
Kamar bernuansa abu-abu dan emerald itu tampak hangat dengan sinar lampu kekuningan yang menyebar ke seluruh ruangan. Sekilas itu tak terlihat seperti kamar anak-anak tapi setelah memasukinya lebih dalam, terdapat banyak mainan dan hiasan lampu-lampu di tempat tidur. Sebuah boneka beruang terpajang manis di salah satu rak dengan buku-buku di bawahnya. Si pemilik kamar pasti gemar membaca buku.
Lukisan pohon cemara semakin mempercantik kamar tersebut. Itu adalah lukisan karya Khalisa dan Azfan yang dibuat dengan sepenuh hati untuk Azka. Mereka sempat galau memilih warna kamar yang cocok untuk Azka. Apakah abu-abu terlalu gelap untuk seorang anak yang masih dalam masa pengenalan terhadap warna atau kuning yang memiliki nuansa cerah. Namun akhirnya warna abu-abu dan emerald menjadi pilihan mereka.
Hari ini Azka akan menempati kamar itu untuk pertama kalinya. Setelah berbulan-bulan menyiapkan kamar, akhirnya Azka bisa tidur sendiri. Khalisa dan Azfan melibatkan Azka dalam memilih barang yang akan diletakkan di kamarnya.
Kamar itu dibuat dengan cinta, Khalisa dan Azfan mengecatnya sendiri, melukis dinding, memasang kasur dan rak hingga menyusun semua barang. Mereka ingin walaupun Azka tidur sendiri tapi anaknya itu akan tetap merasakan kehangatan orangtuanya seolah mereka tidur menemaninya.
Khalisa berdiri di tengah kamar itu, ia melihat sekelilingnya lalu tersenyum. Perasannya campur aduk antara senang, sedih dan terharu karena ini saatnya Azka tidak tidur bersama mereka. Khalisa tak boleh terlihat sedih agar Azka berani tidur sendirian.
"Umma."
Khalisa menghapus air matanya kasar mendengar suara Azka memanggilnya. Khalisa membalikkan badan mengulas senyum melihat Azka setengah berlari ke arahnya.
"Hei, udah gosok gigi sama Abi?" Khalisa berdiri dengan lututnya untuk menyamakan tinggi dengan Azka.
"Udah." Azka manggut-manggut.
"Coba Umma lihat, bersih nggak?"
Azka membuka mulutnya lebar-lebar menunjukkan pada Khalisa bahwa ia telah menggosok gigi hingga bersih.
"Oh iya udah bersih, pinter nih anak Umma gosok giginya." Khalisa mengusap-usap rambut lebat Azka.
"Umma temenin aku dulu, nanti kalau aku udah tidur, Umma boleh pergi." Azka menarik tangan Khalisa mengajaknya berbaring di ranjang bersamanya.
"Iya." Karena ini malam pertama bagi Azka tidur sendiri maka Khalisa setuju untuk menemaninya hingga terlelap. "Umma lanjut bacain kisah Rasulullah yang semalam ya?" Khalisa mengambil buku kisah Nabi Muhammad yang rutin ia bacakan pada Azka sebelum tidur untuk menanamkan cinta terhadap Nabi sejak dini.
"Azka inget nggak semalam ceritanya sampai mana?" Khalisa membuka halaman demi halaman, itu adalah buku cerita bergambar yang disukai oleh Azka. Karena belum bisa membaca, biasanya Azka akan melihat-lihat gambarnya sembari pura-pura membaca meniru Umma dan abinya
"Nabi Muhammad melakukan perjalanan ke Negeri Thaif." Azka memilikinya ingatan yang sangat kuat sama seperti Khalisa.
"Sepeninggal Abu Thalib dan Khadijah binti Khuwailid,
Rasulullah diam-diam melakukan perjalanan ke Negeri Thaif dengan harapan Kaum Tsaqif memberinya perlindungan dari kejahatan kaum Quraisy dan menerima dakwahnya tapi penduduk disana justru memperlakukan Rasulullah secara kasar dan melemparinya dengan batu." Khalisa berhenti sejenak, ia tak mampu meneruskan ceritanya. Betapa kerasnya perjuangan Rasulullah menyebarkan Islam.
"Saat itu Zaid bin Haritsah juga harus melindungi Rasulullah hingga kepalanya ikut berdarah."
"Umma." Azka menurunkan tangan Khalisa untuk melihat wajah sang Umma. Ia tahu Khalisa menangis.
"Azka tahu nggak siapa Zaid bin Haritsah?" Khalisa mengulas senyum ketika Azka menatapnya.
"Dia orang yang pertama masuk Islam."
"Siapa lagi orang yang pertama masuk Islam?"
"Bunda Khadijah tapi dua lagi aku lupa." Terlalu banyak nama yang ada di kepala Azka sehingga ia tak yakin untuk menjawabnya.
"Nggak apa-apa nanti Umma ceritain lagi." Wajar jika Azka bingung diusianya yang baru 3 tahun. Khalisa melanjutkan ceritanya dengan suara gemetar menahan tangis.
"Malaikat penjaga gunung pun bersiap untuk melakukan apa yang akan diperintahkan Nabi. Jika Rasulullah berkehendak, malaikat itu akan benturkan kedua gunung di samping kota itu sehingga siapa pun yang tinggal di antara keduanya akan mati terimpit."
__ADS_1
"Umma, apa Rasulullah berdoa supaya Allah marah sama mereka?"
"Itulah hebatnya Rasulullah yang tetap tabah dan sabar meski penduduk Tsaqif memperlakukannya dengan kasar."
"Umma, kalau aku ada disana aku pasti lempar batu juga buat orang-orang yang udah jahatin Rasulullah."
Khalisa tersenyum lebar mendengar kalimat polos Azka.
"Rasulullah nggak berdoa untuk menurunkan azab karena sesungguhnya dibandingkan penderitaan itu, Rasulullah merasakan kenikmatan Allah jauh lebih banyak terhadapnya.
"Justru Rasulullah mendoakan agar suatu hari nanti penduduk di Negeri Thaif beribadah kepada Allah."
Azka masih berusaha terjaga meski matanya terasa berat karena mengantuk, ia tak ingin melewatkan ceritanya.
"Azka tidur ya, besok Umma atau Abi ceritain lagi." Khalisa meletakkan buku kisah nabi itu kembali ke tempatnya. Khalisa mengecup kening Azka dan menatapnya beberapa saat.
Azka mulai terlelap dan terdengar mendengkur halus.
Khalisa mematikan lampu ruangan dan menggantinya dengan lampu tidur hingga kamar itu berubah temaram. Sebelum keluar dari kamar, Khalisa melihat Azka sekali lagi memastikan sang buah hati sudah terlelap.
"Azka udah tidur?" Azfan mengangkat wajahnya dari mushaf melihat pintu kamar terbuka.
"Udah." Khalisa melihat laptop di atas meja kerjanya yang menampilkan suasana di dalam kamar Azka. Mereka akan tetap mengawasi Azka melalui monitor.
Azfan meletakkan mushaf nya dan menghampiri Khalisa.
"Jangan khawatir, Azka anak yang pemberani." Azfan mengerti kekhawatiran Khalisa terhadap Azka. "Apalagi Azka suka sama kamarnya."
Khalisa mengangguk, ia berusaha meyakinkan dirinya sendiri bahwa Azka berani tidur tanpanya dan Azfan.
"Aku akan mengoleskannya." Azfan mengambil sebuah tube berwarna putih, itu adalah sampel krim penghilang bekas luka yang akan menjadi produk kedua Khalisa di Alindra Beauty setelah krim anti strechmark yang diluncurkan pertama kali tiga tahun lalu.
Azfan mengoleskan krim itu pada bekas luka di pelipis Khalisa. Itu adalah bekas luka akibat benturan keras kursi yang Revan lemparkan dulu. Bekas lukanya masih terlihat samar-samar.
"Produknya menyerap dengan cepat." Azfan meletakkan tube itu kembali ke tempatnya.
"Dan nggak ada fragrance, sepertinya orang-orang memang nggak akan terlalu mementingkan aromanya untuk sebuah krim penghilang bekas luka." Khalisa melepas kunciran rambutnya dan beranjak dari sana setelah mengoleskan lip balm di bibirnya. Khalisa tahu lip balm itu tak akan bertahan lama di bibirnya.
"Yang penting nggak ada aroma yang terlalu mengganggu aku rasa nggak masalah, sayang."
"Semoga nggak ada kendala yang berarti."
"Inshaa Allah, Umma sudah mempersiapkan ini dengan matang."
Khalisa kembali melihat laptopnya, Azka masih berada di posisi yang sama ketika terakhir kali Khalisa melihatnya.
Di samping laptop terdapat foto Khalisa dan Azfan saat berlibur ke Pantai Senggigi di Lombok. Mereka hanya pergi berdua sekaligus untuk menyapih Azka. Awalnya mereka pikir itu akan menjadi liburan yang menyenangkan tapi ternyata meninggalkan Azka membuat mereka tak bisa berlama-lama di Lombok. Mereka khawatir terhadap Azka di rumah meskipun Ica dan Kirana membantu menjaga Azka. Akhirnya mereka pulang setelah sehari berada di Lombok.
Sejak saat itu Khalisa dan Azfan tidak akan pernah lagi berlibur hanya berdua walaupun setelahnya mereka belum pernah pergi liburan lagi. Mereka kembali disibukkan oleh segudang pekerjaan.
"Umma udah pernah ke Mekah?"
"Aku pernah pergi haji sama Mama dan Papa waktu aku kelas 10."
__ADS_1
"Aku juga pengen pergi."
"Kita punya tabungan yang cukup, ayo pergi umroh." Khalisa meraih tangan Azfan dan menggenggamnya. Azfan sudah bekerja keras untuk mencukupi kebutuhan keluarga dan Khalisa menyimpan uang sedikit demi sedikit untuk keperluan mendesak. Sekarang jumlah tabungan itu sudah lebih dari cukup untuk mereka pergi umroh. Azka juga sudah cukup mengerti untuk pergi ibadah bersama-sama.
"Krim nya mau dioles ke punggung juga?"
"Enggak usah Bi."
"Luka itu perlahan pudar tapi aku pengen tahu apa luka Umma disini juga sudah pudar?" Azfan menyentuh dada Khalisa.
Khalisa terdiam sejenak dan menghela napas berat.
"Sepertinya udah mulai pudar juga." Khalisa mengembangkan senyum.
"Umma luar biasa."
"Ini karena Abi selalu ada di sisi ku dan obat paling manjur adalah membiarkan diri ini jatuh sedalam-dalamnya pada cinta Allah yang tak terhingga, trauma itu akhirnya bikin aku sadar kalau tempat terakhir kita untuk kembali selalu Allah."
"Apa ungkapan bahwa kesedihan akan mendewasakan itu benar?"
Khalisa mengangguk, "Allah nggak mungkin ngasih kesedihan tanpa maksud apapun, selalu ada pelajaran di balik itu semua." Khalisa tertawa sumbang, "sekarang aku bisa bilang gini seolah-olah kejadian itu nggak mempengaruhi hidup ku." Khalisa tersenyum getir, berkata-kata tentu lebih mudah dari pada mempraktekkannya.
"Umma sedikit berubah."
"Oh ya?" Khalisa tidak sadar bahwa ia berubah setelah kejadian yang meninggalkan trauma berat di kehidupannya.
"Umma jarang tertawa lepas lagi kecuali waktu main sama Azka."
"Maaf Bi."
"Jangan minta maaf." Azfan menarik Khalisa ke dalam pelukannya, mengapa Khalisa minta maaf atas kesedihan yang menimpanya. Khalisa boleh menangis dan marah karena telah mengalami hal yang membuatnya kehilangan sang anak di dalam kandungannya. Namun Azfan tak pernah melihat kemarahan Khalisa.
"Abi udah pengen punya bayi lagi?" Khalisa mendongak melihat Azfan. "Azka udah cukup ngerti untuk punya adik."
"Kapanpun Umma siap, aku nggak mau memaksakan kehendak karena Umma yang akan mengandung bayi itu dan melahirkannya."
Mereka berpindah ke atas ranjang setelah mematikan lampu ruangan.
"Besok ceritakan lagi tentang assabiqunal awwalun pada Azka, dia lupa."
"Jujur aja aku juga nggak inget sama nama-nama assabiqunal awwalun, Azka luar biasa bisa mengingat itu." Azfan harus membaca ulang tentang Sirah Nabawiyah karena sewaktu-waktu Azka bisa memberinya pertanyaan tak terduga. Kadang Azfan harus mencari jawabannya di internet atau melempar pertanyaan tersebut pada Khalisa.
"Itu berarti Abi nya juga harus belajar lagi."
"Ingatan Azka sama seperti Umma nya dan suatu hari Azka yang akan mengajariku."
"Abi jangan mau kalau dong sama Azka."
"Malam ini aku yang menang kan." Azfan mengecup bibir Khalisa.
Khalisa mengalungkan tangannya pada leher Azfan, inilah alasannya mengapa tadi ia bilang lip balm itu tak akan bertahan lama di bibirnya.
__ADS_1