
Bunga Ranunculus dan Babybreath tampak cantik berada di vas kaca dekan jendela saat terkena cahaya matahari pagi. Khalisa sengaja menyusunnya dalam 3 vas berbeda dan meletakkannya di kamar, dapur dan ruang tamu. Vas yang diisi air akan membuat bunga itu segar lebih lama.
Hari ini Khalisa bahagia karena produk krim anti strechmark buatannya akan rilis untuk pertama kalinya dan bisa diperjualbelikan. Akhirnya setelah Khalisa membuat dan melakukan percobaan terhadap dirinya dan beberapa orang, ia bisa meluncurkan produk pertamanya di Alindra Beauty.
Banyak hal yang baik yang terjadi di hidup Khalisa. Khalisa tak tahu bagaimana caranya ia berterimakasih terhadap Allah yang telah mengatur hidupnya sedemikian apik hingga ia bisa merasakan cinta Allah memenuhi relung hati dan setiap darah yang mengalir di tubuhnya. Katanya, manusia itu tercipta berkat cinta Allah. Semua yang ada di bumi itu mencerminkan nama-nama Allah yang indah.
Seperti halnya ketika Khalisa menyadari betapa luasnya bumi maka itu akan mengingatkannya pada nama Allah Al-Mutakabbir atau Yang Maha Megah. Jika bumi yang manusia tinggali sedemikian megahnya maka tentu penciptanya jauh lebih megah.
"Senyumnya manis sekali istriku ini." Azfan datang memeluk Khalisa dari belakang. Ia baru selesai melafalkan juz 12 untuk Azka. Sejak hari pertama lahir, Azfan membacakan 1 juz setiap harinya pada Azka. Dengan hal itu Azka akan terbiasa dengan bacaan Al-Qur'an.
"Azka sudah tidur?" Khalisa membalikkan badan melihat Azka yang terlelap di atas kasur mereka.
"Udah, Azka pasti ngantuk karena nggak tidur dari subuh."
"Dan udah minum banyak juga tadi."
"Tapi dia anak baik loh karena semalem nggak ganggu malam pertama kita."
Khalisa tertawa memukul lengan Azfan, "Abi masih kesel sama Kafa?"
"Gimana ya?" Azfan pura-pura berpikir padahal ia sudah tidak kesal pada Kafa, lagi pula itu sudah berlalu. "Udah enggak sih tapi kalau Kafa ganggu kita sekali lagi, aku akan kasih dia pelajaran."
"Pelajaran apa?"
"Pelajaran Fikih kitab Munakahat karena sebentar lagi dia akan menikah."
"Kafa itu pinter banget sekolahnya tapi aku yakin soal kayak gitu dia belum tahu." Khalisa tak bisa membayangkan bagaimana nanti saat Kafa dan Mahira menikah. Apalagi Kafa orang yang tidak pandai mengekspresikan perasaannya. "Hari ini kita harus anterin Kafa ke rumah Mahira."
"Iya sayang." Azfan mengusap rambut Khalisa dan menghirup aromanya, "wangi sekali."
"Kan habis keramas tadi, aku bawa sarapannya kesini ya Bi." Khalisa sudah membuat telur kecap kesukaan Azfan yang walaupun setiap hari memasaknya Azfan tak akan bosan. Namun tentu saja Khalisa akan memasak menu yang berbeda setiap hari.
"Iya, makasih Umma."
Khalisa pergi ke dapur untuk mengambil sarapan karena jika makan di lantai satu mereka tidak akan mendengar suara Azka jika terbangun. Walaupun ada Nadira yang akan menjaga Azka tapi Khalisa tidak mau jauh-jauh dari sang anak, mungkin karena ini anak pertama Khalisa sangat posesif terhadap Azka.
"Mbak Khalisa cuma makan sama telur kecap aja?" Nadira baru saja selesai menjemur pakaian Azka ketika melihat Khalisa mengambil sepiring nasi dan dua telur mata sapi dengan kecap.
"Iya Mbak Nadira kalau mau masak yang lain masak aja, ada beberapa bahan makanan di kulkas." Ujar Khalisa, ia sudah meminta Nadira memanggilnya tanpa embel-embel mbak seperti dulu saat mereka masih sering bermain bersama. Namun Nadira tetap memanggil Khalisa dengan mbak.
Nadira tidak enak jika harus masak yang lain karena Khalisa sebagai majikannya saja hanya makan nasi dan telur kecap. Nadira kagum pada keluarga Ica dan Daniel yang mengajarkan hidup sederhana sejak kecil. Mereka juga suka menolong orang lain. Nadira tidak tahu bagaimana hidupnya jika tak ada Daniel dan Ica yang menolong keluarganya. Saat itu Nadira berusia 12 tahun saat Daniel dan Ica memberikan hadiah umroh gratis untuk ayah dan ibunya. Bahkan Nadira diperbolehkan tinggal di rumah Daniel dan bermain dengan Khalisa yang saat itu masih kecil.
Khalisa tidak pernah menyusahkan Nadira, ia mengurus keperluan Azka sendiri karena tidak mau kehilangan sedikitpun momen dirinya yang baru menjadi seorang ibu.
Hanya jika Khalisa sedang mengikuti kuliah daring maka Nadira yang akan mengurus Azka.
"Mbak Khalisa sama Mas Azfan mau pergi, Azka ikut nggak?"
"Saya titip Azka sama Mbak Dira ya soalnya kami nggak lama kok, Azka juga belum keluar agak jauh sebelumnya, takutnya dia nggak nyaman."
"Iya Mbak." Nadira tersenyum, akhirnya ada juga yang bisa ia kerjakan karena selama ini Khalisa telah mengurus semuanya, Nadira jadi tidak punya sesuatu untuk dikerjakan.
Khalisa kembali ke kamar dengan membawa sepiring nasi dan telur serta sebotol air.
"Aku suapin aja ya."
"Boleh." Azfan tersenyum lebar menyambut sesendok nasi, telur dan potongan cabe dari Khalisa.
"Azka tinggal di rumah aja ya Bi, stok ASI juga banyak banget di kulkas."
"Tapi kita harus pulang cepet ya."
Khalisa mengangguk, ia ikut melahap sesendok nasi dan telur.
"Nggak kebayang kalau suatu hari Azka bilang, Umma aku mau melamar seorang perempuan." Khalisa tiba-tiba galau membayangkan hal itu padahal usia bayi mereka belum genap 2 bulan. Namun permintaan Kafa untuk menemaninya melamar Mahira membuat Khalisa membayangkan Azka.
"Dari pada hal itu, aku lebih sering membayangkan Azka bilang, Umma Azka mau adik."
Khalisa mendelik, "nggak mungkin Azka bilang kayak gitu."
"Mungkin aja Umma, nanti dia lihat temen-temennya punya adik terus dia pengen juga."
"Gimana kalau sebelum Azka minta, kita kasih duluan?" Khalisa mengedipkan mata dengan genit pada Azfan.
"Masya Allah istriku." Azfan mencubit pipi Khalisa gemas, "Umma sengaja?"
"Sengaja apa?"
"Sengaja mau melanjutkan apa yang kita lakukan semalam?"
"Enggak kok."
"Maka jangan buat ekspresi seperti itu."
Khalisa menahan senyum padahal ia hobi menggoda Azfan apalagi melihat wajah Azfan yang memerah hingga ke telinga saat ia melakukan itu. Namun mereka harus segera bersiap setelah makan.
__ADS_1
"Lagi pula nggak ada yang mau dilanjutin, yang semalam kan sudah selesai."
"Tapi bagiku nggak ada kata selesai untuk hal seperti itu sama seperti shalat yang berulang-ulang."
"Bisa aja ngelesnya."
Azfan tertawa, ia meminum setengah botol air mineral dan memberikan sisanya pada Khalisa. Mereka telah menghabiskan sepiring nasi dan telur kecap dengan cepat. Sebenarnya Azfan ingin nambah tapi makan berlebihan itu tidak baik jadi ia mengurungkan niatnya untuk minta tambah nasi. Padahal Azfan tahu masih ada satu telur ceplok di meja makan tapi ia harus merelakan Nadira yang akan memakan telur tersebut. Azfan bisa saja membuat sendiri tapi buatan Khalisa jauh lebih enak.
******
Sepanjang perjalanan Kafa tidak bicara sedikitpun, ia tegang di jok belakang padahal rumah Mahira masih cukup jauh. Kafa yang memiliki rasa percaya diri sebesar gunung Merapi kini ciut seperti lilin yang dibakar habis. Kafa jarang bicara dengan Mahira apalagi menanyakan tentang latar belakang keluarga Mahira. Hanya istikharah yang membuat Kafa yakin akan keputusannya. Setelah memantapkan hati maka Kafa tak akan peduli pada latar belakang keluarga, status sosial apalagi kekayaan Mahira.
Kafa jadi teringat pada Khalisa yang begitu bersikeras memilih menikah dengan Azfan yang tidak berasal dari keluarga kaya. Kini Kafa mengerti perasaan Khalisa, ia menyesal telah memusuhi Azfan dulu.
Dulu Kafa tak percaya cinta, baginya jatuh cinta adalah bukti bahwa manusia itu lemah karena cinta membuat seseorang lupa segalanya. Kafa sangat menyayangkan keputusan Khalisa untuk menikah dengan Azfan. Namun sekarang Kafa mengerti, cinta menyerang manusia begitu kuat. Kafa mengubah pola pikirnya tentang cinta. Cinta bukan membuat seseorang menjadi lemah, sebaliknya ia membuat mereka kuat.
Seperti halnya Khalisa dan Azfan yang bisa hidup sederhana. Hanya cinta yang membuat mereka bertahan hingga sekarang. Kafa sekarang justru mengagumi Azfan yang dapat membahagiakan Khalisa tanpa kemewahan. Namun bukan berarti Kafa akan mengikuti jejak Azfan, ia tetap akan hidup bersama Mahira dengan kemewahan yang ia punya.
"Mahira udah kirim lokasinya nih." Khalisa menunjukkan pesan Mahira yang mengirimkan lokasi rumah padanya.
"Bagus deh." Kafa tidak salah mengajak Khalisa karena ia sendiri baru sadar bahwa tak ada nama Mahira di kontaknya. Kafa tidak pernah meminta nomor telepon Mahira.
Sebutlah Kafa sebagai cowok paling aneh di dunia, ia selalu bersikap jutek pada Mahira. Ketika mengutarakan niatnya untuk melamar Mahira pun Kafa mengatakannya dengan nada tinggi, jauh dari kalimat manis. Kafa tidak mengatakan ia menyukai apalagi mencintai Mahira, justru langsung mengatakan bahwa ia hendak melamar cewek itu. Mereka tak pernah bertukar pesan apalagi bicara melalui telepon. Kafa memang aneh.
Khalisa berharap Mahira bisa menghadapi sikap Kafa yang super kepala batu. Khalisa ingin Mahira menjadi seperti air hujan yang terus menerus jatuh di atas batu keras tersebut hingga membuatnya pecah.
"Cece jadi penasaran gimana cara kamu bilang ke Mahira."
"Ya aku bilang langsung."
"Langsung bagaimana?"
"Mahira, aku mau ke rumah kamu ketemu orangtua kamu buat lamar kamu."
Khalisa membelalak, ia menoleh ke belakang dengan tatapan tak percaya.
"Kamu ngomong gitu?"
Kafa mengedikkan bahu, "mau ngomong gimana lagi Ce?"
"Ya basa-basi dulu gitu kek."
"Cece tahu sendiri aku nggak bisa basa-basi."
"Terus Mahira jawab apa?"
Tawa Khalisa dan Azfan pecah mendengar cerita Kafa. Tidak ada yang lebih aneh dari Kafa, sungguh.
"Kalau ternyata sampai sana Mahira tolak kamu gimana?"
"Nggak mungkin Mahira nolak."
"Cece mengatakan kemungkinan terburuknya."
"Aku akan paksa Mahira."
Khalisa melirik Azfan yang geleng-geleng heran dengan tingkah Kafa.
"Ya sekarang aku tanya sama Cece, dulu Ce Khalisa waktu lamar Mas Azfan gimana?"
"Ya Cece pasrah aja sama Allah karena Cece udah berdoa setiap malam sebelum mengatakan hal itu sama Mas Azfan."
Azfan tersenyum mengingat momen di depan masjid Ulil Albab tersebut. Dada Azfan masih berdebar mengingat semuanya.
"Aku juga seperti itu, aku berdoa setiap malam sama Allah dan aku percaya sepenuhnya kalau Dia akan menentukan yang terbaik buat aku."
Tidak sampai 20 menit mereka menemukan tempat tinggal Mahira karena si pemilik berdiri tepat di depan terasnya. Azfan memarkirkan mobil di depan halaman rumah Mahira yang sederhana. Namun lingkungan sekitarnya cukup nyaman dan asri dengan banyak pepohonan.
Mahira tak bisa menahan debaran dalam dadanya ketika melihat Kafa turun dari mobil Khalisa. Kafa hanya mengenakan celana abu-abu gelap dan kemeja putih tapi ia sungguh terlihat mempesona. Tak ada pakaian yang akan terlihat biasa saja di tubuh Kafa.
Mahira berpegangan pada tiang rumah, tidak lucu jika ia pingsan disini sekarang. Mahira pikir Kafa tidak serius dengan ucapannya kemarin tapi cowok itu benar-benar datang bersama Khalisa dan Azfan.
Gila, ini beneran aku bakal dilamar Kafa? emang lamaran itu gimana sih? ya Allah aku pengen kabur aja ke luar angkasa ketemu alien.
"Assalamualaikum." Khalisa dan Azfan mengucapkan salam.
"Waalaikumussalam, silakan masuk Mbak Khalisa dan Mas Azfan." Mahira mengajak mereka dengan sopan.
"Aku nggak disuruh masuk?" Kafa tak percaya jika Mahira mengabaikannya.
"Kalau kamu langsung masuk kamar ku juga nggak apa-apa, eh." Mahira menutup mulutnya, ia lupa jika disini juga ada Khalisa dan Azfan, bisa-bisanya ia mengeluarkan candaan seperti itu. Tidak boleh. Mahira harus jaga image di depan calon kakak ipar, tapi ia paling tidak bisa jaga image. Mahira lebih suka tampil apa adanya.
Bapak dan Ibu Mahira juga sudah berada di ruang tamu menyambut kedatangan mereka. Tak lama kemudian kakak perempuan Mahira mengeluarkan minuman dan dua piring bakpia.
__ADS_1
"Ayo dimakan bakpia nya, saya bikin sendiri." Ujar ibu Mahira ramah.
Kafa mencomot bakpia tersebut lebih dulu dan melahapnya. Rasa gurih keju dan kulit bapkia yang lembut menyebar di permukaan lidah Kafa. Kini Kafa tahu bakat memasak Mahira adalah turunan dari ibunya.
Kemana Mahira pergi? Kafa menahan diri untuk tidak mengedarkan pandangan mencari keberadaan Mahira. Bukankah seharusnya Mahira ada disini?
"Ibu jualan bakpia?" Tanya Khalisa karena bakpia tersebut memiliki rasa yang sangat lezat.
"Iya, usaha kecil-kecilan di samping rumah." Jawab ibu Mahira. "Ayo dimakan lagi."
"Enak banget Bu." Puji Khalisa tulus. Ia ingin membeli beberapa kotak saat pulang nanti.
Kafa ingin makan satu lagi tapi ia tidak boleh kelihatan rakus di depan calon mertuanya. Kafa ingin membuat kesan baik pada pertemuan pertama mereka.
"Ayo sarapan dulu." Ibu Mahira beranjak.
"Eh tidak usah Bu, jangan repot-repot." Tolak Khalisa, baru satu jam yang lalu ia sarapan dengan Azfan.
"Nggak apa-apa, kami sudah menyiapkannya untuk kalian, cicipin sedikit aja ya masakan Ibu."
Dengan terpaksa akhirnya mereka mengikuti ibu Mahira menuju ruang makan. Berbagai masakan telah tersaji di meja makan, mereka masih mengepulkan asap dan tampak menggiurkan.
Rupanya Mahira tidak muncul di ruang tamu karena ia sedang menyiapkan piring untuk mereka semua.
Mereka duduk mengelilingi meja makan. Aroma rempah yang begitu pekat menguar ke seluruh ruang makan. Aroma jinten, cengkeh, lengkuas, kemiri, ketumbar, kayu manis dan berbagai rempah lainnya berada dalam satu mangkok menjadi kombinasi sempurna untuk membuat kuah tengkleng yang lezat memanjakan lidah.
"Sebelumnya kami mohon maaf karena kedatangan kami mengganggu waktu Bapak dan Ibu bahkan sampai menyajikan berbagai makanan." Azfan mengawali, ia bertindak sebagai orangtua Kafa yang mengutarakan niat baik mereka datang ke rumah ini.
Mereka telah selesai makan dan sedang menikmati puding buah yang dingin menyegarkan.
"Sama sekali tidak mengganggu." Sahut seorang laki-laki berusia 50 tahunan yang merupakan bapak Mahira.
"Justru kami merasa senang karena kedatangan kalian." Timpal ibu Mahira.
"Tujuan kami kesini untuk meminang putri Bapak yang bernama Mahira Atiqah untuk adik saya Kafa." Azfan menyentuh paha Kafa yang duduk tepat di sampingnya.
"Untuk jawabannya saya serahkan sepenuhnya terhadap anak saya." Bapak melihat ke arah putri bungsunya, Mahira. "Bagaimana Mahira?"
"Saya ingin mengucapkan terimakasih banyak kepada Mbak Khalisa dan Mas Azfan serta Kafa yang sudah kesini dengan niat baiknya."
Kafa menunggu tidak sabar, beberapa detik yang terasa begitu lama. Kenapa juga Mahira harus basa-basi seperti itu bukannya langsung menjawab.
"Saya tidak bisa."
Kafa membelalak terkejut, ia mengepalkan tangannya kuat. Khalisa dan Azfan tak kalah terkejut mendengar jawaban Mahira. Kafa membuka mulut hendak membalas ucapan Mahira.
"Maksudnya tidak bisa nolak, saya bersedia." Mahira tersenyum lebar membuat yang lain akhirnya mengembuskan napas lega setelah mendengar jawaban tersebut.
Bibir Kafa membentuk senyum paling manis, si cowok dingin yang jarang tersenyum akhirnya meleleh juga di depan Mahira.
Setelah mengobrol sebentar, mereka pamit pulang karena mereka masih harus pergi ke Alindra Mall untuk menghadiri peluncuran produk Khalisa. Mereka juga tak bisa meninggalkan Azka di rumah terlalu lama.
Khalisa izin membeli beberapa kotak bakpia untuk dibawa pulang. Namun orangtua Mahira menolak dan memberikan bakpia secara cuma-cuma.
"Bu, saya nggak enak kalau kami dikasih gratis." Kafa tetap memberikan sejumlah uang terhadap ibu Mahira.
"Nggak apa-apa sekarang saya gratis, lain kali kalau kesini lagi kalian boleh beli."
"Bu tapi ini banyak sekali." Ujar Khalisa.
"Nggak apa-apa, itu memang dibungkus untuk kalian bawa pulang."
"Ya ampun, terimakasih banyak Bu." Khalisa mengucapkan terimakasih sekali lagi karena mereka boleh membawa pulang beberapa kotak bakpia dengan berbagai macam rasa tersebut.
"Kami pamit dulu Bu, Pak, Mahira." Azfan mengucapkan salam sebelum meninggalkan rumah Mahira dan masuk ke dalam mobil.
"Ya ampun, kamu nemu dimana cowok ganteng kayak gitu?" Ibu Mahira tak tahan lagi untuk memuji ketampanan Kafa sesaat setelah mobil Khalisa meninggalkan halaman.
"Banyak lah Bu di kampus." Mahira masuk diikuti oleh ibunya. "Apalagi anak kedokteran ganteng-ganteng, tapi Kafa nggak sekedar ganteng aja, dia Sholeh dan hafal Al-Qur'an 30 juz."
"Mobilnya juga bagus, Ibu jadi malu karena kita cuma menyajikan makanan seadanya."
"Itu mobil Mbak Khalisa Bu."
"Oh jadi Kafa nggak punya mobil ya? syukurlah kalau begitu." Ibu Mahira mengusap dadanya, itu berarti ia tidak perlu terlalu malu.
"Mobil Kafa lebih bagus dari itu." Lirih Mahira seraya mencuci wadah bekas makanan mereka bersama kakak nya.
"Yang bener kamu?" Ibu Mahira tidak jadi mengembuskan napas lega. Ia sendiri sudah cukup kaget saat Mahira mengatakan akan ada seorang laki-laki yang datang ke rumah mereka untuk melamarnya. Itu karena sebelumnya Mahira sama sekali tak pernah bercerita bahwa ia dekat dengan seorang lelaki. Wajar saja jika mereka terkejut.
"Ibu jangan bahas mobil dia ah Bu."
"Semoga segalanya lancar untuk kamu Nak, Ibu cuma bisa mendoakan." Ibu mengusap lengan Mahira, ia tak menyangka anak gadisnya dilamar seorang lelaki secepat ini.
"Kafa baik kok Bu." Walaupun di luar kelihatan galak kayak singa tapi hatinya seperti kelinci yang lembut dan hangat.
__ADS_1