
Ballroom Doubletree By Hilton disulap menjadi seperti Hogwarts School sesuai tema pernikahan Humaira yakni Harry Potter dimana seluruh undangan mengenakan pakaian berwarna hitam dan merah hati. Satu-satunya orang yang berpakaian putih adalah sang mempelai wanita.
Begitu masuk para tamu akan langsung melihat tumpukan labu tiruan yang disusun sedemikian rupa bersama sapu terbang dan patung burung hantu berukuran besar.
Meja-meja disusun menyebar ke seluruh ruangan. Di setiap meja terdapat lilin dan pajangan menyerupai tongkat sihir serta buku-buku kuno yang terbuka. Di atas meja terdapat bunga Peony merah hati seperti dress code malam ini.
Lampu-lampu berbentuk kunci terbang menggantung di atas meja. Di sisi lain terdapat tempat Photobooth bagi tamu dengan latar belakang yang juga bertema Harry Potter.
Yang paling mencuri perhatian adalah wedding cake di depan sana. Karena cake itu berwarna putih, ia akan mencuri perhatian setiap tamu yang datang. Bentuknya seperti eksterior Hogwarts School dengan bola basket bersayap di bagian atasnya.
Semua dekorasi ini menggambarkan betapa sang mempelai wanita menyukai Harry Potter di zaman pengantin lain menggunakan tema princess untuk pernikahannya.
Pagi tadi ballroom Doubletree juga menjadi saksi akad nikah pasangan yang sedang berbahagia yakni Humaira dan Hamiz dilanjutkan resepsi sore hingga malam hari.
"Selamat Humaira ku." Khalisa memeluk Huma dengan perasaan haru karena akhirnya setelah bimbang memilih antara Geza dan Hamiz, Huma memantapkan pilihannya pada laki-laki bernama Abdullah Hamiz Ahmad—putra sulung Arfan Khalif Ahmad. Siapa sangka bahwa seorang laki-laki yang Huma sembunyikan namanya dari Khalisa itu adalah Hamiz yang notabene sudah Khalisa kenal sejak kecil karena rumah mereka berdekatan.
"Semoga kalian selalu bahagia dan dilimpahkan keberkahan oleh Allah." Khalisa menepuk punggung Huma dua kali sebelum mengurai pelukan.
"Terimakasih Khalisa, kamu udah ngasih saran terbaik buat aku untuk menentukan pilihan." Huma menatap Khalisa dengan mata berkaca-kaca.
Khalisa menggeleng, "ini semua karena Allah, aku cuma perantara."
"Mbak Khalisa, terimakasih." Ucap Hamiz pada Khalisa.
"Aku percaya kamu bisa jadi suami yang baik untuk Huma, maklumi kegilaannya pada Harry Potter."
Hamiz terkekeh, "aku paham betul soal itu Mbak."
Semua orang ikut berbahagia untuk dua mempelai malam ini. Kecuali satu orang yang dari tadi hanya duduk di salah satu kursi dengan pandangan kosong. Ia adalah Geza—seorang yang begitu mengerti kesukaan Huma. Pun sebaliknya Huma juga mengerti Geza hingga ia mau menunggunya bertahun-tahun. Namun hingga Huma meminta kepastian pada Geza, cowok itu tetap tak bergerak. Geza tetap berdiam diri di tempat hingga ia harus rela Huma menikah dengan Hamiz. Geza terus menghibur diri bahwa Hamiz adalah laki-laki terbaik untuk Huma dibandingkan dirinya. Hamiz memiliki suara merdu dan seorang Hafidz Qur'an. Tentu tak ada alasan bagi Huma untuk menolak Hamiz. Geza memang tak pantas ditunggu oleh seorang Humaira.
Geza datang ke resepsi ini sekaligus bertemu Huma untuk yang terakhir kalinya. Geza ingin mengucapkan selamat tinggal pada Huma—menahan sakit di dalam dadanya karena wanita yang ia sukai menikah dengan laki-laki lain.
"Geza, sebelumnya aku mau ngasih tahu kalau ada laki-laki yang serius sama aku, dia mau melamar ku. Aku tanya sekali lagi, kamu serius nggak sama aku, sebagai seorang perempuan aku minta kepastian dari kamu, kalau nggak, aku akan menerima lamaran laki-laki itu."
Itu adalah ucapan Huma dua tahun yang lalu. Sampai sekarang Geza tak percaya jika laki-laki itu ternyata adalah Hamiz yang telah menjadi temannya sejak kecil.
"Seorang anak pemilik perusahaan penerbit menikah dengan anak pemilik toko buku, rumah tangga kalian akan dipenuhi dengan buku-buku." Rindang memeluk Huma untuk memberi selamat, ia ikut bahagia atas pernikahan tersebut. Ia berdoa agar keduanya selalu bahagia.
"Tapi kok kalian bisa kenal sih?" Levin mengajukan pertanyaan yang dari tadi mengganggu pikirannya. Sebenarnya Khalisa dan Rindang juga penasaran soal itu hanya saja mereka belum sempat menanyakannya pada Huma.
"Nanti aku ceritain." Balas Huma sambil mengerlingkan mata pada Khalisa dan Rindang.
"Jodohmu emang berondong." Rindang menepuk lengan Huma.
"Kami seumuran kok."
"Oh ya?" Rindang menaikkan alisnya tak percaya.
"Iya waktu SMA aku ikut kelas akselerasi jadi sebenarnya kalian yang lebih tua dari aku." Huma mempertegas itu karena sebenarnya usianya dengan Hamiz tidak beda jauh. Hamiz 2 bulan lebih tua dari Huma.
Mereka melakukan sesi foto bersama berkali-kali hingga puas. Satu per satu tamu juga mulai naik ke pelaminan untuk memberi selamat pada pengantin yang sedang berbahagia.
Beberapa tamu juga bergantian mengambil gambar di photobooth section. Siapa sangka Harry Potter tak kehilangan penggemarnya meski telah puluhan tahun berlalu.
Kini giliran Geza naik ke pelaminan, dalam hidup itu memang ada dua kemungkinan. Pertama menjadi pengantin atau kedua jadi tamu undangan dan Geza menjadi yang kedua. Tentu saja Geza harus terlihat tegar lagi pula ia memang pengecut karena jelas-jelas dirinya lah yang tak menentukan pilihan.
"Selamat ya Miz." Geza menyalami Hamiz dan memeluknya sebentar.
"Makasih udah dateng."
"Nggak mungkin aku nggak datang, kalian berdua temen aku." Geza mengulas senyum dengan terpaksa, ia tak mau semakin terlihat menyedihkan jika tidak memenuhi undangan Huma dan Hamiz.
"Humaira, aku harap kamu selalu bahagia." Geza menatap Huma dalam untuk beberapa saat sebelum Huma menunduk.
Huma mengangguk pelan, "aku harap kamu juga menikah sama perempuan baik pilihan kamu."
Geza tersenyum getir mendengar perkataan Huma, tiba-tiba ia menyesal karena tak berani menjawab saat Huma menanyakan keseriusannya. Saat itu Geza belum lulus kuliah sehingga ia tak berani menjawab. Harusnya Geza bisa nekat untuk menikahi Huma walaupun ia belum punya apa-apa, walaupun ia harus minta bantuan orangtua untuk membiayai pernikahannya. Toh Ayahnya seorang General Manager hotel dan ibunya ketua Chef di Resor Jinggo. Namun Geza tak bisa melakukan itu, sekarang sudah terlalu terlambat untuk menyesal.
__ADS_1
Sesungguhnya nggak ada wanita yang pernah aku kenal yang lebih baik dari kamu, Huma.
Geza turun dari pelaminan dengan perasaan hancur, ia berjalan lurus keluar ballroom. Geza tak sanggup lagi berada disana lebih lama.
"Kamu nggak apa-apa?" Hamiz melihat Huma.
Huma menoleh pada Hamiz lalu mengulas senyum, mengapa Hamiz bertanya seperti itu.
"Pertanyaan apa itu?" Huma tak suka dengan pertanyaan Hamiz.
"Bukan apa-apa, kalian pernah saling menyukai."
Huma menggeleng, "aku udah pilih kamu."
Hamiz tersenyum mendengar kalimat Huma, ia meraih tangan wanita yang kini telah menjadi istrinya itu lalu menggenggamnya.
Berbagai hidangan tersaji di atas meja, ada pula dessert yang masih bertemakan Harry Potter dengan bentuk yang cantik hingga para tamu sayang untuk memakannya.
Setelah sesi memotong wedding cake, saatnya bagi mempelai dan tamu menikmati makan malam. Huma dan Hamiz duduk satu meja dengan Khalisa, Azfan, Rindang, Levin, Kafa, Mahira dan anak-anak mereka.
Huma berjanji akan menceritakan bagaimana ia bisa bertemu dan mengenal Hamiz pada mereka.
Pertemuan pertama mereka adalah saat kampus UII menggelar lomba MTQ yang diikuti oleh 30 kampus dari berbagai daerah. Saat itu Hamiz menjadi salah satu pesertanya.
Huma duduk di antara mahasiswa lain di kursi yang telah disediakan. Kala itu Khalisa baru saja meninggalkannya setelah mendapat telepon dari Rindang—yang ternyata si penelepon adalah Revan. Huma bertugas merekam video saat giliran Azfan. Setelah merekam, Huma hendak mematikan kamera Khalisa tapi ia tidak tahu caranya.
Tiba-tiba Hamiz menghampiri Huma setelah cukup lama memperhatikan Huma kesusahan menekan setiap tombol pada kamera.
"Boleh aku bantu?" Hamiz mengulurkan tangannya berniat membantu Huma.
Huma mendongak menatap cowok asing itu, tentu saja ia tak mau sembarangan memberikan kamera Khalisa pada orang yang tidak ia kenal.
"Aku lihat kamu tadi duduk sama Mbak Khalisa."
Huma tak menjawab, tidak heran jika cowok yang asing bagi Huma bahkan mengenal Khalisa. Huma bertanya-tanya apakah Khalisa mengenal semua peserta lomba disini. Khalisa bukan panitia apalagi peserta tapi cowok ini bahkan mengenal Khalisa.
Ya iyalah, kalau bukan temennya kenapa sekarang aku pegang kameranya Khalisa.
"Jawab pertanyaan ku pakai mulut, aku nggak bisa denger suara hati kamu."
Huma terkejut, apakah cowok ini bisa mendengar pikirannya?
"Iya." Jawab Huma akhirnya.
"Aku juga kenal baik Mbak Khalisa."
Terus aku harus bilang apa? biasa aja kali, setiap penjual di pasar pakem juga kenal sama Khalisa. Kamu pikir aku bakal heran gitu?
"Aku Hamiz dari Banyuwangi." Hamiz menunjukkan kartu peserta yang menempel di dada kanannya.
"Oh, jadi kamu beneran kenal Khalisa?"
"Kamu pikir dari tadi aku bohong?"
"Aku percaya tapi sebagian besar orang disini juga mereka pasti kenal Khalisa."
"Aku bantu matiin kameranya, jangan tekan tombol sembarangan nanti rusak."
Huma langsung memberikan kamera itu pada Hamiz, ia merasa bersalah karena telah berpikiran buruk pada cowok itu. Lima detik kemudian Hamiz telah selesai mematikan kamera itu dan mengembalikannya ke tangan Huma.
"Makasih ya." Ucap Huma.
"Sama-sama." Hamiz segera berlalu dari sana, ia juga sudah selesai tampil sebelum Azfan tadi.
"Khalisa pakai pergi segala lagi." Gerutu Huma seraya memasukkan kamera Khalisa ke dalam tasnya.
Huma pikir setelah itu ia tak akan pernah bertemu dengan cowok bernama Hamiz itu lagi tapi ia salah. Pertemuan kedua adalah saat Huma pergi mengunjungi tempat percetakan buku milik orangtuanya. Saat itu Huma sangat bosan di rumah, ia belum memiliki pekerjaan dan iseng pergi ke tempat percetakan.
Huma melihat Hamis turun dari mobil box yang terparkir di depan gedung percetakan.
__ADS_1
"Kamu Hamiz ya?" Huma menunjuk Hamiz untuk memastikan, ia pangling karena Hamiz sedikit berubah, tubuhnya lebih tinggi dan penampilannya berbeda dari saat Huma bertemu dengannya pertama kali.
"Iya, kamu temennya Mbak Khalisa?"
"Iya, kamu ngapain kesini?"
"Mau ambil buku tapi sebelumnya aku nggak pernah kesini, kamu tahu nggak tempat ambil bukunya?"
"Buku terbitan baru?"
"Iya ada beberapa buku yang juga udah cetakan ulang."
Huma memutuskan untuk mengantar Hamiz ke tempat pengambilan pesanan buku, hitung-hitung membalas bantuan Hamiz saat itu di kampus. Saat itu mereka sempat mengobrol, akhirnya Huma tahu jika Hamiz mengelola toko buku milik orangtuanya.
Pertemuan ketiga adalah saat Huma menginap di rumah Khalisa setelah pernikahan Rindang. Huma mengajak Zunaira jalan-jalan di sekitar rumah, lagi-lagi karena alasan bosan sebab Khalisa pergi bersama Azfan. Zunaira menunjukkan tempat favoritnya bersama Khalisa dan Azmal yakni Tono buku milik orangtua Hamiz. Dari situ Huma dan Hamiz lebih banyak mengobrol dan saling bertukar nomor telepon.
Humaira, gimana menurutmu seandainya aku melamar kamu? kita udah cukup lama kenal, kamu baik dan kita bisa membahas banyak hal bersama. Gimana kalau kita hidup bareng dan ngobrol banyak hal lainnya.
Huma tak bisa memberi jawaban dan mendiamkan Hamiz selama dua tahun. Huma pikir saat itu Hamiz sudah tidak menunggunya lagi. Namun ternyata Hamiz masih setia menunggunya. Akhirnya Huma mantap menerima lamaran Hamiz yang sempat ia gantung dalam waktu yang lama.
"Bisa-bisanya selama ini kamu nggak cerita sama aku." Khalisa protes setelah mendengar semua cerita Huma.
"Aku tahu kenapa Huma nggak pernah cerita tentang aku, menurutnya Geza jauh lebih menarik untuk diceritakan, bukan begitu Humaira?" Hamiz melirik Huma dan bertanya dengan nada menggoda.
"Sama sekali nggak bener, aku malu aja karena cowok itu kamu, aku takut Khalisa ngeledekin aku." Huma bersyukur karena sekarang ia memakai make-up tebal sehingga mereka tak akan bisa melihat semburat di pipinya.
"Tapi aku salut sama Hamiz karena dia mau nunggu Huma sampai se-lama itu." Sahut Rindang.
"Aku juga melakukan hal yang sama, sayang." Lirih Levin yang duduk di samping Rindang.
Rindang menyikut Levin, "tentu aja aku lebih kagum sama kamu Koko ganteng."
"Ssshhh nanti Ravina ngikutin kamu lagi panggil aku Koko."
Rindang membekap mulutnya berharap Ravina tidak mendengar ucapannya barusan. Sepertinya tidak karena Ravina sedang asyik bermain dengan Azka.
"Aku juga mau berbagi cerita baik sama kalian." Tukas Rindang seraya mengedarkan pandangan.
"Buruan, nggak sabar nih." Huma meletakkan sendok nya demi mendengarkan ucapan Rindang.
Rindang meletakkan sebuah kotak berwarna biru muda di atas meja.
"Apa ini?" Khalisa lebih dulu menyambar kotak tersebut.
Rindang melirik Levin dan tersenyum penuh arti.
Khalisa membuka kotak di tangannya lalu sepasang matanya melebar melihat isi dari kotak tersebut.
"Kamu hamil?" Khalisa langsung melompat memeluk Rindang, air matanya meleleh terharu mendengar kabar bahagia itu.
"Apa? Rindang hamil?" Huma memekik hingga mengalihkan perhatian orang-orang di sekitar situ. Ia ikut bergabung memeluk Rindang.
Rindang tak tahu apakah ini memang kabar bahagia karena ia sangat terkejut saat melihat dua garis pada test pack yang ia gunakan. Namun Rindang akan berusaha sekuat tenaga untuk menjaga sang jabang bayi dalam perutnya hingga dilahirkan nanti. Rindang tak peduli akan sesakit apa masa-masa kehamilannya tapi ia yakin Allah memberikan anugerah ini karena ia dan Levin mampu menjaga sang anak.
"Ih kok kamu nangis sih, ini kan berita bahagia." Rindang mengusap pipi Khalisa yang basah oleh air mata.
Khalisa tersenyum disela tangisnya, ia amat bersyukur karena Allah memberi Rindang anugerah yang sangat indah. Itu berarti Ravina akan segera punya adik.
Rindang: Senyum kamu weird banget Sayang!
__ADS_1