
Universitas Islam Indonesia
Padamu kami berjanji
Majukan studi giatkan bakti
Untuk pembangunan Pertiwi
Khalisa mengusap lengannya yang terasa dingin ketika lagu Himne UII menggema di Auditorium Prof. KH Abdulkahar Mudzakkir pagi itu. Bulu kuduk Khalisa meremang, lagu itu sungguh menyentuh membawanya kembali ke masa lalu saat ia pertama kali menginjakkan kaki di kampus UII. Usianya baru 18 tahun saat itu, ia turun dari mobil dengan perasaan berdebar. Khalisa bersemangat untuk menempuh pendidikan sekaligus bertemu teman-teman baru.
Khalisa si ceria dan ramah membuatnya cepat mendapatkan teman baru. Khalisa mudah beradaptasi dengan lingkungan kampus dan akrab dengan teman-temannya. Namun Humaira telah menjadi sahabat paling dekat Khalisa.
"Mama akan tinggal disini beberapa hari." Ica menahan tangan Khalisa di depan gerbang kampus, ia galau meninggalkan anak sulungnya sendirian di tempat yang jauh dari Banyuwangi.
"Mama tenang aja, aku nggak sendirian, ada Rindang." Khalisa mencoba meyakinkan mama nya. "Walaupun Rindang nggak kuliah disini tapi apartemen kami bersebelahan jadi Mama nggak usah khawatir."
"Ayo Ma, nanti Khalisa terlambat." Daniel melongok kan kepalanya melalui jendela, ia juga merasakan hal yang sama seperti sang istri tapi ia menyembunyikannya.
"Khalisa pergi dulu." Khalisa melambaikan tangan pada Mama dan Papa nya setelah mencium tangan mereka dan mengucapkan salam.
Khalisa tersenyum mengingat momen tersebut, air matanya meleleh begitu saja. Ia telah melalui berbagai hal yang menyenangkan, menyedihkan, mengharukan dan pelajaran berharga.
Menyenangkan bertemu teman-teman baru di kelas maupun di komunitas dan mendapatkan ilmu baru. Menyenangkan bertemu Azfan yang kini menjadi suaminya. Menyedihkan ketika Khalisa mengalami pelecehan oleh Revan. Mengharukan ketika Khalisa mendengar papanya dan Azfan mengucapkan ijab qobul. Dan pelajaran berharga ketika Elena menuntut Alindra Beauty. Serta banyak hal lain yang tak bisa Khalisa ungkapkan satu per satu.
Syariat Islam amalan kita
Tegakkan Iman dan Tauhid
Dengan catur Dharma pedoman nyata
Semoga Allah meridhoi UII
Aamiin
Empat tahun yang lalu Khalisa juga mendengar lagu ini ketika mengikuti Pesona Ta'aruf. Mengapa saat itu ia tidak menemukan Azfan, andai bertemu apakah mereka akan menikah lebih awal dan memiliki anak setelahnya. Tidak. Allah sudah mengatur segala hal, Khalisa dipertemukan dengan Azfan di tahun kedua kuliah lalu menjatuhkan hati Azfan dan Khalisa hingga tak ada dari mereka yang bisa bangkit kecuali menikah.
"Mari dengarkan bersama-sama, kepada yang terhormat Fawas Zikri Abdullah S.S.I akan membacakan Qur'an Surat Al-Hasyr ayat 18-20."
__ADS_1
Pandangan seluruh wisudawan fokus ke depan pada Fawas yang membacakan Al-Qur'an surat Al-Hasyr. Suara yang mampu membuat air mata meleleh meski tak semua tahu apa arti dari ayat tersebut. Hanya saja suara merdu Fawas berhasil menyentuh ke dalam relung hati.
"Wahai orang-orang yang beriman! Bertakwalah kepada Allah dan hendaklah setiap orang memperhatikan apa yang telah diperbuatnya untuk hari esok (akhirat), dan bertakwalah kepada Allah. Sungguh, Allah Mahateliti terhadap apa yang kamu kerjakan."
Ayat tersebut mengingatkan mereka untuk tidak terlena dengan kenikmatan dunia sebab akhirat telah menunggu. Seluruh perbuatan di dunia akan diminta pertanggungjawabannya dihari kemudian.
"Pelaksanaan wisuda luring untuk wisudawan berpredikat Cum Laude, wisudawan pertama Program Studi Farmasi Program Sarjana Khalisa Syanin Alindra lahir di Banyuwangi, indeks prestasi 3,95."
Jantung Khalisa berdegup kencang ketika namanya dibacakan berserta IPK yang berhasil ia raih. Pandangan Khalisa berkabut, ia beranjak dari kursinya dan berjalan ke depan menuju Rektor dan Wakil Rektor UII. Senyum Khalisa mengembang lebar, ia sedikit merendahkan tubuhnya ketika Rektor memindahkan tali tiga dari kiri ke kanan.
"Kamu sudah berusaha keras."
Khalisa mengucapkan terimakasih kepada mereka, akhirnya hari ini terjadi. Khalisa merasa ini seperti mimpi tapi mengingat ia telah berusaha keras bangun pagi untuk mengikuti bimbingan dan begadang dimalam hari menyelesaikan skripsi hingga revisi beberapa kali ia baru bisa merasa bahwa ini adalah kenyataan.
"Program Studi Ahwal Al-Syakhshiyah Azfan Khuffa Ameezan lahir di Bantul, Indeks prestasi 3,80."
"Wah suamiku ganteng banget pakai toga." Khalisa bergumam melihat Azfan melangkah ke depan sana, ia bangga karena Azfan bisa lulus Cum Laude.
"Iya-iya, suami kamu bukan suami yang lain." Huma menyikut perut Khalisa.
"Ih kamu denger aku ngomong?"
"Buruan maju gih."
"Enak aja, aku masih waras." Huma ikut melihat ke depan sana, ia akui Azfan memang tampan. Semua orang juga tahu kalau Azfan tampan hanya saja ia cukup pemalu. Azfan adalah hidden gem nya UII tapi setelah memenangkan lomba MTQ internasional, seisi kampus jadi mengetahui sosoknya.
"Selamat Abi bisa lulus dengan predikat Cum Laude." Khalisa meraih tangan Azfan ketika keluar dari auditorium lalu mengecupnya.
"Harusnya aku yang bilang seperti itu, Umma benar-benar luar biasa, aku paham betul bahwa jadi Ibu itu nggak mudah tapi Umma tetap mengutamakan pendidikan dan meraih IPK tinggi." Azfan juga mencium punggung tangan Khalisa.
"Selamat ya sayang, Papa bangga sama Khalisa." Daniel memeluk Khalisa, "terimakasih kamu selalu jadi anak yang menuruti permintaan orangtua." Ia mengurai pelukan menatap wajah sang anak, "sekarang Papa serahkan semuanya sama Khalisa, Cece Khalisa boleh melakukan apapun yang Cece mau, nggak harus mengelola Alindra Beauty ataupun rumah sakit."
Mata Khalisa berkaca-kaca mendengar itu, ia belum pernah diberikan kebebasan oleh papa dan mama nya. Khalisa lahir dan dididik dengan banyak peraturan. Setelah dewasa Khalisa jadi terbiasa dengan hal itu, ia bingung jika papa nya mengatakan ia boleh melakukan apapun sesuai kemauannya.
"Terimakasih banyak Pa." Khalisa kembali memeluk papa nya meski ia tak tahu apa yang harus dilakukannya setelah ini.
"Selamat Cece, Cece udah berusaha keras dan Ce Khalisa pantas mendapatkan ini." Giliran Ica memeluk Khalisa untuk memberi selamat.
__ADS_1
"Khalisa bukan apa-apa tanpa Mama."
"Kamu tumbuh dewasa dengan cepat." Ica memandangi Khalisa dari atas sampai bawah, bahkan sekarang anak sulungnya itu lebih tinggi darinya.
Daniel dan Ica juga memberi selamat pada Azfan, mereka berterimakasih karena Azfan telah menjaga Khalisa dengan baik. Bahkan memberikan cucu yang sangat menggemaskan.
"Selamat Azfan, kamu selalu membuat Ibu bangga, maafkan Ibu karena selama ini kamu harus membiayai kuliah sendiri." Kirana memeluk Azfan, ia merasa belum menjadi ibu yang baik untuk Azfan.
"Ibu jangan bilang seperti itu, justru Azfan belum bisa membalas semua pengorbanan Ibu untuk Azfan." Azfan mengusap pipi ibunya yang basah oleh air mata. Azfan mengerti tidak mudah menjadi orangtua tunggal. Ayahnya meninggal saat Marwah masih kecil. Ibunya harus bekerja keras menghidupi 4 anak dan membiayai sekolah mereka dengan membatik. Meskipun Azfan menghabiskan seumur hidupnya, ia tak akan bisa membalas jasa ibunya.
"Azka mau kasih selamat juga nih, Umma." Rindang datang dengan Azka yang berada digendongnya.
"Rindang, kamu bilang nggak bisa datang hari ini." Khalisa terkejut melihat Rindang datang padahal semalam sahabatnya itu bilang tidak bisa pergi karena harus mempersiapkan acara wisudanya Minggu depan.
"Aku sempetin mampir kesini." Dusta Rindang padahal tak mungkin ia tidak datang di acara spesial Khalisa. Rindang ingin ikut menyaksikan momen-momen bahagia Khalisa.
"Selamat ya Khalisa." Rindang memeluk Khalisa, "nǐ tài měilìle." Ia memuji penampilan Khalisa yang terlihat sangat cantik hari ini.
"Xie-xie, jangan memuji terlalu cepat karena kamu belum melihat pakaianku hari ini."
"Buka dong toga kamu." Rindang penasaran pada pakaian Khalisa. Ia tahu Khalisa telah menjahit pakaian itu sejak lama.
"Nanti dulu, sini gendong Umma." Khalisa merentangkan tangan pada Azka.
Azka menatap Umma nya lekat lebih tepatnya pada topi toga yang bertengger di atas kepala Khalisa. Azka ingin meraih tali toga Khalisa tapi tangannya tidak sampai.
Saat memutuskan kuliah disini Khalisa berdoa agar Allah memberinya kelancaran untuk lulus dengan nilai baik. Namun ternyata Allah memberi lebih banyak dari yang Khalisa minta. Tak hanya lulus kuliah dengan nilai baik, ia juga diberi suami dan anak.
"Azka mau topi ini juga?" Khalisa mencium pipi Azka dengan gemas, "Azka harus sekolah dulu biar bisa pakai topi ini ya."
"Ini topi Azka." Kirana memasangkan topi Azka yang sempat dilepas tadi.
"Makasih Uti." Ucap Khalisa. "Makasih ya Azka udah semangatin Umma dan Abi."
Mereka melakukan sesi foto bersama di berbagai spot di kampus UII yang memiliki lingkungan asri. Kakak dan adik-adik Azfan ikut hadir hari itu begitupun dengan Azmal dan Zunaira. Mereka ikut merasakan kebahagiaan Khalisa dan Azfan dihari kelulusannya.
Setitik kristal bening luruh dari mata Azfan menyaksikan pemandangan di hadapannya saat ini. Azfan merasa sangat beruntung dikelilingi orang-orang luar biasa, papa dan mama mertua yang menerimanya dengan baik. Ibu yang telah mendidiknya hingga menjadi seperti sekarang.
__ADS_1
Azfan ikut tersenyum melihat Khalisa yang sedang bercanda dengan Azka dan Rindang. Keberuntungan terbesar dalam hidup Azfan adalah kehadiran Khalisa yang telah menjadi istri dan ibu yang baik. Bagaimana Azfan tidak bersyukur jika ia memiliki Khalisa. Setiap helaan napas yang Azfan hembuskan, ia selalu mengucap syukur pada Allah.