Mahabbah Cinta Khalisa

Mahabbah Cinta Khalisa
135


__ADS_3

Rindang tidak menyangka bahwa ia akan sampai pada titik dimana dirinya harus bingung memilih pakaian pengantin yang akan digunakannya saat akad nikah nanti. Pernikahan tidak ada dalam rencana hidupnya, sama sekali tak terlintas di pikirannya untuk menikah—apalagi dengan waktu secepat ini.


Setelah Islam berada dalam pelukannya, Rindang tak memikirkan pernikahan. Cinta Allah telah memenuhi hatinya bahkan meluap hingga ia tak mampu menampungnya. Namun setelah memikirkan ucapan Levin bahwa pernikahan itu juga ibadah maka Rindang memutuskan untuk menerima pinangan Levin. Jika Rindang tak mampu menampung cinta Allah seorang diri maka dengan adanya Levin, ia berharap mereka bisa melakukannya bersama-sama.


Pernikahan Rindang akan digelar di Banyuwangi dengan tertutup karena ia tak mau banyak wartawan yang mengetahuinya. Rindang ingin acara itu berlangsung lebih hikmat dan intim yang dihadiri keluarga terdekat. Rindang dan Levin sepakat untuk tidak mengadakan acara resepsi.


"Rasanya semua orang memiliki pasangan cuma aku yang jomblo." Huma berseru dramatis.


"Emangnya kalau ada yang mau melamar, kamu udah siap?" Khalisa melihat Huma, ia sedang sibuk berkutat dengan laptop Rindang. Khalisa mencoba menyempurnakan desain Rindang dengan menambah beberapa aksen di bagian roknya.


"Enggak sih." Huma menggeleng, "aku nggak siap begadang, hamil, melahirkan, menyusui, aku nggak siap."


"Ya udah jangan ngeluh."


"Kamu desain sendiri pakaian pengantinnya Rin?" Huma naik ke sofa agar bisa melihat desain gaun pengantin yang telah Rindang buat.


"Iya, kamu mau dibikinin juga?"


"Mending cariin aku jodoh aja sih dari pada bikinin desain gaun."


"Tipe kamu yang kayak apa sih?" Rindang merubah posisinya menghadap Huma. Ia jadi serius membahas perihal pasangan dengan Huma.


Khalisa hanya melirik dua sahabatnya itu, bukankah tujuan mereka berkumpul di apartemen Rindang malam ini adalah untuk membicarakan konsep akad nikah.


"Yang kayak Geza sih, eh." Huma menutup mulutnya sendiri, kenapa lidahnya begitu lancar mengucapkan nama tersebut.


"Ya udah lamar aja si Geza." Sahut Khalisa akhirnya.


"Aku nggak punya tingkat kepercayaan diri setinggi kamu jadi nggak mungkin lah aku lamar Geza apalagi orangtunya kelihatan galak."


Khalisa tertawa, "enggak sama sekali, aku kenal Tante Dianis dari bayi dan dia baik kok nah kalau Om Alif itu tipe suami yang nurut sama istri jadi kuncinya ada di Tante Dianis."


"Emangnya sampai sekarang kalian nggak ada niat untuk berhubungan yang lebih serius?"


"Geza pernah nyinggung soal nikah sih, tapi karena dia orangnya suka bercanda jadi aku nggak tahu waktu itu dia lagi serius atau nggak."


"Maksud mu tipe yang kayak Geza itu yang suka ngelawak gitu?" Tanya Rindang, Geza memang jago nya ngelawak walaupun lawakannya selalu garing bahkan gosong. Namun keberadaan Geza selalu berhasil membuat mereka terhibur.


"Itu sih salah satunya." Huma nyengir, ia sendiri tak tahu apakah Geza juga menyukainya karena hubungan mereka seperti layaknya teman pada umumnya.


"Udah lah nggak usah nikah dulu, aku yakin nanti Allah akan mudahkan jalan kamu bersatu sama Geza kalau kalian memang jodoh."


Huma tersenyum menatap Rindang, "kamu bijak banget sekarang, aku kagum sama kamu."


"Duh jangan gitu dong." Rindang memegang pipinya yang mungkin saat ini sudah memerah. "Eh makan dulu yuk, laper banget." Ia beranjak dari sofa.


"Makan apa?" Khalisa mendongak.


"Apa aja yang ada di kulkas." Rindang hendak melangkah ke dapur untuk memeriksa apa yang ada di dalam kulkasnya untuk dimasak. Namun langkahnya terhenti oleh suara dentingan bel.


Rindang urung pergi ke dapur, sebelum membuka pintu ia memeriksa monitor untuk melihat seseorang di luar sana. Rindang tersenyum melihat wajah Levin memenuhi monitor. Tunggu dulu, kenapa ia tersenyum?


Rindang melupakan sesuatu yakni cadarnya, ia berlari ke kamar menyambar cadar yang dipakainya terakhir kali saat pergi ke kampus Khalisa tadi pagi. Harusnya Levin memberitahu sebelum datang agar Rindang tidak panik seperti ini.


"Maaf aku nggak ngasih tahu dulu kalau mau dateng."


"Nggak apa-apa." Rindang mengontrol napasnya agar tidak terdengar panik.


"Kebetulan tadi aku lewat jadi sekalian beliin kamu makan." Levin sedikit mengangkat bungkusan yang ada di tangan kanan dan kirinya. "Ada Khalisa sama Humaira juga kan."


"Apa ini?" Rindang mengambil bungkusan tersebut, ia mencium aroma panggangan yang begitu kuat.


"Chicken Steak."


"Makasih ya Ko, aku baru aja mau bikin makan malam, ayo masuk." Ajak Rindang.


"Nggak usah aku langsung pulang aja." Levin tidak mau mengganggu Rindang dan dua sahabatnya jadi lebih baik ia langsung pulang lagi pula tujuannya kesini hanya untuk mengantar makan malam.


"Sekali lagi makasih."


"Itu jangan lupa input insulin nya sebelum makan." Levin sedikit gugup saat berbicara dengan Rindang padahal dulu ia tak pernah seperti ini.


Rindang mengangguk, ia tak akan lupa karena itu telah menjadi kebiasaannya sejak usia 17 tahun.


"Satu lagi,"


"Ya?"


"Cadar kamu miring."

__ADS_1


"Oh." Rindang melongo, ah benar juga ia memasang cadarnya dengan buru-buru.


"Aku pulang dulu, assalamualaikum."


"Waalaikumussalam." Rindang kembali menutup pintu setelah Levin tidak terlihat. Ia segera melepas cadar dan melemparnya ke kursi karena telanjur malu.


Rindang meletakkan bungkusan berisi Chicken Steak di atas meja dan meminta Khalisa menyingkirkan laptop terlebih dahulu.


"Wah pucuk dicinta ulam tiba." Huma merosot dari sofa.


"Makan makanan sehat kita malam ini." Rindang mengeluarkan tiga kotak makanan dari dalam paper bag. Tidak lupa Rindang meng-input insulin sebelum makan.


"Kayaknya Ko Levin nggak akan pernah beliin kamu makanan pinggir jalan." Huma membaca nama salah satu restoran terkenal pada paper bag tersebut.


"Tapi makanan pinggir jalan lebih sedep nggak sih?" Rindang duduk bersila di atas karpet, aroma ayam yang dipanggang seketika menusuk indra penciumannya.


"Lebih berasa micin nya kan?" Khalisa setuju dengan Rindang. "Oh iya, Tante Val sama Om Michael pasti hadir kan di pernikahan kamu nanti?"


Rindang menggeleng, "nggak tahu, sampai sekarang Ko Levin masih berusaha bujuk orangtuanya untuk merestui hubungan kami."


Khalisa menepuk-nepuk lengan Rindang, ia berdoa agar Rindang dan Levin diberi ketabahan serta bisa melalui ini dengan baik.


"Khalisa, kamu kan udah hampir 3 tahun nikah sama Azfan, kasih aku nasehat dong."


"Nasehat apa?" Khalisa memotong steak ayam, mencelupkan ke dalam saus dan melahapnya.


"Nasehat pernikahan, kamu lebih tahu aku dari siapapun."


"Pertama, kamu harus meletakkan barang pada tempatnya, itu sepele tapi sulit kamu lakuin."


Rindang terkekeh, jika melihat sekeliling ia akan menemukan berbagai barang yang tidak sesuai dengan tempatnya. Bahkan barusan Rindang melempar cadarnya ke sembarang arah. Saat tinggal dengan orangtuanya dulu semua kebutuhan Rindang dilayani oleh ART termasuk membereskan kamar. Alhasil setelah tinggal disini Rindang harus melakukannya semua sendiri. Rindang tahu ini adalah kebiasaan yang buruk tapi ia sudah cukup sibuk dengan tugas kuliah.


"Aku udah coba tapi setiap hari pasti ada aja paket yang datang, dan aku nggak mungkin selesai buka paket itu dalam sehari."


"Aku tahu." Khalisa mengangguk mengerti, selalu ada saja brand yang ingin bekerjasama dengan Rindang.


"Apa aku harus close endorsement ya?"


"Jangan." Sahut Huma cepat, "sayang banget lo Rin."


Rindang berpikir, ia senang menjalani kesibukannya saat ini, membantu banyak brand untuk memperkenalkan produk mereka terhadap publik. Rindang bahagia ketika melihat pesanan produk mereka membludak setelah ia mempromosikannya. Namun setelah ini Rindang juga harus fokus pada bisnisnya sendiri, ia berencana membuka butik di Banyuwangi.


"Kamu bicarain ini sama Ko Levin, sebentar lagi kalian akan menikah, Ko Levin akan jadi suami kamu dan dia adalah tempat kamu berbagi banyak hal termasuk pekerjaan."


"Huma kapan balik ke Surabaya?" Tanya Rindang, ia harus memastikan Huma bisa hadir pada akad nikahnya nanti.


"Belum tahu, males banget mau packing, kalian tahu sendiri kan buku aku buanyak banget."


"Kasih aja ke Taman Baca, emang masih mau dibaca lagi?" Sahut Khalisa.


"Aahh aku sayang banget sama mereka walaupun cuma kemungkinan kecil aku baca ulang."


"Pilih aja beberapa yang kamu sayang banget, yang lain nggak usah dibawa balik."


Huma menghela napas panjang, sempat terlintas di pikirannya untuk memberikan buku-buku yang sudah selesai dibacanya pada orang lain seperti kebiasaan Khalisa dan Azfan. Namun saat melihat mereka, Huma tak akan tega memberikannya pada orang lain. Bagaimana jika mereka tidak terawat dengan baik. Bagi Huma, buku-buku itu seperti binatang peliharaan yang amat ia sayangin. Geza juga sempat memberinya beberapa novel kesukaannya, Huma tak mau memberikannya pada orang lain. Tak akan pernah.


Setelah menyelesaikan makan malam, mereka lanjut memperbaiki desain dan mendiskusikannya dengan Gracia. Setelah melihat gaun milik Khalisa dan Mahira, Rindang mantap mempercayakan Gracia untuk menjahit gaun miliknya.


Karena tidak ada resepsi, tak banyak harus yang mereka persiapkan. Sementara itu dokumen untuk keperluan menikah telah diurus oleh orangtua Rindang dan Levin.


******


"Dari mana Vin?" Tegur Valerie melihat Levin memasuki rumah, ia tengah fokus membaca buku tapi tetap bisa menyadari kehadiran Levin.


"Dari apartemen Rindang." Jawab Levin.


"Oh sekarang udah berani nyamperin Rindang, bukannya itu nggak boleh ya? apa namanya?" Valerie hendak mengatakan mereka bukan mahram seperti yang sering Levin katakan padanya, hanya saja ia lupa istilah tersebut.


"Aku cuma ngasih makanan terus pulang lagi pula Rindang nggak sendirian tadi." Jelas Levin.


"Kamu yakin mau nikahin dia?" Valerie melirik Levin.


"Lebih dari yakin Ma." Levin memutar badan menatap mama nya yang sama sekali tidak mengalihkan pandangan dari buku di tangannya.


"Kamu bilang kalian akan menikah di Banyuwangi?"


"Iya."


"Gimana sama kerjaan kamu?"

__ADS_1


"Aku udah kirim surat pengunduran diri ke rumah sakit Dr. Sardjito."


"Apa?" Valerie menjatuhkan buku di tangannya, ia terlalu terkejut mendengar jawaban Levin. Mengapa ia sama sekali tidak tahu jika Levin mengundurkan diri dari rumah sakit Dr. Sardjito.


"Aku akan pindah ke rumah sakit Kafasa." Beberapa kali Levin berniat memberitahu mama dan papanya tentang hal ini tapi mereka tak memberinya kesempatan untuk bicara.


"Hal sepenting ini kamu nggak bicarakan dulu sama Mama dan Papa? kamu anggap kami ini apa?" Nada bicara Valerie meninggi.


"Ma, aku udah coba bicara sama Mama dan Papa tapi kalian nggak peduli dan selalu menentang rencana-rencana ku."


"Ada apa ini?" Michael baru masuk ketika mendengar keributan antara Levin dan Valerie.


"Levin mau pindah ke rumah sakit Kafasa, dia udah bisa ngatur hidupnya sendiri sekarang." Valerie menunjuk Levin mengadukan kelakuan anak sulung mereka pada Michael.


"Benar itu Vin?" Michael melihat Levin.


"Pa, sebelumnya aku ingin memberitahu Papa dan Mama tapi kalian nggak mau dengerin aku."


"Kenapa kamu mau pindah ke tempat yang sangat jauh dari sini?" Tanya Michael.


"Pa, Ma Minggu depan Levin mau menikah dengan Rindang."


"Apa? Mama nggak salah denger, kenapa kamu memutuskan hal ini sendirian, kami ini orangtua kamu lo Vin, kenapa kamu malah seenaknya memutuskan sesuatu, Mama bilang kamu boleh menikah tapi nggak sekarang."


"Kapan Ma, setelah aku ambil spesialis atau bahkan sampai aku punya rumah sakit sendiri?" Levin sudah pernah bicara baik-baik dengan mamanya tentang hal ini tapi jawaban mamanya selalu sama yakni melarang Levin untuk menikah.


"Aku harap Mama dan Papa datang ke pernikahan ku, aku memohon restu Mama dan Papa." Pandangan Levin sendu, ia masih berusaha meminta persetujuan mereka.


"Oke kalau itu mau kamu, kamu boleh menikah dengan siapapun Mama nggak peduli tapi kamu harus keluar dari rumah ini, Mama nggak akan ikut campur urusan kamu lagi."


"Mama ngusir Levin?" Michael melihat istrinya tak percaya.


"Salah dia sendiri nggak mau ngikutin peraturan kita, itu artinya dia harus pergi dari rumah ini Pa.


Meylin yang dari tadi berada di balik dinding pembatas ruang tengah dan ruang tamu tertegun mendengar ucapan mamanya. Meylin tak percaya mamanya mengusir Levin dari rumah ini hanya karena Levin ingin menikahi wanita yang dicintainya.


Mata Levin seperti ditusuk-tusuk jarum tapi ia berusaha menahan air matanya agar tak ada yang lolos sedikitpun. Levin tak boleh terlihat lemah, ia harus membuktikan bahwa dirinya mampu.


Levin berlari menaiki anak tangga yang menghubungkan dengan lantai dua, ia masuk ke kamar dan mengeluarkan semua pakaiannya dari dalam lemari.


"Ko, Koko mau kemana?" Meylin menahan tangan Levin yang sedang memasukkan pakaian ke dalam koper.


"Maafin Koko, Koko harus pergi Me."


"Kalau Koko pergi, Meme sama siapa?"


Levin menarik Meylin dan memeluknya, ia tak kuasa meninggalkan adiknya disini tapi apa boleh buat, ia telah memilih untuk menikahi Rindang maka ia harus mengambil resiko apapun termasuk diusir dari rumah.


"Koko akan berkunjung sesekali."


Meylin menangis tersedu-sedu di pelukan Levin, "Jangan pergi Ko."


Levin mengusap-usap punggung Meylin, ia menggigit bibirnya menahan tangisan sekuat tenaga. Dadanya terasa amat sesak berat sekali meninggalkan rumah yang telah ditinggalinya sejak kecil. Berpisah dari orangtua membuat Levin tak mampu menahan tangisannya lagi.


"Kalau Koko pergi, Meme ikut."


Levin menggeleng, "Meme harus tetap disini, kalau Meme ikut Koko terus Papa dan Mama sama siapa?"


"Tapi mereka udah ngusir Koko."


"Mereka lagi emosi makanya seperti itu, Koko akan kembali dengan Cece Rindang ya?"


Meylin mengeratkan pelukannya pada Levin, ia sudah cukup sedih saat Levin meninggalkannya koas di Banyuwangi selama dua tahun.


"Koko pasti kembali." Levin mengecup kening Meylin lama, berat sekali meninggalkan adiknya disini.


Levin menyeret kopernya melewati tangga menuju pintu utama.


"Aku pergi dulu Ma, Pa, maaf kalau aku belum bisa jadi anak yang baik, aku nggak akan pernah bisa balas jasa Mama dan Papa yang sudah membesarkan ku dengan baik, aku harap kalian mau menghargai pilihan ku untuk menikahi Rindang."


Valerie beranjak dari sofa tanpa mengucapkan sepatah katapun, ia naik ke tangga meninggalkan ruang tamu.


Hujan menggugur tepat ketika Levin keluar dari rumah. Langkah Levin terhenti ketika ia mendengar suara papanya samar-samar di tengah guyuran hujan yang semakin deras.


"Bawa ini." Michael menyelipkan kunci mobil dan satu kartu ATM ke tangan Levin.


Levin memeluk papanya dan mengucapkan terimakasih, ia berpamitan sekali lagi pada Michael. Walaupun Michael tipe papa yang jarang bicara tapi ia selalu peduli pada anak-anaknya.


Kini Levin tidak memiliki tempat tujuan setelah keluar dari rumah. Tak mungkin jika ia menginap di hotel Aswatama walaupun papanya tak akan melarang. Hanya satu tempat yang terlintas di pikiran Levin yakni gedung pertemuan komunitas mualaf. Levin akan tidur satu malam disana.

__ADS_1



Tetap tersenyum walaupun diusir dari rumah 😂


__ADS_2