
"Khalisa dan Azfan kemana?" Ketika keluar dari toilet Levin tidak menemukan Khalisa dan Azfan di meja mereka. Apakah mereka pulang dulu padahal waiter restoran masih menghidangkan dessert di atas meja setelah makan berat.
"Mereka pamit pulang duluan, Om Daniel sama Tante Ica datang." Jawab Rindang, mereka baru saja pergi ketika Levin pergi ke toilet. Fawas dan Ayin juga sudah pergi bersama Khalisa dan Azfan. Tinggallah mereka bertiga bersiap menghabiskan makanan penutup.
"Aku nggak bisa ini manis banget ya?" Rindang menunggu reaksi Kafa yang menyuapkan sesendok Puding Custard. Ia bisa pingsan disini jika nekat makan puding itu karena baru saja makan berat yang cukup banyak.
"Nggak terlalu kok, kayaknya kamu masih bisa makan sedikit aja." Tukas Levin setelah mengunyah puding lembut tersebut.
Rindang menggeleng, ia memilih meneguk air mineral yang tersisa sedikit.
"Nanti sisanya aku yang habisin." Tambah Levin lagi.
"Tuh Ce, makan aja mumpung ada yang mau abisin sisanya." Kafa menunjuk dessert yang masih utuh dengan sendok di tangannya. "Sayang lo udah dibayar sama temen Ce Khalisa tadi."
"Baik juga itu temennya Khalisa, mereka juga kelihatan bahagia." Akhirnya Rindang menyendok puding itu dan melahapnya. "Enak banget, satu sendok lagi."
Levin tersenyum lebar melihat Rindang ketagihan pada puding itu.
"Enak banget pakai cadar jadi nggak kelihatan kalau mulutnya penuh." Ledek Kafa.
"Mau pakai juga? aku kasih deh di rumah banyak." Rindang mendorong piring pudingnya pada Levin, "makasih ya Ko."
Levin dengan senang hati menghabiskan puding Rindang lagi pula itu hanya puding berukuran kecil yang tak akan membuat perutnya penuh.
"Kamu sekarang masih buka endorsement?" Tanya Levin disela ia mengunyah.
"Kok Koko nanya sih, emang Ko Levin nggak follow Instagram nya Ce Rindang?" Sela Kafa, ia memang hobi mengintimidasi orang.
"Aku nggak punya akun Instagram." Levin menggeleng, ia hanya tahu kalau Rindang sangat populer di media sosial karena teman-temannya banyak yang menjadi penggemar Rindang.
"Oh ya?" Kafa terkejut, "aku pikir di dunia ini cuma Ce Khalisa aja yang nggak punya media sosial ternyata Koko juga."
__ADS_1
"Jangan salah, suami Khalisa juga nggak punya." Rindang menimpali kalimat Kafa yang terdengar berlebihan.
Rindang menceritakan awal-awal yang memeluk Islam hampir semua produk membatalkan kerja sama dengannya. Namun setelah beberapa bulan berlalu satu per satu produk pakaian muslim menawarkan kerja sama dengan Rindang. Hingga akhirnya pelan-pelan tabungan Rindang yang terkuras habis kembali terisi. Disitulah Allah sedang menunjukkan kebesarannya karena Rindang rela dan ikhlas jika harus kehilangan sebagian besar penghasilannya pada waktu itu.
Levin menyodorkan tisu pada Rindang karena ia melihat mata Rindang basah ketika menceritakan hal itu.
"Nggak usah Ko." Tolak Rindang, ia mengusap matanya dengan ujung lengan pakaiannya.
"Kalian pulangnya naik apa?" Levin menarik kembali tisu itu menggunakannya untuk mengusap mulut setelah menghabiskan dua porsi puding.
"Aku udah pesen taksi online." Jawab Rindang.
"Kafa?" Levin melihat Kafa.
"Sama." Kafa mengeluarkan ponselnya untuk memesan taksi karena tadi ia dan Rindang pergi dengan mobil Khalisa.
Mereka berpisah di restoran tersebut setelah menghabiskan semua hidangan di atas meja. Tadinya Levin hendak menawarkan tumpangan kepada Rindang dan Kafa tapi karena mereka telah memesan taksi online maka ia mengurungkan niatnya tersebut.
"Ma, Mama tahu Rindang kan yang pernah datang kesini sama Khalisa waktu Anniversary Papa dan Mama." Levin menghampiri Mama nya yang sedang merajut di taman samping rumah. Di tengah kesibukan Valerie sebagai dokter di rumah sakit, ia selalu menyempatkan diri merajut. Kali ini ia membuat sepasang kaos kaki berwarna burgundy.
Valerie hanya bergumam tanpa melihat Levin yang telah duduk di sampingnya. Tentu saja ia ingat karena Rindang adalah sahabat baik Khalisa.
"Aku udah cerita belum kalau Rindang masuk Islam?"
"Oh ya?" Valerie tampak terkejut spontan memutar kepala melihat Levin.
Dilihat dari reaksi Valerie, berarti ini baru pertama kali Levin menceritakan tentang mualaf nya Rindang.
"Perubahan dia drastis banget Ma, aku sampai nggak ngenalin dia tadi." Jantung Levin masih bergemuruh mengingat sosok Rindang.
Valerie memperhatikan ekspresi anaknya yang tampak antusias menceritakan tentang Rindang tersebut. Bagi Valerie itu bukanlah hal yang mengejutkan karena dua sahabat baik cepat atau lambat pasti akan mempengaruhi satu sama lain.
__ADS_1
"Kamu excited banget ceritanya, jangan bilang kamu suka sama Rindang gara-gara dia mualaf juga kayak kamu." Valerie kembali melilitkan benang pada ujung jarum di tangannya lalu menarik simpul, begitu seterusnya.
"Memangnya kenapa?"
"Jadi kamu udah suka? secepat itu?" Alis Valerie terangkat, wanita berusia 50 tahunan itu tampak terkejut untuk kedua kalinya. Memangnya tidak ada wanita lagi di dunia ini, kenapa harus seseorang yang dekat dengan Khalisa. Valerie sudah telanjur malu pada Daniel dan Ica.
"Cinta itu kayak busur panah Ma, wush! tiba-tiba nyampe ke hati." Levin menyentuh dadanya seolah disitu lah letak hatinya berada.
"Mama nggak setuju, buat Mama cinta itu seperti air yang jatuh menimpa batu, butuh waktu lama untuk menghancurkan batu tersebut."
Levin tertawa karena perumpamaan yang mama nya katakan soal cinta. Levin sendiri tidak tahu apakah ia benar-benar bisa menerjemahkan cinta dalam satu kalimat. Yang ia tahu, cinta itu adalah sebuah keajaiban dari Allah untuk manusia.
"Siapa orangtua Rindang?" Tanya Valerie berjaga-jaga sebelum Levin jatuh cinta maka ia harus tahu Rindang berasal dari keluarga seperti apa.
"Papa nya Jonas Aderic, Mama nya Michelin Anjana, emangnya Mama tahu?"
Nama itu tidak asing di telinga Valerie tapi ia tak dapat mengingatnya.
"Mereka pelopor bisnis Frozen Food di Banyuwangi."
"Oh pantes, beberapa kali Mama denger nama Jonas Aderic tapi kamu jangan mikir cinta-cintaan dulu apalagi mau nikah cepet, abis koas kamu masih harus internship dan siap-siap ambil pendidikan spesialis, pasti kamu belum tentuin mau ambil spesialis apa kan?"
"Itu masih lama Ma." Levin belum memikirkan hendak mengambil pendidikan spesialis karena sekarang ia juga masih menikmati perannya di rumah sakit Kafasa.
"Inget ya Vin, kuliah kamu itu nggak murah makanya Mama mau kamu jadi dokter hebat kayak Mama."
Levin terdiam, wajahnya yang tadinya ceria berubah muram. Memiliki orangtua yang sukses menjadi dokter seperti Valerie atau Michael yang punya hotel bintang 5 memang menjadi beban bagi Levin. Ia selalu dibandingkan dengan orangtuanya dalam segala hal termasuk soal pendidikan.
"Aku ke kamar dulu." Levin beranjak dari duduknya tanpa menunggu jawaban sang mama. Lagi pula Levin tak akan menjatuhkan hatinya secepat itu. Levin belum bisa melupakan Khalisa yang bahkan sekarang telah bahagia dengan Azfan. Levin hanya menunjukkan kekagumannya pada Rindang. Namun Valerie terlalu cepat menarik kesimpulan.
Levin segera membersihkan diri untuk melaksanakan shalat ashar. Ia telah terasing di tengah-tengah keluarga sendiri. Orangtua Levin juga telah menentukan jalan hidupnya. Namun bagi Levin mereka tetap tidak bisa mencampuri dua hal yakni keyakinan dan pasangan hidupnya nanti.
__ADS_1
Levin selalu berdoa agar hatinya tetap teguh terhadap Islam karena semakin banyak kesukaran dalam hidupnya maka ia yakin bahwa Allah makin memperhatikannya.