
Mahira dan Kafa sampai di bandara 15 menit lebih awal dari jadwal landing pesawat Khalisa. Akhirnya Mahira mengajak Kafa makan di sekitar bandara karena kebetulan mereka belum makan siang. Mereka memilih salah satu restoran udon di area bandara. Meski cuaca tengah terik, Mahira tetap ingin makan sesuatu yang berkuah dan panas.
Mereka memesan udon dengan kuah kari dan topping ebi furai sedangkan minum cukup ocha dingin yang hampir selalu Kafa pesan setiap datang ke restoran Jepang. Biasanya mereka bebas isi ulang ocha tanpa membayar lagi.
"Beliin hadiah apa buat Ci Rindang?" Mahira menyangga pipinya dengan satu tangan di atas meja. Karena sibuk mengurus tenant bakpia di Alindra Mall, mereka tidak bisa datang ke pernikahan Rindang dan Levin. Sebagai gantinya mereka akan mengirimkan hadiah untuk Rindang dan Levin.
"Aku nggak ada ide." Kafa menggeleng samar, ia sudah memikirkannya tapi belum juga mendapat hadiah yang kira-kira cocok untuk Rindang.
"Tanya Mbak Khalisa aja ntar, siapa tahu dia punya saran untuk kita." Mahira meringis sambil mengusap perutnya yang terasa tidak nyaman.
"Kenapa?" Kafa menyadari perubahan ekspresi Mahira.
"Nggak enak perut aku."
"Jangan-jangan kamu hamil."
"Hamil gimana, baru aja kemarin aku selesai haid lagian kita udah sepakat untuk tunda punya anak sampai lulus kuliah."
"Terus kenapa?"
"Kebelet kencing dari tadi aku tahan." Mahira beranjak dari kursinya. "Aku ke toilet dulu."
Kafa melihat punggung Mahira semakin menjauh lalu tak terlihat ketika berbelok ke arah kiri menuju toilet. Kafa masih belum percaya bahwa mereka telah menikah. Dua orang yang sering bertengkar karena hal-hal kecil dan itu berlanjut sampai sekarang. Namun karena itu juga Kafa merasa hubungannya jadi penuh warna. Mereka bisa berantem di siang hari dan romantis di malam harinya.
Kafa dan Mahira sepakat untuk menunda memiliki momongan karena merawat anak bukanlah perkara yang mudah. Kafa tidak mau mereka jadi tidak fokus kuliah dan menelantarkan anak sekaligus.
Seorang waiter mengantarkan pesanan ke meja Kafa. Kafa meneguk ocha dingin milikinya terlebih dahulu karena ia sudah kehausan. Marah membuatnya kehilangan energi cukup banyak. Kafa akui dirinya memang pemarah, ia terlahir seperti itu.
"Kok nggak dimakan?" Mahira kembali dari toilet, ia duduk di hadapan Kafa.
"Kok disitu?" Kafa sudah menarik kursi di sampingnya tapi Mahira justru duduk di kursi lain.
"Kan barusan emang disini." Mahira memindahkan mangkok Udon miliknya tapi Kafa menariknya kembali. Lihatlah perkara posisi duduk saja mereka bisa berdebat seperti ini.
"Aku mau kamu makan di sampingku."
Akhirnya Mahira mengalah dan duduk di samping Kafa.
"Kok punya kamu udangnya lebih besar?" Mahira melirik udon milik Kafa.
"Ya udah nih buat kamu." Kafa memindahkan udang paling besar di mangkoknya untuk Mahira.
Mahira sumringah mendapat udang berukuran besar. Akhirnya mereka bisa menikmati semangkok Udon dengan kuah kari yang kental.
"Hp ku bunyi tuh." Ujar Mahira melihat layar ponsel Kafa menyala dan berdering panjang.
"Ce Khalisa telepon." Dengan sekali usapan Kafa menjawab telepon Khalisa. "Halo Ce, aku di Marugame Udon." Kafa kembali meletakkan ponselnya. "Mereka mau kesini."
Mahira meneguk ocha dan mengusap mulutnya karena ia cukup berantakan saat makan.
"Itu mereka." Mahira melihat Khalisa dan Azfan di pintu masuk, ia mengangkat tangan agar Khalisa langsung mengetahui keberadaannya dan Kafa. "Mereka manis banget ya." Gumam Mahira.
Khalisa menggandeng tangan Azfan sedangkan Azka terlelap di atas stroller nya.
"Kita jauh lebih manis." Sahut Kafa.
"Mbak Khalisa dan Mas Azfan udah makan belum, sekalian aja pesen, Kafa yang traktir." Kata Mahira membuat Kafa sedikit terkejut. Kafa bingung, sejak kapan ia bilang akan mentraktir Khalisa dan Azfan.
__ADS_1
"Kami udah makan kok." Khalisa duduk bergabung dengan Kafa dan Mahira. Azfan juga duduk setelah memastikan posisi stroller Azka tidak mengganggu orang yang hendak lewat. "Eh Bi tapi aku pengen makan es krim, boleh nggak?" Tanya Khalisa.
"Boleh." Azfan mengangguk.
Khalisa memesan 4 es krim vanilla untuk mereka. Es krim sangat cocok dengan cuaca panas hari ini.
"Azka tidur ya?" Mahira mengintip ke dalam stroller Azka.
"Iya dari pesawat take-off sampai sekarang belum bangun."
"Aku isi ulang ocha dulu." Kafa beranjak membawa dua gelas miliknya dan Mahira untuk mengisi ulang ocha.
"Mbak Khalisa dan Mas Azfan nggak pernah berantem ya?" Mahira ingin menanyakan hal itu sejak awal karena mereka selalu terlihat mesra seolah-olah tak pernah ada masalah, tidak seperti dirinya dan Kafa yang hampir setiap saat berdebat.
Mendapat pertanyaan seperti itu Khalisa dan Azfan saling berpandangan lalu tersenyum penuh arti. Memangnya ada pasangan suami istri yang tidak pernah bertengkar? rasanya mustahil.
"Kami emang jarang berantem tapi sekalinya berantem, Mas Azfan langsung kabur ke rumah mama papa ku di Banyuwangi."
"Oh ya?" Mahira mendelik tak percaya, ia hampir tersedak kuah kari mendengar jawaban Khalisa. "Separah itu mbak?"
"Iya, Mas Azfan berangkat ke Banyuwangi nggak bawa apa-apa, cuma hp dan waktu itu dia pakai kaos oblong sama sarung."
"Wah nekat banget, pasti bukan alasan yang sepele."
"Bener." Khalisa mengangguk, "sejak saat itu kami berjanji untuk nggak pergi dari rumah sebelum masalah selesai karena sekarang udah ada Azka, pasti lebih ribet kalau salah satu kabur."
"Aku pikir kalian nggak pernah berantem karena selalu kelihatan mesra."
"Nggak mungkin lah dua orang yang sifatnya berbeda hidup bersama tanpa pertengkaran."
"Kalian ngomongin apa?" Kafa melihat Mahira dan Khalisa bergantian.
"Ngomongin soal pertengkaran dalam rumah tangga, Mbak Khalisa bilang normal untuk sepasang suami istri itu bertengkar tapi kita hampir setiap hari berantem loh, barusan juga kami habis berantem."
"Gara-gara apa? Kafa, sebagai suami kamu jangan terlalu egois, sesekali kamu harus ngalah sama Mahira." Khalisa memberi nasehat pada Kafa.
"Kok aku yang disalahin, Ce, dia duluan yang mulai." Kafa menyikut Mahira.
"Mbak, masa dia tiba-tiba bawa aku ke dokter mata padahal mataku nggak apa-apa, dokternya sampai bingung karena mataku emang sehat."
"Ya ampun Kafa, kamu bercandanya berlebihan gitu, kasihan Mahira."
"Dia puji cowok lain ganteng di depan aku, wajar aku marah jadi aku bawa aja ke dokter mata karena dilihat dari ujung sedotan aja udah jelas kalau aku lebih ganteng."
Azfan menahan tawa mendengar alasan pertengkaran antara Kafa dan Mahira, mereka terlihat seperti remaja yang baru berpacaran.
"Mbak, aku nggak serius karena sebenarnya aku nggak lihat wajah itu cowok, aku pengen tahu reaksi Kafa aja."
"Tapi kalau jadi Kafa, aku juga pasti cemburu." Timpal Azfan.
Khalisa menyentuh paha Azfan, kalimat itu sama saja seperti dukungan bagi Kafa untuk berbuat seperti itu.
"Udah-udah nggak usah berantem lagi." Khalisa berusaha menengahi, "Mahira, kamu jangan kayak gitu lagi ya."
"Iya Mbak." Mahira mengangguk, ia akan mengingat nasehat Khalisa. Mahira tak ingin Kafa berbuat lebih jauh lagi karena dibakar api cemburu.
"Kamu juga gitu, jangan terlalu keras sama Mahira." Khalisa melihat Kafa yang menyeruput kuah setelah menghabiskan udonnya.
__ADS_1
"Iya-iya."
Pesanan es krim Khalisa datang tepat setelah Mahira dan Kafa menghabiskan udon mereka. Mereka menikmati es krim yang manis dan dingin melewati kerongkongan.
"Oh iya Mbak, Kafa dan aku mau ngasih hadiah buat Ci Rindang tapi bingung mau ngasih apa, Mbak Khalisa ada saran nggak?"
"Rindang sekarang lagi mau pindah ke rumah baru, kalian bisa beli barang-barang kayak mesin cuci atau penanak nasi."
"Penanak nasi aja gimana, makan itu kan hal yang paling penting di antara semuanya."
"Ya udah." Kafa langsung menyetujui usulan Mahira.
"Kok rasanya aneh ya?" Lirih Khalisa setelah menghabiskan suapan pertama es krim rasa vanilla tersebut.
"Enak kok."
"Nih, buat Abi aja." Khalisa menyodorkan es krim miliknya pada Azfan dan beranjak dari sana. Khalisa berlari menuju toilet karena perutnya terasa bergejolak setelah memakan es krim. Khalisa menduga ada yang salah dari es krim itu karena biasanya ia paling suka dengan rasa vanilla. Khalisa memuntahkan semua isi perutnya, ia tak mampu menahannya lagi.
"Kenapa?" Azfan sudah berdiri di depan pintu saat Khalisa keluar dari toilet.
"Tiba-tiba mual banget barusan."
"Ya udah pulang yuk, sampai rumah aku pijitin." Azfan mengusap punggung Khalisa.
"Azka bangun?" Khalisa melihat Azka sudah berada di gendongan Mahira.
"Iya baru aja bangun."
Setelah menghabiskan semua es krim, mereka bergegas keluar menuju tempat parkir bandara. Azka berada di pangkuan Mahira di jok depan sedangkan Khalisa dan Azfan di belakang.
"Mbak Khalisa kenapa?" Mahira menoleh ke belakang melihat Khalisa.
"Nggak tahu nih, masuk angin kayaknya barusan muntah-muntah di toilet."
"Aku kasih minyak kayu putih." Azfan menuang minyak kayu putih ke telapak tangan dan mengusapkannya pada tengkuk Khalisa.
"Jangan-jangan Cece hamil lagi." Ucap Kafa asal.
"Ih semua dibilang hamil, tadi aku sakit perut dibilang hamil." Mahira menepuk paha Kafa.
"Emang kenapa kalau hamil?" Kafa melihat Mahira sekilas.
"Kasihan kan Azka masih kecil." Mahira merubah posisi Azka menghadap dirinya, ia mengecup pipi gembul Azka berkali-kali dengan gemas.
Khalisa juga belum siap jika hamil lagi karena Azka baru saja belajar makan MPASI. Khalisa ingin fokus merawat Azka dan menikmati menjadi sosok seorang ibu bersama Azfan.
Azfan: Ini cewek-cewek lagi minum apa sih kok aku nggak dikasih?
Ekspresi Kafa waktu lihat Mahira digodain cowok.
__ADS_1