Mahabbah Cinta Khalisa

Mahabbah Cinta Khalisa
111


__ADS_3

Kafa melangkah lebar melewati koridor yang ramai oleh mahasiswa lain yang juga baru keluar kelas. Mereka sibuk membicarakan tentang pengumuman lomba MTQ yang baru dirilis oleh pihak panitia. Kafa tidak niat menguping tapi ucapan mereka terpaksa mendesak masuk ke indra pendengarannya.


Kafa mengeluarkan ponselnya ikut membuka website kampus untuk melihat pengumuman tersebut.


"Wah!" Seru Kafa spontan melihat nama Mahira nangkring di juara harapan 1, ia pikir Mahira hanya akan mendapat piagam penghargaan sebagai peserta tapi ternyata Mahira mampu memenangkan lomba meski hanya harapan 1.


"Kalau jalan jangan sambil lihat hp, nanti nabrak orang marah-marah."


Kafa mengangkat wajah mendengar seseorang menegurnya, siapa lagi yang berani mengatakan itu jika bukan Mahira. Kafa langsung memasang wajah dingin seraya memasukkan ponsel ke dalam saku celananya.


"Selamat atas kemenangan kamu, aku pikir kamu cuma bisa ngoceh ternyata punya bakat qiroah juga."


Mahira berusaha memasang ekspresi sedatar mungkin meskipun hatinya dipenuhi bunga bermekaran seperti sakura di musim semi. Ratusan kupu-kupu juga hingga di dahan pohon sakura itu mendesak memenuhi perut Mahira. Perasaan macam apa ini?


"Sebenernya aku nggak punya bakat tapi karena sering latihan aja."


"Tapi suara kamu lumayan bagus sih waktu itu."


Lumayan dia bilang? Jadi nggak bagus-bagus banget gitu?


"Kamu mau kemana?" Tanya Mahira, "mau pulang?"


"Kenapa? mau numpang? nggak boleh."


"Dih siapa yang mau numpang, aku udah beli sepeda jadi nggak bakal numpang kamu lagi."


"Oh." Kafa ber-Oh ria. Apa ia kecewa? tentu saja tidak, bukankah bagus jika Mahira tak akan numpang Kafa lagi.


"Ayo kalau mau bareng ke parkiran." Mahira melangkah lebih dulu, Kafa sempat ragu untuk pergi bersama Mahira tapi akhirnya ia mengekori langkah gadis itu.


"Sepeda kamu yang mana?" Tanya Kafa sesampainya di tempat parkir.


"Yang warna merah." Mahira menunjuk salah satu sepeda yang terparkir di antara sepeda lainnya. "Lagi dicharge sih tadi, semoga dayanya udah penuh."


Kafa jadi ingin membeli sepeda seperti itu tapi ia tak bisa mengendarainya. Sejak kecil Kafa tidak pernah belajar menaiki sepeda jenis apapun, baik sepeda kayuh, sepeda listrik apalagi sepeda motor. Khalisa saja baru bisa naik sepeda setelah masuk kuliah. Sepertinya Kafa harus belajar setelah ini.


"Kenapa kamu lihatin sepeda ku gitu? pengen naik?" Mahira menyipitkan matanya melihat Kafa penuh selidik.


"Enggak." Kafa menggeleng, "ya udah aku balik duluan." Ia berlalu dari sana meninggalkan Mahira masuk ke dalam mobilnya.


"Bilang aja pengen, gengsi amat sih." Mahira mencibir seraya melangkah menuju sepedanya yang terparkir tak jauh dari tempatnya berdiri barusan.


Seharusnya Kafa langsung kembali ke apartemen sepulang kuliah tapi sore ini ia membelokkan mobilnya ke arah ruko Khalisa. Ia ingin belajar mengendarai sepeda dengan Azfan. Kafa tidak mau Mahira mengejeknya jika tahu ternyata ia tidak bisa naik sepeda.


Beberapa anak remaja sedang menghafal Al-Qur'an di lantai satu ruko ketika Kafa sampai disana. Kafa mengucapkan salam dengan suara pelan takut mengganggu mereka. Sepertinya Kafa harus menunggu hingga Azfan selesai bimbingan.


"Cece di dapur, Kafa." Ujar Azfan setelah menjawab salam.


Kafa mengangguk melangkah menuju dapur meskipun sebenarnya ia ada keperluan dengan Azfan. Namun Kafa tak mungkin menunggu disana.


Khalisa terlihat sedang sibuk mengaduk sesuatu di atas wajan memunggungi pintu dapur. Aroma ayam goreng tercium ketika Kafa melangkah semakin dekat.

__ADS_1


"Eh!" Khalisa memekik ketika spatula di tangannya terlepas, ia reflek menghindar tapi minyak panas sedikit memercik mengenai kakinya. Khalisa menunduk tapi percuma, ia tak bisa mengambil spatula yang tergeletak di lantai tersebut.


Kafa segera mengambil spatula itu membuat Khalisa terkejut karena kedatangannya yang tiba-tiba.


"Kafa, kapan kamu dateng?" Khalisa mengambil spatula baru.


"Barusan." Kafa meletakkan spatula di tangannya ke tempat cuci piring. "Hati-hati dong Ce."


"Udah hati-hati kok tapi spatula nya aja yang nggak mau dipegang." Khalisa tertawa di ujung kalimatnya, "makan malam disini ya sama anak-anak di depan."


"Kenapa sih Cece nggak pakai ART aja?" Kafa tidak kuasa melihat Khalisa memasak, membersihkan rumah, mengurus suami dan kuliah pada saat yang bersamaan, belum lagi sekarang Khalisa juga harus mulai terjun mengurus Alindra Beauty. Mengapa Khalisa harus melakukan itu.


Khalisa tersenyum sebelum menjawab pertanyaan Kafa, ia mengangkat ayam yang sudah berwarna kecoklatan memindahkannya ke piring yang sudah dialasi tisu.


"Memangnya kenapa Cece harus pakai ART?


"Cece harus masak, bersihin rumah, kuliah dan kerja sendiri apalagi sekarang Ce Khalisa lagi hamil."


"Cece masih bisa handle semua kok lagian Mas Azfan selalu bantu Cece dan Cece ikhlas ngelakuin semuanya, ini nggak seperti yang kamu bayangkan Kafa." Khalisa mematikan kompor setelah memindahkan semua ayam ke piring.


Sorot mata Kafa dingin seperti harimau yang siap menerkam mangsanya, ia bisa melihat dengan jelas wajah kelelahan Khalisa. Namun Khalisa selalu bilang bisa mengatasi semuanya sendiri atau berdua dengan Azfan. Kafa tak bisa melakukan apapun selain pura-pura percaya dengan ucapan Khalisa. Rumah tangga tidak seindah kelihatannya.


"Aku mau belajar naik sepeda." Kafa menyandarkan tubuhnya ke kitchen island.


"Kok tiba-tiba, ada apa?"


"Cuma pengen belajar aja sama Mas Azfan, cuma dia kan yang punya sepeda."


"Aku belum nanya sih Mas Azfan mau apa enggak."


"Pasti mau." Khalisa tahu betul Azfan tak mungkin menolak permintaan Kafa. "Besok pagi aja gimana kalau sekarang takut kesorean nanti, biar kamu lebih puas juga belajarnya."


"Oke." Kafa manggut-manggut.


Kafa memiliki tekad kuat untuk bisa mengendarai sepeda karena di depan Mahira ia harus menjadi cowok yang bisa segalanya. Kafa sudah merasa memiliki kelebihan dalam segala hal tapi setelah melihat sepeda Mahira tadi, ia baru sadar kalau ternyata ia tak bisa mengendarai sepeds. Ah harusnya Kafa belajar naik sepeda sejak kecil agar. Sekarang rasanya Kafa kehilangan seperempat percaya dirinya. Hanya karena Mahira bisa baik sepeda dan Kafa tidak.


******


"Masya Allah, Alhamdulillah sudah bisa menghafal juz 30." Ustadzah Hafsah memuji Rindang yang melakukan setoran hafalan hari ini.


Rindang tersenyum malu-malu, ia bukan tipe orang yang mudah tersipu. Dulu walaupun ada banyak cowok yang memuji kecantikan Rindang di hadapannya langsung, Rindang tak pernah tersipu apalagi salah tingkah. Namun saat Hafsah yang merupakan guru pembimbing anggota perempuan komunitas mualaf, Rindang tak bisa menahan debaran dalam hatinya.


"Baru juz 30 Ustadzah bukan 30 juz." Rindang terkekeh, untung saja ia mengenakan cadar sehingga tak ada yang bisa melihat semburat merah di pipinya.


"Itu sudah bagus loh, semoga setelah ini makin rajin baca Al-Qur'an, menghafal dan menerapkannya di kehidupan sehari-hari, kita harus bangga karena punya Al-Qur'an yang sudah mengatur segala kehidupan manusia."


"Terimakasih, saya beruntung bertemu dengan Ustadzah."


"Enggak Rindang, saya yang beruntung bertemu kamu, saya belajar banyak dari kamu." Hafsah menggenggam tangan Rindang, ia juga belajar banyak dari para mualaf lain yang setiap hari belajar di tempat ini.


Rindang beranjak memberikan kesempatan bagi yang lain untuk setor hafalan. Aktivitas ini menjadi menyenangkan bagi Rindang, kadang ia juga muroja'ah bersama Khalisa dan Azfan di rumah mereka. Rindang merasa jadi wanita paling beruntung karena memiliki sahabat seperti Khalisa yang meskipun dulu mereka berbeda tapi Khalisa selalu menghargai itu.

__ADS_1


Rindang meraih tas nya dan keluar dari ruangan itu, ia tidak sabar membaca surat yang baru dihafalnya saat sholat nanti. Setiap hari Rindang ingin menghafal surat baru karena kadang merasa bosan dengan surat yang sama, walaupun sebenarnya ia tak boleh merasa seperti itu. Namun kebosanan Rindang juga menjadi pecut semangat agar ia lebih giat menghafal.


"Rindang!"


Rindang memutar badan mendengar seseorang memanggilnya.


"Jason." Rindang melihat Jason menghampirinya. "Kamu disini juga?"


"Iya."


Rindang manggut-manggut, ia tak tahu harus bersikap seperti apa di hadapan Jason. Rindang tak ingin berbicara apapun dengan Jason.


Levin hendak keluar tapi setelah melihat Rindang berbicara dengan Jason, ia spontan menghentikan langkah. Levin tidak bisa mendengar apa yang mereka bicarakan dan tidak ingin tahu itu sebabnya ia tak jadi melangkah ke halaman karena mobilnya terparkir tepat di sebelah mobil Rindang. Levin berharap ia masih memiliki kesempatan untuk mengajak Rindang menikah suatu hari.


"Rindang, aku udah mualaf."


"Wo zidhao." Aku tahu, So what?


"Aku pengen memperbaiki diri supaya pantas menikahi kamu."


"Terimakasih sudah melakukan itu, sekarang pun kamu pantas tapi maaf—aku belum tentu mau." Rindang meletakkan tasnya di jok mobil. "Jangan jadikan aku sebagai alasan kamu untuk memperbaiki diri karena nanti kamu akan kecewa, jadikan Allah sebagai satu-satunya alasan."


"Rindang, tapi selama pacaran aku udah memperlakukan kamu dengan baik bahkan jadi fotografer kamu." Raut wajah Jason berubah muram, ia tak suka mendengar kalimat Rindang.


Rindang memejamkan mata menahan emosi, dulu ia selalu ingin membayar jasa fotografi Jason tapi cowok itu selalu menolaknya.


"Terimakasih banyak Jason, kamu udah baik banget sama aku, semoga Allah membalas kebaikan kamu karena aku nggak mungkin balas semua kebaikan itu, aku akan membayar jasa fotografi kamu." Rindang masih berkata dengan nada datar agar tidak menyinggung perasaan Jason.


"Aku nggak butuh uang, kamu tahu itu." Jason sudah hidup serba berkecukupan. "Lagi pula kita selalu pakai kamera punya kamu."


Nah itu tahu, terus masalahnya apa?


"Kamu menginginkan pernikahan?"


Jason mengangguk.


"Apa itu nggak berlebihan, kamu memperlakukan ku dengan baik selama satu tahun tapi aku harus membalasnya dengan mengabdi padamu seumur hidup?"


"Rindang bukan itu maksudku,"


"Stop Jason." Rindang segera masuk ke mobilnya, ia sudah mengutarakan semua isi kepalanya pada Jason. Tak ada lagi yang harus ia bicarakan pada Jason.


Setelah mobil Rindang tidak terlihat, Levin segera melangkah menuju mobilnya. Jason masih terpaku di tempatnya berdiri, ia masih tak terima dengan ucapan Rindang.


"Ayo pulang." Levin menepuk punggung Jason.


"Iya Vin." Jason memasang senyum terpaksa. Apakah kalian mendengar suara hati Jason yang hancur berkeping-keping setelah mendapat penolakan Rindang.


Jason tidak segera menjalankan mobilnya. Jason menempelkan dahi pada kemudi mencerna setiap kata yang Rindang katakan barusan. Jason merasa Rindang telah banyak berubah sejak mereka putus. Mengapa Rindang begitu angkuh hingga tidak mau sedikitpun memberi Jason kesempatan untuk kembali. Padahal Jason sudah melangkah sejauh ini demi mengejar Rindang.


Apa aku harus kembali?

__ADS_1


Semua yang kamu lakukan sia-sia, Jason.


__ADS_2