
"Rindang tunggu." Panggil Levin ketika Rindang hendak keluar dari ruangan itu setelah membagi-bagikan jilbab pada anggota komunitas perempuan. Setelah berdebat dengan dirinya sendiri akhirnya Levin harus memberanikan diri untuk mengutarakan perasaannya pada Rindang. Apapun jawaban Rindang, Levin akan menerimanya. Lagi pula ini bukan pertama kalinya Levin mendapat penolakan. Tunggu dulu. Ya benar, Levin sama sekali tidak optimis terhadap jawaban Rindang.
"Kenapa Ko?" Rindang menghentikan langkah, ia memainkan kunci mobilnya di tangan kiri menunggu kalimat Levin dengan tidak sabar karena mobil Khalisa sudah tidak terlihat di halaman itu.
"Aku boleh ngomong sesuatu sama kamu?" Levin berusaha mengendalikan gemuruh di dalam dadanya.
"Boleh, kenapa pakai nanya segala kayak sama siapa aja."
"Aku punya niat baik, kalau kamu mau—aku bisa datang menemui orangtua kamu di Banyuwangi dan melamar mu."
Rindang membelalak, kunci mobil di tangannya terlempar cukup jauh. Gila, kesambet dimana nih orang? Detik berikutnya Rindang tertawa hingga mengeluarkan air mata.
"Rindang, aku serius." Levin bingung melihat Rindang justru tertawa setelah mendengar kalimat yang ia anggap sakral itu. Rindang tidak tahu betapa susahnya mengumpulkan mental untuk mengucapkan kalimat pendek tersebut. "Kamu pernah bilang bahwa kamu berharap aku menemukan wanita yang sama baiknya dengan Khalisa dan sekarang aku udah menemukan wanita itu."
Rindang terpana dengan kalimat Levin, sungguh ia jauh tertinggal jika dibandingkan dengan Khalisa yang sudah hafal 30 juz dan ratusan hadits.
Rindang melangkah mundur mengambil kunci mobilnya yang tergeletak menyedihkan di atas lantai.
"Kenapa Ko Levin tiba-tiba ngajak aku nikah, semalem mimpi apa sih?"
"Bukan tiba-tiba, aku pengen ngomong ini sejak lama tapi baru sekarang punya keberanian."
"Sejak kapan?"
"Sejak kita ketemu di Museum Al-Bayan."
"Khalisa tahu nggak?" Rindang berpikir mungkin Levin mengatakan hal ini pada Khalisa lebih dulu.
Levin menggeleng, ia tidak yakin soal Khalisa karena mereka belum pernah membahas soal ini. Levin hanya sedikit menyinggung soal Rindang beberapa waktu lalu. Levin tak pernah memberitahu perasannya terhadap Rindang secara terang-terangan. Namun mungkin Khalisa telah menyadarinya sebelum Levin berterus terang.
"Rindang, jangan anggap aku orang yang mudah berpindah hati—enggak."
"Aku nggak percaya cinta karena kalaupun dulu sering pacaran, aku nggak cinta sama mereka." Rindang jujur terhadap perasannya, walaupun menjalin hubungan cukup lama dengan Jason, ia tak bisa menyebut itu cinta. Rindang hanya merasa nyaman karena Jason memperlakukannya dengan baik.
Rindang mengusap air di sudut matanya, "aku nggak kepikiran nikah apalagi nikahnya sama Ko Levin—bukan karena Koko nggak memenuhi standar—sama sekali enggak justru Ko Levin ini sempurna untuk jadi suami, udah ganteng, baik dan sebentar lagi jadi dokter tapi—"
"Apa karena sakit kamu?"
Rindang mengangguk, "salah satunya itu dan sekarang rasanya aku nggak butuh apapun, hatiku udah dipenuhi sama cinta Allah."
"Tapi pernikahan itu juga ibadah."
Rindang terdiam, benar juga ucapan Levin. Pernikahan adalah ibadah yang paling lama. Lalu bisakah ia menjadi seorang istri seperti Khalisa? Rindang sudah cukup nyaman dengan kehidupannya sekarang. Ia menikmati setiap waktu yang dilaluinya termasuk kesendiriannya di apartemen. Rindang bisa bersujud, berdzikir dan tilawah sesuai kemauannya. Rindang juga bisa membuat pakaian sambil mendengarkan murottal Al-Qur'an. Rasanya Rindang tidak membutuhkan apapun lagi di hidupnya.
Di balik batasan-batasan yang tidak boleh Rindang langgar termasuk soal makanan, ia merasa segalanya menjadi lebih mudah. Sejak mengidap diabetes tipe 1, Rindang tak bisa lagi makan apapun yang diinginkannya. Setelah memeluk Islam, jenis makanan yang boleh Rindang konsumsi juga semakin sedikit. Namun Rindang justru bersyukur karena ia tak perlu membuat berbagai jenis masakan.
"Kamu nggak harus jawab sekarang."
"Oke." Rindang manggut-manggut, ia sendiri bingung harus memberikan jawaban seperti apa pada Levin. Jika dulu Rindang bisa gonta-ganti pacar begitu mudah, sekarang ia sedang tidak jatuh cinta pada siapapun. Sekali lagi, hatinya dipenuhi oleh cinta Allah. "Aku pulang dulu." Pamitnya.
"Hati-hati." Levin melihat kepergian Rindang dengan perasaan campur aduk. Setidaknya Levin masih memiliki harapan untuk diterima Rindang. Ia hanya bisa pasrah kepada Allah, setidaknya ia sudah berusaha dengan mengutarakan perasaannya pada Rindang.
Rindang menginjak gas meninggalkan halaman, tujuannya sekarang adalah rumah Khalisa. Jika dulu ia biasa didekati cowok lalu dengan mudahnya menjalin hubungan, sekarang ia bukan Rindang yang seperti itu lagi. Pacaran dan pernikahan adalah dua hal yang jauh berbeda hingga Rindang bingung. Menurut Rindang pernikahan adalah sesuatu yang rumit dan ia belum siap untuk berkomitmen dengan siapapun.
Levin hendak mengunci pintu ketika seseorang memanggilnya dari belakang. Levin membalikkan badan mendapati seorang cowok setinggi dirinya, sepertinya ia mengenal orang itu.
"Kamu?" Levin menunjuk cowok tersebut.
"Koko tahu aku?" Jason menunjuk dirinya sendiri. Sepertinya mereka memang pernah bertemu sebelumnya.
"Siapa ya?" Levin mencoba mengingat wajah itu.
"Aku pernah kirim email ke Komunitas Mualaf tapi belum dapat jawaban jadi aku langsung kesini aja."
"Oh kamu mantan pacarnya Rindang kan." Akhirnya Levin ingat, "maaf email kami yang lama sedang bermasalah, aku belum mencantumkan email kami yang baru sembari mencoba untuk memperbaiki email lama, kamu nggak usah panggil Koko kayaknya kita seumuran."
Jason mengangguk.
"Kamu kesini mau—" Levin tidak mau menduga-duga, tapi apa tujuan Jason mengirim email ke Komunitas Mualaf jika bukan untuk menjadi bagian dari mereka.
"Iya."
Levin membelalak tak percaya, apakah Jason akan memeluk Islam?
"Ayo masuk." Levin urung mengunci pintu, ia mengajak Jason masuk dan menghubungi ustadz pembimbing mereka untuk membantu Jason bersyahadat.
"Boleh aku tanya alasan kamu ingin memeluk Islam?" Levin mengajak Jason duduk berhadapan dengannya.
"Jatuh cinta." Jason menunduk melihat karpet berwarna merah yang didudukinya.
"Jatuh cinta?" Ulang Levin.
"Aku jatuh cinta sama Tuhan yang bikin penampilan Rindang jadi begitu tertutup, nggak ada lagi yang bisa melihatnya, aku kagum karena Islam benar-benar melindungi umatnya khususnya perempuan."
Levin terpana mendengar perkataan Jason. Alasan seseorang untuk memeluk Islam memang beragam tapi selalu berhasil membuat Levin kagum.
__ADS_1
"Waktu itu Rindang bilang mau masuk Islam dan memutuskan hubungan kami."
Tiba-tiba senyum di wajah Levin menghilang mengetahui makna tersirat dari kalimat Jason. Apakah Jason ingin kembali bersatu dengan Rindang. Levin jadi memikirkan nasibnya sendiri karena Rindang belum menjawab perasannya. Bagaimana jika Rindang menolak Levin setelah tahu Jason menjadi mualaf.
"Kamu masih mencintai Rindang?" Tanya Levin hati-hati.
"Munafik kalau aku bilang enggak karena walaupun pacaran sama beberapa cewek setelah putus dari Rindang, aku nggak bisa melupakan Rindang."
"Tapi Rindang nggak mungkin mau pacaran sama kamu lagi."
"Kalau masih dikasih kesempatan, aku akan menikahinya."
Levin tersentak, apakah ia ditakdirkan untuk menjadi laki-laki yang cintanya tak akan pernah bisa terwujud. Sejak awal menceritakan Rindang, orangtua Levin tidak menyukainya. Namun bagi Levin ia berhak menentukan pasangan hidupnya sendiri.
"Bagaimana dengan orangtuamu?"
"Mama dan Papa sangat menyukai Rindang, waktu tahu aku putus sama Rindang mereka malah kelihatan lebih sedih dari aku, hubungan Rindang dan Mama ku juga baik karena dulu Rindang sering berkunjung ke rumah."
Levin tersenyum getir, ia bahkan baru mulai melangkah tapi harus mundur. Bolehkah ia mengusir Jason dari sini agar cowok itu bersyahadat di tempat lain. Tidak, tidak mungkin. Jika Levin melakukan itu maka ia mendapat dosa besar karena berarti ia menunda waktu Jason yang seharusnya sudah bersyahadat tapi ia sengaja mengulur nya.
Sore itu gema syahadat kembali terdengar di ruang pertemuan yang juga menjadi saksi ratusan orang mengucapkan dua kalimat syahadat sebelumnya.
Jason seperti terlahir kembali sebagai manusia baru, ia tak menyangka jika syahadat memiliki kekuatan yang begitu dahsyat. Tubuh Jason gemetar kala mengucapkan kalimat itu meski lidahnya tidak bisa fasih seperti ustadz yang membimbingnya. Namun ustadz bilang itu tidak masalah bahkan ia berkata Jason telah mengawalinya dengan baik.
Sebelum mantap ingin memeluk Islam, Jason sudah mencaritahu hal-hal dasar tentang Islam dan tentu saja ia masih harus belajar banyak. Setelah mencaritahu tentang komunitas ini, Jason langsung memutuskan untuk mengirim email karena ia percaya orang-orang yang berada disini akan membimbingnya. Apalagi Rindang juga tergabung dalam komunitas ini.
******
Khalisa mengeluarkan koper kecil miliknya, Azfan dan dirinya akan pergi ke Bantul Minggu depan untuk mengadakan pengajian 7 bulanan. Tadinya mereka berencana untuk mengadakan pengajian itu di rumah seperti saat 4 bulanan. Namun Kirana meminta mereka melakukannya di Bantul sekaligus mengenalkan Khalisa pada keluarga dari pihak Ayah Azfan.
"Istirahat dulu sebentar, memangnya nggak capek?" Azfan menghampiri Khalisa yang sedang mengeluarkan beberapa pakaian dari lemari. "Kan masih Minggu depan berangkatnya."
"Kalau ditunda takutnya malah males Mas." Khalisa juga melipat 5 potong jilbab lalu memasukkannya ke koper. "Mas Azfan mau bawa baju yang mana?"
"Bawa sarung aja soalnya di rumah masih ada beberapa baju aku, nanti bisa pinjem punya Mas Adi juga."
"Oh iya Mas, aku harus transfer uang ke Kak Luthfi." Khalisa baru ingat jika ia harus mentransfer dana kas HAWASI pada Luthfi untuk persiapan lomba MTQ tingkat fakultas yang diselenggarakan oleh Lembaga Dakwah kampus. Sebelum Khalisa meminta tolong, Azfan lebih dulu mengambil ponsel Khalisa di atas nakas. "Makasih Mas."
"Kita cuma butuh dana konsumsi aja kan?" Azfan melihat ibu jari Khalisa bergerak lincah di atas layar datar ponselnya.
"Iya, anak FIAI siapa yang ikut Mas?"
"Sepertinya Mahira sudah mendaftar untuk ikut lomba itu, dia cukup percaya diri tampil di depan banyak orang."
"Sayang sekali Mas Azfan nggak boleh ikut." Khalisa meletakkan ponselnya setelah mentransfer uang untuk kebutuhan lomba pada Luthfi.
Nada dering ponsel Khalisa mengalihkan perhatian mereka. Nama Rindang terpampang di layar ponsel tersebut, dengan gerakan sekali usap Khalisa menjawab telepon dari Rindang.
"Khalisa, kamu udah sampe rumah belum?"
"Baru aja sampe."
"Lagi sibuk nggak?"
"Enggak terlalu sih, cuma packing baju buat ke Bantul besok, bentar lagi selesai."
"Aku boleh kesana?"
"Boleh lah, kamu baik-baik aja kan?"
"Ya udah aku jalan kesana." Sambungan terputus.
Khalisa menurunkan ponselnya dari telinga, ia memeriksa pesan dari Luthfi yang telah mengkonfirmasi dana masuk ke rekeningnya.
Mata Khalisa melebar ketika tak sengaja melihat WhatsApp Story milik Komunitas Mualaf di bagian paling atas yang berarti story tersebut baru saja dibuat.
Sebuah video seseorang mengucapkan syahadat yang dibimbing oleh ustadz. Khalisa hampir saja menjatuhkan ponselnya karena tak percaya pada apa yang dilihatnya tersebut.
"Kenapa Haura?" Azfan duduk di samping Khalisa.
"Ini Jason kan?" Khalisa menunjukkan video tersebut pada Azfan.
Azfan memfokuskan pandangannya pada layar ponsel Khalisa. Warna rambut kehijauan milik cowok itu membuat Khalisa yakin kalau dia memang Jason.
"Jason bersyahadat?" Azfan juga tak percaya pada apa yang dilihatnya. "Bukannya tadi Rindang baru cerita kalau Jason ingin memeluk Islam?"
"Iya tapi aku nggak nyangka secepat ini, dan ini Jason sama Ustadz Malik, ada Ko Levin juga."
"Alhamdulillah, saudara kita bertambah lagi." Azfan ikut senang jika Jason mengikuti jejak Rindang untuk menjadi mualaf.
"Ah!" Khalisa mengaduh mencengkram paha Azfan ketika merasakan gerakan yang cukup kencang di perutnya.
"Kenapa sayang?" Azfan panik melihat Khalisa meringis kesakitan hingga wajahnya memerah.
"Masya Allah, lagi ngapain nih anak Umma di dalam, kenceng banget nendang nya." Khalisa tersenyum lebar meski matanya basah karena gerakan janinnya barusan.
__ADS_1
Azfan mengusap perut Khalisa lembut sekaligus menenangkannya, "ayo pindah ke atas, kayaknya dia nggak suka Haura duduk di bawah." Ia membantu Khalisa pindah ke kasur. "Biar aku yang lanjutin packing bajunya."
"Nggak apa-apa Mas, aku masih mau pilih baju yang lain."
Mereka mendengar bel rumah berdenting beberapa kali. Azfan segera turun ke lantai satu ruko untuk membuka pintu.
"Khalisa mana?" Rindang langsung memburu ketika pintu terbuka, rasanya ia tidak sabar ingin menceritakan tentang Levin yang mengutarakan perasaan padanya.
"Ada di kamar."
"Aku boleh kesana nggak?" Rindang bertanya dengan tidak sabar, jika dulu ia bisa masuk seenaknya ke apartemen Khalisa sekarat tidak lagi. Rindang harus minta izin pada Azfan.
"Boleh."
Rindang menerobos masuk setengah berlari menaiki anak tangga menuju kamar Khalisa yang pintunya terbuka.
"Rindang, kamu harus lihat ini." Khalisa menyodorkan ponselnya melihat Rindang datang.
"Bentar aja, yang mau aku sampein jauh lebih penting." Rindang mendorong tangan Khalisa dan duduk bersila di atas karpet bergabung dengan Khalisa.
"Ini juga penting."
"Ssshhh!" Rindang membekap mulut Khalisa dengan tangannya. "Kamu tahu nggak, Ko Levin bilang mau nikahin aku?"
Khalisa mendelik memperlihatkan manik matanya yang berwarna kecoklatan.
"Terus kamu jawab apa?"
"Ya aku bilang belum kepikiran untuk menikah, aku masih nyaman dengan keadaan ku sekarang dan untuk menjalin komitmen serius aku nggak siap."
"Kamu pikir-pikir lagi, minta petunjuk sama Allah karena Dia sebaik-baik penentu, Dia juga yang menggerakkan hati Ko Levin untuk bilang ini ke kamu."
Rindang menggeleng, "aku nggak siap, aku nggak bisa."
"Jangan mendahului takdir Allah."
"Sekarang aku tanya, setelah menikah langkah selanjutnya pasti punya anak kan, seandainya aku bilang ke suamiku nanti kalau aku nggak mau punya anak apa dia bisa terima kalaupun dia bisa menerima itu sama aja aku bakal jadi istri yang egois."
Khalisa menggenggam tangan Rindang, "tapi nggak mungkin kamu sendirian terus, kalau dibicarain pelan-pelan pasti Ko Levin juga akan ngerti kok."
"Aku nggak mau menyakiti siapapun apalagi Ko Levin, dia orang baik dan pantas dapat yang lebih dari aku."
"Kamu sempurna, kamu setara dengan Ko Levin."
"Kecuali penyakit aku."
"Rindang, kamu nggak boleh ngomong gitu." Khalisa memukul punggung tangan Rindang pelan. "Kamu pasti butuh pendamping dan Ko Levin orang yang tepat buat kamu."
Rindang menghela napas berat, ia tidak yakin dengan kalimat Khalisa.
"Tadi kamu mau ngomong apaan?"
Khalisa melepas genggamannya pada tangan Rindang dan mengambil ponsel yang ia letakkan di atas bajunya.
"Siap-siap kaget." Khalisa memberikan ponselnya pada Rindang.
Reaksi Rindang tidak jauh berbeda dengan Khalisa bahkan tanpa sadar mulutnya terbuka selama menonton video Jason yang sedang mengucapkan kalimat syahadat. Kalimat sakral yang juga mengubah seluruh kehidupan Rindang.
Rindang pikir Jason hanya main-main dengan ucapannya tadi di Mall. Namun Jason benar-benar membuktikannya.
******
Sesampainya di apartemen Rindang melakukan panggilan video dengan orangtuanya melalui laptop. Rindang membicarakan soal Levin yang memiliki niat baik terhadap dirinya. Tentu saja mereka terkejut karena selama ini Rindang tak pernah bercerita bahwa ia dekat dengan Levin.
"Mama dan Papa nggak mau mengekang kamu apalagi nanti yang akan menikah itu kamu dan Levin, jadi yang paling penting adalah perasaan kamu, apakah kamu mencintainya?" Wajah Papa Rindang serius, ia membenarkan kacamata minus yang bertengger di tulang hidungnya yang tinggi.
Rindang menggeleng, "Rindang nggak tahu, Pa."
"Bukannya kamu belum memiliki rencana untuk menikah?" Mama Rindang menimpali.
"Iya Ma dan Ko Levin juga ngasih aku waktu untuk berpikir tapi aku nggak bisa bikin dia nunggu terlalu lama."
"Kamu bilang Levin masih internship sekarang dan sebentar lagi kuliah mu juga masuk tahun terakhir, pernikahan itu bukan cuma tentang cinta buktinya Khalisa dan suaminya harus pindah-pindah tempat tinggal untuk belajar mandiri dan nggak melulu bergantung pada orangtua, menurut Mama keputusan untuk menikah itu harus dipikirkan dengan matang, nggak bisa mendadak seperti ini."
Rindang terdiam mencerna setiap kata yang mama nya ucapkan.
"Selesaikan kuliah mu dulu, kalau Levin mau nunggu maka kalian bisa menikah kalau enggak, dia bisa menikah dengan wanita lain." Titah papa Rindang.
Rindang tersenyum tipis lalu mengangguk, ia berterimakasih karena setelah mendengar pendapat orangtuanya, Rindang merasa amat lega. Saat ini Rindang memang hanya ingin menyelesaikan kuliahnya. Jika menikah maka Rindang harus membagi pikirannya dan ia belum tentu mampu untuk melakukan itu.
Setelah memutus sambungan telepon dengan orangtuanya, Rindang segera mengirim pesan pada Levin. Rindang tidak mau membuat Levin menunggu terlalu lama.
Ko Levin, setelah memikirkannya untuk saat ini aku nggak bisa menerima niat baik Koko.
Rindang menekan ikon pesawat kertas untuk mengirim pesan tersebut. Rindang tak ingin membuat jawabannya abu-abu, ia harus memberi kepastian pada Levin. Ia juga tak mungkin meminta Levin menunggu padahal dirinya tidak memiliki keyakinan.
__ADS_1
Aku akan mencoba lagi suatu hari dengan diriku yang lebih baik.
Rindang terkejut membaca balasan Levin, ia menyentuh dadanya yang bergemuruh. Ponsel di tangan Rindang terlepas, ia menghempaskan tubuhnya ke tempat tidur dan melihat langit-langit kamarnya. Rindang pikir Levin akan menyerah begitu saja setelah mendapat balasan darinya.