Mahabbah Cinta Khalisa

Mahabbah Cinta Khalisa
79


__ADS_3

Pandangan Khalisa kosong pada pusara bertabur mawar dengan foto Renata sedang tersenyum di ujung. Ini seperti mimpi buruk, Khalisa ingin segera bangun. Bukankah terakhir kali Khalisa jatuh pingsan di kamar Renata. Pasti sekarang ia belum sadarkan diri kan? Namun sayangnya ini nyata.


Semua makhluk yang bernyawa pasti akan merasakan mati. Rangkaian doa terus dilantangkan hingga peti Renata memasuki kubur dan ditutup tanah lalu ditaburi mawar. Doa yang tak bisa Khalisa lantunkan. Ketika kerabat Renata dan Jaya mengucapkan doa-doa, justru keluarga dekat Renata hanya bisa mengatup bibir.


Dulu saat kecil Khalisa sering membantu menyajikan makanan untuk para jemaat yang beribadah di rumah Renata. Bahkan saat usia Khalisa masih 3 tahun ia sedikit mengingat momen dirinya digendong oleh Jaya saat sedang beribadah bersama. Namun sekarang Khalisa tidak bisa ikut membantu. Mereka memang telah hidup dengan perbedaan bertahun-tahun tapi tentu ada batasan di antara keduanya yang tidak bisa dicampuri.


Beberapa orang berbisik-bisik karena di antara mereka, hanya keluarga inti Renata yang muslim sedangkan lainnya satu keyakinan dengan Renata. Mereka merasa prihatin terhadap Renata karena keadaan tersebut.


“Semoga semua orang yang sudah meninggal bisa beristirahat dalam damai. Dalam nama Bapa." Doa itu menjadi penutup dari serangkaian proses pemakaman Renata.


Mendung tampak menggantung di langit kota Banyuwangi seolah ikut merasakan kesedihan mengantar Renata ke peristirahatan terakhirnya.


Satu per satu para pelayat meninggalkan makam dan mengucapkan doa agar keluarga Renata diberi ketabahan.


Khalisa mengusap foto Renata sekali lagi. Di foto itu Renata tampak bahagia dengan senyum manis. Senyum yang selalu diperlihatkan pada cucu-cucunya.


Khalisa harus bisa bikin sayur asin sendiri.


Khalisa menggeleng kuat mengingat ucapan Renata saat pulang dari rumah sakit waktu itu. Khalisa tidak bisa membuat sayur asin sendiri, tidak bisa. Meskipun Khalisa menyukai ayam yang dimasak dengan sayur asin tapi mungkin setelah ini ia tak akan membuatnya lagi. Makanan itu selalu mengingatkannya pada Renata.


Khalisa menengadah tangan merasakan titik-titik air yang turun semakin banyak. Khalisa merasakan tangan seseorang memegang kedua lengannya dan membawanya pergi dari sana.


Itu adalah Azfan yang membimbing Khalisa masuk ke mobil sebelum hujan semakin deras.


"Ayo menginap di rumah Mas." Khalisa menjatuhkan kepalanya di dada Azfan setelah mereka duduk di jok penumpang. Khalisa membutuhkan suasana baru berharap bisa melupakan kesedihan ini. Meski terkadang Khalisa menikmati kesedihan yang kadang menghampiri hatinya. Namun kali ini Khalisa tak bisa lagi membuat kesedihan berlarut-larut.


"Haura mau ke Bantul?" Suara Azfan terdengar begitu lembut.


Khalisa mengangguk memejamkan mata, ia tak pernah bisa tidur nyenyak selama 3 hari terakhir. Khalisa tidak ikut hadir di rumah duka karena ia mengindari perselisihan yang bisa terjadi kapan saja dengan Kafa.


"Aku jelek ya?" Khalisa mendekatkan wajahnya pada Azfan, matanya yang sembab dan gelap membuktikan bahwa ia telah lama menangis.


"Kenapa wanita secantik Haura berani mengatakan hal seperti itu?" Azfan menangkup pipi Khalisa menatap lekat pada wajah pucat sang istri akibat kurang tidur. Khalisa juga menolak makan berat sampai hari ini. Khalisa hanya makan buah apel dan pisang. "Kita mau berangkat hari ini juga?"


"Iya." Khalisa membenamkan wajahnya di dada bidang Azfan, ia ingin mengobati diri dengan pergi jauh dari sini secepat mungkin. Meski sakit itu akan tetap Khalisa bawa kemanapun ia pergi.


"Kemarin Papa bilang Rindang datang ke rumah duka tapi dia nggak mampir ke rumah karena tahu Haura butuh waktu sendiri." Azfan baru memberitahu hal itu karena sebelumnya Khalisa lebih banyak diam jadi ia tidak mau mengusik sang istri.


Khalisa hampir melupakan Rindang, ia tidak memberi pesan sejak sampai di Banyuwangi padahal saat ini Rindang sedang butuh dukungan dan bimbingan.


"Papa juga bilang kalau Rindang pakai jilbab."


Ucapan Azfan membuat Khalisa mengangkat wajahnya, "oh ya?"


Azfan mengangguk, Daniel bilang semua orang yang kenal Rindang kaget melihat penampilan gadis itu yang jauh berbeda dari biasanya.


"Alhamdulillah, semoga Rindang bisa Istiqomah, kita harus bantu dia."


"Iya sayang." Azfan kembali mendekap Khalisa agar bisa tidur selama perjalanan menuju rumah yang cukup jauh dari area pemakaman.


Khalisa baru saja mendapatkan sesuatu yang membahagiakan sekaligus menyedihkan. Saat Rindang mengatakan ingin memeluk Islam, betapa bahagianya Khalisa karena orang yang paling dekat dengannya akhirnya mendapatkan hidayah. Namun beberapa hari kemudian Khalisa juga kehilangan sang Ama. Hal yang paling menyedihkan bagi Khalisa adalah ketika ia tidak bisa mendoakan apapun bagi Renata. Hatinya begitu perih, Khalisa juga tak akan mungkin menemukan obat dari sakit itu.


"Khalisa, kamu yakin mau balik ke Sleman hari ini juga?" Ica menatap sang anak sulung dengan khawatir.


"Iya Ma, aku mau nginep di rumah Mas Azfan karena sejak menikah kami belum kesana, nggak adil rasanya karena aku dan Mas Azfan udah beberapa kali kesini."


"Saya sudah beresin barang-barangnya Non Khalisa." Renata menghampiri Ica dan Khalisa di ruang tengah setelah ia mengemas barang-barang yang akan Khalisa bawa.


"Makasih Bi Mar." Ucap Khalisa dengan senyum tipis.

__ADS_1


"Khalisa samperin Nenek dulu, katanya mau bikin sambel teri buat Khalisa bawa." Khalisa beranjak dari sofa melangkah menuju dapur menghampiri nenek nya.


Khalisa memeluk nenek nya yang sedang sibuk mengaduk sambal di atas penggorengan.


"Aduh Nenek bau bawang, jangan dipeluk."


Khalisa tertawa melepaskan pelukannya, ia mengintip sesuatu yang berada di dalam penggorengan. Khalisa langsung bersin-bersin karena menghirup aroma cabai yang begitu menyengat.


"Tuh kan bersin, jangan deket-deket."


"Makasih ya Nenek dan Kakek udah nginep disini."


"Nanti kalau Khalisa udah libur, ajak Azfan nginep di rumah ya."


"Iya Nek." Khalisa juga rindu kampung halaman mama nya yang suasananya hampir seperti desa tempat tinggal Azfan di Bantul. Namun karena Khalisa selalu sibuk, ia belum berkunjung ke rumah kakek dan nenek nya.


Sebenarnya Ica sudah meminta orangtuanya tinggal disini dengannya tapi mereka menolak karena tidak bisa meninggalkan tempat asal mereka. Sebagai gantinya mereka sering menginap di rumah Ica dan Daniel atau sebaliknya.


"Khalisa mau coba?"


"Mau." Khalisa manggut-manggut menyambut suapan dari neneknya, sambal dengan teri yang renyah berpadu sempurna membangkitkan selera makan Khalisa yang hilang beberapa hari terakhir.


Nenek berharap kesedihan Khalisa tidak berlarut-larut meski ia tahu betapa cucu nya itu dekat dengan Renata. Seperti halnya ia dekat dengan Khalisa. Hubungan mereka sangat erat satu sama lain.


"Khalisa mau kompres mata dulu." Khalisa membuka kulkas mengambil sendok dingin yang sudah disiapkan oleh Mareta untuk mengompres matanya. Rasanya Khalisa sulit membuka mata lebar-lebar akibat terlalu banyak menangis.


"Panggil suami mu supaya nyoba sambel nya juga." Pinta Nenek setelah mematikan kompor. Ia dibantu seorang ART untuk memindahkan sambal ke dalam wadah.


Khalisa bergegas menuju lantai dua untuk memanggil Azfan di kamar, ia masih berjalan sambil mengompres matanya dengan sendok dingin.


"Mas." Khalisa membuka pintu dan mendapati Azfan sedang berkutat dengan laptopnya.


"Nggak apa-apa, dikompres biar nggak terlalu bengkak." Khalisa duduk di samping Azfan, "sebenernya ada masker khusus bawah mata tapi Bi Mar udah siapin sendok dingin jadi harus dipakai."


"Aku baru periksa email, ada empat undangan pengajian, katanya mereka tahu aku sejak lomba MTQ di Turki tayang di YouTube dan televisi."


"Alhamdulillah, semakin banyak yang tahu Mas Azfan." Khalisa tersenyum bangga pada sang suami.


"Aku nggak terbiasa tampil di depan umum jadi aku belum jawab email mereka."


Khalisa mengusap punggung Azfan, ia tidak mau memaksa suaminya itu untuk memenuhi undangan tersebut. Khalisa akan mendukung apapun keputusan Azfan selama itu baik untuk mereka.


"Nenek panggil kita untuk makan siang, yuk." Ajak Khalisa.


Azfan menutup laptopnya sebelum keluar dari kamar bersama Khalisa. Mereka akan ke bandara pukul 5 sore, mampir sebentar ke apartemen lalu berangkat ke Bantul sesuai keinginan Khalisa menginap di kampung halaman Azfan.


******


Bulan bersinar cerah di tengah gemintang yang bertabur di langit kota Bantul. Berbeda dengan Banyuwangi yang mendung, Bantul malam itu amat cerah.


"Maaf ya, Mas pasti capek karena harus nyetir kesini." Khalisa turun lebih dulu sebelum Azfan membukakannya pintu.


Azfan ikut turun dan menurunkan koper dari bagasi yang berisi pakaian Khalisa. Azfan tidak membawa baju karena di rumahnya kasih ada beberapa baju miliknya.


"Kita bisa langsung istirahat disini sayang." Azfan mengetuk pintu dan mengucapkan salam, ia sudah mengabari ibunya siang tadi bahwa mereka akan pulang dari Banyuwangi.


"Waalaikumussalam." Seseorang menjawab salam lalu pintu terbuka, Marwah tersenyum lebar melihat kedatangan Khalisa dan Azfan. Marwah mencium tangan keduanya dan mengajak mereka masuk.


"Marwah kok belum tidur?" Khalisa mengusap rambut Marwah.

__ADS_1


"Nungguin Mbak Khalisa sama Mas." Jawab Marwah.


"Maaf ya sayang udah bikin Marwah nunggu."


"Ibu." Khalisa mencium punggung tangan mertuanya, "maaf kami datengnya malem banget."


"Nggak apa-apa, kalian pasti capek kan, mau makan dulu atau langsung istirahat?" Kirana membalas pelukan Khalisa. Ia menyuruh Marwah tidur agar tidak terlambat sekolah besok.


"Kami udah makan di pesawat Bu, mau langsung istirahat aja." Azfan juga mencium tangan ibunya.


"Ibu harap Khalisa tabah menghadapi ketentuan Allah, Khalisa pasti bisa melewati ini semua." Ibu menepuk-nepuk punggung Khalisa lembut.


"Makasih Bu." Khalisa mengurai pelukan dan tersenyum simpul. "Oh iya Bu, ini sambel teri Nenek Khalisa bikin." Khalisa menyodorkan sebuah kotak berisi sambel teri buatan neneknya pada Kirana.


"Wah makasih ya, besok Ibu angetin waktu sarapan." Kirana mengambil alih kotak tersebut.


Kirana meminta mereka untuk segera beristirahat karena ini hampir tengah malam, mereka juga telah menempuh perjalanan yang tidak sebentar dari Banyuwangi.


"Wah bau sprei baru." Gumam Khalisa begitu masuk ke kamar Azfan yang tidak terlalu luas bahkan bisa dibilang sempit dan hanya ada sebuah single bed dan lemari kayu di sudut ruangan. Khalisa berpikir apakah kasur itu cukup untuk mereka berdua.


Azfan menutup pintu tersenyum melihat tempat tidur yang begitu rapi, pasti ibunya telah mengganti sprei dengan yang baru hingga Khalisa bisa mencium aromanya.


"Kasur ini inshaa Allah cukup kok buat berdua." Azfan mengerti arti dari tatapan Khalisa yang terpaku pada kasur di kamar itu.


Khalisa tersenyum lebar, bukankah bagus jika sebuah tempat tidur itu semakin sempit. Itu artinya salam tidur mereka tidak memiliki kesempatan untuk berjauhan.


"Haura deket tembok aja biar aku di pinggir."


Mereka mengganti pakaian dengan yang lebih nyaman sebelum tidur.


"Disini cuma ada satu lampu." Tukas Azfan karena di apartemen atau rumah Khalisa, kamarnya memiliki dua jenis lampu yakni lampu tidur dan lampu ruangan sehingga mereka bisa mengaturnya saat hendak tidur. "Haura mau lampunya dimatiin atau dibiarin aja?"


"Mas nggak masalah dengan keduanya?" Khalisa harus mengutamakan suaminya, ia bisa menerima apapun pilihan Azfan.


"Nggak masalah kok, aku bisa tidur dalam gelap atau terang."


"Ya udah matiin aja."


Azfan mematikan lampu dan melangkah hati-hati naik ke tempat tidur.


Khalisa mendelik, kenapa gelap sekali tak ada sedikitpun cahaya yang masuk ke kamar tersebut. Apakah kamar ini tidak memiliki jendela.


"Mas." Bisik Khalisa.


"Kenapa sayang?" Azfan mengubah posisinya menghadap Khalisa.


"Kok gelap banget ya."


"Iya karena belakang rumah sawah jadi nggak ada cahaya dari luar."


Khalisa terdiam, ia tidak bisa memejamkan mata karena rasanya sama saja—gelap.


"Aku hidupin aja ya." Azfan kembali turun dari tempat tidur untuk menghidupkan lampu.


Khalisa melepaskan napas lega setelah ruangan kembali terang, ia meminta maaf pada Azfan karena membuatnya naik turun tempat tidur.


"Semoga Haura ku betah menginap disini." Azfan memeluk tubuh mungil Khalisa.


"Pasti betah." Balas Khalisa karena rumah Azfan memiliki pemandangan yang indah dan membuatnya betah berlama-lama disini.

__ADS_1


__ADS_2