Mahabbah Cinta Khalisa

Mahabbah Cinta Khalisa
83


__ADS_3

Satu per satu mahasiswa keluar dari ruangan setelah kelas berakhir. Mereka pergi ke kantin untuk mengisi perut, bermain bola di lapangan atau sekedar duduk mengobrol di bawah pohon. Pemandangan kampus yang indah membuat mereka betah berlama-lama disana.


Kafa masih mengenakan jas praktikum berwarna putih ketika keluar dari laboratorium. Ia menyusuri koridor menuju kantin menyusul teman-temannya yang lebih dulu keluar tadi.


Langkah Kafa terhenti ketika ia tak sengaja melihat Khalisa dan Azfan duduk di bawah pohon trembesi.


"Mereka bawa bekal?" Kafa mengerutkan kening melihat Khalisa menyuapi Azfan nasi dari kotak makan yang berada di pangkuannya. "Apa mereka bener-bener nggak punya uang untuk beli makanan di luar?" Kafa melipat tangan di depan dada, melihat sepupunya seperti itu membuatnya iba tapi Khalisa terlihat bahagia. Bahkan Kafa bisa mendengar tawa mereka dari jarak sejauh ini. "Mereka bahagia dengan sekotak nasi itu?"


"Ngomong sama siapa?"


Kata terperanjat mendengar suara seseorang di sampingnya, ia melihat gadis yang sepertinya tak asing tapi dimana mereka pernah bertemu.


"Siapa kamu?" Tanya Kafa karena sepertinya gadis itu mengenalnya.


"Aku?" Gadis itu menunjuk dirinya sendiri. "Mahira, kita pernah ketemu di hotel Jinggo."


"Oh ya?" Kafa tidak ingat jika mereka pernah bertemu, ayolah ia bukan Khalisa yang bisa mengingat nama semua orang.


"Waktu itu kita papasan di depan ballroom, aku pakai kebaya."


"Apa itu penting?" Kafa mengangkat alisnya sebelah, lagi pula ia tak ingin mengenal gadis yang mengenakan jas FIAI tersebut.


"Enggak sih." Gadis bernama Mahira itu langsung berubah dingin, ia berlalu dari sana meninggalkan Kafa.


"Eh!" Kafa setengah berteriak menghentikan langkah Mahira.


"Apa?" Mahira berbalik.


"Itu tali sepatu kamu lepas." Kafa tidak mau melihat Mahira jatuh di depannya, jika itu terjadi maka ia harus menolongnya, Kafa tidak mau melakukannya.


"Apa itu penting?" Mahira kembali melangkah dengan tali sepatu terlepas.


"Dasar aneh." Kafa memilih jalan lain menuju kantin karena takut Mahira mengira ia mengikuti gadis itu.


Khalisa menoleh ke arah koridor saat ia seperti mendengar suara Kafa. Namun ketika melihat ke sumber suara ia tidak menemukan apapun disana. Apakah Khalisa salah dengar saking rindunya dengan Kafa. Khalisa tak menyangka jika mereka akan bertengkar hingga berbulan-bulan. Bahkan ketika Khalisa mengirim pesan, Kafa hanya membaca tanpa membalasnya. Apakah Kafa begitu tidak menyukai Azfan sampai harus seperti ini. Lagi pula Khalisa telah membuktikan bahwa ia amat bahagia terhadap pilihannya untuk hidup dengan Azfan.


"Kenapa Haura?" Azfan mencomot sebutir nasi di sudut bibir Khalisa dan memakannya. Ia mengikuti arah pandang Khalisa tapi tidak ada siapapun disana.


"Aku kayak denger suara Kafa, apa cuma perasaanku aja ya Mas?"


"Nggak ada siapa-siapa disitu tapi ini area laboratorium anak kedokteran." Mungkin saja Khalisa mendengar suara Kafa tapi dia sudah pergi sebelum Khalisa menemukannya. Karena selama ini Kafa memang selalu menghindar untuk bertemu Khalisa. "Haura kangen sama Kafa ya?"


Khalisa tersenyum dan mengangguk samar, ia memang merindukan Kafa.


"Sabar ya." Azfan menggenggam tangan kiri Khalisa. "Kita berdoa aja supaya Kafa lekas memaafkan kita."


"Aku juga nggak enak sama Ai, setiap telepon dia selalu minta maaf karena aku dan Kafa belum damai padahal ini sama sekali bukan kesalahannya." Khalisa menunduk melihat nasi dan sepotong udang terakhir, Azfan selalu makan lahap dan menghabiskan masakan Khalisa. Itu membuat Khalisa selalu bersemangat untuk mencoba membuat masakan lain. "Udah ah jangan dibahas lagi, ayo habisin makannya tinggal sedikit." Khalisa lanjut menyuapi Azfan, ia membawa nasi, bihun goreng dan udang saus padang dari rumah karena biasanya setelah pulang kuliah Azfan langsung pergi ke toko tanpa makan lebih dulu jadi Khalisa berinisiatif membawa masakannya ke kampus.


Ketika selesai kelas Khalisa dan Azfan bertemu di taman kampus atau pinggir danau untuk makan siang bersama. Meski bukan makanan mewah apalagi mahal tapi mereka bahagia. Hal-hal sederhana seperti itu membuat hubungan mereka tetap harmonis seperti saat pertama kali menikah—tidak berubah sedikitpun.

__ADS_1


"Aku cuci tangan dulu ya." Khalisa beranjak untuk mencuci tangan di kran dekat situ.


"Sudah?" Azfan melihat Khalisa kembali, ia menarik tangan Khalisa yang basah untuk mengusapnya. "Tangan ini ajaib ya?"


"Kenapa?" Khalisa tidak mengerti maksud perkataan Azfan.


"Kalau disuapin pakai tangan ini makanannya jadi lebih enak."


Khalisa tersipu mendengar pujian Azfan, ia menunduk menyembunyikan pipinya yang mulai merona.


"Oh iya Mas, lusa Mbak Ayin ngajak ketemu sama Kak Fawas juga." Ayin adalah istri Fawas, mereka menikah tiga bulan setelah pernikahan Khalisa dan Azfan. Ayin berasal dari Surabaya dan menetap di Yogyakarta setelah menikah. Sejak pertama kali bertemu di pesta pernikahan, Khalisa dan Ayin langsung akrab dan menjadi teman baik hingga sekarang.


Khalisa memang mudah berteman dengan siapapun. Bahkan ia juga bisa akrab dengan Naira sejak bertemu lagi di acara pengajian waktu itu. Mereka sering bertukar pesan dan membicarakan banyak hal. Khalisa bisa merangkul siapapun untuk menjadi temannya.


"Dimana?"


"Mas boleh tentuin tempatnya, kami belum menentukan nya."


"Museum Al-Bayan." Azfan tiba-tiba mengingat museum tersebut, mereka bisa bertemu disana sekaligus menjelajahi museum yang penuh dengan Al-Qur'an tersebut. Hangout sekaligus belajar.


"Boleh, nanti aku bilang Mbak Ayin."


Azfan mengangguk, ia memasukkan kotak bekas makanan mereka ke dalam tas kain berwarna hijau.


"Haura, memangnya Geza itu ganteng ya?" Kalimat Khalisa kemarin masih tidak bisa Azfan lupakan bahkan ia sulit tidur semalam memikirkan hal itu.


"Kenapa tiba-tiba tanya gitu?" Khalisa bingung mendapat pertanyaan aneh itu.


Khalisa berpikir, ia bahkan tidak ingat kemarin mengatakan hal itu.


Azfan hendak mengulang kalimat Khalisa kemarin tapi seorang mahasiswa yang mengenakan jas jurusan farmasi lebih dulu menghampiri mereka sehingga Azfan mengurungkan niatnya. Cowok itu memanggil Khalisa dengan membawa sebuah lembaran.


"Ini daftar desain bentuk obat yang kemarin kita bahas, kalau ada yang kurang tolong kamu kasih tahu, aku udah bikin grub chat sama anak-anak lain kamu bisa cek." Cowok itu meletakkan lembaran yang dibawanya di atas meja. Ia adalah Beni salah satu teman satu jurusan Khalisa.


"Oke, makasih Ben." Khalisa mengangguk dan tersenyum tipis yang tidak luput dari perhatian Azfan.


"Aku pergi dulu."


"Iya." Khalisa kembali mengangguk.


"Apa itu?" Tanya Azfan setelah Beni pergi dari sana.


"Aku lagi ada praktikum desain bentuk obat dan ini gambar-gambar nya yang udah aku dan anak-anak desain." Khalisa menunjukkan lembaran tersebut pada Azfan.


"Aku pikir Haura cuma mendesain pakaian tapi ternyata bisa bikin desain obat juga."


"Walaupun sama-sama desain tapi keduanya jelas berbeda."


"Lalu kenapa Haura tersenyum?" Azfan menatap Khalisa dalam.

__ADS_1


"Hm?" Alis Khalisa terangkat, kenapa hari ini Azfan aneh sekali. Bukankah ia memang suka tersenyum?


"Barusan aku lihat Haura senyum ke Ben-Ben." Wajah Azfan muram, rasanya ingin menutup wajah Khalisa dengan apapun yang ada di dekatnya saat ini agar tak ada yang bisa melihat senyum istrinya.


"Dia namanya Beni dan kenapa Mas kesel aku cuma senyum nggak ngapa-ngapain."


"Tetep aja, senyum sama temen Haura yang cewek aja."


"Oh kalau ke temen cowok aku cemberut aja, seperti ini?" Khalisa memasang ekspresi marah yang justru terlihat lucu bagi Azfan.


Azfan menggeleng.


"Terus gimana?"


"Begini." Azfan memasang wajah datar membuat Khalisa mentertawakan nya.


"Lucu banget sih suamiku." Khalisa mencubit pipi Azfan, kalau bukan di area kampus ia pasti sudah menggigit pipi lelaki itu. "Maaf aku sudah bilang Geza ganteng, aku minta maaf, lain kali nggak begitu lagi." Khalisa menggenggam tangan Azfan, ia ingat kemarin mengatakan kalimat yang membuat Azfan cemburu meskipun ia tidak berniat demikian.


Azfan mengangguk, tentu saja ia tidak bisa kesal terlalu lama pada Khalisa yang menggemaskan itu.


"Aku mau tidur sebentar." Azfan meletakkan kepalanya di pangkuan Khalisa dan memejamkan mata. Tidur beralaskan rumput di bawah pohon yang rindang akan membuat Azfan mudah terlelap.


Khalisa menatap Azfan mengusap rambutnya, tiba-tiba air mata menggenang di pelupuk matanya melihat wajah lelah suaminya itu. Azfan tak pernah punya waktu untuk tidur siang karena harus langsung ke toko sepulang kuliah. Bekerja sambil kuliah itu memang tidak mudah. Ditambah Khalisa yang tidak bisa membantu Azfan menyelesaikan tugas kuliah karena jurusan mereka berbeda.


"Assalamualaikum, maaf Kak." Seorang mahasiswi menghampiri mereka, ia adalah adik tingkat Khalisa dan Azfan di organisasi HAWASI. "Saya Zahra."


Khalisa mengangguk dan meletakkan telunjuk di atas bibirnya sebagai isyarat bahwa adik tingkatnya yang bernama Zahra itu untuk memelankan suaranya karena takut membangunkan Azfan.


"Ada apa Zahra?" Tanya Khalisa dengan suara lirih.


"Saya mau tanya sama Kak Azfan tentang bimbingan tahfidz Minggu depan apa ada batas untuk jumlah pesertanya?"


"Kak Azfan nya baru aja tidur, memangnya Kak Luthfi nggak ngasih tahu ya soalnya kan beliau yang membuat program bimbingan itu."


Zahra melirik Azfan yang terlihat pulas, "maaf Kak, kalau Kak Luthfi ngasih tahu pasti saya nggak akan kesini untuk nanya." Ia sudah berjalan jauh hampir ke seluruh penjuru kampus hanya untuk menemui Azfan, apa susahnya membangunkan Azfan, begitu pikirnya. "Tolong dong Kak, bangunin Kak Azfan sebentar."


Khalisa merogoh saku jas nya untuk menghubungi Lutfhi selaku ketua HAWASI. Meskipun Azfan ditunjuk untuk membimbing hafalan tapi tetap saja Luthfi yang menentukan semua peraturannya. Khalisa juga tidak mungkin membangunkan Azfan.


"Biar aku bantu tanya ke Kak Luthfi nanti baru aku kasih tahu kamu, nama kamu Zahra kan, aku simpan kontak mu kok."


"Sia-sia aku kesini." Lirih Zahra.


"Nggak ada usaha yang sia-sia." Sahut Khalisa membuat Zahra menutup mulutnya, mungkin mengira Khalisa tak akan mendengar gerutuannya. "Maaf ya, aku nggak bisa bangunin Kak Azfan tapi kamu pasti dapat jawaban dari pertanyaan mu tadi."


"Ya udah makasih Kak, maaf ganggu waktunya." Zahra tersenyum tipis menganggukkan kepala dan mengucap salam pamit undur diri dari sana.


Khalisa menjawab salam Zahra dengan ramah agar tidak membuat adik tingkatnya itu tersinggung. Khalisa tidak punya pilihan karena Azfan baru saja tidur. Apalagi melihat wajah Azfan yang tampak kelelahan membuat Khalisa tidak kuasa untuk membangunkannya.


Khalisa senang jika Azfan makin banyak dikenal orang sejak memenangkan lomba MTQ. Selain diundang mengisi pengajian, Azfan juga sering membimbing tahfidz Qur'an bersama ustadz lainnya. Namun kadang Khalisa juga kasihan karena banyaknya kegiatan yang Azfan miliki hingga kurang beristirahat. Khalisa hanya bisa berdoa agar semua yang Azfan lakukan menjadi berkah untuk mereka dan banyak orang.

__ADS_1




__ADS_2