalisa mengangkat alis, waktu ikut acara reuni beberapa saat yang lalu Khalisa tak sempat mengobrol dengan Naira—si cinta pertama Azfan. Khalisa sempat membatin bahwa jika ditakdirkan bertemu lagi maka ia harus mencoba mengobrol dengan Naira.


"Kebetulan sekali, gimana kalau nanti kamu yang qiro'ah?" Umar diminta untuk mengisi ceramah, karena ada Azfan maka ia memintanya untuk qiro'ah sebelum dirinya memulai ceramah tersebut.


Azfan tidak segera menjawab, ia tidak cukup percaya diri untuk melakukan hal tersebut.


"Jangan malu Mas, membaca ayat-ayat Allah membuktikan kalau Mas mencintai-Nya." Khalisa menyentuh pundak Azfan dari belakang. Ia tahu apa yang Azfan pikirkan saat ini.


Aisyah tersenyum, rupanya Khalisa tahu cara menangani suaminya yang pemalu.


"Baiklah kalau begitu saya mau Suk."


"Terimakasih Azfan." Umar senang karena Azfan bersedia melakukannya.


******


Kedatangan Umar disambut oleh pengasuh pesantren dan jajaran pengurusnya. Itu adalah acara wisuda bagi murid MA pondok pesantren Nurul Islam. Ketika mereka datang, beberapa murid sedang bershalawat di atas panggung.


"Assalamualaikum Kyai Zainal." Umar mengucapkan salam mencium tangan pengasuh pondok pesantren tersebut.


"Waalaikumussalam, terimakasih Ustadz sudah mau memenuhi undangan kami, silakan." Zainal mempersilakan Umar, Aisyah, Azfan, Khalisa dan Rindang memasuki kediamannya.


"Justru saya berterimakasih karena Kyai mengundang kami kesini, semoga kita bisa selalu menjalin silaturahmi."


Mereka duduk di atas permadani merah dengan berbagai sajian makanan di tengah-tengah ruangan.


"Yai, saya Azfan." Azfan mencium punggung dan telapak tangan Zainal.


"Azfan?" Zainal memperbaiki posisi kacamata nya. Ia tampak berpikir sejenak mengingat-ingat nama Azfan, "Azfan yang satu angkatan dengan Naira."


"Benar Yai."


"Jadi Azfan ini menikah dengan adik ipar saya Kyai." Jelas Umar.


"Masya Allah Azfan didekatkan dengan orang-orang baik."


"Alhamdulillah Yai." Saat bertemu Umar di rumah Khalisa, Azfan cukup terkejut karena biasanya ia hanya melihatnya di layar televisi atau ponsel. Namun Azfan tidak menyangka kalau Umar adalah paman Khalisa.


Beberapa saat kemudian Naira datang membawakan teh hangat untuk Umar dan lainnya. Naira juga duduk bergabung dengan mereka, ikut mendengarkan obrolan Abi nya dan Umar.


Mereka berbincang-bincang sebentar sebelum Umar dan Azfan keluar untuk naik ke atas panggung. Azfan akan membacakan ayat suci Al-Qur'an sebelum Umar memulai ceramahnya. Aisyah juga keluar untuk duduk bergabung dengan tamu undangan lainnya.


"Ning Naira, ingat saya?" Khalisa menyapa Naira yang tadi menunduk. Ia kagum pada sifat Naira yang begitu lemah lembut. Khalisa bertanya-tanya mengapa ia tidak bisa kalem seperti Naira.


Rindang tidak kaget jika Khalisa menyapa gadis bernama Naira itu lebih dulu. Meski hanya bertemu sekilas dengan seseorang, Khalisa akan menyapa lebih dulu saat bertemu lagi.


Naira mengangkat wajah melihat Khalisa, "ah istri Azfan ya?"


Khalisa tersenyum lebar karena Naira masih mengingatnya walaupun saat reuni mereka tidak sempat mengobrol.


"Ternyata kita bertemu lagi." Naira juga menebarkan senyumnya. Melihat Khalisa sedekat ini membuat Naira kagum akan kecantikan istri Azfan tersebut. Khalisa begitu bercahaya. Naira mengulurkan tangan untuk menjabat tangan Khalisa.


"Oh iya, kenalin ini sahabat saya." Khalisa juga mengenalkan Rindang pada Naira.

__ADS_1


"Halo, Rindang." Rindang menjabat tangan Naira.


Khalisa menahan tawa karena Rindang mengucapkan halo dengan canggung.


"Rindang baru memeluk Islam, mohon doanya." Ucap Khalisa.


"Masya Allah, Alhamdulillah semoga kamu selalu Istiqomah berada di jalan Allah." Naira belum pernah bertemu dengan mualaf sebelumnya sehingga ia menatap Rindang kagum.


"Aamiin." Dada Rindang terasa hangat bertemu dengan orang-orang muslim yang bukan hanya Khalisa.


Mereka terdiam ketika bacaan Qur'an surat Al-Isra' dari arah panggung yang letaknya di samping kediaman Kyai. Suara Azfan menggema ke seluruh penjuru. Suara yang membuat semua orang terdiam dan mendengarkan Qiraah nya dengan hikmat.


Naira memuji Azfan dalam hati, sungguh beruntung Khalisa memiliki suami seperti Azfan. Saat masih MA dulu Naira tidak begitu tahu tentang Azfan, yang ia tahu Azfan adalah salah satu laki-laki yang menyukainya. Naira memang tak pernah menanggapi mereka semua tapi sekarang tiba-tiba ia merasa sedikit menyesal karena tak menanggapi satu orang itu. Astaghfirullah, Naira beristighfar berkali-kali dalam hati. Dari mana asalnya pikiran ini?


"Santri-santri sibuk ya di dalam?" Tanya Khalisa setelah Azfan menyelesaikan bacaannya.


"Iya, mereka lagi masak dan masuk-masukin kue untuk wali murid dan jamaah pengajian."


"Kalau gitu kami boleh bantu nggak?"


"Khalisa mau bantu?" Naira mengangkat alis, Khalisa menjawabnya dengan anggukan.


"Boleh nggak?"


"Boleh." Naira beranjak lebih dulu dan mengajak Khalisa serta Rindang ke belakang. Naira dengan senang hati mengizinkan Khalisa jika ingin membantu, justru ia yang tidak enak karena mereka adalah tamu tapi justru menawarkan diri untuk membantu para santri.


Ketika sampai di dapur, para santri sedang memasukkan makanan ke dalam kotak yang terbuat dari kertas. Tak hanya kue, terdapat nasi briani dengan potongan daging kambing, air dan kurma untuk para jamaah pengajian.


"Perkenalkan ini Khalisa dan Rindang, mereka datang bersama Ustadz Umar." Naira memperkenalkan Khalisa dan Rindang kepada para santri yang berada di dapur. "Khalisa dan Rindang mau dipanggil Mbak atau Cece?" Tanya Naira agar tidak salah, karena ia tahu rata-rata keturunan Chinese dipanggil Cece.


"Apa aja nggak masalah." Jawab Khalisa karena makna keduanya sama hanya saja berasal dari bahasa yang berbeda. "Mbak aja." Lanjutnya. Khalisa menyapa mereka yang disambut dengan ramah.


Khalisa dan Rindang mulai membantu mereka memasukkan nasi ke dalam kotak begitupun dengan Naira.


"Khalisa mau coba nasi briani nggak?" Naira mengambil satu sendok. Naira menyuapkan sesendok penuh nasi briani setelah mendapatkan jawaban dari Khalisa.


"Rindang?" Naira melihat Rindang.


"Oh aku nggak makan nasi." Tolak Rindang sopan padahal mulutnya sudah penuh liur karena ingin mencoba masakan bernama nasi briani itu.


"Enak banget." Puji Khalisa setelah selesai mengunyah.


Mereka banyak mengobrol seperti teman lama yang dipertemukan kembali. Khalisa cukup nyambung bicara dengan Naira. Menurut Khalisa, Naira adalah orang yang menyenangkan. Tidak. Semua orang yang ditemuinya memang menyenangkan. Namun bagi Khalisa, Naira lebih menyenangkan lagi.


Kotak-kotak yang telah diisi makanan dikeluarkan untuk dibagikan pada jamaah dan wali murid.


"Haura disini?" Azfan melihat Khalisa di dapur ketika ia hendak membantu mengeluarkan puluhan kotak nasi.


"Iya bantu-bantu sedikit, Mas Azfan suaranya bagus banget tadi." Khalisa memuji Qiraah Azfan tadi.


"Sayang, jangan tersenyum begitu." Azfan berbisik.


"Kenapa?" Khalisa membelalak.


"Senyum Haura cuma punya ku." Azfan kembali berbisik membuat Khalisa tersenyum lebih lebar. Namun saat Azfan melihatnya, Khalisa buru-buru mengatupkan bibir.


Pengajian itu berakhir pukul 11 malam. Khalisa meminta Umar dan Aisyah menginap di apartemennya tapi mereka bilang akan langsung ke bandara.

__ADS_1


__ADS_2