Mahabbah Cinta Khalisa

Mahabbah Cinta Khalisa
54


__ADS_3

Khalisa pamit pulang lebih dulu pada Rindang dan Jason. Rindang heran karena Khalisa tiba-tiba ingin pulang setelah mengambil topi padahal mereka berencana mengeksplor festival itu hingga ujung jalan.


"Kamu sakit?" Rindang menyentuh kening Khalisa, ia memperhatikan wajah sahabatnya itu yang berubah muram.


"Panas banget jadi nggak pengen jalan lagi." Khalisa berusaha mencari alasan lain agar tidak membuat Rindang mengkhawatirkannya, ia hanya ingin pulang setelah adu bicara dengan Kafa. "Nggak apa-apa kan kamu sama Jason aja?"


"Justru aku yang harus tanya, kamu nggak apa-apa pulang sendiri?"


Khalisa mengangguk meyakinkan Rindang.


"Ya udah, hati-hati di jalan, nanti aku bawain makanan buat makan malam."


"Oke." Khalisa mengangguk mengulas senyum tipis sebelum pergi dari sana.


Khalisa menyandarkan kepalanya pada kursi dan memejamkan mata, merasakan dinginnya AC yang menerpa wajahnya. Sekarang Khalisa tahu mengapa Azfan bersikap dingin kepadanya saat ia membawakan sarapan untuknya. Meski Khalisa tidak pernah ada di posisi Azfan tapi ia bisa membayangkan bagaimana perasaan cowok itu sekarang.


"Ternyata Kafa bisa bertindak sejauh itu." Khalisa mulai menjalankan mobilnya keluar dari area parkiran yang penuh sesak oleh kendaraan lain.


Khalisa melihat ada panggilan masuk, ia menekan ikon telepon berwarna hijau pada monitor setelah menyematkan headset di telinganya.


"Selamat sore Ama ku yang cantik." Khalisa mengawali, wajahnya yang muram kini tersenyum seolah-olah Renata berada disini.


"Sore sayang, Ce Khalisa lagi dimana?"


"Ini lagi di jalan Ama." Khalisa melirik spion saat hendak bergabung dengan kendaraan lain di jalan utama. "Kenapa Ama?"


"Cece okay?"


Khalisa terdiam sejenak, "okay, memangnya kenapa?"


"Lagi berantem sama Kafa?"


"Enggak kok, apa Kafa bilang kami berantem?" Khalisa yakin pasti Kafa juga sudah bercerita tentang hal ini pada Ama atau Akong mereka.


"Barusan Ama telepon Kafa, terus dia bilang Khalisa marah."


"Khalisa nggak marah."


"Ama udah tahu semuanya termasuk perasaan kamu sama Azfan."


Khalisa spontan menginjak rem mendengar kalimat Renata, sejak kapan? lalu apakah semua orang juga tahu perasaannya? Apakah begitu kentara? Khalisa meminggirkan mobilnya agar lebih fokus bicara dengan Renata.


"Ama dukung apapun keputusan Khalisa."


Khalisa membelalak tidak menyangka bahwa Renata akan berkata demikian, ia pikir Renata dan Jaya akan menentangnya seperti saat mereka menentang hubungan Daniel dan Ica. Namun tak disangka Renata akan mendukung Khalisa.


"Ama percaya sama kamu."


Khalisa mengerjapkan mata, setitik kristal bening lolos dan sepasang matanya. Jika ada disini, Khalisa ingin sekali memeluk Renata dan mengecup kedua pipinya lalu mengucapkan terimakasih.


Dari kecil Khalisa terbiasa dengan aturan Renata sehingga ia pikir kali ini Renata akan melakukan hal yang sama. Seperti saat Renata dan Jaya menentukan jurusan yang harus Khalisa ambil sekaligus karir nya.

__ADS_1


"Ama juga lihat Azfan itu laki-laki baik dan mampu menjaga Khalisa."


Khalisa tidak sanggup berkata-kata, ia hanya menangis tersedu-sedu sambil memeluk kemudi.


"Khalisa bilang dulu sama Papa dan Mama ya, Ama yakin mereka juga percaya sama kamu."


Khalisa mengangguk berkali-kali sambil mengusap wajahnya yang basah oleh air mata. Kemudahan Allah selalu datang untuk umat-Nya yang senantiasa menyertakan Allah di setiap urusannya.


"Ama tutup dulu, Khalisa hati-hati di jalan ya sayang."


"Iya Ama, Khalisa jalan dulu." Khalisa memutus sambungan dan melanjutkan perjalanan menuju apartemennya.


******


Khalisa masih mengenakan mukena ketika muroja'ah dengan papanya melalui panggilan video usai shalat isya'. Tak hanya Daniel, Ica dan Azmal juga menyimak bacaan Khalisa.


Sedangkan Rindang menunggu dengan sabar di hadapan Khalisa sambil sedikit-sedikit mencomot kerupuk ikan di atas meja. Ia baru kembali setelah puas berkeliling ke seluruh stand bersama Jason. Rambutnya kusut karena keringat tapi begitu datang, ia tak langsung mandi melainkan masuk ke apartemen Khalisa karena ia telah berjanji membawa makan malam. Selain itu Rindang menghawatirkan Khalisa yang tiba-tiba ingin pulang. Namun Rindang lega sekarang melihat Khalisa baik-baik saja dan sedang melafalkan bacaan Al-Qur'an di hadapan papa nya.


Rindang membawa dua bungkus sate klatak untuk Khalisa dan dirinya tapi ia tidak mau memakannya lebih dulu. Rindang setia menunggu Khalisa hingga selesai.


"Hafalan Khalisa masih bagus, pertahankan ya." Puji Daniel ketika Khalisa menyelesaikan hafalannya.


"Inshaa Allah Khalisa jaga hafalan ini Pa."


"Khalisa okay?"


Senyum Khalisa pudar, setiap kali ditanya Khalisa okay? maka saat itu juga Khalisa ingin menangis dalam pelukan papa atau mama nya setelah apa yang terjadi disini.


"Ada apa?"


"Cece mau Azmal keluar?" Suara Azmal menyahut. Anak itu memang paling pengertian meski terlihat cuek di luar.


"Maaf ya sayang, nanti Cece telepon Azmal ya." Suara Khalisa serak setelah muroja'ah 1 juz.


"Azmal yang telepon Cece nanti."


"Oke, anak baik."


Kini Ica juga muncul di layar laptop Khalisa bersama Daniel. Mereka menunggu hingga Khalisa siap mengungkapkan apa yang telah mengusik hatinya. Sebagai orangtua bagi mereka yang terpenting adalah perasaan Khalisa. Mereka tak ingin Khalisa sedih terlalu lama.


"Ma, Pa, Khalisa jatuh cinta."


Tak hanya Daniel dan Ica yang terkejut, Rindang juga dibuat kaget karena kalimat polos Khalisa. Ini pertama kalinya Rindang mendengar ada seorang anak yang berkata demikian pada orangtuanya. Sedangkan Rindang sudah belasan kali berganti pacar, orangtuanya tak pernah mempedulikan hal itu.


"Dengan siapa?" Daniel masih berusaha memasang wajah sedatar mungkin, sejak menjadi seorang papa ia tahu suatu hari anak-anaknya akan mengungkapkan perasaannya terhadap lawan jenis. Dan sekarang Khalisa telah melakukannya.


"Azfan."


"Khalisa, Mama dan Papa pernah bilang kalau kamu jatuh cinta maka hanya ada dua pilihan,"


Khalisa menegakkan badannya untuk mendengarkan kalimat yang akan Daniel ucapkan selanjutnya. Khalisa melirik Rindang yang melotot ke arahnya dengan mulut penuh oleh kerupuk.

__ADS_1


"Pertama Khalisa memendamnya dan memohon pada Allah untuk menghilangkan perasaan itu jika memang itu adalah rasa yang salah dan nggak pantas Khalisa miliki atau kedua Khalisa akan mengungkapkannya tapi pada saat yang bersamaan Khalisa harus siap untuk menikah dengannya atau ditolak olehnya."


"Khalisa memilih yang kedua."


"Bagaimana kalau Azfan menolak?"


"Khalisa akan menerima apapun jawaban Azfan."


"Tapi Khalisa harus ingat hakikat seorang wanita itu dihiasi rasa malu maka Khalisa nggak boleh berlebihan dalam mengungkap perasaan, tetaplah pakai bahasa yang santun."


"Khalisa akan ingat itu Pa, tapi itu berarti Papa dan Mama setuju sama Azfan?" Khalisa menahan senyum berusaha untuk tidak terlihat terlalu bahagia karena walau bagaimanapun ia tak tahu apa jawaban Azfan nanti. Meski tadi sore Khalisa mendengar sedikit kalimat Azfan bahwa lelaki itu akan memperjuangkannya.


"Kami setuju asalkan Khalisa bahagia, selama kenal Azfan, Papa tahu dia lelaki yang baik, beberapa kali dia juga udah selamatkan Khalisa, Allah memang mengirimkan dia untuk kamu."


"Makasih Papa dan Mama selalu dukung Khalisa." Khalisa ingin memeluk mereka berdua yang hanya berada di layar. Mereka selalu menjadi rumah dari setiap kegundahan Khalisa selain Allah.


"Ya ampun, seneng banget!" Rindang tidak dapat menahan diri lagi, ia melompat dan memeluk Khalisa setelah percakapan serius mereka. Ia mendukung sepenuhnya terhadap hubungan Azfan dan Khalisa.


"Ya udah katanya kalian mau makan, kami tutup dulu."


"Iya Pa."


"Oh iya Khalisa, Ama katanya udah pesen katering buat 30 hari supaya Khalisa nggak perlu masak sendiri untuk menu makan sahur." Tukas Ica.


Khalisa membelalak, Renata memang selalu memperhatikan Khalisa padahal ia sendiri tidak berpuasa. Namun saat bulan puasa Renata akan selalu sibuk menanyakan menu makan buka dan sahur orang-orang yang berpuasa.


"Nanti Khalisa telepon Ama."


Daniel dan Ica memutus sambungan setelah mengucapkan salam.


Khalisa dan Rindang saling berpandangan lalu tersenyum lebar. Hanya dengan begitu mereka mengerti perasaan masing-masing. Rindang ikut bahagia jika Khalisa telah memutuskan sesuatu yang begitu besar di hidupnya.


"Ayo makan, keburu dingin satenya." Khalisa melepas mukenanya dan beranjak dari lantai. Mereka berpindah ke ruang makan untuk menikmati sate klatak dan nasi serta sambal.


"Emang udah dingin, nungguin kamu ngaji."


"Ya gimana, masa aku ngajinya cepet-cepet, ada Azmal juga tadi dengerin nanti aku jadi contoh yang kurang baik buat dia."


Mereka membuka bungkus sate yang langsung mengeluarkan aroma panggangan yang menggugah selera. Rindang mengambil lebih banyak nasi karena dokter bilang gula darahnya stabil akhir-akhir ini sehingga ia diperbolehkan makan nasi putih.


"Nanti kalian tinggal disini kan?" Tanya Rindang di tengah-tengah mereka makan.


"Kalian siapa?"


"Kamu dan Azfan."


Khalisa sontak mengangkat wajah, Rindang sudah berpikir terlalu jauh. Khalisa bahkan belum mengutarakan perasaannya terhadap Azfan lalu Rindang sudah khawatir soal tempat tinggal mereka.


"Kejauhan banget sih mikirnya."


"Ya bukannya gitu, kalau kamu pergi dari sini berarti aku bakal bawa Jason tinggal sama aku."

__ADS_1


"Aku nggak akan kemana-mana, jangan harap bawa Jason tinggal disini." Khalisa menatap Rindang sinis, ia tidak mau terjadi sesuatu yang tak diinginkan pada Rindang jika Jason tinggal disini.


__ADS_2