
Benar kata Naira, nama Ravina berarti langit yang cerah, sejak kehadirannya hidup Rindang jauh lebih cerah. Bahkan jika hari itu cuaca sedang mendung tapi bagi Rindang, langitnya selalu cerah karena ia memiliki langit yang lain di hidupnya yakni Ravina.
Atas izin Naira, Rindang menyematkan namanya dan Levin pada Ravina menjadi Ravina Anjana Deristiano. Itu adalah nama yang sangat cantik, Rindang menyukainya. Keluarga Naira juga tidak masalah dengan nama tersebut. Mereka memberi kepercayaan penuh terhadap Rindang termasuk soal nama.
Rindang telah menutup kerja sama dengan brand apapun karena ia ingin fokus pada Ravina dan butik. Itu adalah dua prioritas Rindang saat ini. Meski demikian Rindang mempekerjakan seorang Nanny untuk membantunya menjaga Ravina saat ia harus pergi ke butik. Apalagi Rindang tidak memiliki pengalaman mengurus anak sebelumnya sehingga ia harus dibantu seorang profesional.
Pada malam pertama mereka sampai di rumah. Rindang panik saat Ravina menangis kuat karena popoknya penuh. Sebelumnya Rindang telah memperhatikan Khalisa saat mengganti popok Ravina tapi ketika mempraktekkan nya sendiri ia jadi panik. Rindang meminta Levin membuat susu agar Ravina lebih tenang. Namun Levin selalu salah membuat, air terlalu panas atau takaran susunya yang terlalu banyak. Akhirnya mama Rindang yang harus turun tangan. Michelin menginap selama beberapa hari di rumah Rindang sampai Nanny datang.
Rindang terkekeh mengingat momen itu, setidaknya setelah satu bulan berlalu ia sudah lebih baik. Rindang tak begitu panik saat Ravina menangis karena tahu apa yang harus ia lakukan. Rindang belajar banyak dari keberadaan Ravina. Belajar mengatur waktu dan tidak panik dalam menghadapi sesuatu termasuk belajar sabar.
"Eh Ravina denger nggak?" Rindang mendengar suara deru mobil Levin memasuki halaman rumah. "Papa dateng!" Rindang beranjak menggendong Ravina membawanya menuruni tangga untuk menyambut Levin.
"Assalamualaikum." Levin tersenyum cerah mendapati Rindang dan Ravina di depan pintu.
"Waalaikumussalam Papa."
Levin mengecup pipi Ravina, "wangi banget Ravina." Ia tidak bisa berhenti mencium Ravina karena aromanya. Bahkan saat di rumah sakit Levin selalu terbayang-bayang oleh aroma Ravina, ia selalu ingin pulang cepat karena tak sabar bertemu sang anak.
"Malem banget Papa pulangnya." Rindang melihat jam dinding yang menunjukkan pukul setengah sembilan, baginya itu sudah terlalu malam karena biasanya Levin pulang pukul tujuh.
"Iya tadi tiba-tiba ada tiga pasien sekaligus jadi UGD keteteran padahal aku kangen banget sama bayi gemas ku."
"Mamanya nggak dicium?" Rindang melihat Levin yang masih mencium Ravina, ia juga menunggu giliran dicium Levin.
Levin menutup pintu dan mendorong Rindang agar sedikit menjauh dari pintu. Levin menangkup pipi Rindang lalu mengecup keningnya lama. Bukankah giliran Rindang harusnya saat mereka di kamar nanti?
"Udah makan malam belum?" Rindang mengambil tas kerja Levin dan meletakkannya di sofa.
"Belum." Levin melepas jubah dokternya.
"Ya udah bersih-bersih dulu gih, aku bikinin makan malam."
"Aku mau gendong Ravina dulu."
"Mandi dulu."
Levin mendesah pasrah saat Rindang memintanya mandi. Akhirnya ia membawa jubah dan tas kerjanya ke atas sekalian mandi.
Rindang menitipkan Ravina pada Nanny nya sebentar sementara ia memasak. Rindang merebus spaghetti dan membuat saus bawang putih dengan udang. Itu adalah menu makanan simpel yang rasanya enak dan tentu saja mengenyangkan.
"Udah tidur ya?" Rindang melihat Ravina sudah terlelap dalam gendongan Nanny nya. "Sini saya pindahin ke kamar."
"Abis minum satu botol langsung tidur Ci."
"Iya emang dia dari tadi rewel mungkin karena ngantuk." Rindang mengambil alih Ravina, dengan hati-hati ia melangkah melewati anak tangga dan masuk ke kamar.
Levin sudah selesai mandi saat Rindang meletakkan Ravina di dalam box nya.
"Kok cepet mandinya?"
"Aku mau cepet-cepet gendong Ravina."
"Udah tidur nih."
"Yaah Mama sih nyuruh aku mandi, harusnya kan tadi gendong Ravina dulu."
Rindang tertawa, "iya maaf, salah sendiri Papanya pulang kemaleman."
"Besok Papa libur, Ravina sama Papa aja seharian jangan sama Mama." Levin mengintip Ravina di dalam box nya yang sangat besar bahkan ia bisa ikut tidur di dalamnya.
"Libur? kok nggak bilang kalau besok libur?" Rindang melirik Levin, sudah satu bulan ini jadwal Levin sangat padat. Pagi biasanya Levin akan kuliah dan siangnya bekerja atau sebaliknya. Begitu setiap hari sehingga Levin jarang ada waktu di rumah.
"Sengaja buat kejutan." Levin menarik Rindang dan memeluknya erat. Selain merindukan Ravina, Rindang juga membuat Levin rindu setelah seharian bekerja.
"Kuliah libur juga?" Rindang mendongak menatap wajah Levin.
"Iya."
"Akhirnya Papa libur." Rindang kembali menempelkan kepalanya pada dada Levin. "Aku bawa makanannya kesini ya."
"Boleh." Levin melepas pelukannya.
Sementara Rindang mengambil makan malam, Levin duduk di samping box Ravina. Ia menatap wajah tenang Ravina yang terlelap. Tangan Levin terulur menyentuh pipi gembul Ravina.
"Terimakasih sudah hadir di hidup Papa dan Mama." Lirih Levin. "Bulu mata kamu lentik banget sayang, Mama katanya iri sama kamu karena Mama harus pakai eyelash curler biar lentik kayak punya kamu."
"Lagi ngomongin aku?" Rindang datang membawa spaghetti dan segelas air putih, ia menyodorkannya pada Levin.
"Enggak kok." Dusta Levin, ia menghirup aroma spaghetti buatan Rindang yang tampak lezat.
__ADS_1
"Aku denger Papa tadi bilang Mama gitu, Mama yang mana?"
Levin tak segera menjawab karena ia sedang mengunyah spaghetti dan udang di mulutnya.
"Besok mau jalan-jalan kemana?" Levin mengalihkan pembicaraan.
"Di rumah aja, Kafa dan Mahira katanya mau kesini." Rindang duduk di samping Levin, "enak nggak?"
"Yummy banget as always."
Rindang tersenyum karena Levin memuji masakannya padahal ia memiliki kemampuan memasak yang biasa-biasa saja.
"Tadi pagi aku kirim foto Ravina juga ke kakek neneknya di Yaman, mereka bilang Ravina udah kelihatan besar banget untuk bayi usia satu bulan tapi aku bilang itu karena fotonya dari deket aja makanya Ravina kelihatan besar."
"Pertumbuhan Ravina normal kok, kemarin waktu kita cek ke rumah sakit kan dokter juga bilang kalau semuanya baik-baik aja."
"Aku takut Ravina jadi terlalu gemuk, terus aku kepikiran, apa aku keseringan ngasih susu atau susunya nggak cocok."
"Enggak kok, Mama jangan mikir macem-macem, selama Ravina sehat dan aktif maka pasti nggak ada masalah."
Rindang manggut-manggut. Ia jadi sering overthinking jika menyangkut Ravina. Itu karena tanggungjawabnya sebagai ibu sangat lah besar.
"Biar aku yang taruh." Rindang ikut beranjak saat Levin hendak keluar kamar.
"Nggak apa-apa, Mama kan udah masak." Levin bergegas meletakkan piringnya yang sudah kosong, ia menghabiskan makan malamnya dengan cepat. Sekalian Levin mencuci piring itu agar tidak ada menumpuk di dapur. Rindang bisa stres melihat piring kotor di dapur dan Levin tidak mau itu terjadi.
Rindang telah mengganti pakaiannya dengan piyama saat Levin kembali dari dapur. Rindang menggerai rambutnya yang hitam legam dan panjang. Karena besok Levin libur, Rindang akan meminta Levin memotong rambutnya.
"Mau tidur?" Levin melihat Rindang naik ke ranjang.
"Iya, capek banget hari ini." Rindang menarik selimut.
Levin menyusul berbaring di samping Rindang.
"Nggak main dulu?"
"Main apa?" Rindang memiringkan tubuhnya menghadap Levin, apa yang bisa mereka mainkan.
Lebih hanya tertawa tanpa menjawab pertanyaan Rindang, ia merapatkan tubuhnya pada Rindang lalu mendekap sang istri.
"Makasih ya." Gumam Levin.
"Untuk semuanya, makasih udah jadi ibu terbaik untuk Ravina."
"Papa juga." Rindang memejamkan mata, ia sudah mengantuk. Selagi ada waktu mereka harus tidur karena Ravina akan bangun tiga hingga empat kali dalam semalam.
******
Kafa menghentikan mobilnya tepat di depan rumah Rindang. Ia keluar lebih dulu dan membukakan pintu untuk Mahira.
Kafa dan Mahira sampai di Banyuwangi kemarin dan hal pertama yang mereka lakukan adalah mengunjungi rumah Rindang. Sebab mereka belum sempat melihat bayi Rindang dan Levin.
"Mobilnya disini aja?" Mahira melihat sekeliling, apakah tidak masalah jika mereka memarkirkan mobil di bahu jalan.
"Nggak bisa masuk ke halaman, nggak cukup itu karena kamu minta mobil yang lebih luas sekarang jadi nggak bisa parkir di halaman yang sempit."
"Ih kok aku, kan waktu itu cuma bercanda tapi kamu malah beli mobil beneran." Mahira mengerucutkan bibirnya, ia hanya bercanda soal mobil baru tapi beberapa hari kemudian Kafa benar-benar membeli mobil yang lebih besar.
"Ya ampun, ada apa sih baru sampai udah ribut aja nih kalian." Rindang geleng-geleng melihat tingkah Kafa dan Mahira yang selalu saja ribut.
"Eh Ci Rindang." Mahira langsung merubah ekspresinya dengan senyum lebar, ia menjabat tangan Rindang dan menanyakan kabarnya.
"Perut kamu udah kelihatan besar ya, duh gemes banget, boleh pegang?"
"Boleh-boleh." Mahira dengan senang hati membiarkan Rindang memegang perutnya.
Rindang menyentuh dan mengusap-usap perut Mahira yang mulai membuncit. Menanti kelahiran anak pasti menjadi sesuatu yang menegangkan sekaligus menyenangkan.
"Mobilnya nggak bisa masuk Ce."
"Nggak apa-apa disitu aja, heran ya kalian masih aja sering berantem."
Kafa tertawa, ia juga tak mengerti mengapa Mahira dan dirinya selalu berdebat. Mungkin karena karakter Mahira dan Kafa yang sama-sama tidak mau mengalah akhirnya membuat mereka selalu berdebat.
"Sebenarnya hubungan aku sama Mahira manis kok Ce." Kafa membela diri.
"Oh ya?" Rindang menarik tangan Mahira untuk masuk.
"Kalau nggak manis mana mungkin Mahira bisa hamil."
__ADS_1
"Eh!" Mahira mendelik pada Kafa, "jangan ngomongin kayak gitu ah malu tahu."
"Ngapain malu, Ce Rindang kan juga udah nikah." Kafa mencibir.
"Kalian bawa apa?" Rindang baru sadar jika Kafa membawa sebuah kotak berukuran cukup besar berwarna biru muda.
"Hadiah buat langitnya Ce Rindang dan Ko Levin." Kafa meletakkan kotak tersebut di atas meja ruang tamu. "Semoga berguna ya tapi aku yakin ini bakal kepake banget, Mahira yang pilih."
"Itu dia langitnya." Rindang melihat Levin turun bersama Ravina.
"Masya Allah, cantik banget." Mahira berbinar-binar melihat Ravina.
"Ravina baru selesai mandi nih." Ujar Levin, ia bangga karena bisa memandikan Ravina sendiri.
"Mau gendong nggak?" Rindang mengambil alih Ravina.
"Mau Ci, aku mau gendong." Mahira duduk di sofa bersiap memangku Ravina.
"Bismillah." Rindang memindahkan Ravina ke pangkuan Mahira, "eh dia ketawa."
"Gemes banget pengen bawa pulang." Canda Mahira.
"Waduh jangan dibawa pulang, kan kalian sebentar lagi juga punya kayak gini." Rindang pergi ke dapur untuk mengambil minuman dan makanan ringan. Sementara Levin memindahkan hadiah pemberian Kafa dan Mahira dari ruang tamu.
"Semoga anak kita menggemaskan kayak Ravina, ya?" Mahira mencium kening Ravina.
"Pasti lah, Papa nya aja kayak gini." Kafa duduk di samping Mahira, ia menyentuh pipi halus Ravina dengan hati-hati.
"Kenapa Papa nya?" Mahira melihat Kafa.
"Ganteng." Jawab Kafa dengan percaya diri.
"Iya, kalau dilihat dari lubang sedotan." Semprot Mahira, tapi sebenarnya Kafa memang tampan, semua orang tahu itu.
"Kalau aku nggak ganteng, mana mungkin kamu mau sama aku?" Kafa mengangkat dagunya.
"Karena kamu kaya." Jawab Mahira asal.
"Bukannya dari awal ketemu kamu udah ngejar-ngejar aku?"
"Dih dikira buronan apa dikejar segala."
Rindang di dapur tertawa mendengar perdebatan Kafa dan Mahira. Baru ditinggal sebentar sudah berdebat lagi.
"Jangan debat terus, diketawain sama Ravina tuh." Rindang meletakkan jus jambu merah dan stoples sagu keju di atas meja.
"Kalian lama nggak di Banyuwangi?" Levin duduk di samping Rindang.
"Rencananya satu bulanan disini karena lagi libur panjang juga setelah UAS." Jawab Kafa.
"Abis ini mau lanjut ambil spesialis?"
"Aku mau ambil spesialis anak karena di rumah sakit Kafasa baru ada satu pediatric."
"Di Jogja?"
"Iya Ko, kasihan ini istri ku nggak bisa jauh dari orangtuanya." Kafa mengusap-usap puncak kepala Mahira.
"Mau nggak mau harus bisa karena setelah menikah kan prioritas istri adalah suami, jadi sebenarnya aku nggak masalah Kafa pergi kemanapun, aku tetep ikut."
Kafa menatap Mahira kagum, ternyata istrinya ini juga bisa berpikir bijak.
Rindang tersenyum, selain senang berdebat mereka juga memiliki sisi manis yang membuat Rindang kagum.
"Sebentar lagi kalian bakal punya anak, jangan berantem terus." Rindang memberi nasehat.
Kafa terkekeh, sebenarnya mereka bukannya berantem tapi memang keduanya ditakdirkan untuk berdebat sepanjang waktu. Kafa masih berusaha mengalahkan ego nya untuk mengurangi perselisihan dengan Mahira.
Muka ganteng Kafa dilihat dari lubang sedotan.
__ADS_1
visual Ravina: @Alinetalineofficial