
Derap langkah kaki menggema kala sepatu pantofel Khalisa beradu dengan lantai keramik koridor yang sepi. Pandangannya menyapu ke seluruh penjuru kelas mencari keberadaan Kafa tapi ruangan itu sudah sepi, tak ada satupun mahasiswa di dalamnya. Khalisa berniat menghubungi Kafa melalui telepon tapi percuma, Kafa tidak akan menjawabnya.
Khalisa sempat berbicara dengan Sandi melalui telepon tadi pagi, ia meminta maaf karena tidak jadi memberikan desain itu padanya. Sandi bilang tidak masalah karena tapi kapanpun Khalisa butuh ia siap membantu.
Bicara pelan-pelan kalau memang Haura mau menemui Kafa, kendalikan emosi mu.
Khalisa terus mengingat perkataan Azfan tadi saat ia bilang hendak menemui Kafa usai kelas terakhir. Khalisa berharap ia bisa mengendalikan emosinya seperti Azfan setiap kali marah. Sejak menikah Khalisa tak pernah mendengar Azfan membentaknya bahkan tadi malam Azfan tetap merendahkan suaranya. Itu membuat Khalisa semakin merasa bersalah, ia harus bersyukur karena memiliki suami seperti Azfan.
"Adik anak FK ya?" Tanya Khalisa pada mahasiswa kedokteran yang berpapasan dengannya.
"Iya, kenapa kak?"
"Lihat Kafa nggak, dia mahasiswa FK juga matanya sipit, tingginya kayak aku." Khalisa menyebutkan ciri-ciri Kafa karena ada ratusan mahasiswa FK seangkatan Kafa sehingga tidak mungkin mereka semua saling mengenal.
"Oh Kafa, barusan aku lihat dia di parkiran mobil." Ia menunjuk ke arah tempat parkir mobil.
"Oh, makasih ya." Khalisa melangkah cepat menuju parkiran mobil.
Tempat parkir mobil yang berada jauh di belakang kelas itu ramai oleh mahasiswa yang hendak pulang. Mereka tidak sabar keluar lebih dulu hingga membuat suasana menjadi riuh.
Khalisa menemukan Kafa berdiri di samping mobil nya dan tampak berbicara dengan seorang mahasiswi yang mengenakan jas FIAI persis seperti milik Azfan.
"Numpang dong sampai depan doang."
"Ngapain, kita kenal aja enggak."
Khalisa bergerak semakin dekat, ia mengenal mahasiswi yang sedang bicara dengan Kafa itu. Ia adalah Mahira anggota HAWASI yang berasal dari jurusan Ahwal Al-Syakhshiyah.
"Mobil segede ini sayang banget kalau dinaikin satu orang, lagian kita kan udah dua kali ketemu jangan pura-pura nggak kenal, kamu inget nama aku kan."
"Ketemu bukan berarti kenal." Kafa hendak meninggalkan mahasiswi itu tapi tangannya ditahan. "Astaghfirullah jangan pegang-pegang!" Pekik Kafa.
Mahira tersenyum jahil karena berhasil membuat Kafa marah bahkan wajahnya kini memerah. Mahira penasaran seperti apa senyum Kafa karena selama ini ia tak pernah melihat cowok itu tersenyum.
"Nggak boleh berduaan sama yang bukan mahram." Tambah Kafa karena Mahira tidak menyerah untuk nebeng mobilnya.
"Ya masa aku mau nebeng sampai depan doang harus jadi mahram kamu, ribet dong harus ke KUA dulu, belum lagi ngurusin surat-suratnya."
Kafa mendelik, kenapa Mahira jadi berpikir sejauh itu padahal ia hanya ingin mencari alasan agar cewek itu tidak ikut dengannya. Kafa tidak mau berduaan di dalam mobil dengan cewek itu atau cewek manapun yang bukan mahramnya. "Eh gila apaan sih, ngelantur!"
"Ya udah kalau kamu nggak mau berdua, aku aja dua temenku yang lain."
"Nggak-nggak!" Kafa menolak keras, itu adalah ide yang buruk.
"Kalian ada apa?" Akhirnya Khalisa menghampiri keduanya karena perdebatan mereka semakin panas. Khalisa tidak tahu apa yang sedang terjadi antara Kafa dan Mahira.
"Cece."
"Mbak Khalisa."
Ucap Kafa dan Mahira bersamaan melihat Khalisa yang melangkah menghampiri mereka.
"Mbak Khalisa kenal sama Kafa?" Tanya Mahira.
"Iya, dia adikku."
"Adik kandung?" Mahira mendelik melihat Khalisa dan Kafa bergantian, dari tatapannya ia tak percaya jika Kafa adalah adik Khalisa.
"Adik sepupu."
"Oh pantes." Mahira memutar bola mata, "nggak mungkin lah Mbak Khalisa yang baik dan ramah ini punya adik kayak dia." Ia melirik tajam pada Kafa.
"Emangnya aku kenapa?" Kafa menatap Mahira tajam.
"Kamu sombong lah jelas, apalagi?" Mahira mencibir melipat tangan di depan dada karena mereka sudah beberapa kali bertemu tapi Kafa masih bersikeras bahwa mereka tidak saling kenal.
"Apa? kamu bilang aku sombong, nggak punya sopan santun ya sama orang yang nggak kamu kenal."
"Udah-udah jangan berantem lagi." Khalisa berusaha menengahi.
"Cece ada perlu apa?" Kafa melihat Khalisa yang sepertinya memang sengaja kesini untuk menemuinya. Kafa merasa beruntung dengan kedatangan Khalisa karena ia bisa menyuruh Mahira segera pergi dari sini. Ia tidak mau berdebat dengan cewek itu lagi.
"Aku mau ngomong sama kamu."
__ADS_1
Kafa melirik Mahira agar segera pergi, apakah cewek itu sangat tidak peka hingga tidak mau pergi padahal Kafa sudah memberitahu bahwa ia tidak mau memberi Mahira tumpangan.
"Mahira ikut mobil ku aja tapi aku mau ngomong sama Kafa dulu." Ujar Khalisa.
"Aku boleh ajak temen ku nggak mbak?" Mahira tampak bersemangat karena akhirnya mendapat tumpangan, membayangkan harus berjalan kaki dari sini ke gerbang depan membuatnya malas.
"Boleh." Khalisa mengangguk.
"Ya udah aku panggil mereka dulu." Mahira pergi meninggalkan tempat parkir.
"Cece mau ngomong apa?" Tanya Kafa setelah memastikan Mahira benar-benar pergi.
Khalisa melangkah duduk di dinding pembatas tempat parkir diikuti Kafa. Khalisa sedang merangkai kalimat yang akan ia katakan pada Kafa. Ia hanya ingin memastikan apakah Kafa yang memberikan uang itu atau tidak.
"Kamu ketemu Bang Sandi kemarin?" Khalisa to the point karena Kafa biasanya menghindar tidak mau bertemu dengannya. Namun karena sekarang Kafa terlihat tidak keberatan maka lebih Khalisa bicara langsung pada intinya
"Iya, Bang Sandi udah transfer uangnya kan?"
Khalisa mengangkat alisnya sebelah.
"Jadi kamu juga tahu soal itu?" Khalisa tahu Kafa tak akan pernah bisa berbohong terutama terhadap dirinya.
"Hm?"
"Aku cuma nanya soal pertemuan mu sama Bang Sandi bukan soal uang."
"Ah, m... maksud aku—" Kafa gelagapan.
"Kamu tenang aja, aku udah balikin uangnya."
"Kenapa Cece balikin uangnya?" Kafa terkejut, ia sudah susah payah merayu Sandi tapi Khalisa justru mengembalikan uangnya.
"Kenapa kamu se-kaget itu, apa itu uang kamu?"
Kafa menggeleng menutup mulutnya dengan satu tangan karena hampir saja ketahuan Khalisa.
"Waktu itu kamu bilang pilih kamu atau Azfan, aku pilih Azfan sejak saat itu aku anggap kamu udah mutusin hubungan sama aku jadi tolong jangan ikut campur lagi soal urusan ku." Khalisa tidak ingin mengatakan ini tapi ia harus bertindak tegas pada Kafa. Menurut Khalisa ini bukan bentuk kepedulian tapi sikap Kafa justru memancing pertengkaran antara Azfan dan diri. Khalisa tidak mau kejadian semalam terulang lagi.
Khalisa jengah pada ucapan Kafa, kenapa Kafa selalu berpikir bahwa kebahagiannya hanya tentang uang padahal lebih dari itu Khalisa amat bahagia menjalani hidup dengan Azfan. Namun Kafa masih terjebak dalam pikirannya sendiri.
"Terimakasih Kafa kamu udah bantu aku tapi aku nggak mungkin terima bantuan itu sedangkan nggak ada keihklasan di hati mu, kamu membantu atas dasar kesombongan dalam diri kamu." Khalisa menatap Kafa lurus, "Kafa, gunakan uang mu untuk hal-hal yang bermanfaat, asal kamu tahu aku ngelakuin bukan karena nggak punya uang, saldo rekening ku bahkan dua kali lebih banyak dari punya kamu."
Rupanya cucu Jaya diberikan lidah yang tajam, tak hanya Kafa, Khalisa juga bisa membuat Kafa terdiam dengan kalimatnya. Khalisa hanya ingin Kafa sadar bahwa ia tidak bisa ditindas begitu saja.
Semalam ketika Khalisa menceritakan tentang desain itu pada Azfan, kelihatannya Azfan tidak terlalu terkejut seolah telah mengetahuinya. Tidak mungkin Azfan mengetahui hal itu dari Sandi karena mereka belum pernah bertemu, pasti Kafa menemui Azfan untuk mengatakan semuanya. Meski Azfan tidak mengatakannya tapi Khalisa sudah bisa menebak.
"Aku cuma nggak mau pakai uang Mama dan Papa terus jadi kamu jangan lagi berpikir untuk bantu aku, selama ini aku udah berusaha mengalah dan minta maaf puluhan kali tapi hati kamu yang keras itu nggak bisa ditembus sama kata maaf, aku bisa terima kalau kamu hina aku tapi aku nggak akan tinggal diam ketika kamu bikin Mas Azfan tersinggung." Sejujurnya Khalisa merindukan Kafa karena mereka terbiasa bersama sejak kecil. Namun sekarang Khalisa memiliki kehidupan sendiri, ia tidak mau Azfan terus menerus sakit hati karena sikap Kafa.
"Aku selalu berharap kita berdamai dan kamu mau menerima Mas Azfan karena nggak ada gunanya kita kayak gini, tapi semua terserah kamu."
Kafa tertegun mendengar rangkaian kalimat Khalisa yang terasa menusuk ke dalam hatinya. Bahkan ketika Khalisa beranjak meninggalkannya, ia terdiam di tempatnya tidak bergerak. Kafa tak percaya Khalisa bisa mengatakan itu padanya.
"Mobil Mbak yang mana?" Mahira menghampiri Khalisa dengan dua temannya yang lain.
"Itu." Khalisa menunjuk mobilnya, ia mengusap matanya yang basah dan menggantinya dengan senyum. Khalisa sudah berusaha menahan gejolak emosi dalam hatinya, ia juga harus menelan kembali air matanya setelah mengatakan semua itu pada Kafa. Khalisa tahu itu sangat menyakitkan tapi ia harus melakukannya agar Kafa tidak semena-mena lagi.
"Mereka mau ikut kita." Tukas Khalisa pada Azfan yang dengan sigap membukakannya pintu begitu ia datang.
Azfan mengangguk, ia kembali menutup pintu lalu berjalan mengelilingi mobil dan duduk di kursi kemudi. Sebenarnya Azfan ingin bertanya apakah semua baik-baik saja antara Khalisa dan Kafa tapi ia harus menahannya sampai di rumah karena ada tiga adik tingkat mereka di belakang.
"Sampai depan aja Mbak, Mas." Ujar Mahira ketika Azfan mulai menjalankan mobil.
"Kalian tinggal dimana?" Khalisa menoleh ke belakang mengedarkan pandangan pada tiga adik tingkatnya itu.
"Aku tinggal deket sini kok, kami ngekos di tempat yang sama." Jawab Mahira.
"Kalau gitu sekalian aja kami anterin kalian ke tempat kos."
"Eh nggak usah Mbak, aku sama temen-temen biasa jalan kaki kok."
"Nggak apa-apa deket kan dari kampus." Azfan menimpali, "kalian tunjukin aja jalannya."
"Kami tinggal di tempat kosnya Bu Lastri, Mas."
__ADS_1
"Ibunya Ayu ya?" Tanya Khalisa dengan suara pelan pada Azfan.
"Iya." Azfan mengangguk. "Aku tahu tempatnya."
Khalisa dan Azfan mengantar Mahira serta teman-temannya ke tempat kos milik ibu Ayu. Sejak keluar dari tempat kos tersebut Azfan tidak pernah lagi bertemu dengan Bu Lastri yang dulu begitu baik padanya. Sedangkan Ayu selalu menghindar saat tak sengaja berpapasan dengan Azfan. Apalagi setelah tahu Azfan telah menikah, Ayu tidak pernah lagi mendekati Azfan meski alasan utamanya berkuliah di UII adalah untuk bertemu untuk Azfan.
******
Azfan menurunkan belanjaan dari bagasi mobil sesampainya di rumah. Mereka membawa mobil ke kampus karena harus belanja bulanan di Alindra Mall. Khalisa jarang sekali berbelanja disana tapi karena produk Alindra Beauty miliknya sudah habis jadi ia harus mengambilnya kesana. Khalisa juga akan mengirim beberapa dari mereka ke Bantul karena Marwah menyukai produk Alindra Beauty.
"Haura masuk aja biar aku yang pindahin." Ujar Azfan ketika Khalisa hendak mengangkat tas belanja yang berisi minyak, gula dan bumbu dapur.
"Nggak apa-apa Mas, ini nggak berat kok." Khalisa menurunkan tas belanja tersebut. "Eh ini apa Mas?" Khalisa mengambil bungkusan berwarna ungu yang terselip di bawah tas.
Azfan menoleh, "oh itu udah lama ada disitu, ditawarin mbak-mbak kasir minimarket depan."
Khalisa mengantongi bungkusan seperti permen rasa anggur itu dan memasukkan tas belanjaan ke rumah sementara Azfan mengangkat beras dan satu tas belanjaan lagi yang berisi buah-buahan.
"Apa ya?" Khalisa duduk di sofa membolak-balik bungkusan itu.
"Permen mungkin." Azfan membawa tas belanja terakhir yang berisi semua produk Alindra Beauty mulai dari shampo, sabun hingga sesuatu yang biasa Khalisa pakai pada wajahnya. Kadang Khalisa juga memakaikannya pada wajah Azfan.
"Tapi kayak karet dalemnya."
"Permen karet." Azfan duduk di samping Khalisa setelah memindahkan semua belanjaan mereka.
Khalisa tertawa bukankah karet dan permen karet itu sangat berbeda meski namanya mirip.
"Buka aja sayang."
"Kalau permen buat aku ya."
"Haura nggak mau berbagi?"
"Tapi ini cuma sebungkus sayang."
"Ya sudah." Azfan pura-pura memasang tampang sedih karena Khalisa tidak mau berbagi permen karet dengannya.
Khalisa membuka bungkus plastik itu dengan tidak sabar hingga isinya meloncat keluar. Khalisa menunduk meraih benda itu di kolong meja.
"Astaghfirullah!" Khalisa mendelik melihat apa yang dipegangnya, itu adalah silikon pengaman milik pria. Khalisa pernah melihat gambarnya di internet saat pelajaran biologi SMA dulu.
"Kenapa?" Azfan kebingungan melihat reaksi Khalisa setelah mengetahui isi bungkusan tersebut.
"Kasirnya bilang apa waktu nawarin ini ke Mas Azfan?"
"Bilang—" Azfan mengingat-ingat ucapan kasir saat itu, "nggak sekalian ininya Mas, lagi diskon." Ia menirukan gaya bicara kasir tersebut.
"Terus Mas jawab apa?"
"Ya udah deh satu aja, aku gitu."
Khalisa kembali tertawa hingga tersungkur di pangkuan Azfan, bahkan ia sampai mengeluarkan air mata karena Azfan sangat lugu.
Azfan masih tidak mengerti mengapa Khalisa tertawa, memangnya apa yang lucu.
"Ini alat yang biasa dipakai laki-laki kalau lagi bercinta." Jelas Khalisa setelah menghentikan tawanya. "Semacam alat kontrasepsi."
"Oh ya? tapi kenapa aku nggak pernah memakainya?"
"Emang nggak semua orang pakai, Mas mau coba pakai?"
Azfan menggeleng, "buang aja." Ia mengambil alih benda itu dari tangan Khalisa dan melemparnya ke tempat sampah. Sepertinya lain kali Azfan harus lebih selektif sebelum memutuskan untuk membeli sesuatu.
"Haura nggak berantem kan sama Kafa?" Azfan merubah posisinya menghadap penuh pada Khalisa.
"Aku beresin semuanya, Mas semalam ketemu Kafa kan, ketemu dimana?"
"Kafa datang ke toko."
"Setelah ini aku pastiin dia nggak ganggu Mas Azfan lagi." Khalisa menarik tangan Azfan untuk menciumnya.
Azfan mengangguk pelan meski jauh di dalam hatinya ia berharap hubungan Kafa mereka kembali seperti dulu.
__ADS_1