
Senyum Khalisa merekah begitu keluar lift melihat Rindang di ujung koridor. Rindang yang penampilannya amat berbeda dari biasanya. Khalisa setengah berlari menghampiri Rindang lalu memeluknya bahkan ia hampir menangis terharu karena sahabatnya itu benar-benar telah memeluk Islam. Khalisa merasakan kesedihan dan kebahagiaan pada saat yang bersamaan.
"Ih kamu nangis?" Rindang tertawa melihat Khalisa bersusah payah menahan tangis.
"Enggak." Khalisa mengelak, ia masih memandangi Rindang yang mengenakan gamis hitam dan jilbab abu-abu.
"Aduh aku kangen sama kamu, kalian lama banget sih di Bantul?" Rindang pura-pura memasang wajah kesal ketika Azfan berhasil menyusul. Ia ingin protes karena Azfan membawa Khalisa sangat lama tapi tentu saja Rindang tidak berhak melakukan itu karena mereka sudah menikah.
Setelah kembali dari Banyuwangi, Khalisa dan Azfan langsung menuju Bantul. Mereka baru kembali ke apartemen setelah menginap 10 hari di kampung halaman Azfan.
"Ayo masuk." Khalisa menarik Rindang masuk ke apartemennya, "katanya kamu udah hafal Al-Fatihah?" Ia bersemangat ingin mendengar Rindang membacakan surat Al-Fatihah.
"Aku belajar banyak di komunitas mualaf." Rindang duduk bersila di atas sofa ruang tamu.
"Alhamdulillah." Khalisa memang memberitahu Levin agar mengajak Rindang ikut komunitas mualaf.
"Tapi aku baru belajar huruf-huruf hijaiyah."
"Nggak apa-apa, pelan-pelan aja." Khalisa duduk di samping Rindang, "aku mau denger kamu baca Al-Fatihah."
"Tapi Azfan jangan disini aku malu." Rindang melihat Azfan.
"Ya udah aku ke kamar dulu." Azfan melangkah pergi sembari membawa koper menuju kamar.
Rindang menarik napas panjang lalu melafalkan ayat pertama surat Al-Fatihah dengan suara merdu yang membuat Khalisa terkesima. Meski lafal pengucapan tiap huruf kurang tepat tapi itu sudah lumayan karena Rindang belum genap satu bulan menjadi muslim.
"Gimana Tante dan Om, apa mereka setuju?" Tanya Khalisa setelah Rindang menyelesaikan bacaannya, ia juga memuji Rindang karena berhasil menghafal surat yang akan selalu dibaca saat shalat.
Rindang terdiam beberapa saat sebelum memulai cerita panjangnya. Malam saat ia memutuskan untuk mengucapkan syahadat, ia juga langsung menghubungi brand-brand yang mengajukan kerja sama dengannya. Rata-rata mereka adalah brand pakaian, sepatu dan semir rambut karena ciri khas Rindang adalah suka gonta-ganti warna rambut. Rindang membatalkan semua kerja sama tersebut karena mulai malam itu juga ia tidak akan memposting foto dengan pakaian terbuka apalagi menampakkan rambutnya.
Rindang juga akan menghapus semua foto-fotonya di media sosial. Namun itu semua membuat Rindang harus membayar biaya ganti rugi yang tidak sedikit. Ia meminta bantuan kuasa hukumnya untuk mengatasi hal tersebut. Rindang mau membayar semua biaya penalti tersebut karena ia yakin Allah akan memberinya jalan keluar selagi ia berusaha.
Khalisa mendengarkan dengan seksama setiap cerita Rindang, sesekali ia mengusap paha sahabatnya itu untuk memberinya ketenangan.
"Tadi malam aku baru bilang sama Papa dan Mama karena waktu ngelayat aku emang sengaja menghindar dari mereka."
"Terus?"
"Mereka marahin aku habis-habisan, maaf ya Khalisa mereka juga bilang kalau kamu bawa pengaruh buruk buat aku."
Khalisa menggeleng, "nggak apa-apa aku ngerti perasaan mereka."
__ADS_1
"Kami cukup lama berdebat tapi pada akhirnya mereka terima keputusan aku, katanya kalau sampai mereka memutuskan hubungan sama aku maka mereka nggak akan punya apa-apa lagi."
Khalisa tersenyum mengusap air matanya yang tak terasa meleleh membasahi pipinya.
"Untung aja kamu anak tunggal."
"Parah sih kalau sampai mereka minta aku keluar dari apartemen, aku bakal numpang tidur disini."
Khalisa memeluk Rindang bangga karena Rindang berani mengambil keputusan terbesar dalam hidupnya.
"Kampus kamu gimana?"
"Pihak kampus semuanya kaget karena ini pertama kalinya ada mahasiswa muslim, kalau di kampus kamu mungkin udah biasa ada mahasiswa non muslim yang masuk sana dan diwajibkan pakai jilbab juga."
"Jadi mereka izinin kamu pakai jilbab nggak?"
"Untungnya dikasih izin kalau sampai nggak, aku bakal keluar dari kampus itu."
"Terus mau kuliah dimana?"
"Nggak usah kuliah." Rindang nyengir seolah semua yang ia ucapkan begitu mudah dilakukan. Padahal semua proses yang Rindang lakukan bukan hanya menguras tenaga dan emosi tapi juga materi. Uang tabungan yang Rindang kumpulkan sejak ia sekolah telah habis terkuras. Namun anehnya Rindang tidak merasa berat untuk mengeluarkan semua tabungan tersebut, ia justru merasa lega.
"Ayo makan di luar, lama banget kita nggak keluar bareng." Ajak Rindang.
"Puasa apa?" Rindang mengerutkan kening, ia pikir puasa hanya ada di bulan Ramadhan.
"Puasa sunnah Ayyamul Bidh atau tengah bulan nanti aku ajarin kamu ibadah Sunnah tapi kalau sekarang yang wajib aja dulu."
Rindang menyandarkan badannya ke sofa, "aku pengen deh pakai cadar."
Alis Khalisa terangkat, kalimat Rindang terdengar seperti tidak serius tapi Khalisa ingat terakhir kali mengucapkan candaan semacam itu malam harinya Rindang langsung mengutarakan keinginan untuk bersyahadat.
"Tapi pantes nggak sih seorang Rindang yang baru aja ngucapin dua kalimat syahadat tiba-tiba pakai cadar."
"Memangnya kenapa tiba-tiba pengen bercadar?"
Rindang tampak berpikir, "nggak tahu, malu aja kalau ada yang lihatin muka aku apalagi cowok, risih." Ia bergidik ngeri membayangkan para cowok yang tak bisa mengalihkan pandangan darinya saat ia berjalan melewati mereka.
"Mungkin kalau dulu sih aku bisa maklum karena kamu tahu sendiri kan pakaianku kekurangan bahan tapi sekarang semuanya tertutup kecuali tangan sama muka tapi masih ada aja yang lihatin, apa aku terlalu cantik ya?" Rindang melihat Khalisa pura-pura memasang wajah polos.
"Kamu cantiknya kebangetan sih, kalau nggak kan nggak mungkin kamu jadi selebgram yang pengikutnya ratusan ribu." Khalisa menggeser duduknya lebih dekat dengan Rindang. "Tapi pakaian itu nggak sepenuhnya mencerminkan sifat seseorang atau banyaknya ilmu yang dia miliki, jadi menurut aku nggak masalah kalau kamu mau pakai cadar."
__ADS_1
"Tapi nggak mungkin pakai cadar ke kampus."
"Waktu masuk kampus dicopot nggak apa-apa yang penting bukan jilbabnya yang kamu lepas."
"Emang nggak apa-apa?"
"Nggak apa-apa." Khalisa mengangguk yakin. "Masya Allah aku masih nggak nyangka lo Rin." Khalisa kembali memeluk Rindang dari samping.
"Makasih udah bawa pengaruh baik ke kehidupan aku." Gumam Rindang membuat Khalisa kembali merasa tersentuh.
"Haura, aku ke masjid dulu."
Khalisa beranjak melihat Azfan muncul dari balik dinding yang membatasi ruang tamu dan ruang tengah, "udah mau dhuhur ya?" Khalisa mencium punggung tangan Azfan.
"Iya." Azfan membawa Khalisa hingga ke depan pintu lalu mengecup kening sang istri. "Ajak Rindang shalat jama'ah sama Haura."
"Iya Mas." Khalisa menutup pintu setelah melihat Azfan masuk ke dalam lift. "Ayo wudhu, siap-siap shalat dhuhur."
"Kan belum adzan."
"Masa nunggu dipanggil, siap-siap dulu nanti pas denger adzan jadi bisa langsung sholat."
Rindang mengikuti Khalisa menuju ruangan khusus shalat yang dulunya adalah kamar tamu. Karena kamar tersebut jarang ditempati jadi Khalisa mengalihfungsikan menjadi tempat shalat.
Rindang sudah menghafal beberapa doa sehari-hari seperti wudhu dan shalat. Dua hal paling penting untuk umat muslim. Rindang juga menghafal beberapa surat pendek yang dibimbing langsung oleh Ustadzah Zainab di komunitas mualaf.
"Jason nggak ada gangguin kamu kan?" Tanya Khalisa ketika mengambil satu mukena untuk Rindang di dalam lemari.
"Enggak sih, dia lebih banyak menghindar waktu kami nggak sengaja papasan."
"Alhamdulillah kalau gitu, dia emang cowok baik."
"Aku harap dia dapet cewek yang baik." Rindang mengenakan mukena milik Khalisa.
Mereka mendengar adzan dhuhur berkumandang dari masjid ketika menggelar sajadah.
"Tuh kan tepat banget." Tukas Khalisa.
Rindang menggelar sajadah di samping Khalisa lalu mereka mendirikan shalat dhuhur berjamaah dengan Khalisa sebagai imam.
Usai shalat Rindang meminta Khalisa mengajarinya membaca huruf Hijaiyah melalui aplikasi yang sudah ia unduh melalui tablet.
__ADS_1
Persahabatan mereka kian terjalin indah setelah perbedaan besar antara keduanya melebur. Sejak dulu Rindang dan Khalisa menjalin persahabatan dengan baik tanpa terganggu oleh perbedaan keyakinan itu. Namun sekarang setelah Rindang memeluk Islam, hubungan mereka kian erat.